Udara terasa berbeda hari itu lebih berat, lebih sunyi. Ia mengucapkan sebuah kalimat yang telah lama ia simpan, berharap waktu masih cukup untuk mendengarnya kembali.
Tak ada balasan.
Hanya diam yang terlalu lama untuk diabaikan.
Detik demi detik berlalu tanpa perubahan, seakan sesuatu telah bergeser tanpa bisa dikembalikan. Kata cinta itu menggantung, tidak jatuh, tidak pula sampai, meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab.
Apakah kejujuran memang selalu datang terlambat?
Atau ada perasaan yang memang ditakdirkan untuk tak pernah didengar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Shadow on the Pavement
"Siapa gadis itu?" tanya Leo, suaranya kembali dingin, meski ada nada gemetar yang ia sembunyikan dengan sempurna.
"Oh, itu Liora. Dia baru bekerja di sini beberapa bulan. Gadis yang sangat rajin, Tuan, hanya saja dia sangat tertutup. Sepertinya dia punya masa lalu yang sangat berat," jawab Pak Bram sambil mulai mengelap meja.
Leo mendengus, sebuah tawa sinis yang dipaksakan keluar dari bibirnya. "Masa lalu berat? Orang-orang seperti dia selalu punya alasan untuk terlihat malang agar dikasihani. Itu keahlian mereka."
Meskipun kata-katanya menghina, mata Leo tidak bisa berhenti menatap pintu belakang. Ia melangkah keluar dari toko buku itu tanpa menyelesaikan urusannya. Pikirannya kacau.
Denting lonceng toko buku itu masih menyisakan gema di telinga Liora. Tanpa menoleh lagi ke arah Leo, Liora menyambar tas kanvasnya dan melangkah keluar melalui pintu depan. Ia tidak peduli pada hujan yang mulai turun membasahi bumi air hujan jauh lebih ramah daripada tatapan mata pria di dalam sana.
Liora mempercepat langkahnya. Namun, suara langkah sepatu pantofel yang tegas di atas aspal memberitahunya satu hal: predator itu tidak melepaskan mangsanya.
"Berhenti, Liora," suara Leo terdengar rendah di antara deru hujan.
Liora tidak berhenti. Ia terus berjalan, membiarkan rambutnya lepek dan bajunya menempel di kulit. "Pulanglah, Tuan Leo. Anda punya dunia yang megah untuk dikelola. Jangan buang waktu Anda di trotoar kotor ini."
"Aku bilang berhenti!" Leo mencengkeram lengan Liora, memaksanya berbalik.
Wajah Leo basah, namun matanya tetap menyala dengan keangkuhan yang sama. "Masuk ke mobil. Kau terlihat menjijikkan berjalan seperti ini. Jangan membuatku terlihat seperti pria jahat yang membiarkan gelandangan kehujanan."
Liora menyentak tangannya dengan tenaga yang tersisa. "Anda memang pria jahat, Tuan. Dan saya bukan gelandangan. Saya hanya seseorang yang sedang berusaha bernapas tanpa gangguan Anda. Jadi, tolong... biarkan saya pergi."
Liora berbalik dan melanjutkan jalannya. Namun, Leo tidak pergi. Mobil mewah hitamnya merayap pelan di samping Liora, mengekor seperti bayangan maut yang tidak mau lepas. Sorot lampu mobil itu terus menerangi langkah Liora yang goyah.
"Kau pikir dengan bersikap keras kepala begini, hidupmu akan berubah?" Leo berteriak dari dalam mobil yang kacanya terbuka sedikit. "Kau tetaplah gadis miskin yang tidak punya apa-apa. Kau hanya sedang menghukum dirimu sendiri demi harga diri yang bahkan tidak ada harganya di mataku!"
Liora tetap bungkam. Setiap kata hinaan Leo adalah belati yang sudah terlalu sering menusuk jantungnya hingga ia tak lagi berdarah. Ia terus berjalan menyusuri gang sempit yang tidak bisa dimasuki mobil.
Leo terpaksa menghentikan mobilnya di mulut gang. Ia keluar dari mobil, membiarkan jas mahalnya rusak terkena air hujan. Ia berdiri di sana, menatap punggung Liora yang semakin menjauh ke dalam kegelapan gang yang lembap.
"Aku tidak bisa membantumu jika kau terus merangkak di selokan seperti ini, Liora!" teriak Leo, sebuah pengakuan kasar yang dibungkus dengan nada merendahkan.
Liora berhenti sejenak, namun tidak menoleh. "Selokan ini lebih jujur daripada mansion Anda, Tuan. Setidaknya di sini, saya tahu bahwa saya sendirian. Tanpa perlu dihina oleh orang yang merasa dirinya Tuhan."
Liora menghilang di balik tikungan gang. Leo berdiri mematung di bawah guyuran hujan, tangannya mengepal erat. Ia benci betapa kecilnya Liora, namun ia jauh lebih benci menyadari bahwa ia tidak lagi memiliki kuasa untuk mengatur ke mana gadis itu melangkah. Malam itu, untuk pertama kalinya, sang penguasa Caelum Empire merasa benar-benar kalah oleh seorang gadis yang tidak memiliki apa-apa selain napas yang sesak.