Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Malam itu, ruang kerja Papa Arga terasa seperti ruang sidang. Lampu meja yang temaram memberikan kesan dramatis pada wajah Papa yang tampak sangat serius, sementara Arsen berdiri tegak di depan meja kayu besar itu dengan posisi istirahat di tempat. Araluna? Gadis itu tentu saja tidak mau ketinggalan. Ia duduk di sofa pojok ruangan, berpura-pura asyik dengan ponselnya, padahal telinganya terpasang lebar-lebar untuk menikmati pertunjukan ini.
"Arsen," panggil Papa Arga, suaranya berat dan penuh wibawa. "Tadi sore Clarissa menelepon Papa sambil menangis sesenggukan. Dia bilang dia tidak mau melanjutkan perjodohan ini. Dia bahkan bilang kamu 'menakutkan'. Apa yang sebenarnya kamu lakukan di garasi sampai anak rekan bisnis Papa itu trauma begitu?"
Luna yang mendengar kata "menakutkan" hampir saja menyemburkan tawa. Ia menutupi mulutnya dengan tangan, bahunya terguncang hebat menahan tawa yang nyaris pecah. Ia bangkit, berjalan mendekat ke arah Arsen, lalu sengaja menyenggol bahu Arsen berkali-kali dengan wajah jahil yang luar biasa.
"Iya tuh, Kak... kok bisa sih Kak Clarissa nangis? Lo apain ayo? Jangan-jangan lo kasih liat muka 'robot' lo yang serem itu ya?" goda Luna dengan nada polos yang dibuat-buat di depan Papa.
Arsen melirik Luna dengan tajam—sebuah tatapan peringatan yang berarti 'lo diem atau lo mati'. Namun, di depan Papa, Arsen tetap kembali ke mode kaku andalannya. "Saya tidak melakukan apa-apa, Pa. Mungkin dia hanya terkejut melihat cara saya bekerja di garasi. Saya memang tidak banyak bicara, dan sepertinya dia tidak terbiasa dengan itu."
"Hanya karena tidak banyak bicara?" Papa Arga menyipitkan mata, merasa ada yang tidak beres. "Tapi dia sampai bilang kamu 'berbahaya' dan ada 'setan' di rumah ini. Luna, apa benar begitu?"
Luna semakin ingin tertawa. Setan? Mungkin yang dimaksud Clarissa itu nafsu kita, Kak, batin Luna nakal. "Nggak tahu ya Pa, mungkin Kak Clarissa emang agak sensitif. Namanya juga lulusan luar negeri, mungkin kaget liat cowok lokal yang... err... kaku kayak Kak Arsen."
Setelah sesi interogasi yang melelahkan itu selesai dengan Papa yang hanya bisa menghela napas pasrah, Arsen dan Luna keluar dari ruang kerja. Begitu pintu tertutup, Arsen langsung menyambar pergelangan tangan Luna, menariknya menuju lantai atas dengan langkah lebar yang penuh emosi terpendam.
"Lo seneng banget ya ngetawain gue di depan Papa?" bisik Arsen dengan nada yang sangat rendah saat mereka sudah sampai di depan kamar Luna.
"Hahaha! Abisnya muka lo lucu banget, Kak! Kayak tersangka kasus korupsi yang lagi disidang!" tawa Luna meledak.
"Oke. Lo mau main-main, kan? Ikut gue," Arsen tidak membiarkan Luna masuk ke kamarnya sendiri. Ia justru menarik Luna masuk ke dalam kamarnya, mengunci pintu, dan langsung memojokkan gadis itu ke dinding.
Malam itu, Arsen tidak memberikan ampun. Sifat kakunya benar-benar menghilang, digantikan oleh sisi gelap yang selama ini Araluna pancing-pancing. Arsen mencengkeram kedua tangan Luna dan mengangkatnya ke atas kepala, menguncinya dengan satu tangan besar.
"Gue udah bilang tadi siang, hukuman lo bakal lebih berat kalau lo masih berani ngeledek gue," desis Arsen. Ia mulai menciumi leher Luna dengan sangat dalam, memberikan tanda-tanda merah yang lebih kentara daripada sebelumnya.
Luna mendesah pelan, tubuhnya melemas di bawah kungkungan Arsen. "K-Kak... nanti kedengeran Papa..."
"Biarin," jawab Arsen cuek. Ia beralih ke bibir Luna, melumatnya dengan gairah yang meledak-ledak. Suasana di kamar itu menjadi sangat panas. Arsen melepaskan kaosnya, memperlihatkan tubuh atletisnya di bawah lampu kamar yang redup. Ia mengangkat Luna, mendudukkannya di atas meja belajarnya, dan melanjutkan aksi panasnya yang membuat Luna benar-benar kehilangan kesadaran akan sekitarnya.
Tangisan Luna berubah menjadi desahan halus saat tangan Arsen mulai menjelajahi area yang lebih sensitif. Mereka begitu larut dalam adegan terlarang itu, hingga mereka tidak menyadari bahwa pintu kamar Arsen sebenarnya tidak tertutup dengan rapat sempurna—ada celah kecil yang tersisa karena Arsen yang terburu-buru tadi.
Di koridor gelap, Bunda baru saja hendak mengantarkan susu hangat untuk Arsen, sebuah kebiasaan kecilnya jika Arsen begadang. Namun, langkah Bunda terhenti tepat di depan celah pintu kamar anaknya.
Melalui celah sempit itu, Bunda melihat segalanya. Ia melihat Arsen, anak tiri yang selama ini ia kenal sangat kaku dan sopan, sedang mendekap erat Araluna, putri kandungnya, dalam posisi yang sangat jauh dari batas kewajaran kakak dan adik. Bunda melihat bagaimana Arsen mencium Luna dengan penuh damba, dan bagaimana Luna menyambutnya dengan tangan yang meremas punggung Arsen.
Bunda mematung. Jantungnya berdegup kencang, tangannya gemetar hingga gelas susu di nampannya sedikit bergoyang. Rasa kaget, hancur, namun juga sebuah pengertian aneh campur aduk di dadanya.
Bunda tidak berteriak. Ia tidak mendobrak pintu itu. Dengan air mata yang mulai menggenang di sudut matanya, Bunda perlahan mundur. Ia menutup mulutnya dengan tangan agar isakannya tidak terdengar. Bunda diam saja, memilih untuk berbalik dan kembali ke kamarnya dengan langkah gontai, menyimpan rahasia besar yang baru saja ia saksikan sebagai sebuah beban yang sangat berat.
Di dalam kamar, Arsen dan Luna masih terjebak dalam dunia mereka sendiri, tidak menyadari bahwa benteng rahasia mereka baru saja retak di tangan orang yang paling mereka cintai.