Elena adalah seorang tunangan dari pria bernama Marcus Leonhardt, dia adalah asisten di perusahaan pria itu. Suatu ketika Marcus membawa seorang perempuan bernama Selena Vaughn yang seorang konsultan komunikasi. Di suatu malam mobil yang di kendarai Elena ada yang mengikuti dan terjadilah BRUUKKK , kecelakaan…dimana Elena akhirnya sadar dan dia membuat keputusan berpura - pura buta. Apakah semua akan terungkap? Siapakah yang mengikuti Elena? Dan bagaimanakah kisah Elena selanjutnya?
On going || Tayang setiap senin, rabu & jumat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Celah yang Tidak Sengaja
Marcus mulai mencari.
Bukan bukti—melainkan kesalahan.
Sejak pagi, pikirannya terasa seperti mesin yang tidak mau berhenti. Ia duduk di ruang kerjanya lebih lama dari biasanya, layar laptop memantulkan wajah tegang yang bahkan tidak ia kenali. Laporan keuangan terbuka berlapis-lapis. Tahun demi tahun. Transaksi demi transaksi.
Semuanya rapi.
Terlalu rapi.
Marcus mengetuk meja pelan, ritmenya tidak stabil. Ia hafal sistem ini. Ia sendiri yang merancang alurnya. Selalu ada ketidaksempurnaan kecil—kesalahan manusia yang wajar. Namun sekarang… tidak ada.
Seolah seseorang telah menyentuh semuanya.
Dan memastikan tidak ada jejak tertinggal.
Dadanya mengencang.
Ia memperbesar satu file lama. Angka-angka bergerak di layar. Tidak ada yang salah. Namun instingnya menolak percaya. Marcus menggeser kursi lebih dekat, menelusuri detail yang bahkan tidak akan diperhatikan orang lain.
Lalu ia menemukannya.
Bukan kesalahan.
Melainkan… kekosongan.
Satu catatan yang seharusnya ada—hilang tanpa bekas.
Marcus membeku.
Tangannya berhenti di atas mouse. Napasnya terasa berat. Catatan itu kecil. Tidak signifikan bagi siapa pun. Tapi ia tahu persis: data seperti itu tidak menghilang begitu saja.
Kecuali seseorang sengaja menghapusnya.
“Tidak mungkin…” gumamnya pelan.
Namun kata-kata itu terdengar lemah bahkan di telinganya sendiri.
...****************...
Di sisi lain kota, Elena duduk di sebuah kafe yang tenang. Tangannya memegang cangkir kopi yang sudah mulai mendingin. Ia tidak minum. Hanya menikmati keheningan yang mengelilinginya.
Orang-orang di sekitar berbicara pelan. Tertawa. Hidup berjalan normal.
Ia menyukai kontras itu.
Ponselnya bergetar satu kali.
Pesan singkat muncul.
Dia mulai mencari.
Elena membaca tanpa mengubah ekspresi. Jarinya mengetuk layar, menghapus pesan itu seperti tidak pernah ada.
Ia tahu momen ini akan datang.
Marcus bukan tipe pria yang diam ketika merasa kehilangan kendali. Ia akan menggali. Mencari. Merusak jika perlu. Dan justru di situlah letak celahnya.
Bukan pada sistem.
Melainkan pada dirinya sendiri.
Elena mengangkat cangkir, akhirnya menyeruput kopi yang sudah hangat suam. Rasanya pahit—menenangkan.
...****************...
Sore itu, Marcus pulang lebih cepat.
Langkahnya tajam ketika memasuki rumah. Ia menemukan Elena duduk di ruang tamu, membaca—atau setidaknya terlihat membaca—sebuah buku.
“Kau di rumah saja hari ini?” tanyanya.
Elena mengangkat wajah. “Aku keluar sebentar.”
“Ke mana?”
“Kafe,” jawabnya ringan.
Tidak ada jeda. Tidak ada keraguan.
Marcus menatapnya lebih lama dari seharusnya. Wajah Elena tenang. Terlalu tenang. Ia mencari tanda kebohongan—getaran napas, gerakan tangan, apa pun.
Tidak ada.
Dan justru itu membuatnya semakin gelisah.
“Kau terlihat lelah,” kata Elena pelan.
Marcus hampir tertawa. “Aku baik-baik saja.”
Namun suaranya terdengar asing.
Ia berbalik pergi tanpa menunggu jawaban. Di lorong, langkahnya melambat. Kepalanya dipenuhi kemungkinan-kemungkinan yang tidak ingin ia akui.
Seseorang menyentuh sistemnya.
Seseorang tahu.
Dan satu-satunya orang yang selalu berada cukup dekat…
Marcus berhenti berjalan.
Tidak.
Itu tidak masuk akal.
Elena tidak mungkin.
…kan?
...****************...
Malam turun perlahan.
Marcus kembali duduk di depan laptopnya. Ia membuka file yang sama—dan kali ini menemukan sesuatu yang membuat darahnya terasa dingin.
Catatan yang hilang tadi…
muncul kembali.
Persis seperti sebelumnya.
Tidak ada perubahan.
Tidak ada tanda manipulasi.
Seolah kekosongan itu tidak pernah ada.
Marcus menatap layar tanpa berkedip.
Tangannya gemetar.
Jika sistemnya tidak rusak…
maka yang bermasalah adalah persepsinya.
Atau—
seseorang sedang bermain dengannya.
Di kamar seberang, Elena menutup matanya dalam gelap. Wajahnya tenang, napasnya stabil. Namun pikirannya tajam seperti kaca.
Ia tidak perlu melihat Marcus untuk tahu—
ia sedang runtuh perlahan.
Dan celah yang paling berbahaya bukanlah kesalahan…
melainkan keraguan yang ditanam tepat di dalam pikiran.
Marcus akhirnya memahami satu hal malam itu:
ia tidak lagi yakin pada apa yang ia lihat.
Dan bagi seseorang yang hidup dari kendali—
itu adalah awal kehancuran.
Bab berikutnya…
Marcus akan mencoba memastikan satu kebenaran—
dan Elena sudah menunggu langkah itu.