Dibenci atasan dan rekannya, itulah Rangga. Dia memang seorang polisi yang jujur dan baik, Rangga semakin disukai masyarakat karena paras tampannya.
Inilah kisah Rangga yang siap dan bekerja keras menyelesaikan berbagai kasus kejahatan. Suatu hari sebuah kasus menuntunnya pada titik terang menghilangnya kakak iparnya. Kasus itu juga membawanya kembali bertemu dengan kakak kandungnya. Maka saat itulah Rangga menyusun rencana balas dendam. Ia tak akan peduli dengan siapapun, bahkan atasannya yang bobrok dirinya hancurkan kalau perlu. Bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9 - Mengejar Pelaku
Fira terlihat panik sekali. Membuat Rangga dan Beben tidak tega untuk bertanya lebih lanjut. Mereka memutuskan untuk menelepon orang tua Fira agar Fira segera dijemput.
"Nadia masih di kuburan, Om! Tolong bantu dia. Aku mohon!" Fira memegangi tangan Rangga. Memohon dengan air mata yang berlinang.
"Kuburan?" Rangga mengerutkan dahi heran.
"Iya. Aku dan Nadia pergi ke sana karena ingin menghentikan teror hantu Mirna. Kami ingin minta maaf. Tapi yang ada kami malah disiksa. Nadia yang terluka cukup parah," ungkap Fira.
"Oke. Kalau begitu aku akan ke kuburan sekarang. Ben! Kau jaga di sini ya!" kata Rangga.
"Kau yakin mau ke sana sendiri, Ga?" tanya Beben cemas.
Rangga mengangguk. "Aku nggak punya pilihan. Nadia pasti butuh bantuan!" sahutnya yakin. Lalu bergegas pergi dengan motornya. Tepat setelah Fira memberitahukan di kuburan mana Nadia berada.
Lokasi pemakaman umum yang disebut Fira tak begitu jauh dari kantor polisi. Makanya tidak heran Fira bisa mendatangi kantor polisi dengan jalan kaki.
Setibanya di kuburan, Rangga langsung mencari Nadia. Dia tentu sulit mencarinya, terlebih itu masih pagi buta. Matahari belum terbit sepenuhnya.
Dengan hanya bersinarkan senter dari ponsel, Rangga telusuri kuburan di sana. Sampai sosok gadis yang tergeletak di tanah dia temukan. Buru-buru Rangga hampiri gadis itu.
"Nadia!" panggil Rangga. Betapa kagetnya dia saat melihat keadaan gadis itu. Kepala Nadia tampak terluka parah, dia juga dalam keadaan bugil.
Nadia tak sadarkan diri. Rangga segera memeriksa keadaan gadis itu. Untungnya Nadia masih bernafas.
Buru-buru Rangga menghubungi ambulans. Dia juga menutupi tubuh Nadia dengan jaketnya. Dirinya juga meminta pertolongan pada warga yang tinggal dekat kuburan. Memastikan Nadia lebih aman dan hangat selagi menunggu ambulans datang.
Rangga kembali ke kuburan. Dia mengedarkan pandangan ke segala arah. Mungkin saja pelakunya masih ada di sekitar sana.
Benar saja, Rangga sukses memergoki ada orang yang mengintip dari balik pohon. Sosok itu langsung berlari saat sadar Rangga melihatnya. Tanpa pikir panjang, Rangga kejar sosok misterius tersebut. Sosok itu terlihat mengenakan pakaian serba hitam, mengenakan tudung hodie dan juga topi.
"Woi! Berhenti!" pekik Rangga sambil melajukan larinya.
Sosok itu berlari memasuki hutan. Namun itu bukanlah halangan bagi Rangga. Andai saja saat itu tidak gelap, Rangga pasti akan menggunakan pistolnya. Sekarang dia hanya bisa mengandalkan kakinya yang berlari secepat mungkin.
Sosok itu berlari cukup lambat, sehingga Rangga lebih mudah mengejarnya. Sosok itu terus berlari, sampai akhirnya dia berhenti di tebing tinggi. Dimana di bawahnya terdapat jurang yang dipenuhi pohon dan batu.
"Angkat tangan!" ujar Rangga sambil menodongkan pistol. "Apa kau yang sudah membuat Nadia begitu?!" tukasnya.
Sosok itu memecahkan tangis. Dia lalu membuka topi dan tudung hodienya. Ternyata sosok dibalik tudung hodie dan topi itu adalah wanita. Rambut panjangnya langsung tergerai saat dia melepas topinya.
"Ya! Akulah pelakunya! Anak-anak itu memang pantas mendapat balasannya!" ujar si wanita.
"Oke. Kau bisa ceritakan semuanya padaku. Tapi tolong menjauhlah dari tebing itu, ya..." pinta Rangga. Dia berhenti menodongkan pistol karena sepertinya pelaku yang ada di hadapannya tampak rapuh.
Perempuan itu menggeleng. "Aku nggak percaya. Kalau aku ikut kau, aku pasti akan di penjara kan? Hukum di negara ini nggak pernah adil. Apalagi untuk orang miskin sepertiku dan adikku..." isaknya. Dia semakin melangkah mundur.
"Apa adikmu Mirna?" tanya Rangga.
Perempuan tersebut terkejut. "Apa anak-anak itu cerita tentang adikku padamu? Apa mereka cerita kalau mereka juga sudah menghancurkan hidup adikku?!" ucapnya pilu. Penuh amarah dan juga kesedihan.
"Apa adikmu diperlakukan tidak adil? Jika begitu, maka kau harus tetap hidup agar penjahatnya bisa dapat hukuman," sahut Rangga. Pelan-pelan dia melangkah maju seraya mengulurkan tangan. "Aku janji akan membantumu," lanjutnya.
"Aku sudah memberi mereka hukuman dengan caraku... Sekarang aku hanya perlu menyusul adikku..." ujar perempuan itu. Dia menjatuhkan dirinya ke jurang.
Rangga yang sudah dekat, sigap meraih tangan perempuan itu.
udahlah gk mau aku jodoh"in lg,kumaha km we lah rangga rek dua" na ge teu nanaon,kesel
Untuk Dita & Astrid harus nyadar diri bahwa cinta tak harus memiliki & harus merelakan bahwa mereka berdua adalah masa lalu bukan masa depan Rangga & mereka berdua harus nyadar diri mereka gak bersih kelakuanya = Rangga 😄