Lestari Putri hidup dalam keluarga yang hancur oleh hutang dan alkohol. Di usia muda, ia dipaksa menikah demi melunasi hutang ayahnya—sebuah pernikahan yang lebih mirip penjara daripada rumah.
Suaminya, Dyon, bukan pelindung, melainkan sumber luka yang terus bertambah, sementara Lestari belajar bertahan dalam diam.
Ketika kekerasan mulai menyentuh seorang anak kecil yang tak bersalah, Lestari mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya: melarikan diri. Tanpa uang, tanpa arah, hanya membawa sisa keberanian dan harapan yang nyaris padam.
Di tengah kerasnya kota, Lestari bertemu seseorang yang melihatnya bukan sebagai beban atau milik, melainkan manusia. Namun masa lalu tidak mudah dilepaskan.
Pernikahan, hutang, dan trauma terus membayangi, memaksa Lestari memilih—tetap terikat pada luka, atau berjuang meraih kebebasan dan cinta yang sesungguhnya.
Akankah Lestari menemukan kebahagiaan setelah badai? Atau masa lalu kelam akan terus menghantui hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan yang Pupus
...Satu Bulan Kemudian...
Lestari mulai ngerasa aneh sama badannya sendiri. Pagi-pagi bangun, sebelum shalat subuh, dia udah mual. Mual yang nggak biasa. Bukan mual karena laper—dia udah biasa laper. Ini mual yang... beda. Kayak ada yang muter-muter di perut, naik ke tenggorokan, pengen keluar tapi nggak bisa keluar.
Dia muntah dua kali seminggu ini. Muntah di kamar mandi belakang, pegang tembok buat menyangga badan, keluar cuma air sama empedu—nggak ada makanan soalnya dia jarang makan.
Payudaranya sakit. Sakit kalau kena apa aja. Bahkan cuma kena kain daster aja udah perih. Puting nya jadi lebih gelap—dia sadar waktu mandi, liat ke bawah, kok warnanya beda.
Terus... telat.
Telat datang bulan.
Biasanya dia dapet tanggal lima belas. Sekarang udah tanggal dua puluh tiga. Telat seminggu lebih.
Lestari nggak bodoh. Dia tau apa artinya.
Tapi dia nggak mau percaya.
Nggak mau.
---
Siang itu—Selasa siang—Lestari lagi nyuci baju di belakang rumah. Tangannya kena air sabun terus-terusan, kulit nya udah keriput parah, ujung jari nya pecah-pecah.
Tiba-tiba ada suara dari pagar bambu.
"Lestari?"
Lestari noleh. Ada perempuan berdiri di balik pagar—perempuan usia tiga puluhan, rambut pendek sebahu, pake kerudung warna biru muda, baju kaos rumahan, mukanya... ramah. Senyumnya tulus.
Bu Ratih.
Anak Pak Dengklek. Perempuan yang tinggal bareng bapaknya buat ngurus Pak Dengklek yang udah tua renta. Suaminya kerja di luar kota, pulang cuma sebulan sekali. Anaknya satu, masih balita, sekarang lagi tidur siang kayaknya.
Bu Ratih ini... jarang keluar rumah. Lestari cuma pernah liat dua-tiga kali dari jauh, nggak pernah ngobrol.
"I—iya, Bu?" Lestari berdiri, ngelap tangan basah ke daster.
Bu Ratih mendekat ke pagar, senyumnya memudar dikit, berubah jadi... tatapan prihatin. Dia natap Lestari lama. Lama banget. Dari atas sampe bawah.
"Kamu... kamu kurus banget ya, Nak. Makan nggak?"
Lestari ngangguk cepet. "Makan, Bu. Aku makan kok..."
Bohong. Tapi dia nggak mau orang lain tau.
Bu Ratih nggak terlihat percaya. Matanya natap pipi Lestari yang cekung, tangan Lestari yang kurus, pergelangan tangan yang tulang nya kelihatan jelas.
"Nak..." Bu Ratih nunduk dikit, suara nya pelan, lembut. "Bapak cerita ke Ibu. Cerita... cerita tentang kamu. Tentang... Dyon."
Lestari langsung panik. "Pak Dengklek bilang apa, Bu? Aku... aku baik-baik aja kok—"
"Kamu nggak perlu bohong ke Ibu. Ibu tau. Ibu denger juga... kadang malem-malem... ada suara teriak. Ada suara... nangis."
Lestari diem. Nggak bisa bela diri lagi.
Bu Ratih ngeluarin napas panjang. "Ibu nggak bisa bantu banyak, Nak. Ibu cuma ibu rumah tangga biasa. Suami Ibu juga gajinya pas-pasan. Tapi... kalau kamu butuh sesuatu, kamu bisa bilang ke Ibu. Ibu usahakan bantu."
Air mata Lestari hampir keluar. Hampir. Tapi dia tahan. Dia udah capek nangis di depan orang.
"Makasih, Bu... tapi aku... aku nggak apa-apa..."
Bu Ratih natap Lestari lagi. Tatapan yang... bukan natap biasa. Tatapan yang... kayak lagi ngelihat sesuatu.
"Nak... kamu... kamu hamil ya?"
Jantung Lestari berhenti seketika.
Hamil.
Kata itu.
Kata yang dia takuti.
"A—aku... aku nggak—"
"Kamu mual-mual kan? Ibu liat tadi kamu keluar dari kamar mandi, muka kamu pucat. Terus kamu pegang perut. Ibu... Ibu pernah hamil juga, Nak. Ibu tau tandanya."
Lestari nggak bisa bohong lagi. Kakinya lemes. Dia jatuh duduk di lantai semen belakang rumah, tangan nutup muka.
Nggak nangis. Cuma... diem. Diem yang nunjukin dia udah nggak kuat lagi.
Bu Ratih langsung buka pagar bambu—pagar nya gampang dibuka soalnya cuma dijalin pake tali—terus masuk, jongkok di samping Lestari.
"Nak... udah berapa lama telat?"
Lestari ngangkat muka. Matanya merah. "Seminggu... lebih..."
Bu Ratih ngangguk pelan. "Kamu udah cek?"
Lestari menggeleng. "Aku... aku nggak punya uang buat beli... beli itu..."
Alat tes. Alat yang dipake buat ngecek hamil atau nggak. Lestari tau ada—dia pernah liat di warung, harganya dua puluh ribu-an. Tapi dia nggak punya uang. Nggak ada sepeser pun.
Bu Ratih ngeluarin napas panjang. "Ibu beliin ya. Tunggu di sini."
"Bu nggak usah—"
"Udah, nggak usah nolak. Ibu beliin. Kamu tunggu."
Bu Ratih berdiri, jalan cepet keluar, nutup pagar lagi, terus masuk ke rumahnya.
Lestari duduk sendirian di situ. Tangannya gemetar. Pikirannya kacau.
Hamil.
Kalau beneran hamil...
Kalau beneran ada bayi di perut...
Gimana?
Gimana dia bisa ngurus bayi di rumah ini? Rumah yang nggak ada kasih sayang. Rumah yang penuh kekerasan. Rumah yang... yang bahkan nggak layak buat manusia, apalagi buat bayi.
"Ya Allah... kumohon jangan... jangan hamil... kumohon..." Bisik Lestari pelan, tangan nya mengelus perut yang masih rata.
Tapi hati kecilnya udah tau jawabannya.
---
Lima belas menit kemudian, Bu Ratih balik. Di tangan nya ada kantong plastik kecil—kantong plastik warung.
"Ini." Bu Ratih ngasih kantong itu ke Lestari. "Ibu beliin dua. Biar lebih yakin."
Lestari nerima dengan tangan gemetar. Dia buka kantong—ada dua kotak alat tes kehamilan. Kotak nya warna ungu, tulisan nya "akurat 99%".
Akurat 99%.
Lestari menelan ludah.
"Kamu tes sekarang. Ibu tungguin di sini." Bu Ratih duduk di lantai, bersandar ke pagar bambu.
Lestari masuk ke kamar mandi belakang. Kamar mandi yang sempit, yang gelap, yang bau pesing.
Tangannya gemetar parah waktu buka kotak pertama. Dalem nya ada alat—batang kecil putih dengan ujung biru.
Dia baca instruksi di kotak. Harus kencing ke alat nya. Tunggu lima menit. Kalau ada dua garis berarti positif. Kalau satu garis berarti negatif.
Dua garis berarti hamil.
Lestari ngambil napas dalam. Buang pelan.
Dia lakukan sesuai instruksi. Kencing ke alat. Alat nya basah. Dia taro di atas ember plastik yang dibalik—jadi alas datar.
Terus dia tunggu.
Lima menit.
Menit-menit paling lama dalam hidup Lestari.
Dia duduk di lantai kamar mandi, memeluk lutut, natap alat itu dari jauh. Jantung nya berdegup keras banget. Telinga nya berdenging.
Kumohon satu garis... kumohon satu garis... kumohon...
Tapi harapan itu... harapan itu cuma harapan kosong.
Waktu lima menit lewat, Lestari merangkak ke ember. Ngambil alat tes. Ngeliat.
Dua garis.
Dua garis merah muda yang jelas banget.
Positif.
Hamil.
Alat tes jatuh dari tangan Lestari. Jatuh ke lantai kamar mandi yang basah—PLUK.
Lestari menutup mulut pake kedua tangan. Matanya melebar. Napas nya berhenti.
Hamil.
Dia hamil.
Ada bayi di perut dia.
Bayi... hasil dari pemerkosaan. Hasil dari kekerasan. Hasil dari malam-malam yang penuh siksaan.
Nggak.
Nggak nggak nggak.
Lestari nggak nangis. Dia cuma duduk diem. Menatap kosong ke tembok kamar mandi yang berlumut.
Pikirannya... nggak jalan. Kayak macet. Kayak rusak.
Dari luar, suara Bu Ratih. "Nak? Kamu sudah selesai?"
Lestari nggak jawab.
"Nak?"
Pintu kamar mandi dibuka pelan. Bu Ratih masuk, liat Lestari yang duduk diem, terus liat alat tes di lantai.
Dua garis.
Bu Ratih nutup mulut, matanya berkaca-kaca. "Ya Allah... kamu hamil, Nak..."
Lestari noleh pelan ke Bu Ratih. Matanya kosong. "Bu... aku... aku hamil..."
"Iya, Nak... kamu hamil..."
"Aku... aku hamil..." Lestari ngulang lagi, kayak nggak percaya sama kata-kata nya sendiri.
Terus air mata nya keluar. Deras. Kayak bendungan jebol.
Bu Ratih langsung peluk Lestari. Peluk erat. Lestari nangis di pelukan Bu Ratih—nangis keras, sesengukan, tubuh nya getar parah.
"Bu... aku... aku nggak siap... aku nggak siap punya anak... aku... aku masih anak-anak sendiri... aku baru... baru delapan belas tahun... aku nggak tau harus gimana... aku nggak tau..." Lestari bicara cepet, nggak jelas, napas nya sesengukan.
"Ssshh... ssshh... tenang, Nak... tenang..." Bu Ratih mengelus punggung Lestari pelan. "Ibu tau kamu kaget... Ibu tau kamu takut... tapi... tapi sekarang kamu harus kuat. Kamu harus jaga kandungan kamu. Kamu ngerti?"
"Tapi Bu... gimana aku bisa jaga kandungan di rumah ini? Di rumah yang... yang penuh kekerasan? Gimana aku bisa membesarkan anak di sini?"
Bu Ratih diem. Nggak bisa jawab. Karena pertanyaan itu... pertanyaan yang nggak ada jawaban gampang.
"Nak... kamu harus bilang ke Dyon. Dia... dia bapaknya. Dia harus tau."
Lestari menggeleng kuat. "Nggak... nggak Bu... dia... dia bakal marah... dia bakal—"
"Dia harus tau. Mau dia marah atau nggak, dia harus tau. Ini anaknya juga."
Lestari merem erat. Ngebayangin reaksi Dyon. Ngebayangin tamparan. Ngebayangin tendangan. Ngebayangin...
Tapi Bu Ratih bener. Dyon harus tau.
---
Malam itu.
Sekitar jam sembilan.
Dyon pulang. Nggak mabuk hari ini—syukur. Dia dapet kerjaan baru, buruh angkut di pasar. Gaji harian, lima puluh ribu. Capek tapi ya lumayan.
Dia duduk di sofa, ngelap keringat pake ujung kaos. Wulandari lagi di kamar, lagi tidur kayaknya—dia sekarang sering sakit-sakitan, pinggang nya sering pegel.
Lestari berdiri di pintu dapur. Tangannya menggenggam kain daster erat. Jantung nya berdegup kayak orang mau perang.
Dia harus bilang. Sekarang.
Kalau nggak sekarang, dia nggak bakal pernah bilang.
"Mas..." Suara nya keluar pelan, gemetar.
Dyon noleh. "Apa?"
"Aku... aku harus bilang sesuatu..."
"Bilang aja. Gue capek."
Lestari melangkah pelan ke ruang tamu. Berdiri agak jauh dari sofa—jaga jarak, takut tiba-tiba dipukul.
"Aku... aku hamil."
Hening.
Dyon berhenti ngelap keringat. Tangannya diem di tengah-tengah. Matanya natap Lestari. Datar. Kosong.
"Hamil?" ulangnya pelan.
Lestari ngangguk. "Iya... aku udah tes tadi siang... hasilnya positif..."
Hening lagi.
Lama.
Lima detik. Sepuluh detik. Lima belas detik.
Terus Dyon... tertawa.
Tertawa pelan. Terus makin keras. Terus makin keras lagi sampe jadi tawa ngakak.
Lestari bingung. Kenapa dia ketawa?
"Lo hamil?" Dyon ngusap mata nya yang keluar air mata—air mata karena ketawa. "Lo hamil anak gue?"
"I—iya..."
"Terus?" Dyon berdiri, jalan ke arah Lestari. Nggak dengan niat mukul—cuma jalan biasa. Berhenti di depan Lestari, natap ke bawah—dia lebih tinggi sepuluh sentimeter.
"Terus apa, Mas?" Lestari bingung.
"Gue tanya: terus kenapa? Lo ngira gue bakal seneng? Lo ngira gue bakal rayain? Lo ngira gue bakal beliin lo susu hamil, vitamin, periksa ke dokter?"
Lestari... nggak jawab. Karena dia... dia nggak ngira apa-apa. Dia cuma bilang. Cuma itu.
Dyon balik badan, duduk lagi di sofa, nyalain TV pake remote. "Itu urusan lo. Gue nggak punya duit buat urus anak. Lo ngurus sendiri."
Urusan lo.
Kata-kata itu... kata-kata itu nancep kayak pisau di dada Lestari.
"Tapi... tapi ini anak kita, Mas... anak kita berdua—"
"GUE NGGAK PEDULI!" Dyon membentak tiba-tiba, suara nya keras, bikin Lestari loncat kaget. "Lo mau aborsi, aborsi! Lo mau lahirin, lahirin! Terserah lo! Yang penting jangan ganggu gue! Gue udah cape kerja seharian, gue nggak mau di ribetin ama masalah lo!"
Lestari mundur selangkah. Kakinya gemetar.
Pintu kamar kebuka. Wulandari keluar, rambut nya acak-acakan, mata nya sipit ngantuk. "Ribut apa sih? Ibu mau tidur!"
"Dia hamil, Mah," kata Dyon datar sambil tetep natap TV.
Wulandari melongo. Noleh ke Lestari. "Hamil? Lo hamil?"
Lestari pun mengangguk pelan.
lo yang kerja bukan cewek yang kerja kalo gitu lo pake daster aja biar cocok
istri kerja
Lo pake baju daster daleman bikini 😁