SINOPSIS
Feng Ruxue adalah Permaisuri dari Kekaisaran Phoenix yang dikhianati oleh suaminya sendiri, sang Kaisar, dan adik perempuannya yang licik. Mereka menjebak Ruxue, mencabut tulang sumsum phoenix-nya (sumber kekuatannya), dan membakarnya hidup-hidup di Menara Terlarang.
Namun, alih-alih mati, jiwa Ruxue justru bangkit kembali ke tubuh seorang gadis lemah berwajah buruk rupa yang sering ditindas di desa terpencil. Dengan ingatan masa lalunya sebagai kultivator tingkat tinggi, ia mulai berlatih kembali, menyembuhkan wajahnya, dan membangun pasukan rahasia. Ia kembali ke ibu kota bukan untuk meminta maaf, tapi untuk mengambil kembali mahkotanya dan membakar setiap orang yang pernah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mieayam(•‿•), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Pedang Hitam dan Bayangan Kematian
Udara pagi di Kota Cahaya Bulan terasa jauh lebih dingin dari biasanya, seolah-olah embun yang turun membawa pesan kematian bagi mereka yang belum terjaga. Kabut tipis menyelimuti jalanan batu yang mulai retak di beberapa sudut, menyembunyikan langkah kaki Lin Xiao yang tenang namun mematikan. Ia baru saja meninggalkan perlindungan Paviliun Obat Seribu Tahun setelah memastikan Yun'er berada dalam pengawasan ketat dan aman di bawah perlindungan formasi Kepala Paviliun Gu. Di pinggangnya, sebilah pedang pendek hitam bernama 'Nightshade'—pusaka kuno yang diberikan oleh Gu sebagai penghormatan kepada ibunya—tergantung dengan tenang, seolah-olah ia adalah makhluk hidup yang sedang menunggu saat yang tepat untuk mencicipi darah segar.
Lin Xiao tidak langsung melangkah menuju kediaman utama Klan Yan yang dijaga ketat. Sebagai mantan Dewi Perang yang telah memimpin ribuan pasukan di medan tempur, ia tahu betul bahwa menyerang secara frontal tanpa informasi yang akurat adalah tindakan bunuh diri yang konyol. Ia membutuhkan mata dan telinga di tempat yang paling gelap. Ia melangkah menuju Distrik Kelabu, sebuah pasar gelap kota di mana rahasia diperjualbelikan lebih cepat daripada pil energi murahan.
Bau busuk sampah dan aroma asap rokok murahan memenuhi udara saat Lin Xiao memasuki sebuah kedai tua yang remang-remang. Ia melangkah menuju meja di pojok ruangan, tempat seorang informan tua bermata satu duduk dengan tenang.
"Satu informasi mendalam tentang distribusi penjagaan di kediaman Yan untuk malam ini," ucap Lin Xiao dengan nada yang sangat datar, sambil meletakkan beberapa koin perak di atas meja kayu yang sudah lapuk dan berminyak.
Informan itu menatap koin-koin tersebut, lalu mengangkat pandangannya ke arah Lin Xiao. Saat matanya menangkap tato mawar hitam di pipi gadis itu, tubuhnya sedikit gemetar. Berita tentang seorang gadis yang melumpuhkan putra klan Yan di pasar sudah menjadi legenda urban di kalangan bawah tanah hanya dalam semalam.
"Nona... Anda benar-benar nekat atau mungkin sudah bosan hidup," bisik informan itu sambil menarik koin-koin tersebut ke dalam sakunya yang kotor. "Klan Yan tidak lagi main-main. Mereka telah memanggil kembali tiga Tetua yang sebelumnya bermeditasi di pegunungan terpencil. Kediaman mereka kini tidak ubahnya benteng besi yang siap menghancurkan siapa pun yang berani mendekat. Namun, ada satu hal yang mereka sembunyikan. Malam ini, tepat saat bulan mencapai puncaknya, Yan Feng akan mengadakan ritual pemurnian menggunakan Teratai Darah di paviliun belakang. Saat itulah, seluruh fokus energi formasi pelindung mereka akan dialirkan ke dalam bunga tersebut, meninggalkan titik buta di gerbang belakang."
Lin Xiao mengangguk perlahan, matanya yang ungu gelap berkilat dingin. "Teratai Darah. Jadi pria itu sudah begitu putus asa untuk menembus tahap Pembentukan Inti tingkat tinggi hingga ia rela melemahkan pertahanannya sendiri."
"Benar, Nona. Tapi jangan salah sangka. Meski formasinya lemah, Yan Feng telah menempatkan pasukan Garda Air Biru paling elit untuk mengepung paviliun itu. Jika Anda masuk ke sana, itu adalah jalan satu arah menuju kematian," tambah informan itu dengan nada yang seolah-olah sedang memberikan nasehat terakhir bagi orang mati.
Lin Xiao tidak menjawab. Ia berbalik dan meninggalkan kedai tersebut tanpa sepatah kata pun. Ia menghabiskan sisa siangnya di sebuah hutan bambu yang sunyi di pinggiran kota. Di sana, ia melakukan sinkronisasi antara energinya dengan pedang Nightshade. Setiap kali ia mengayunkan pedang tersebut, sebuah garis hitam tipis seolah membelah dimensi udara, meninggalkan jejak korosif yang membuat batang bambu hancur menjadi debu hitam sebelum sempat menyentuh tanah.
‘Tubuh Lin Xiao ini... perlahan-lahan mulai bisa menampung kekuatan jiwaku yang sesungguhnya,’ batinnya sambil menatap telapak tangannya yang mulai terbiasa dengan berat senjata.
Malam pun tiba, membawa kegelapan yang pekat menyelimuti Kota Cahaya Bulan. Lin Xiao berdiri di puncak atap sebuah menara pengintai yang sudah lama ditinggalkan. Dari sana, ia bisa melihat kediaman Klan Yan yang bercahaya megah di kejauhan, tampak seperti permata di tengah kegelapan. Sebuah pilar cahaya ungu tipis mulai membumbung dari bagian belakang kediaman tersebut—tanda bahwa ritual pemurnian telah dimulai.
"Malam ini, bunga itu akan mekar dengan darah pemiliknya sendiri," bisiknya pada angin malam.
Lin Xiao melesat dari satu atap ke atap lainnya seperti bayangan yang menyatu sempurna dengan malam. Gerakannya sangat ringan, nyaris tanpa suara, sebuah teknik infiltrasi tingkat tinggi yang pernah ia gunakan saat menyusup ke perkemahan musuh di masa lalu. Saat ia tiba di tembok belakang kediaman Yan, dua penjaga dari Garda Air Biru sedang berdiri dengan tombak terhunus, mata mereka menyisir setiap sudut dengan waspada.
Lin Xiao tidak memberikan mereka sedetik pun untuk menyadari kehadirannya. Dalam satu gerakan yang begitu halus dan cepat, ia muncul di belakang mereka.
Sret! Sret!
Dua tebasan presisi dari Nightshade memutus saraf leher mereka sebelum mereka sempat mengeluarkan suara sedikit pun. Lin Xiao dengan cekatan menahan tubuh mereka agar tidak jatuh berdebam ke tanah, lalu menyeret mereka ke dalam kegelapan semak-semak taman. Ia terus bergerak masuk, melewati labirin taman yang dijaga ketat oleh patroli setiap sepuluh menit.
Dengan memanfaatkan indranya yang sepuluh kali lebih tajam dari manusia biasa, ia menembus setiap lapisan penjagaan dengan mudah.
Namun, saat ia hanya berjarak beberapa puluh meter dari paviliun ritual, sebuah aura yang berat dan menyesakkan tiba-tiba menekan area tersebut. Seorang pria tua dengan rambut abu-abu panjang dan jubah hitam berdiri tegak menghalangi satu-satunya jalan masuk. Dia adalah Tetua Agung Yan, seorang praktisi yang sudah lama berada di Tahap Pembentukan Inti awal.
"Tikus kecil, aku sudah mencium bau busuk Energimu sejak kau menginjakkan kaki di tembok ini," ucap pria tua itu dengan suara serak yang mengandung tekanan spiritual. "Kau pikir kau bisa menyelinap masuk ke tempat suci klan kami tanpa terdeteksi? Kau terlalu meremehkan martabat klan Yan."
Lin Xiao perlahan mencabut pedang Nightshade dari sarungnya sepenuhnya. Aura hitam pekat mulai menyelimuti bilah pedang tersebut, menciptakan kontras yang mengerikan dengan cahaya rembulan yang pucat. "Martabat? Aku tidak melihat martabat di sini. Yang kulihat hanyalah sekumpulan orang rakus yang sedang menunggu ajal mereka."
Tetua itu menggeram marah, wajahnya memerah padam. Ia mengayunkan tongkat kayu cendana miliknya yang dialiri energi spiritual biru, menciptakan gelombang tekanan udara yang dahsyat yang mampu meremukkan tulang manusia biasa.
Lin Xiao melompat ke udara dengan anggun, memutar tubuhnya di tengah tekanan angin dan meluncurkan serangan balasan. 'Tarian Mawar Hitam: Kelopak Gugur!' Puluhan kilatan energi hitam berbentuk sabit meluncur deras dari pedangnya, menyerang Tetua itu dari berbagai sudut yang mustahil. Pria tua itu terkejut setengah mati; ia belum pernah melihat energi yang begitu agresif dan mampu mengikis energi spiritual birunya dengan begitu cepat.
DUAK!
Tongkat kayu cendana milik Tetua itu patah menjadi dua bagian, dan sebuah sayatan dalam muncul di bahunya hingga menembus tulang. Ia mundur beberapa langkah dengan wajah yang kini dipenuhi rasa ngeri yang murni. "Energi ini... ini bukan energi spiritual manusia! Apa kau... kau adalah monster dari klan terlarang yang seharusnya sudah musnah?!"
Lin Xiao tidak memberikan jawaban. Ia muncul tepat di depan mata Tetua itu, ujung Nightshade yang dingin sudah menempel di pangkal leher pria tua tersebut. "Pilihanmu sangat sederhana, Tetua. Minggir sekarang dan biarkan aku mengambil teratai itu, atau kau akan menjadi korban pertama yang kuberikan untuk menghormati leluhurku malam ini."
Tetua itu gemetar hebat, seluruh keberaniannya runtuh saat ia melihat kematian di mata ungu Lin Xiao yang tak memiliki emosi. Dengan tangan yang gemetar, ia menjatuhkan sisa tongkatnya dan mundur dengan langkah gontai, memberikan jalan masuk bagi sang Dewi Perang.
Lin Xiao terus melangkah maju tanpa menoleh lagi, menuju pusat paviliun ritual. Di sana, di tengah sebuah kolam berisi darah binatang buas yang mendidih, Yan Feng sedang duduk bermeditasi di hadapan sebuah bunga teratai berwarna merah darah yang memancarkan cahaya mistis yang menyilaukan.
"Yan Feng," suara Lin Xiao bergema di dalam paviliun yang luas, membawa aura dingin yang membekukan darah. "Waktunya membayar hutang darahmu dengan nyawamu sendiri."
Yan Feng perlahan membuka matanya, memperlihatkan mata yang sudah berubah menjadi merah akibat pengaruh kuat dari Teratai Darah. Sebuah senyuman gila muncul di wajahnya yang pucat. "Jadi kau datang juga, Lin Xiao. Teratai ini hampir sempurna. Dan darah dari pemilik Energi Nirwana sepertimu adalah pelengkap yang selama ini aku cari untuk mencapai tahap abadi!"
Lin Xiao mengepalkan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menggenggam erat pedang Nightshade hingga buku jarinya memutih. "Mari kita lihat, apakah teratai itu akan mekar karena kekuatanku, atau karena darahmu yang tumpah di atasnya."