Ketika teman baiknya pergi ke Korea untuk menjadi seorang idol, Sena mengantarkan kepergiannya dengan senang hati. Menjadi penyanyi adalah impian Andy sejak kecil, maka melepasnya untuk menggapai mimpi adalah sebuah keputusan terbaik yang bisa Sena ambil.
Setelah kepergian Andy ke Korea, mereka kehilangan kontak sepenuhnya. Sependek pengetahuannya, persiapan menjadi idol berarti merelakan waktunya banyak tersita untuk berlatih banyak hal. Jadi hari-hari Sena lalui tanpa rasa keberatan. Malah, tak lupa selalu diselipkannya doa untuk teman baiknya, semoga kelak berhasil debut dan menggapai cita-citanya.
Namun siapa sangka, kerelaan hati Sena itu pada akhirnya membawa jalannya sendiri untuk kembali bertemu dengan Andy sang teman baik. Di pertemuan setelah sekian lama, akankah Sena menemukan Andy masihlah sama dengan Andy yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak?
Masihkah mereka menjadi perfect partner bagi satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Like We Used To
...Hana...
^^^Hana...^^^
^^^Kau pulang, kan, malam ini? ^^^
Iya, kenapa.
^^^Oh, aku hanya ingin bertanya apakah tidak apa-apa kalau aku mengajak Andy ke apartemen kita nanti^^^
Sena...
Kau akan membawa Andy Kim ke apartemen kita?
Si idol Andy Kim?
^^^Iya... Kalau kau tidak keberatan ^^^
Tentu saja aku tidak keberatan!
Hei, kapan lagi apartemen kita didatangi seorang idol?
Oh, apa yang harus aku siapkan?
Apa aku harus berdandan yang cantik?
Perlu kucoba menggodanya?
^^^Haha boleh boleh saja^^^
^^^Aku ingin lihat bagaimana dia bereaksi jika seorang gadis menggodanya^^^
Hell nah
Aku ingat ekspresi salah tingkahnya saat seorang fans menggodanya haha
^^^Iya, kan? Haha^^^
^^^Jadi kau tidak keberatan, oke?^^^
Tentu. Bawalah dia
Karena dia adalah teman baikmu, kurasa aku bisa percaya bahwa dia adalah orang yang baik di belakang layar sekalipun
^^^Haha terima kasih^^^
Nah
Sampai jumpa nanti malam
^^^Iya^^^
Sena menutup room chat dengan senyum mengembang. Daripada sekadar teman serumah, Hana adalah seseorang yang penting juga bagi Sena. Penting baginya untuk memastikan Hana nyaman, bisa menerima kehadiran Andy. Alangkah lebih baik lagi kalau mereka malah bisa berteman akrab juga.
Saat ini, Sena sedang mengerjakan beberapa tugas kuliah di perpustakaan kampus. Jemarinya menari di atas keyboard, sesekali berhenti, mengambil jeda untuk berpikir. Keadaan sekitarnya sepi, hanya diisi suara keyboard, pena, dan halaman buku yang dibalik. Suasana yang sangat Sena sukai. Sebab dia bisa fokus mengerjakan tugasnya tanpa terlalu banyak distraksi.
Waktu berlalu begitu saja sejak Sena tenggelam dalam kegiatannya. Tahu-tahu, tugasnya sudah selesai. Saat mengitarkan pandangan ke sekeliling perpustakaan, dia menyadari tidak terlalu banyak orang yang masih tinggal. Masuk akal, karena sekarang sudah cukup malam. Sena cepat-cepat memasukkan barang-barangnya ke dalam tas, dan keluar menuju mobilnya. Itu bukan mobil mewah, tapi setidaknya cukup membantunya ke sana kemari. Dia dan Hana sama-sama memiliki privilese, bisa membeli mobil masing-masing. Karena ada beberapa waktu di mana jadwal mereka berbeda, dan tidak memungkinkan untuk saling memberi tumpangan.
Sena menyetir pulang, memutar beberapa lagu ballad yang menemaninya menyusuri jalanan malam kota Seoul. Berhubung dia tidak sedang buru-buru, Sena tidak terlalu memusingkan kemacetan yang terjadi. Cukup pengertian untuk memahami bahwa semua orang hanya ingin segera pulang ke rumah dan beristirahat.
Saat mobilnya stuck di salah satu ruas jalan, Sena menyingkirkan kedua tangan dari kemudi, membiarkannya mendarat di atas paha. Punggungnya bersandar, sembari pandangannya berkelana mengamati keadaan sekitar. Kendaraan yang stuck, beberapa pengemudi menyembulkan kepala keluar sambil menggerutu tidak sabar, dan juga keadaan di sisi lain jalan di mana orang-orang berlalu-lalang saling melewati satu sama lain tanpa tegur dan saling sapa. Mereka semua sibuk. Mereka semua fokus pada tujuan masing-masing.
Di momen seperti ini, saat dia bisa berhenti sejenak dan melakukan observasi, Sena merasa senang. Dia gemar mengamati manusia. Senang mendapatkan kesadaran bahwa setiap manusia yang ditemuinya, memiliki kehidupan yang sama kompleksnya. Sena senang saat mengetahui bahwa ia tidak struggle sendiri, karena setiap orang memiliki masalahnya masing-masing.
Perlahan tapi pasti, mobil mulai bisa bergerak lagi. Sena melanjutkan sisa perjalannya, hingga akhirnya tiba juga di apartemen. Seperti biasa, Nan sudah menunggu di depan pintu. Ia menyapa dan memberikan pelukan pada Nan, sebelum lanjut masuk untuk menyapa Hana di ruang tamu.
Hana sedang membaca buku, dengan Mala tiduran di atas pangkuannya. Begitu melihat Sena masuk, Hana tersenyum dan langsung menutup bukunya.
"Hai," sapanya.
"Hai," Sena menyapa balik, langsung ikut membenamkan diri di sebelah Hana.
"Pasti melelahkan, kan?" tanya Hana. Sena mengangguk dengan mata terpejam. "Ya ... ini memang hari yang melelahkan. Aku juga baru selesai. Oh, by the way, di kulkas ada makanan kalau kau mau. Aku memesan lebih tadi."
Sena, masih dengan mata terpejam, meraih kaki Hana dan meremasnya pelan. "Terima kasih, kawan. Aku mau mandi dulu, baru makan."
Hana terkekeh pelan dan mengangguk, lalu kembali sibuk dengan bukunya.
Untuk beberapa lama, Sena menegakkan tubuhnya, setengah melamun di atas sofa, sebelum akhirnya bergegas naik ke lantai atas untuk mandi. Setelah selesai mandi dengan air hangat dan kembali ke kamar, ia melihat pesan masuk dari Andy.
...Andy ...
Aku baru selesai
Aku ke sana sekarang ya
^^^Iya, hati-hati di jalan^^^
^^^ ^^^
Sena tidak menantikan balasan lagi, alih-alih bersiap lebih cepat. Dia mengeringkan rambutnya sebentar, lalu membiarkannya setengah basah, untuk nanti kering penuh secara alami.
Begitu selesai, Sena bergegas turun. Dia sedang membuat teh ketika bel apartemen berbunyi. Kegiatannya dijeda. Sena berlari kecil membukakan pintu dan mempersilakan Andy masuk.
"Hai," sapa Andy, bernapas lega kala matanya menemukan presensi Sena di hadapannya. Dia menyadari rambut Sena setengah basah, menambah kecantikan alami yang didukung oleh outfit santainya malam ini.
"Masuklah," kata Sena seraya melangkah mundur, memberi ruang bagi Andy untuk masuk.
Andy melepaskan maskernya seraya melangkahkan kaki meninggalkan posisi terakhirnya, menampakkan wajah polos tanpa make up, dan melepas jaket. Sama seperti Sena, Andy juga berpakaian santai. Hanya mengenakan celana training dan hoodie. Dia mengikuti langkah Sena yang membawanya menuju ruang tamu, di mana Hana menaikkan pandangannya dari buku yang dibaca dan tersenyum melihat kedatangan mereka.
"Ini teman baik sekaligus roomate yang kuceritakan padamu, Hana. Hana, ini Andy," kata Sena, memperkenalkan dua teman baiknya kepada satu sama lain.
"Hai, senang bertemu denganmu."
"Senang bertemu denganmu juga, Andy. Aku mendengar banyak tentangmu dari Sena." Hana membalas, disusul terbitnya senyum tiga jari.
Andy menaikkan sebelah alisnya, menatap Sena penuh tanya. "Oh, benarkah?"
"Iya," sahut Sena. Disuruhnya Andy duduk di sofa, selagi ia berjalan menuju dapur. "Aku menceritakan semua hal tentang petualangan masa kecil kita."
Hana mengangguk, seraya menghitung kembali sebanyak apa cerita yang Sena bagikan kepadanya selama mereka berteman. Andy terkekeh pelan melihatnya, untuk langsung sibuk menyapa Nan ketika makhluk berbulu itu datang dengan ekor bergerak antusias.
"Aku mau membuat teh, apa kalian mau?" tanya Sena, setengah berseru, dari dapur. Di lemari kabinet di depannya, dia menyimpan beberapa kotak teh dengan aroma berbeda. Sena suka menyeduh teh setelah melewati hari yang panjang dan melelahkan, maka tidak heran dia memiliki banyak koleksi teh.
"Mau!" seru Hana balik.
"Aku juga mau. Terima kasih," sahut Andy. Setelahnya, dia mulai mengajak Hana mengobrol, membicarakan hal-hal yang ringan untuk saling mengenal satu sama lain.
Dari dapur, Sena mencuri lihat dan dengar. Tampak obrolan santai antara dua teman baiknya itu masih sedikit canggung, tapi sudah cukup membuat hatinya menghangat. Ini adalah awal yang bagus. Setidaknya, mereka masih berniat mengobrol alih-alih hanya saling diam membisu.
"Hana, aku membuatkanmu teh beri," kata Sena, tahu betul itu adalah favoritnya. "Kau mau teh rasa apa, Andy?"
"Adanya apa?" Andy bertanya balik.
"Banyak," sahut Sena, terkekeh pelan. Dia menunjukkan beberapa kotak teh yang dikeluarkannya dari lemari.
"Mmm ... earl grey?"
"Oke."
Tidak berapa lama, Sena kembali membawa nampan berisi tiga cangkir teh dengan aroma dan rasa yang berbeda. Dia meletakkannya di meja, lalu bergabung duduk dengan kedua temannya.
Sambil menunggu teh mereka agak dingin, percakapan santai mulai terbangun secara alami. Ada tawa tercipta di tengah-tengah obrolan. Dalam sekejap, mereka bertiga menjelma menjadi teman-teman akrab. Obrolan berlangsung tanpa kekhawatiran apa pun, seakan mereka sudah saling nyaman satu sama lain.
Setelah beberapa waktu, dan teh di cangkir mereka akhirnya habis, Hana pamit undur diri. Dia akan ke lantai atas dan tidur lebih awal, memberikan waktu bagi Andy dan Sena untuk berduaan.
"Selamat tidur," kata Sena, mengantarkan kepergian Hana dengan senyum dan lambaian tangan.
Begitu Hana tidak lagi terlihat, Andy melirik Sena di tempatnya duduk, menatapnya sejenak sebelum menepuk sisi kosong di sebelahnya di atas sofa.
"Kemarilah," katanya.
"Aw, apa kau mau berpelukan denganku?" Sena menggoda, menaik-turunkan alisnya dengan jahil.
Andy merengut. "Bukan begitu. Ah, kemarilah," ulangnya sambil menepuk ruang kosong di sebelahnya lebih heboh.
"Tidak mau. Aku nyaman duduk di sini."
Andy menelengkan kepala, menatap Sena lekat. "Ayolah, Lara...." rengeknya.
Daripada menyerah, Sena malah mencari pengalihan isu. Dia meraih remote televisi dan bertanya, "Kau mau menonton sesuatu?" Yang membuat Andy menghela napas dan mengempaskan punggungnya ke sofa.
Namun pada akhirnya Andy tetap setuju.
Sena memencet tombol power, berkutat sebentar untuk memilih film dari layanan streaming yang ada.
"Kita harus menonton ini," katanya pada Andy, sambil menatapnya dengan mata berbinar. "Kita sering menontonnya bersama dulu."
Andy mengarahkan pandangannya ke layar, di mana tampak poster film The Lion King si sana. Dia tersenyum, mengingat lagi kenangan dari hari-hari di mana mereka masih sering menghabiskan waktu bersama dulu.
"Ya," katanya. "Kita sudah menontonnya, mungkin sebanyak ribuan kali."
"Maka yang ini akan jadi yang ke-seribu satu." Sena memutuskan. Dipencetnya tombol putar, senyum mengembang seiring intro yang familier mulai terdengar.
Selama film berlangsung, Andy tidak bisa sepenuhnya fokus. Ia akan sesekali melirik ke arah Sena, mengamati bagaimana gadis itu tenggelam dalam alur cerita seakan itu adalah kali pertama menontonnya.
"Sena," panggilnya. Tapi Sena sama sekali tidak bisa mengalihkan pandangannya dari layar televisi sekarang.
"Sena," Dia mengulang, sedikit lebih keras, dan Sena akhirnya menoleh.
Andy merentangkan tangan lebar-lebar, mengundang Sena untuk sebuah pelukan hangat.
Kali ini, Sena tidak menolak. Dengan cepat dia berpindah ke sofa, menghambur ke dalam pelukan Andy.
"Long live the king..."
Sena bereaksi atas empat kata tersebut, meremas hoodie Andy lebih erat. Matanya mulai berkaca-kaca ketika sampai pada scene di mana Mufasa jatuh, sebelum akhirnya Simba dengan panik menemukannya telah mati. Anak singa itu menangis di samping jasad ayahnya, membuat Sena ikutan melelehkan air mata. Dia membenamkan wajahnya di dada Andy dan mulai terisak kecil.
Sementara Andy, dia tersenyum lembut seraya mengusap punggung Sena. Merasa lega karena setidaknya, dia bisa ada di samping Sena untuk menenangkannya seperti ini. Setelah kehilangan gadis itu sekali, Andy telah bertekad tidak akan melakukannya lagi. Mulai sekarang, dia akan selalu ada di sisi Sena. Dia berjanji.
Bersambung....