Mikhasa tidak pernah menyangka jika cinta bisa berakhir sekejam ini. Dikhianati oleh pacar yang ia cintai dan sahabat yang ia percaya, impian tentang pelaminan pun hancur tanpa sisa.
Namun Mikhasa menolak runtuh begitu saja. Demi menjaga harga diri dan datang dengan kepala tegak di pernikahan mantannya, ia nekat menyewa seorang pelayan untuk berpura-pura menjadi pacarnya, hanya sehari semalam.
Rencananya sederhana, tampil bahagia dinikahan mantan. Menyakiti balik tanpa air mata.
Sayangnya, takdir punya selera humor yang kejam. Pelayan yang ia sewa ternyata bukan pria biasa.
Ia adalah pewaris kaya raya.
Mikhasa tidak bisa membayar sewa pria itu, bahkan jika ia menjual ginjalnya sendiri.
Saat kepanikan mulai merayap, pria itu hanya tersenyum tipis.
“Aku punya satu cara agar kau bisa membayarku, Mikhasa.”
Dan sejak saat itu, hidup Mikhasa tak lagi tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEMBILAN
Satu minggu hidup Mikhasa berjalan tenang, tanpa gangguan siapapun. Ia mulai merasa bebas, aman, dan sedikit melupakan insiden-insiden aneh dengan Axel.
“Mikhasa," atasan berdiri di samping mejanya. "Direktur memintamu datang ke ruangannya.”
Mikhasa sontak membelalak. Tangannya langsung dingin. “S-saya salah apa ya?” tanyanya panik.
Direktur Luminary Dataworks terkenal sebagai pria paruh baya yang tegas, galak, dan nyaris tak pernah kompromi. Nama itu saja cukup bikin mental karyawan runtuh.
“Datang saja ke sana," jawab atasan.
Mikhasa mengangguk lemah. Teman-temannya menoleh ke arahnya dengan tatapan iba, seolah Mikhasa adalah pasien terakhir di ruang operasi.
“Jangan lupa baca doa, Mikha,” pesan salah satu teman.
Mikhasa menelan ludah, lalu mengikuti atasannya naik lift menuju lantai tiga puluh. Ya Tuhan, ini pertama kalinya ia sampai sejauh ini. Biasanya, ia hanya sampai di lantai belasan, itu pun bisa dihitung menggunakan jari.
Begitu sampai, sang atasan, wanita elegan berwibawa, berhenti di depan pintu ruangan yang megah. Dari luar saja, auranya sudah bikin lutut Mikhasa lemas.
“Silakan masuk. Direktur menunggumu di dalam.”
Dengan tangan dingin, Mikhasa mengetuk pintu sekali, lalu masuk. Udara di ruangan terasa lebih dingin, AC-nya seperti level kutub.
Matanya terpana sejenak. Dari balik dinding kaca, terbentang langit biru yang cerah, berpadu dengan deretan gedung pencakar langit. Pemandangan yang selama ini hanya bisa ia lihat di drama-drama Korea.
Pelan, kursi direktur yang membelakangi meja berputar. Seseorang menatapnya sambil tersenyum. Wajah dan senyum yang membuat Mikhasa mendadak pucat. Napasnya tercekat.
“Axel?!”
Pria itu bukan tidak menemukan apartemen barunya tetapi malah menjadi direktur barunya di kantor. Drama apa lagi ini. Mikhasa menangis tanpa air mata.
Gadis itu segera menyiapkan jurus kuda-kuda ala silat. Kedua tangannya terkepal, lutut agak menekuk. Ekspresinya serius, tapi jujur lebih mirip ayam jago yang siap kabur.
Pemandangan itu sukses bikin Axel tertawa lebar. “Kamu ngapain?” tanyanya, masih menahan tawa. Merasa punya hiburan setiap waktu.
“Jaga-jaga sama pria mesum seperti Anda, Tuan,” sahut Mikhasa dengan nada ketus.
Axel mengangkat alis. “Emangnya aku mau ngapain?”
Mikhasa berpikir sejenak, lalu menunjuk bibir Axel dengan ekspresi ngeri.
“Takut tiba-tiba anda nyosor gitu aja… kayak yang dulu.”
Senyum Axel melebar. Tangannya terangkat pelan, menggosok bibir bawahnya dengan tenang.
“Aku suka kamu inget itu. Rasanya—”
Belum selesai Axel mengucapkan kalimatnya, Mikhasa sudah panik. Ia ngacir ke arah pintu, meraih gagang dan memutarnya cepat.
Ah tapi sial. Pintunya terkunci. Wajah Mikhasa makin pucat. “Terkunci?!”
Ia menoleh ke belakang dengan tatapan waspada, seolah Axel adalah vampir yang siap menyerang.
“Kamu… kenapa kamu kunci pintunya?!”
Axel hanya menyandarkan tubuh ke kursi dengan santai, menatap Mikhasa penuh minat.
“Kenapa? Takut sendirian sama aku?”
Axel berdiri dari kursinya dengan tenang. Mengancingkan jas lalu melangkah ke arah Mikhasa. Setiap langkahnya mengandung intimidasi dalam pandangan perempuan itu. Jantung Mikhasa berpacu cepat, takut, cemas, bercampur menjadi satu. Dia semakin merapat ke pintu. Ingin berteriak tapi tiba-tiba lidahnya kelu. Jantungnya berdegup takut luar biasa.
Hingga Axel sampai di depannya. Menatap matanya dan mengulurkan tangan mengusap rambutnya. Mengusapnya dengan lembut penuh perhatian. Seolah menyentuh sesuatu yang paling berharga di dunia ini. Sentuhan tulus yang tidak Mikhasa sadari. Gadis itu semakin takut. Dia beranggapan jika Axel akan melecehkannya.
Mikhasa ingin menendangnya tapi tubuhnya mendadak beku. Beku sebab ketakutan dalam dirinya sendiri.
Tangan Axel berpindah ke tangan Mikhasa. Menggenggamnya hangat.
"Sedari kita jadian sebulan yang lalu, kita belum pernah berkencan. Jadi hari ini, ayo kita kencan." Ucap Axel dengan senyum. Bayangan Liora melintas dalam benaknya. Kenapa ada orang yang semirip ini. Kenapa Mikhasa memiliki wajah yang mirip dengan Liora. Apakah sebenarnya mereka kembar? Atau apakah Liora hidup kembali?
Axel menarik Mikhasa keluar ruangan, menuju lift.
Mikhasa tetap diam mengikutinya. Dia ingat pernah menolak kotak makan dari Axel dan Axel langsung mengancamnya. Jadi ia bisa menyimpulkan bahwa pria-pria kaya memang seperti ini jenisnya. Sama dengan apa yang sering ia tonton di serial drama China.
Namun diam-diam, Mikhasa memikirkan cara untuk kabur dari pria mesum ini. Dia tidak mau berakhir diatas ranjang dan lalu hamil. Enggak mau.
Di dalam mobil, Mikhasa duduk manis dan tenang di samping Axel. Dadanya naik turun menahan cemas. Tangannya dipangku di depan. Kemana mobil ini akan membawanya?
"Kamu kenapa sih? Takut banget kayaknya sama aku?" ucap Axel, melirik ke arah Mikhasa.
"Saya hanya menjaga kesopanan, Tuan muda," jawab Mikhasa sopan dan tegas. "Ini masih jam kantor, jadi saya anggap saya sedang bekerja."
Axel mengangguk singkat. "Bagus."
Mikhay menoleh sekilas ke arahnya.
"Karyawan memang harus patuh pada bosnya, mengerti?" kata Axel tenang.
"Asal perintah Anda masuk akal," balas Mikhasa cepat, menahan napas.
Axel tersenyum miring, tatapannya nakal. "Kalau aku perintahkan, buat senyum… itu masuk akal nggak?"
Mikhasa spontan menoleh, menatapnya dengan kaget. "Apa?!"
Axel mencondongkan tubuh sedikit. "Senyum. Biar kencan kita nggak keliatan kayak aku nyulik karyawan sendiri."
Mikhasa, "...." Kehabisan kata-kata. Lebih tepatnya, dia tidak mau berdebat. Dalam otaknya hanya satu, bagaimana caranya kabur.
Mobil berhenti di depan sebuah restoran mewah dengan dinding kaca besar dan lampu gantung kristal yang berkilau dari dalam. Pelayan dengan jas rapi langsung membuka pintu mobil.
Mikhasa memperhatikan sekitar. Restoran mewah, yang bahkan seumur hidupnya belum pernah menginjakkan kaki ke dalam restoran ini. Dan ia yakin jika ia tidak bisa kabur dengan mudah.
"Turun." Perintah Axel santai. Menyelipkan tangan ke saku.
Mikhasa menggeleng. "Maaf, Tuan. Saya di sini saja. Silahkan jika Anda ingin makan siang."
"Jangan lupa, kalau karyawan harus patuh sama bossnya," sahut Axel.
"Tapi pekerjaan saya bukan untuk mengikuti Anda, Tuan."
"Mulai sekarang, pekerjaan kamu cuma satu. Patuh sama aku."
Mikhasa membelalak. Orang satu ini selalu mengambil keputusan seenaknya, semaunya.
"Atau kamu dipecat." Suara Axel tegas.
Mata Mikhasa semakin membelalak, kesal sampai ubun-ubun, tapi kemudian mengangguk mantap penuh keyakinan. "Iya, pecat saya saja, Tuan. Saya ikhlas. Tolong pecat saya sekarang juga. Saya ingin dipecat."
Kini Axel yang terkejut. Emang ada orang yang senang dipecat? Dia mengalihkan pandangan lalu tertawa kecil. Dasar Nona pulu-pulu yang unik.
Axel menghala nafas lalu mengulurkan tangan. "Ayo makan siang bersama, Mikha." Dia tahu, mungkin Mikhasa tidak bisa diancam. "Aku nggak bakal ngapa-ngapain, janji."
Mikhasa menatap tangan itu lama, ragu, seolah setiap inci jemari Axel mengandung jebakan. Namun tatapan mata pria itu berbeda, bukan ancaman, melainkan ketegasan bercampur kesungguhan. Perlahan, dengan napas tercekat, Mikhasa akhirnya meletakkan tangannya di atas tangan Axel.
Penerimaan yang membuat Axel tersenyum lebar. Pria itu menggenggam tangan Mikhasa sekilas, lalu membimbingnya turun dari mobil. Begitu kaki Mikhasa menyentuh lantai, ia menegakkan tubuhnya, berusaha menjaga wibawa meski hatinya bergetar.
Pelayan membungkuk sopan, mempersilakan mereka masuk. Pintu kaca besar terbuka, dan aroma masakan Eropa menyeruak, berpadu dengan alunan musik piano yang menenangkan.
Axel berjalan lebih dulu, lalu berhenti sejenak untuk menoleh. “Tenang saja. Aku cuma mau makan siang bareng kamu. Itu aja.”
Mikhasa menunduk, tidak membalas. Namun langkahnya mengikuti, meski hatinya tetap penuh waspada.
Pelayan mengarahkan mereka ke meja dekat jendela besar, menghadap ke taman kecil dengan air mancur yang memantulkan cahaya matahari. Axel menarik kursi untuk Mikhasa. Sebuah gestur sederhana, tapi membuat Mikhasa semakin bingung.
“Silakan duduk.” Suara Axel dalam dan lembut, berbeda jauh dari ancaman barusan.
Mikhasa duduk kaku, kedua tangannya terlipat di pangkuan. Ia menatap meja dengan peralatan makan berkilau. Dalam hatinya, ia berdoa agar ini benar-benar hanya makan siang biasa.
Axel tersenyum tipis, lalu duduk di hadapannya. Untuk sesaat, tatapannya tidak melepaskan wajah Mikhasa. Ada sesuatu di sana, bukan sekadar rasa ingin menguasai, melainkan kerinduan yang bahkan Mikhasa tidak mengerti.
"Tuan.... "
"Panggil aku Axel. Mana ada pacar manggil Tuan." Sahut Axel memotong.
"Tapi kita nggak pacaran. Saya bukan pacar anda," Sahut Mikhasa.
Axel menatapnya. "Kalau aku bilang pacaran ya pacaran. Nggak boleh nolak."
"Mana bisa begitu. Saya punya hak pribadi."
Tangan Axel mengulur, menyentuh sekilas bibir Mikhasa. "Jangan membantah. Kalau suka membantah nanti kucium."
Mikha mengalihkan pandangan. "Cih."