Jika biasanya istri yang dikhianati suaminya, maka yang terjadi pada Rohan tidak demikian. Dia lah yang dikhianati oleh sang istri.
Pernikahan yang dibangun oleh cinta nyatanya tak selalu manis. Rohan harus menerima kenyataan pahit istrinya berselingkuh.
Perceraian pun tak terelakkan. Ia mendapatkan hak asuh putra putrinya yang baru berusia 5 dan 3 tahun.
Tak ingin berlarut dan mengingat sakit hatinya, Rohan menjual semua asetnya di kota dan berpindah ke desa.
Namun siapa sangka, di sana dia malah menjadi primadona.
"Om Dud, mau dibantuin nggak jemur bajunya? Selain jago dalam pekerjaan rumah, aku juga jago dalam hal lain lho."
Entah sejak kapan itu terjadi tapi yang jelas, gadis itu, gadis yang dijuluki Kembang Desa tersebut mulai mengusik kehidupan dan hati Rohan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembang Desa 09
Kabar anak kedua Rohan yang sakit seketika langsung menyebar ke seluruh desa. Beberapa wanita baik yang sudah menikah dan yang masih lajang datang untuk membesuk Riesha. Tentu saja target utamanya adalah sang ayahnya, ini adalah kesempatan dibalik kesempitan. Atau bisa juga dibilang sambil menyelam minum air.
"Om Dud, mau saya bantuin buat ngurus anak-anak nggak? Saya meskipun masih perawan ting-ting, tapi saya jago lho ngurus anak. Kalau nggak percaya dicoba dulu juga boleh."
Seorang gadis berusia dua puluh tahunan benar-benar berani berkata demikian. Tapi bukan hal yang mengejutkan sebenarnya karena Rohan sudah sangat sering mendengar hal yang sejenis.
"Eiii Sara, jangan nyolong start dong. Om Dud mending nyari yang jelas berpengalaman macam saya. Pas pula, situ sendiri saya juga sediri,"ucap wanita lainnya yang juga merupakan tetangga dari Rohan.
"Eleeh Mbak Lina ini, bisa aja. Jangan mau Om Dud, dia udah janda tiga kali. Bisa-bisa Om Dud cuma mau dijadkan pelarian aja, terus ujung-ujungnya dicerai lagi,"sahut gadis yang bernama Sara.
"Kalau sama Om Dud, kayaknya nggak deh, Sar. Aku bakalan jadiin Om Dud pelabuhan terakhir cintaku. Dan kita akan hidup menua bersama, gimana Om Dud?" ujar Lina yang benar-benar sudah tiga kali menikah, dimana semuanya berakhir dengan perceraian.
Semua tetangga Rohan memang bersikap demikian. Dan yang paling berani memang dua orang itu. Sara dan Lina. Sara merupakan seorang gadis, sedangkan Lina adalah seorang janda.
Namun Rohan tahu bahwa apa yang terlontar dari mulut mereka hanyalah gurauan semata.
"Pertama-tama saya ucapkan banyak terimakasih kepada mbak-mbak yang udah datang untuk membesuk Riesha. Saya sungguh sangat bersyukur datang kemari dan disambut dengan para tetangga yang sangat baik kepada saya dan anak-anak saya. Tapi mohon maaf, saya tidak bisa menerima tawaran mbak-mbak semuanya,"ucap Rohan dengan sopan, ia juga tersenyum lebar membuat mata semua wanita disana terpeson.
"Duuuh mak jleb, sakitnya langsung kena banget ke jantung,"ucap Lina sambil menyentuh dadanya dengan kedua tangan. Membuat reaksi seolah-olah sakit.
Hahaha
Semua orang tertawa mendengar akting Lina tersebut. Pun dengan Rohan, dan menurutnya pergi lalu menetap ke desa ini adalah pilihan yang tepat.
Desa yang begitu asri, udaranya pun juga masih segar dan tentunya dingin. Ia juga bisa melihat pemandangan yang indah setiap hari. Hamparan pepohonan, tanaman sayur-sayuran dan kanan kiri berdiri gunung yang kokoh. Sungguh terasa menyegarkan.
Bukan hanya itu, para tetangga yang peduli dan baik meski sedikit kepo, tapi bagi Rohan ini sangat menyenangkan.
"Udah sana pergi, hush hush. Nengokin anak kecil tuh jangan ribu!"
Tanpa harus menengok ke arah si pemilik suara, mereka sudah tahu siapa si empunya suara ini. Siapa lagi kalau bukan Bestari, putri ketua RT sekaligus kembang desa milik desa tersebut.
"Ck, Bestari ganggu mulu ih kalau ada yang pedekate sama Om Duda. Berasa kek satpam, kamu Best,"gerutu Lina.
"Mbak Lin, anaknya nyariin itu dari tadi manggil emaknya mulu,"jawab Bestari tak mau kalah.
"Iya iya ih, ngusir mu alus bener deh, Best. Ya udah Om Dud, Lina pulang dulu ya. Kalau butuh bantuan jangan malu-malu. Lina akan cus langsung datang kemari,"ucap Lina. Nada bicara yang dia tunjukkan ke Bestari dan Rohan sungguh sangat berbeda. Kepada Bestari dia sedikit sewot sedangkan kepada Rohan, dia begitu lembut.
"Idiiih, Mbak Lina bener-bener deh," ujar Bestari sambil mengerutkan alisnya.
Lina melenggang pergi, disusul dengan Sara dan para tetangga yang lain.
Sesampainya di jalan, mereka menyebar pulang ke rumah masing-masing dan masih menyisakan dua orang saja yakni Sara dan Lina.
"Mbak Bestari itu beneran cantik ya Mbak Lin,"ucap Sara tiba-tiba. Usianya dengan Bestari cuma terpaut dua tahun, tapi Sara benar-benar menghormati dan mengagumi Bestari.
Bukan tanpa alasan Bestari mendapat julukan kembang desa. Wajah Bestari memang cantik, tapi bukan hanya karena itu.
Bestari memiliki prestasi yang luar biasa. Dia sedari masih kecil dan duduk di bangku sekolah dasar, menjuarai lomba dalam bidang olah raga yakni karate. Bukan hanya juara satu tingkah kabupaten saja, tapi dia juga menjuarai tingkat provinsi.
Setelah sekolah menengah pertama lalu menengah atas, Bestari semakin mengukir prestasinya. Dia sudah memiliki sabuk hitam dan menjuarai kejuaraan tingkat nasional. Bestari juga mendapat beasiswa untuk kuliah.
Bestari sedikit berbeda dengan anak-anak seusianya yang memilih jurus pendidikan. Jika kebanyakan dari teman memiliki jurusan administrasi, akuntansi, kebahasaan atau sipil, Bestari memilih jurusan pertanian. Semua itu karena rasa sayangnya kepada sang ayah. Bestari ingin mengembangkan pertanian yang ada di daerahnya.
Setelah lulus kuliah, Bestari mendapat tawaran yang bagus di sebuah perusahaan. Ia sudah bekerja untuk beberapa waktu demi menambah pengalaman. Namun beberapa bulan yang lalu Bestari kembali. Tak ada yang tahu sebab dia pulang dan memutuskan untuk mengundurkan diri.
"Iya bener, Bestari beneran cantik. Sangat cantik malah. Dia bukan cuma cantik wajahnya, tapi hatinya juga. Dia juga pinter, dan kamu tahu sendiri lah sepinter apa dia. Tapi tak ada yang tahu tentang hati anak itu. Bestari kecil, aku inget banget dia selalu nanyain ibunya. Haah, sudahlah nggak usah dibahas. Anak itu bisa mandiri dan juga punya kepribadian yang tegas, jadi nggak perlu ngebahas masa yang udah lewat,"jawab Lina. Ia seolah tengah mengingat masa lalu tapi tak ingin dia ungkapkan. Cukup ada di kepalanya saja.
"Mbak lihat itu. Cowok ganteng itu, kalau nggak salah dia kemarin ke rumah Mbak Bestari ya?" Sara menunjuk ke arah pria yang tengah turun dari mobil dan berjalan mendekat ke arah mereka.
"Masa sih? Kok aku nggak tahu?" tanya Lina, wajahnya menatap dengan seksama ke arah pria tersebut.
"Iya bener, kemarin aku lihat Mbak Bestari jalan berdua sama tuh cowok. tapi Mbak Best kayak nggak suka gitu sama tuh cowok,"jawab Sara. Dia bicara seperti itu karena memang melihatnya sendiri.
"Halo, selamat pagi. Apa kalian kenal sama Bestari. Ah maaf kenalkan, saya Nanta. Saya adalah pacar Bestari."
Apa?
Lina dan Sara terkejut dengan pengakuan laki-laki itu. Mereka tahu banyak pria yang mengaku-ngaku sebagai kekasih Bestari. Tapi baru kali ini menjumpai pria tampan dan tampaknya bukan dari desa ini ataupun desa tetangga. Terlebih mobil yang dibawa juga bukan mobil biasa.
"Pacar? Beneran?" tanya Sara memastikan.
"Iya bener, aku pacar Bestari. Kami juga bentar lagi anak nikah."
APA??
TBC