NovelToon NovelToon
JENIUS RENDAHAN

JENIUS RENDAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Slice of Life
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yusuf Fikri

Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 : Bayangan dari Paris dan Rencana Tanpa Cadangan

Udara dingin yang menusuk tulang menyelimuti jalanan kota Paris, Prancis. Daun-daun musim gugur yang mengering tersapu angin di trotoar berbatu.

Dari pintu kaca sebuah kafe bergaya klasik yang hangat, melangkah keluar seorang gadis muda. Penampilannya seketika membuat beberapa pejalan kaki menoleh. Ia mengenakan jaket bulu tebal berwarna putih bersih yang membalut tubuh rampingnya, melindunginya dari hawa dingin Eropa.

Gadis itu baru berusia 14 tahun, namun kecantikannya sudah memancarkan aura eksotis yang luar biasa. Wajahnya adalah perpaduan sempurna antara struktur tulang Eropa yang tegas namun memiliki kelembutan khas Asia. Rambut hitam kelamnya lurus dan sangat halus, menjuntai panjang hingga sebatas pinggang, berkibar pelan tertiup angin.

Ia mengangkat paper cup di tangannya, menyesap isinya pelan, lalu menghembuskan napas yang membentuk kepulan asap putih di udara dingin.

"The coffee is very good," gumamnya pelan dalam bahasa Inggris dengan aksen yang sangat fasih dan elegan.

Gadis itu memutar tubuhnya perlahan. Pandangannya tertuju pada Menara Eiffel yang menjulang megah menembus langit kelabu Paris di kejauhan. Ia menatap langit itu cukup lama. Hembusan angin menerpa wajah cantiknya.

Dalam keheningan batinnya, memori di kepalanya berputar. Sebuah wajah muncul dengan jelas dalam benaknya. Wajah seorang pemuda tampan dengan tatapan datar yang selalu terlihat malas, namun menyembunyikan kecerdasan dan pesona yang mengerikan.

Mengingat wajah pemuda itu, sudut bibir gadis eksotis itu terangkat, mengukir sebuah senyuman indah yang penuh arti dan rindu.

"Tunggu aku," batinnya, meski kata-kata itu tak pernah terucap.

Pukul 11.50 WIB. SMA Kebangsaan, Indonesia.

Suasana kelas X-A cukup santai karena para siswa sedang mencerna makan siang mereka. Waktu istirahat tinggal menyisakan sepuluh menit lagi.

Di barisan belakang, Kevin sedang duduk bersandar di kursinya dengan kedua kaki dijulurkan ke depan. Di meja sampingnya, duduk Haza, salah satu siswa laki-laki di kelas X-A yang sedang asyik memutar-mutar pena di jarinya.

"Za," panggil Kevin memecah keheningan di antara mereka berdua. "Lo ikut lomba apa nanti di Festival Olahraga?"

Haza berhenti memutar penanya. Ia menoleh dengan santai. "Gue? Badminton ganda campuran bareng Vara."

Kevin menaikkan sebelah alisnya. "Vara yang duduk di depan itu? Emang dia bisa main?"

"Bisa banget," jawab Haza mantap. "Dia lincah dan rotasinya bagus. Gue ngerasa bisa duo cocok sama dia. Yah... sesuai sama instruksi kertas 'Kitab Suci' yang dibagikan Rafan tadi pagi lah. Gue sih ikut aja, malas berdebat. Lagian strateginya masuk akal."

Haza lalu menepuk lengan Kevin yang berotot. "Kalau lo sih udah nggak usah ditanya. Kemampuan fisik lo di atas rata-rata, Vin. Lo kan pasti pegang basket. Gue yakin kelas kita bisa menang kalau ada lo. Ngomong-ngomong, siapa aja tim lo nanti?"

Mendengar pertanyaan itu, raut wajah Kevin berubah menjadi sedikit frustrasi. Ia menghela napas kasar, tampak tidak yakin dengan apa yang akan dikatakannya.

"Itu dia masalahnya..." gumam Kevin pelan. "Tim gue... ditentukan sama 'orang itu'."

Haza mengernyitkan dahi. "Orang itu? Maksud lo... Callen?"

Ingatan Kevin seketika melayang ke kejadian beberapa hari yang lalu, tepat sebelum draf strategi gila itu dibagikan ke seluruh kelas.

[Flashback] Jumat Sore, Minggu Lalu.

Waktu menunjukkan pukul 14.30 WIB. Pelajaran Bahasa Inggris—mata pelajaran terakhir hari itu—baru saja usai.

Callen baru saja kembali ke kelas siang itu setelah pertemuannya yang cukup lama dengan Fazi di ruang OSIS. Kevin, seperti rutinitas biasanya, sudah berganti pakaian dengan jersey dan bersiap menuju klub basket untuk berlatih.

Saat Kevin baru saja melangkah keluar dari pintu kelas, sebuah suara datar menghentikannya.

"Kevin. Sebentar."

Kevin berbalik. Matanya sedikit melebar karena kaget melihat Callen berdiri di sana dengan tas menyampir di satu bahu. Biasanya, cowok yang tidak menggunakan kacamata sementara ini adalah orang pertama yang menghilang dari sekolah begitu bel pulang berbunyi.

"Ada apa lo kesini, Callen?" tanya Kevin, nadanya masih agak ketus. Ego masa mudanya masih sedikit terluka akibat kekalahan 1-lawan-1 tempo hari.

Callen menggelengkan kepala pelan. "Aku cuma mau minta maaf soal hari Rabu kemarin. Waktu aku nantang kamu main basket."

Kevin mengerutkan kening.

"Aku nggak ada niat merendahkanmu," lanjut Callen dengan ekspresi datar yang konsisten. "Aku cuma ingin kamu berhenti menekan dan mengatai Zea waktu itu. Itu saja."

Kevin merengut, melipat tangan di depan dada. "Jadi itu aja yang mau lo bilang, hah? Minta maaf doang?"

Callen tersenyum tipis. Sangat tipis. Senyum yang entah kenapa selalu membuat Kevin merasa bahwa cowok di depannya ini sedang merencanakan sesuatu yang besar.

"Oke, kalau begitu kita langsung ke inti saja," kata Callen, suaranya berubah menjadi lebih berwibawa. "Festival Olahraga dimulai hari Jumat minggu depan, kan?"

Kevin mengangguk malas. "Terus kenapa?"

"Aku punya rencana untuk memenangkan Festival Olahraga ini untuk kelas kita. Untuk mengambil hadiah utamanya," ujar Callen menatap tepat ke mata Kevin. "Asalkan... kamu mau bekerja sama denganku."

Kevin terdiam sesaat, bingung. "Apa maksudnya, oy? Bilang aja langsung, nggak usah sok ribet pakai teka-teki."

Callen menjawab dengan tenang tanpa terprovokasi. "Kamu pasti ikut lomba basket mewakili kelas kan, Vin?"

"Iyalah, masa lomba catur," sungut Kevin.

"Lalu," Callen menjeda kalimatnya sejenak, sudut bibirnya kembali terangkat. "Kamu sudah punya tim untuk kelas kita?"

Skakmat.

Kevin tersentak. Pertanyaan itu tepat mengenai titik lemahnya. Wajahnya berubah kesal dan ia membuang muka ke arah lapangan.

"Itu... gue... gue juga belum tahu," jawab Kevin gengsi.

"Sudah kuduga," sahut Callen santai. "Teman-teman klub basketmu itu rata-rata dari kelas 10 lain, atau kakak kelas 11. Kamu jago, Vin, tapi kamu jenderal tanpa prajurit. Kamu nggak punya tim di kelas kita sendiri untuk mewakili lomba nanti."

Kevin mengeraskan rahangnya. "Jadi maksud lo gimana?"

"Laki-laki di kelas kita cuma ada enam orang, termasuk aku dan kamu," Callen mulai memaparkan rencananya. "Aku akan ikut lomba basket bersamamu."

Mata Kevin melotot. "Lo?! Bukannya lo mau ngambil lari 400 meter?!"

"Jadwal lari 400 meter itu di hari kedua, berbeda waktu dengan babak penyisihan basket. Aku bisa mengatur staminaku," Callen menjelaskan dengan logis. "Nah, karena aku dan kamu sudah masuk daftar, sisanya terserah kamu, Vin. Pilih tiga orang lagi dari kelas kita."

Kevin mendengus, separuh tertarik separuh kesal. Ia menatap postur tubuh Callen dari atas ke bawah.

Nggak gue sangka anak rumahan kayak dia bisa keluar dari sarangnya. Mau lari 400 meter plus main basket? batin Kevin tak percaya. Namun, sedetik kemudian, bayangan saat Callen mendribel bola melewatinya dengan napas yang sama sekali tidak terengah-engah kembali muncul di kepalanya.

Mengingat staminanya yang kayak monster waktu ngalahin gue, gue nggak berhak komen apa-apa, batin Kevin menyerah pada realita.

"Oke," jawab Kevin akhirnya, nadanya masih agak sewot tapi mulai menerima. "Pilihan gue untuk sisanya... Budi, Tian, sama si Rafan."

"Rafan?"

"Iya, si Ketua Kelas cerewet itu. Dia kan ikut lomba Karate untuk festival olahraga juga kan 1 kelas udah tahu. Meski badannya nggak tinggi-tinggi amat, reflek dan fisiknya pasti kuat buat nahan body charge lawan. Dia pasti bisa bantu di basket," analisis Kevin serius. Lalu, raut wajah Kevin berubah ragu. "Gimana menurut lo, Cal? Gue sendiri nggak yakin kita bisa menang. Kita berlima main full, tanpa pemain cadangan sama sekali. Fisik kita bakal terkuras habis."

Callen mengangguk pelan, menyetujui kekhawatiran Kevin. Namun, ketenangan di wajahnya tidak goyah sedikit pun.

"Oke, bagus. Formasi itu tidak apa-apa," jawab Callen menenangkan. "Akan kubantu maksimal di lapangan. Percayakan padaku."

Melihat keyakinan mutlak di mata Callen, Kevin merasa beban di pundaknya sedikit terangkat. Ia mengangguk kaku, lalu berbalik pergi menuju klub basket, meninggalkan Callen di koridor.

[End of Flashback]

Kembali ke masa sekarang, di dalam kelas X-A.

Kevin menatap Haza yang masih menunggu kelanjutan ceritanya.

"Ya gitu," kata Kevin sambil menghela napas. "Pemain basket kelas ini akhirnya gue, Tian, Budi, Rafan, sama yang terakhir... si Callen itu."

Haza terlonjak kaget hingga penanya terjatuh ke lantai. "Wow! Lo serius?! Gue nggak nyangka lho dia mau ikut lomba basket, dan main tim lagi! Gue kira lo yang ngajak dia secara paksa, Vin. Atau malah, gue kira lo bakal ngajak gue!"

Kevin mendecak kesal sambil menggelengkan kepalanya. "Awalnya gue juga mikir gitu. Tapi dia sendiri yang nawarin diri. Dan kayaknya... dia sendiri juga udah punya rencana entah berantah buat nutupin kekurangan tim kita yang nggak ada cadangannya ini."

Mendengar itu, bukannya pesimis, Haza malah tersenyum lebar.

"Kalau yang merencanakan itu Callen, entah kenapa gue percaya aja, Vin," kata Haza sambil mengambil penanya di lantai. "Dari cara dia meredam amarah lo tadi pagi, gue yakin kelas kita pasti bisa memenangkan Festival Olahraga ini."

Kevin terdiam, lalu menganggukkan kepalanya perlahan, membenarkan ucapan Haza dalam hati.

Tidak terasa, jarum jam dinding di atas papan tulis sudah menunjuk tepat ke angka 12.00 WIB. Kurang dari sepuluh menit lagi, guru mata pelajaran berikutnya akan masuk.

Tiba-tiba, dari arah pintu depan, dua orang siswa melangkah masuk beriringan.

Callen dan Zea.

Mereka baru saja kembali dari kantin setelah insiden "tabrakan sop ayam" tadi. Zea berjalan di samping Callen, menceritakan sesuatu dengan antusias, sementara Callen hanya merespons dengan anggukan kecil yang terlihat jauh lebih rileks dari biasanya.

Dari bangku belakang, Kevin menatap sosok Callen yang berjalan menuju kursinya. Entah kenapa, melihat ketenangan cowok berkacamata (yang kini tak berkacamata) itu, Kevin merasa seolah-olah semua persiapan kelas mereka akan berjalan dengan sangat lancar.

1
Zumrotul Mukaromah
semangatt update kakk🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!