NovelToon NovelToon
Only Ever

Only Ever

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Running On

Kisah ini mengikuti perjalanan Karin, seorang gadis yang harus belajar memahami kehilangan, sebelum akhirnya menemukan cara untuk menyembuhkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Running On, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab : 20

Di itu lokasi syuting sudah ramai. Suara kru saling bersahutan, kamera dipersiapkan, dan para aktor mulai memanaskan diri. Karin berdiri di samping monitor, fokus membaca ulang catatan naskah di tangannya.

Arka melangkah ke tengah, menepuk tangannya sekali untuk menarik perhatian.

“Alright, everyone.” (Baik, semuanya.)

Semua perlahan terdiam.

“As I promised, today we have a new team joining our project.” (Sesuai janji saya, hari ini ada tim baru yang bergabung dengan proyek kita.)

Arka berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah pintu masuk.

“Our music producer, James. Please come in.” (Produser musik kita, James. Silakan masuk.)

Nama itu jatuh begitu saja— namun di telinga Karin, terdengar terlalu keras.

Tangannya yang memegang kertas refleks mengencang.

James?

Pintu terbuka.

Seorang pemuda melangkah masuk dengan langkah santai. Jaket hitam, ekspresi tenang, dan senyum kecil yang terasa… familiar.

Karin mengangkat kepala.

Napasnya tercekat.

James juga berhenti sesaat ketika melihat Karin. Matanya melebar tipis, lalu senyum itu muncul—lebih hangat, lebih nyata.

Untuk sepersekian detik, dunia di sekitar mereka terasa melambat.

Karin menunduk cepat, berpura-pura membaca catatannya lagi. Dadanya berdebar, bukan karena terkejut semata, tapi karena perasaan yang belum sempat ia beri nama.

James melangkah mendekat ke arah tim.

“Good morning. I’m James.” (Selamat pagi. Aku James.)

Beberapa kru menyambutnya ramah.

Arka memperhatikan semuanya dari tempatnya berdiri. Tatapannya tanpa sadar tertahan sedikit lebih lama—pada cara Karin diam, dan pada cara James sempat menoleh lagi ke arahnya.

Sesuatu terasa… berbeda.

Dan tanpa disadari Arka, sejak pagi itu, ritme hatinya mulai bergeser.

Salah satu kru melangkah maju menyambut James dengan senyum ramah. Suasana set yang semula riuh perlahan menjadi lebih fokus, seolah semua orang sadar bahwa kehadiran orang ini cukup penting.

“Hi, James. Good morning. Welcome to our team.”

(Hai, James. Selamat pagi. Selamat datang di tim kami.)

James membalas dengan senyum lebar. Tatapannya berkeliling, mengamati wajah-wajah baru di sekelilingnya—antusias, terbuka, tanpa jarak.

“I’ll do my best. I’m excited to work with all of you.”

(Saya akan bekerja sebaik mungkin. Saya sangat bersemangat bekerja dengan kalian.)

Di antara kerumunan itu, Karin berdiri sedikit ke belakang. Ia mendengar suara James dengan jelas. Ada sesuatu dalam intonasinya yang terasa familiar—hangat, ringan, dan jujur. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat tipis. Ia menatap James sesaat, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan, seolah takut seseorang menangkap perubahan kecil di wajahnya.

Arka melangkah ke depan, mengambil alih perhatian.

“Welcome to the team. I hope we can work well together.”

(Selamat datang di tim kami. Saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik.)

James menjabat tangan Arka dengan mantap.

“Nice to meet you, Director Jack. I’m James.”

(Senang bertemu dengan Anda, Sutradara Jack. Saya James.)

“Nice to meet you too,” jawab Arka singkat. Nada suaranya profesional, nyaris datar, seperti kebiasaannya saat bekerja.

Namun ketika jabat tangan itu terlepas, pandangan James tidak kembali ke tim. Matanya tertahan pada satu sosok—Karin.

Ia melangkah mendekat.

Karin refleks menunduk. Detak jantungnya yang tadi tenang kini berubah ritmenya. Ia pura-pura sibuk, seolah ada sesuatu yang sangat penting di tangannya, meski pikirannya kosong.

James sedikit membungkuk, menurunkan kepalanya agar sejajar dengan wajah Karin, seakan mereka sedang berada di ruang kecil milik berdua.

“Hi, miss. How are you?”

(Hai, nona. Apa kabar?)

“Don’t tell me you don’t remember me.”

(Jangan bilang kamu tidak mengingatku.)

“Or are you pretending not to know me?”

(Atau kamu pura-pura tidak mengenalku?)

Karin menghela napas pelan sebelum mendongak. Ia tersenyum—senyum yang rapi, terlatih, tapi tak sepenuhnya berhasil menyembunyikan kegugupannya.

“Ah… hi, James.”

Beberapa anggota tim saling pandang. Ada rasa penasaran yang langsung mengambang di udara.

“Wait, do you guys know each other?”

(Tunggu, kalian saling kenal?)

Arka ikut menoleh. Tatapannya berpindah dari James ke Karin, berhenti sedikit lebih lama dari yang ia sadari sendiri.

James tertawa ringan, seolah situasi ini menghiburnya.

“Yes. I know her.”

(Iya, aku mengenalnya.)

“I didn’t expect to meet her here.”

(Aku tidak menyangka akan bertemu dengannya di sini.)

“May I introduce this beautiful lady?”

(Boleh aku perkenalkan wanita cantik ini?)

Kata beautiful meluncur begitu saja—ringan, natural. Namun di sisi lain, bahu Arka menegang tipis. Wajahnya tetap tenang, tapi ada sesuatu yang mengeras di rahangnya.

James melanjutkan, masih dengan nada santai.

“This is Karin. She’s a writer. We met in Jeju Island.”

(Ini Karin. Dia seorang penulis. Kami bertemu di Pulau Jeju.)

“We shared some memories there.”

(Kami punya beberapa kenangan di sana.)

Tawa kecil terdengar di antara tim, menganggapnya sekadar candaan ramah.

Karin menambahkan pelan, hampir seperti klarifikasi untuk dirinya sendiri.

“We became good friends in Jeju.”

(Kami jadi teman dekat di Jeju.)

Arka terdiam.

Jeju.

Nama itu berputar di kepalanya, meninggalkan jejak yang tidak ia suka. Sejak kapan Karin pergi sejauh itu? Sejak kapan ada bagian hidupnya yang tidak ia ketahui sama sekali?

Untuk pertama kalinya, Arka menyadari satu hal yang tak pernah ia persiapkan—

kehilangan Karin bukan lagi kemungkinan.

Itu kenyataan.

James mengulurkan tangannya.

Senyuman itu—hangat, tenang—adalah senyuman yang pernah menemani Karin selama hari-harinya di Pulau Jeju. Senyuman yang dulu hadir tanpa janji, tapi tinggal cukup lama untuk menjadi kenangan.

“Hi, Karin. It’s good to see you again.”

(Hai, Karin. Senang bertemu denganmu lagi.)

Karin menatap tangan itu sesaat, seolah ragu pada dirinya sendiri. Lalu ia menyambutnya. Jemarinya menyentuh telapak tangan James—asing, tapi tidak benar-benar baru.

“It’s good to see you too, James.”

(Aku juga senang bertemu denganmu, James.)

Senyumnya mengembang. Terlalu jujur untuk disembunyikan.

Arka melihatnya jelas.

Senyum itu.

Senyum yang sama seperti dulu, saat Karin pertama kali jatuh cinta padanya—lepas, penuh cahaya, tanpa pertahanan. Dadanya terasa panas, sebuah rasa yang tak sempat ia beri nama, tapi cukup kuat untuk membuat rahangnya mengeras.

James masih berdiri di depan Karin, matanya menyiratkan keakraban yang tak perlu dijelaskan.

Keakraban yang dibangun dari hari-hari panjang, tawa kecil, dan obrolan tanpa beban selama waktu mereka di Pulau Jeju.

Arka berdehem pelan, suaranya memotong ruang di antara mereka.

“Let’s go.”

(Ayo.)

“We continue the shooting.”

(Kita lanjut syuting.)

Nada suaranya terdengar profesional.

Terlalu profesional.

Karin menoleh. Senyumnya perlahan memudar, berganti ekspresi yang lebih tenang—lebih terkendali. Ia menarik tangannya, lalu melangkah pergi.

James menatap punggung Karin sesaat, sebelum akhirnya tersenyum kecil—senyum seseorang yang tahu bahwa ia pernah menjadi bagian dari hidup seseorang…

dan mungkin, masih sedikit.

Arka berjalan paling depan.

Api cemburu itu masih menyala, meski ia belum siap mengakuinya—bahkan pada dirinya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!