Karena kesalahpahaman, Anindia harus menikah dengan cowok yang paling tidak disukainya, Keanu si badboy sekolah. Mereka tidak pernah akur, bahkan Anindia selalu menghindari Keanu.
Tapi, malang tidak dapat ditolak, untung tidak dapat diraih. Mereka terjebak dalam kesalahpahaman yang fatal, dan sekarang mereka harus terpaksa menikah.
Anindia, siswi paling pintar di sekolah, harus menikah dengan Keanu, sang ketua geng sekolah yang terkenal dengan keberanian dan kenakalannya.
Mereka harus merahasiakan pernikahan mereka setidaknya sampai hari kelulusan. Tapi di sekolah, Keanu justru membuat pernyataan bahwa Anindia adalah pacarnya.
Apakah Keanu dan Anindia bisa merahasiakan pernikahan mereka?
•••
"Gue memang badboy, tapi setidaknya gue bukan playboy. Kenapa gue berani ngomong kayak gini?"
"Karena gak ada seorangpun yang bisa bikin hati gue luluh selain lo, Nindi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Tinggal di rumah mertua
Beberapa menit melaju di jalanan, Anindia dan keluarganya tiba di rumah megah Keanu. Rumah itu tampak mencolok dari rumah lainnya, dengan aksen modern dengan warna putih yang mendominasi setiap bangunan.
Bagian halaman rumahnya ditanami dengan bunga-bunga dan bonsai yang indah, serta sebuah pancuran tepat berada di tengah-tengah taman. Anindia terpesona dengan kemegahan rumah Keanu. Ia tidak menyangka bahwa rumah yang selalu ia lewati saat pergi ke sekolah ternyata adalah rumah dari keluarga Keanu.
"Eh, keluarga baru Mama udah datang."
Saat itu, tiba-tiba saja ibu Keanu dan ayahnya keluar dari dalam rumah dan langsung menyapa mereka dengan hangat. Ibu Keanu langsung cipika-cipiki dengan ibu Anindia, sementara kedua ayah mereka saling menyapa dengan salam persahabatan.
Anindia sendiri merasa gugup, ia bisa merasakan tubuhnya yang bergetar karena perasaannya yang campur aduk saat ini. Cukup lama ia terdiam di tempat, akhirnya ia pun melangkahkan kakinya untuk menyalami kedua mertuanya itu.
Sementara Keanu, ia masih duduk di atas motornya. Ia hanya memandangi momen hangat kedua keluarganya. Ia merasa lega karena sudah kembali ke rumahnya, tapi ia juga merasa canggung karena ia membawa pulang Anindia ke rumahnya itu.
"Assalamualaikum Ma, Pa..." Ujar Anindia sopan.
"Waalaikumsalam mantu cantiknya Mama," ujar ibu Keanu sembari mengusap punggung Anindia ketika menantunya itu sedang mencium takzim tangannya.
"Waalaikumsalam, ayo silahkan masuk. Kita bisa makan malam bersama," ujar ayah Keanu mempersilahkan mereka untuk masuk.
"Tidak usah repot-repot, Bram," ujar ayah Anindia menolak tapi dengan nada tegasnya. "Kami sudah makan malam tadi," lanjutnya.
"Hahaha baiklah, ayo-ayo silahkan masuk," ujar ayah Keanu kemudian.
Ayah dan ibu Anindia langsung berjalan masuk mengikuti ayah Keanu di depan. Sementara Anindia merasa ragu-ragu sejenak, ia menoleh ke arah Keanu seakan meminta jawaban.
Menyadari dirinya di tatap oleh Anindia, Keanu pun langsung membuang muka ke arah lain. Ia seakan masih membatasi diri dengan tembok es yang ia bangun.
"Anindia, ayo masuk sayang," ujar ibu Keanu membangunkan lamunan Anindia.
"I-iya Ma," ujar Anindia lalu membungkuk sopan ketika berlalu dari hadapan ibu mertuanya.
Ibu Keanu terkesan dengan kesopanan Anindia, ia berharap bahwa Keanu bisa lebih sopan setelah menikah dengan Anindia. Ia pun menoleh ke arah Keanu yang masih terdiam di tempat dengan tatapan tajam dan gelengan kepala.
"Keanu, masuk! Ngapain kamu di situ? Tuh istri dan mertua kamu udah di dalam," titah ibu Keanu kepada putra tunggalnya itu.
Keanu terlihat menarik nafas panjang, sebelum akhirnya ia turun dari motornya dengan langkah berat dan terpaksa. Ibunya yang melihatnya pun langsung melangkahkan kakinya ke dalam rumah, merasa tidak enak membiarkan besannya begitu saja.
Di dalam ruang keluarga, Anindia bisa melihat isi ruangan itu yang terlihat sangat elegan. Mereka duduk di sofa yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah meja yang terbuat dari kaca, serta vas bunga kecil di atasnya.
Baru saja mereka duduk, mereka langsung dijamu dengan makanan ringan dan minuman oleh asisten mereka. Anindia tersenyum ramah kepada wanita paruh baya itu yang dibalas dengan senyuman yang sama dari beliau.
"Selamat dinikmati Pak, Bu, mas dan mbak. Saya ke belakang dulu," ujar asisten itu dengan membungkuk sopan sambil berlalu pergi.
Keanu pun langsung duduk di sebelah Anindia, karena tidak ada celah untuk duduk di sofa yang lain. Ekspresi keterpaksaannya sangat terukir jelas dari raut wajahnya, membuat Anindia merasa sedikit tidak nyaman.
Perbincangan pun dimulai, membuat suasana menjadi lebih santai bagi keluarga mereka. Tapi itu tidak berlaku bagi Anindia dan Keanu, pasalnya mereka berdua hanya menunduk tanpa kata sedari tadi.
"Aku bakal betah gak ya tinggal di sini?" Batin Anindia.
Anindia terlihat cemas, bahkan ia memainkan jari-jarinya untuk menghilangkan rasa gugupnya. Sementara Keanu yang melihat itu hanya terlihat acuh tak acuh, seakan tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh istrinya itu.
"Yang baru jadi pengantin baru kok diam-diam aja?" Ujar ibu Keanu yang melihat Anindia hanya diam saja sedari tadi.
"Hmm, ga-gapapa Ma," ujar Anindia sedikit gugup.
"Keanu, daripada kamu duduk diam disitu mending ajak Anindia ke atas. Anindia juga perlu pengenalan dan adaptasi di rumah barunya ini," tegas ayah Keanu.
"Iya Pa," ujar Keanu dengan nada dingin.
Keanu pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya. Kedua orang tuanya langsung menggelengkan kepalanya melihat tingkah putra satu-satunya itu, merasa tidak habis pikir dengan Keanu padahal ia sudah mempunyai seorang istri.
"Ekhem!"
Mendengar deheman keras sang ayah, Keanu pun langsung menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah ayahnya yang kini menatapnya dengan tatapan tajam. Seakan paham apa yang dimaksud ayahnya, akhirnya dengan berat hati Keanu kembali ke arah Anindia.
"Ayo, gue ajak lo ke atas." Ujar Keanu dengan nada dinginnya.
Mau tidak mau, Anindia terpaksa berdiri. Ia menoleh ke arah kedua orang tua dan mertuanya, lalu tersenyum dengan senyum yang sedikit dipaksakan.
"Ma, Pa... Nindi ke atas dulu ya," pamitnya.
Mereka berempat langsung menganggukkan kepalanya dengan seutas senyum, membiarkan Anindia dan Keanu menuju ke lantai atas.
"Lo mau ke balkon atau rooftop?" Tanya Keanu saat menaiki anak tangga.
"Terserah kamu, Keanu." Jawab Anindia pasrah.
Keanu tidak mengatakan apa-apa lagi, ia berjalan di depan Anindia dengan langkah santainya. Sulit rasanya bagi Keanu untuk beradaptasi dengan musuh yang kini justru menjadi istrinya itu.
Tak ada percakapan di antara keduanya. Keanu pun langsung membuka pintu kamarnya yang menghadap langsung ke arah balkon. Sementara Anindia hanya mengikuti dari belakang.
Saat pintu kamar itu terbuka, Anindia bisa melihat jelas bahwa barang-barang nya sudah berada di dalam kamar Keanu. Bahkan sudah tersusun rapi di tempatnya, sepertinya beberapa asistennya yang menyusun barang-barangnya di sana.
Keanu pun langsung membuka pintu balkonnya, membuat angin malam terasa menusuk tulangnya. Ia memang mempunyai alergi terhadap AC, tapi bukan berarti ia juga memiliki alergi terhadap angin malam.
Anindia langsung membelalakkan matanya ketika melihat pemandangan kota dari balkon rumah Keanu. Ia pun langsung berjalan mendekat ke arah pagar dan menikmati keindahan kota di bawah sana. Bintang-bintang juga berkelap-kelip di atas langit, dengan bulan sabit yang menambah indahnya langit pada malam itu.
"Nindi," panggil Keanu tiba-tiba di sela-sela keheningan mereka.
"Ya?" Ujar Anindia yang kini langsung menoleh ke arah suaminya itu.
"Lo suka pemandangan di sini?" Tanya Keanu dengan nada dinginnya.
"Ya, pemandangannya cantik." Jawab Anindia yang kini kembali menoleh ke arah depan, ia menghirup udara sejenak dan menikmati indahnya lampu-lampu kota di malam itu.
Anindia seakan lupa rasa kesalnya terhadap Keanu tadi. Ia benar-benar terpukau dengan pemandangan yang ia lihat di depannya. Sementara Keanu ia kembali menatap kosong ke kejauhan, dengan kedua tangan yang ia sisipkan ke dalam saku celananya.
Suasana kembali hening, keduanya hanya memandang indahnya pemandangan malam itu tanpa kata. Tanpa sengaja, Keanu menoleh ke arah Anindia dan bisa melihat wajah cantik Anindia dari samping.
Untuk pertama kalinya, Keanu merasakan debaran aneh yang tiba-tiba menyerang hatinya. Ia pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, berusaha untuk menghilangkan rasa aneh pada hatinya saat ini.
"Gue minta maaf soal kemarin. Pernikahan ini terjadi karena kesalahan gue," ujar Keanu yang tiba-tiba meminta maaf tapi pandangannya masih tertuju ke arah lain.
Mendengar perkataan Keanu, Anindia langsung kembali menoleh ke arahnya. Ia merasa heran, pasalnya ia tidak pernah mendengar kata-kata maaf dari Keanu sebelumnya.
"Maaf?" Ujar Anindia yang merasa heran.
"Iya, kita udah menikah. Dan itu juga yang buat kita harus di dewasa kan oleh keadaan. Tapi jangan harap gue akan jatuh cinta sama lo. Karena bagi gue cinta itu hanya omong kosong," ujar Keanu yang lagi-lagi melontarkan kata-kata menyebalkan dari mulutnya.
"Aku gak harap apapun dari kamu, Keanu. Kamu itu manusia paling nyebelin yang pernah aku kenal!" Ujar Anindia dengan nada kesalnya.
"Hmm," ujar Keanu singkat.
Anindia merasa geram dengan Keanu, ia pun kembali membuat gerakan mencekik tanpa disadari oleh Keanu. Ia pun akhirnya menarik nafas berusaha untuk menenangkan diri.
"Masih mau di sini apa balik ke bawah?" Tanya Keanu kemudian.
"Ke bawah aja," jawab Anindia yang kembali merasa kesal dengan suaminya itu.
Tanpa kata lagi, Keanu pun langsung melangkahkan kakinya. Anindia pun hanya bisa mengikutinya saja. Anindia berpikir bahwa ia dan Keanu tidak akan pernah bisa akur terlebih kepribadian mereka sangatlah berbeda.
Mereka pun kembali ke ruang keluarga dan mendapati orang tua dan mertuanya masih duduk di sana. Anindia pun menyadari bahwa mulai hari ini ia akan tinggal satu rumah dengan cowok yang menurutnya sangat menyebalkan itu.
"Udah balik anak dan menantu Mama," ujar ibu Anindia ketika melihat keduanya.
Anindia hanya menanggapinya dengan seutas senyum, ia merasa belum siap untuk tinggal di rumah megah itu. Tapi mau bagaimanapun, Anindia harus tinggal di sini karena sudah kewajibannya.
"Anindia, kamu baik-baik ya tinggal di sini. Jangan merepotkan keluarga baru kamu," ujar ayah Anindia menasihati.
"Ah Mario, kau tidak perlu berkata seperti itu. Anindia sekarang adalah anakku juga," ujar ayah Keanu sebelum Anindia bisa berkata-kata.
"Maafkan aku, Bram. Aku hanya mengkhawatirkan putriku," ujar ayah Anindia.
"Aku berjanji akan menjaga Anindia seperti putriku sendiri, Mario. Kau adalah sahabat terbaikku, dan anakmu kini adalah menantuku," ujar ayah Keanu sembari menepuk punggung ayah Anindia sejenak.
Ayah dan ibu Anindia hanya menanggapinya dengan seutas senyum dan anggukan singkat. Keduanya pun akhirnya berpamitan kepada mereka semua, lalu meninggalkan Anindia di sana.
Mereka mengantarkan kedua orang tua Anindia sampai di depan pintu. Mobil yang dikendarai oleh ayah Anindia pun melaju meninggalkan rumah itu di belakang.
"Keanu, ajak Anindia untuk istirahat nak," titah ibu Keanu.
Ibu Keanu menatap Anindia penuh kasih sayang, seperti anaknya sendiri. Ia memang menginginkan anak perempuan sejak lama. Tapi sayangnya, setelah ia melahirkan Keanu, ia dinyatakan tidak bisa mempunyai anak lagi karena penyakit rahimnya.
"Selamat malam mantu cantiknya Mama," ujar ibu Keanu sembari membelai lembut rambut Anindia dengan senyuman tulusnya.
"Selamat malam juga, Mama." Ujar Anindia dengan nada lembutnya.
Tanpa perbincangan apapun lagi, Anindia mengikuti Keanu ke dalam kamarnya. Anindia sendiri mulai merasa nyaman dengan perhatian kecil dari ibu dan juga kebaikan hati ayah Keanu. Tapi yang masih menjadi konflik batinnya adalah pada anaknya. Anindia masih merasa bahwa ia terjebak dalam pernikahan ini ya karena ulah Keanu.
"Tidur aja di kasur, biar gue yang tidur di sofa," ujar Keanu dingin sambil mengambil bantal dan selimutnya.
"Tapi ini kan kamar kamu, Keanu." Ujar Anindia merasa tidak enak.
"Cepet, sebelum gue berubah pikiran," balas Keanu yang kembali menoleh ke arah Anindia dengan tatapan tajamnya.
Karena malas untuk berdebat lagi, akhirnya Anindia pun hanya mengangguk menyetujui. Sejujurnya ia merasa tidak enak tidur di atas ranjang karena kamar ini merupakan kamar Keanu. Tapi karena rasa kantuk yang melanda, akhirnya Anindia pun memejamkan matanya, membiarkan reaksi tubuhnya mengambil alih rasa kantuknya ini.
Sementara Keanu, ia yang sudah berbaring di atas sofa langsung memejamkan matanya. Ia merasa lelah dengan hari yang terasa panjang ini. Terlebih hari ini saja ia terus-menerus berdebat dengan istri rahasianya itu.
Tanpa sadar, keduanya langsung terlelap dalam tidurnya yang membawa mereka ke dalam mimpinya masing-masing. Saat itu, tiba-tiba saja ponsel Keanu bergetar serta layar ponselnya yang menyala, menandakan adanya pesan masuk. Tapi, siapa yang mengirimkan pesan di jam malam seperti ini?
^^^Bersambung...^^^