Siapa sangka peristiwa yang terjadi selama dua minggu, membuat hidup Salsa berubah total. Dorongan yang kuat untuk mengungkap tabir kematian seorang gadis yang menyangkut dosen Salsa. Ia punya beban moril untuk mengungkap kasus ini, agar citra pendidikan tetap terjaga dan tidak ada korban lainnya.
Bersama Syailendra, Salsa berhasil mengungkap kematian Karina hingga memperoleh ketenangan di dunia lain.
Happy Reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
INGINKU
Sampai akhirnya aku telat haid dua bulan, aku juga gak sadar kalau sudah telat selama itu. Saat kita mau berhubungan, Mas Amar bertanya kapan masa haid kamu? Dari situ aku baru sadar bahwa aku sudah lama tak haid. Mas Amar langsung marah dan menyebutku bodoh, karena tak sadar soal kewanitaan.
Salsa menggaruk keningnya, "Ya memang kamu bodoh sih, kamu udah umur 17 atau 18 tahun, masa' iya gak mikir kalau melakukan hubungan begitu terus-terusan gak bisa hamil," cerocos Salsa rasanya ingin menonjok kepala Karin agar pintar dikit saja.
Sudah dibilang aku remaja polos, dan ketagihan. Aku mengesampingkan soal haid dan hamil lah.
Salsa semakin muak dengan embel-embel polos dan ketagihan, emang Karin saja yang tak mau tahu efek hubungan itu. "Kamu kenapa sih mau berhubungan begitu terus, selain ketagihan?" tanya Salsa.
Uang. Mas Amar sangat royal apalagi kalau aku sudah menuntaskan hasratnya. Hingga aku tak pernah kekurangan uang lagi. Aku bisa jajan dan beli baju, seperti teman-temanku.
Salsa mulai paham, kadang faktor ekonomi membuat mereka yang kurang mampu, akan mengambil jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan dengan rela setor tubuh seperti Karin. Naudzubillah.
Kemudian Mas Amar menyuruhku untuk beli testpack, dan aku diajak untuk tes saat itu juga. Hasilnya garis dua. Dia marah sekali, dan langsung menyuruhku menggugurkan kandungan.
Aku takut dan mengiyakan saja. Baru deh aku memanfaatkan ponsel pintarku untuk mencari tahu efek menggugurkan kandungan, dan bisa kehilangan nyawa. Aku takut, aku menolak. Tapi Mas Amar tak mau tahu, dan aku hari itu dia bilang begini, Aku hanya menganggap kamu jajan saja, karena aku dapat seorang gadis, aku ketagihan melakukan dengan seorang gadis, karena istriku bukanlah seorang gadis. Mendengar pengakuannya aku kaget setengah mati, aku pikir dia belum punya istri. Dan dia bilang kalau istrinya sekarang hamil 5 bulan, sedangkan dirinya takut menyentuh sang istri karena kehamilan itu.
"Masuk perangkap laki-laki buaya!" omel Salsa.
Dia bukan laki-laki buaya, dia setia sama aku. Dia mainnya sama aku doang.
"Hey, Karin. Kalau namanya setia, dia gak bakal jajan sama kamu, dia bakal menahan hasratnya sembari menunggu kesiapan sang istri untuk berhubungan."
Ya salahnya si istri kenapa gak mau melayani, hamil bukan berarti gak bisa melakukan hubungan suami istri kan.
"Aku kira kamu benaran remaja polos yang hanya ketagihan hubungan begituan, nyatanya kamu juga punya bibir pelakor," Salsa naik pitam, semakin Karin cerita kok menggambarkan kalau dia berniat jadi pelakor dalam rumah tangga Amar, meski dia awalnya tak tahu dan sudah terlanjur hamil juga.
Aku bukan pelakor. Aku gak tahu awalnya kalau Mas Amar sudah menikah, dia juga gak bilang. Lagian dia masih muda kok.
Salsa langsung merujuk ke dosen muda di jurusannya, kalau memang Amar seorang dosen di jurusan Salsa. Namun seingat Salsa tak ada dosen yang bernama Amar dan masih muda. Di jurusan Salsa, dosen laki-laki yang paling muda bernama Pak Edric, dan beliau belum menikah, ya meski Salsa belum pernah diajar beliau.
"Lalu?"
Mas Amar gak mau tahu, aku harus menggugurkan kandungan. Tapi aku tolak, aku takut kehilangan nyawaku. Alhasil, kami putus kontak, selama beberapa hari nomorku diblokir dan dia sudah tidak pernah ke cafe tempat aku bekerja. Aku kalang kabut, aku mencari ke apartemennya ternyata kodenya sudah diganti, hingga dia tiba-tiba chat aku. Mengajakku bertemu di apartemennya selepas aku pulang sekolah. Karena aku butuh tanggung jawab dia, aku ke sana dan menganggap dia mau tanggung jawab. Nyatanya dia malah memberiku minuman air putih yang diisi dengan obat penggugur kandungan. Kami sempat berciuman dan janjinya minggu depan kita menikah.
Namun saat aku pulang perutku sakit sekali, seperti nyeri haid. Sampai malam aku makin takut hingga menjerit, orang tuaku shift malam, dan aku di rumah sendiri. Aku tak sanggup apalagi mulai keluar darah yang sangat banyak, bahkan untuk keluar rumah aku tak mampu. Keringat dingin juga, dan selepas shubuh aku merasa pingsan, aku tak tahu lagi setelah itu. Aku pikir aku pingsan ternyata aku sudah dikafani, dan diantar oleh ambulance.
Orang tuaku menangis histeris, tak terima kenyataan bahwa aku meninggal karena berniat menggugurkan kandungan. Arwahku tak tenang, karena ibuku masih ada dendam, ingin tahu siapa yang menghamiliku. Beliau bersumpah tidak akan memaafkan orang tersebut.
"Jadi kamu menuntut tanggung jawab kepada Amar agar mengakui kalau dia telah menghamili kamu dan memberi minuman itu?" tanya Salsa menyimpulkan keinginan Karin. Hantu itu mengangguk.
Sampai sekarang ibuku belum memaafkan dia, beliau masih mencari tahu ke teman sekolah dan tempat kerjaku, tapi tak ada yang tahu. Apalagi teman cafeku yang pernah menasehatiku sudah pindah luar pulau.
"Selain namanya Amar, apalagi petunjuk yang bisa dipakai untuk mencari dia?" Karin menggeleng, sebelum ke Salsa, ia pernah berkunjung ke apartemen Amar, namun bukan dia yang menempati apartemen itu. Karin kehilangan jejak.
"Nomor ponselnya kamu hafal?" tanya Salsa mencari apapun clue yang bisa mengembalikan Karin ke alamnya.
Hafal. Kemudian Karin menyebutkan, dan Salsa langsung menyimpannya, dan menghubungi. Nyatanya nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.
Salsa belum punya ide, buntu karena nomor Amar sudah tidak aktif. Aku percaya kamu bisa membantuku, Salsa. Aku yakin Mas Amar adalah dosen di kampus kamu.
"Masalahnya hanya nama yang kamu tahu, susah. Banyak di dunia ini, di kota ini yang namanya Amar dan jadi dosen," keluh Salsa, mama pun memberi ide bagaimana kalau dibantu orang pintar.
Terserah tapi aku yakin percuma, karena aku sudah meminta bantuan Salsa. Maka Salsa yang harus membantuku, terlebih Salsa dulu sempat menolongku, makanya aku maunya cuma Salsa.
Salsa mengerutkan dahi, "Lah kapan aku membantu kamu?" tanya Salsa bingung.
Karin tersenyum. Mungkin kamu lupa saat kamu menunggu temanmu di minimarket membawa dua botol air dingin, kemudian aku duduk di samping kamu. Tak lama temanmu datang bawa motor, dan kamu bilang hem minuman ini buat adik saja ya, masih tersegel kok, saya buru-buru.
Salsa mengingat kejadian itu, tapi tak ada potongan peristiwa itu yang diingat Salsa. Kamu tahu, saat itu badanku gemetar karena belum makan minum sepulang sekolah lanjut ke apartemen Mas Amar, hidupku hanya penuh ketakutan dan kekhawatiran.
"Oleh sebab itu kamu minta tolong ke aku untuk mencari Ammar?" tanya Salsa yang mulai paham benang merah, Karin menampakkan diri.
Iya, dan aku janji setelah kamu menemukan Mas Amar, apapun yang terjadi aku akan kembali ke alamku, karena aku tak mau membuat hidup ibuku diliputi dendam yang tak berkesudahan.