NovelToon NovelToon
ISTRI KONTRAK MILIK CEO PSIKOPAT

ISTRI KONTRAK MILIK CEO PSIKOPAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Psikopat / CEO / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Jensoni Ardiansyah

Genre: Dark Romance • CEO • Nikah Paksa • Obsesi • Balas Dendam
Tag: possessive, toxic love, kontrak nikah, rahasia masa lalu, hamil kontrak
“Kamu bukan istriku,” katanya dingin.
“Kamu adalah milikku.”
Nayla terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arka Alveron — CEO muda yang dikenal dingin, kejam, dan tidak pernah gagal mendapatkan apa yang ia inginkan.
Awalnya, Nayla mengira kontrak itu hanya demi kepentingan bisnis.
Tiga bulan menjadi istri palsu.
Tiga bulan hidup di rumah mewah.
Tiga bulan berpura-pura mencintai pria yang tidak ia kenal.
Namun semuanya berubah saat Arka mulai menunjukkan sisi yang membuat Nayla ketakutan.
Ia mengontrol.
Ia posesif.
Ia memperlakukan Nayla bukan sebagai istri —
melainkan sebagai miliknya.
Dan saat Nayla mulai jatuh cinta, ia baru menyadari satu hal:
Kontrak itu bukan untuk membebaskannya.
Kontrak itu dibuat agar Nayla tidak bisa kabur.
Karena Arka tidak sedang mencari istri.
Ia sedang mengurung obsesinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jensoni Ardiansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TAMU YANG TIDAK DIUNDANG

Hari acara itu datang lebih cepat dari yang Nayla kira.

Langit sore menggantung kelabu, seperti tahu bahwa sesuatu yang tidak nyaman akan terjadi. Mobil-mobil tamu sudah mulai memenuhi halaman hotel sejak satu jam sebelum acara dimulai. Para staf mondar-mandir, membawa kotak bunga, standing banner, dan map-map berisi daftar tamu.

Nayla berdiri di depan cermin kamar hotel yang disewa khusus untuknya.

Gaun hitam sederhana membingkai tubuhnya, rambutnya disanggul rapi, wajahnya tenang—tapi pikirannya penuh perhitungan.

Ini bukan sekadar acara formal.

Ini adalah pernyataan.

Ia bukan lagi perempuan yang “ditaruh” di sisi Arka.

Ia sekarang berdiri sebagai bagian dari garis depan.

Ketika Arka masuk ke kamar, ia berhenti sebentar melihat Nayla.

“Kamu kelihatan siap perang,” katanya setengah bercanda.

Nayla tersenyum tipis. “Karena memang ini perang, cuma pakai jas dan senyum.”

Arka mendekat. “Kalau kamu merasa ini terlalu berat—”

“Aku nggak akan mundur,” potong Nayla. “Kalau kita mau diserang, lebih baik kita berdiri daripada bersembunyi.”

Arka mengangguk pelan. “Oke. Kita turun.”

Ballroom hotel sudah hampir penuh.

Para tamu berdiri berkelompok, tertawa, berbincang, memegang gelas minuman. Dari luar, suasananya terlihat seperti acara korporat biasa—hangat, profesional, bahkan ramah.

Tapi Nayla bisa merasakan lapisan lain di baliknya.

Tatapan yang terlalu lama.

Senyum yang terlalu tipis.

Orang-orang yang berbicara sambil menilai, bukan sekadar berbincang.

Ia berjalan di samping Arka, menyapa beberapa klien utama.

“Selamat malam, Pak Wira.”

“Bu Nayla, akhirnya bisa bertemu langsung.”

“Kami senang bisa bekerja sama,” kata Nayla dengan nada netral tapi hangat.

Ia mulai menyadari betapa banyak orang yang memperhatikannya.

Bukan sebagai istri.

Tapi sebagai posisi.

Acara resmi dimulai.

Arka naik ke panggung kecil, menyampaikan sambutan. Suaranya tenang, profesional, tapi setiap kata terasa seperti pernyataan kemandirian.

“Kami memasuki fase baru,” katanya. “Dengan arah yang lebih mandiri, transparan, dan bertanggung jawab.”

Beberapa tamu bertepuk tangan. Yang lain hanya mengangguk tipis.

Nayla memperhatikan satu kelompok pria di sisi kiri ruangan—mereka tidak bertepuk tangan.

Mereka hanya saling bertukar pandang.

Dan di antara mereka, Nayla melihat satu wajah yang tidak ada di daftar undangan.

Seorang pria tinggi, jas abu-abu, rambutnya rapi. Tatapannya lurus ke panggung.

Ia tidak tersenyum.

Ia juga tidak bertepuk tangan.

Nayla merasakan perutnya mengencang.

Ia memanggil Raka lewat isyarat tangan.

“Orang itu,” bisik Nayla. “Yang di kiri.”

Raka menoleh sekilas. Wajahnya langsung berubah sedikit. “Itu… bukan tamu resmi.”

“Siapa?”

“Anak buah Darma. Namanya Ilham.”

Nayla mengangguk pelan. “Biarkan dia.”

Raka menatapnya ragu. “Nyonya—”

“Kalau kita usir sekarang, itu tanda kita takut,” kata Nayla tenang. “Aku mau dia lihat semuanya.”

Acara berlanjut.

Nayla berbincang dengan beberapa klien. Tapi ia bisa merasakan kehadiran Ilham seperti bayangan yang tidak bergerak.

Sampai akhirnya, Ilham mendekat.

“Bu Nayla,” katanya sopan. “Boleh bicara sebentar?”

Nayla menatap Arka sekilas, lalu mengangguk. “Silakan.”

Mereka berdiri agak ke pinggir ruangan.

“Saya hanya mau menyampaikan salam dari Pak Darma,” kata Ilham. “Beliau bilang, ini acara yang… berani.”

Nayla tersenyum tipis. “Kami memang sedang belajar berani.”

“Keberanian kadang mahal,” balas Ilham.

“Takut juga mahal,” jawab Nayla. “Bedanya, takut biasanya lebih menyiksa.”

Ilham menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum kecil. “Anda cepat belajar.”

Nayla tidak membalas senyum itu. “Saya tidak belajar. Saya beradaptasi.”

Ilham mengangguk tipis, lalu pergi.

Acara berjalan sampai hampir selesai tanpa insiden besar.

Tapi saat Nayla dan Arka bersiap meninggalkan ballroom, Raka menghampiri dengan wajah serius.

“Nyonya, Tuan,” katanya pelan. “Ada masalah kecil.”

“Apa?” tanya Arka.

“Satu vendor utama kita, PT Sagara, baru saja menunda kontrak. Mereka bilang… ada pihak yang menyarankan mereka menunggu.”

Nayla menghela napas pelan. “Jadi ini dimulai.”

Arka menutup mata sesaat, lalu menatap Nayla. “Mereka ngetes kita.”

“Dan kita tidak boleh gagal di tes pertama,” kata Nayla.

Di dalam mobil, suasana sunyi.

Lampu kota memantul di kaca.

“Mereka sudah mulai tekan,” kata Arka.

Nayla menatap jalan di depan. “Tekanan itu belum apa-apa. Ini baru pembuka.”

Arka menoleh. “Kamu nggak takut?”

Nayla tersenyum kecil, tanpa humor. “Aku takut. Tapi aku lebih takut hidupku dikendalikan orang lain.”

Ia menatap Arka. “Kita tidak bisa main aman lagi. Kita harus main cerdas.”

Arka mengangguk. “Dan cepat.”

Nayla menyandarkan punggungnya ke kursi. Dalam hatinya, ia tahu satu hal:

Langkah pertama sudah diambil.

Sekarang mereka sedang mengukur—

dan langkah berikutnya akan lebih kasar.

Mobil berhenti di halaman rumah saat jam sudah hampir menunjukkan pukul sebelas malam. Lampu-lampu teras menyala terang, tapi suasana di dalam terasa lebih sunyi dari biasanya.

Begitu Nayla turun, ia langsung merasakan ada sesuatu yang berbeda.

Bukan karena suara.

Bukan juga karena orang.

Tapi karena atmosfer.

Udara di sekitar rumah terasa seperti sudah dilewati ketegangan yang belum selesai.

Raka mendekat. “Nyonya… ada tamu tadi sore.”

“Tamu siapa?” tanya Nayla.

“Seorang perempuan. Mengaku dari pihak notaris lama Tuan Arka.”

Arka berhenti melangkah. “Notaris siapa?”

Raka menyebut satu nama.

Arka langsung menegang.

“Itu notaris yang dulu pegang semua akta awal perusahaan,” katanya pelan. “Dia sudah lama nggak pernah muncul.”

Nayla menatap Raka. “Dia mau apa?”

“Dia bilang, ada dokumen yang harus segera diperbarui. Katanya… kalau tidak, ada potensi sengketa kepemilikan.”

Nayla merasakan dadanya mengeras.

“Dia ninggalin ini,” lanjut Raka sambil menyerahkan map cokelat tebal.

Di ruang kerja, Nayla membuka map itu.

Isinya salinan akta, perjanjian lama, dan satu surat resmi.

Judulnya sederhana:

PEMBERITAHUAN PERUBAHAN STATUS KEPEMILIKAN

Nayla membaca perlahan.

Setiap kalimatnya terasa seperti pisau tipis.

“Ini… bisa bikin kamu kelihatan seolah-olah cuma pemegang sementara,” katanya pelan.

Arka berdiri di belakangnya. “Itu perjanjian lama, sebelum aku berdiri sendiri.”

“Dan sekarang mereka mau mengaktifkannya,” ucap Nayla.

Arka mengangguk. “Kalau ini dipakai, mereka bisa bilang kamu—kita—tidak punya kendali penuh.”

Nayla menutup map itu dengan pelan. “Jadi bukan cuma vendor. Mereka mulai pegang legal.”

Arka menghela napas. “Iya.”

Sunyi menggantung di antara mereka.

Nayla berdiri, berjalan ke jendela, menatap halaman yang sepi.

“Ini bukan gertakan lagi,” katanya. “Ini langkah nyata.”

Arka mendekat. “Dan mereka mulai dari tempat yang paling susah kita lawan.”

Nayla menoleh. “Hukum.”

Malam itu Nayla tidak langsung tidur.

Ia duduk di sofa, membuka laptop, mulai membaca ulang semua dokumen lama yang pernah ditandatangani Arka.

Perjanjian, surat kuasa, kontrak vendor, pernyataan notaris—semuanya.

Jam menunjukkan lewat pukul dua pagi saat ia menemukan satu detail kecil.

Satu klausul yang tidak pernah diubah.

“Kamu lihat ini,” katanya sambil memanggil Arka.

Arka mendekat.

“Kalau kita bisa buktikan bahwa mereka melanggar poin ini duluan,” lanjut Nayla, “maka perjanjian ini otomatis batal.”

Arka menatap layar. “Ini… ini celah.”

Nayla mengangguk. “Dan ini satu-satunya pintu keluar yang sah.”

Keesokan paginya, Nayla menghubungi satu firma hukum independen.

Bukan yang pernah dipakai Arka.

Bukan juga yang ada di jaringan lama.

Ia memilih firma kecil, tapi dikenal keras dan tidak bisa ditekan.

Saat panggilan tersambung, Nayla bicara tenang.

“Saya mau audit semua perjanjian lama perusahaan suami saya. Lengkap. Tanpa bocor.”

Di seberang, suara pria menjawab, “Kami butuh waktu dan akses.”

“Kalian akan dapat. Tapi saya juga butuh satu hal,” kata Nayla.

“Kami sedang diserang.”

Telepon ditutup.

Nayla menurunkan ponsel dan menghela napas pelan.

Ia menatap Arka.

“Mereka sudah masuk ke wilayah hukum,” katanya.

“Dan sekarang kita masuk ke wilayah strategi.”

Arka mengangguk. “Ini bukan lagi soal bertahan.”

Nayla menatap jendela.

“Ini soal siapa yang tumbang duluan.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!