NovelToon NovelToon
Kesayangan Tuan Muda Mafia

Kesayangan Tuan Muda Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Selingkuh / Obsesi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16

Pagi datang ke mansion tanpa perubahan berarti.

Tidak ada cahaya matahari yang masuk secara dramatis, tidak ada suara burung yang memaksa bangun. Hanya terang yang perlahan menyusup melalui sela tirai tipis, membentuk garis lembut di lantai kamar Cherrin. Udara masih dingin, masih membawa sisa malam yang belum sepenuhnya pergi.

Kucing abu-abu itu tidur meringkuk di sudut sofa kecil di kamar—posisinya tidak berubah jauh dari semalam. Napasnya teratur, dengkurnya halus, seperti mesin kecil yang bekerja tanpa tuntutan apa pun.

Cherrin membuka mata tanpa alarm.

Ia butuh beberapa detik untuk mengingat di mana ia berada.

Mansion.

Kamar Cherrin.

Dan semalam—percakapan yang tidak panjang, tapi entah kenapa menetap lebih lama di kepalanya.

Ia duduk perlahan, tidak ingin mengganggu kucing itu. Mengusap wajahnya sebentar, lalu meraih ponsel di meja samping ranjang. Jam menunjukkan pukul 05.47.

Terlalu pagi untuk sebagian orang. Terlalu biasa untuk hidup yang sedang ia jalani sekarang.

Cherrin bangkit, berjalan ke kamar mandi dengan langkah ringan. Air dingin menyentuh wajahnya, membuatnya sepenuhnya terjaga. Ia menatap pantulan dirinya di cermin—rambut sedikit berantakan, mata masih menyimpan sisa kantuk.

Tapi ada sesuatu yang berbeda.

Bukan perubahan besar.

Hanya perasaan… tenang yang asing.

Setelah berpakaian dan menyiapkan diri, Cherrin keluar kamar. Lorong mansion masih sepi. Lampu-lampu belum sepenuhnya menyala. Ia berjalan perlahan menuju dapur.

Zivaniel sudah ada di sana.

Berdiri di depan meja dapur, mengenakan kemeja putih dan celana hitam—rapi seperti biasa. Sebuah tablet tergeletak di meja, menampilkan jadwal dan catatan yang tidak Cherrin pahami dari jarak ini.

Ia menoleh begitu mendengar langkah kaki.

“Kamu bangun cepat,” katanya.

“Kebiasaan,” jawab Cherrin. “Kamu juga.”

Zivaniel mengangguk kecil. “Hari ini sibuk.”

Cherrin menuang air ke gelas. “Acara OSIS?”

“Iya.”

Nada suaranya datar. Tapi dari caranya menyesap kopi, dari rahangnya yang sedikit mengeras—Cherrin tahu ini bukan sekadar sibuk biasa.

Ia tidak bertanya lebih jauh.

Mereka sarapan dalam diam. Tidak canggung. Tapi juga tidak hangat. Seperti dua orang yang sama-sama menjaga jarak karena belum tahu jarak mana yang aman.

Saat mobil Zivaniel berangkat ke sekolah, Zivaniel menerima beberapa panggilan. Nada suaranya berubah—lebih tegas, lebih cepat. Ia memberi instruksi singkat, memotong pembicaraan yang bertele-tele.

Cherrin duduk di samping, menatap keluar jendela.

Sekolah semakin dekat.

Begitu sampai, Zivaniel turun lebih dulu.

“Aku ke aula duku,” katanya. “Langsung.”

“Oke,” jawab Cherrin sambil tersenyum lebar. Beberapa pasang mata tetap menatap keduanya dengan tatapan iri. Bahkan ada yang kesal dengan kedekatan keduanya.

Cherrin menatap punggung Zivaniel yang menghilang di balik tembok, ia menghela nafasnya kasar.

Zivaniel terlalu sibuk sepertinya hari ini.

Sekolah hari itu terasa lebih ramai dari biasanya.

Spanduk acara tergantung di beberapa sudut. Siswa OSIS mondar-mandir membawa map, alat tulis, dan properti yang entah untuk apa. Aula utama ditutup untuk umum, dijaga oleh dua anggota OSIS.

Cherrin berjalan ke kelasnya.

Pelajaran berlangsung seperti biasa. Guru berbicara. Papan tulis dipenuhi tulisan. Tapi pikirannya sesekali melayang—ke aula, ke jadwal Zivaniel, ke bagaimana semalam ia terlihat lebih… terbuka dari biasanya.

Jam istirahat tiba.

Cherrin menuju kantin sendirian.

Kantin sekolah itu luas, dengan meja-meja panjang dan jendela besar yang menghadap ke taman kecil. Bau gorengan dan minuman manis bercampur di udara.

Ia baru saja duduk ketika seseorang berdiri di depannya.

“Elran.”

Nama itu keluar begitu saja dari mulutnya.

Elran tersenyum—senyum yang terlalu mudah, terlalu santai. Rambutnya sedikit acak-acakan seperti biasa, kemeja sekolahnya tidak sepenuhnya dimasukkan ke celana.

“Lama nggak ngobrol,” katanya. “Boleh duduk?”

Cherrin ragu sepersekian detik. Lalu mengangguk. “Silakan.”

Elran duduk di seberangnya.

“gue dengar lo mau ikut lomba cerdas cermat.” katanya ringan, seolah membicarakan cuaca.

Cherrin mengernyit. “Dari mana Lo tahu?”

“Dari Icha pastinya.” jawab Elran.

Cherrin menganggukkan kepalanya. "Cuman cerdas cermat doang antar sekolah."

"Tapi itu keren."

Cherrin terkekeh kecil. Pemuda itu terlalu berlebihan. "Nggak lah, belum tentu juga menang. Gue itu suka seni. Jadi, pak Bambang jadiin gue salah satunya." Cherrin menyeruput es yang baru saja di pesan. Hari ini Icha sahabatnya tidak sekolah lagi, karena demam. Dan berakhir Cherrin sendirian, dan beruntung ada Elran.

Cherrin tidak banyak kawan di sekolah. Bukannya tidak ada yang mau berteman dengannya, tapi Cherrin yang terlalu pemilih.

Elran menyandarkan punggung, menatap Cherrin dengan mata yang terlalu penuh perhatian. “Lo kelihatan beda.”

“Beda gimana?”

“Lebih… cantik maybe.”

Cherrin mendengus. "Gombal!"

“Serius,” Elran mencondongkan tubuh sedikit. “Makin tambah cantik.”

Cherrin menyesap minumannya kembali sambil tertawa kecil.. “Orang bisa berubah kan?.”

Elran tersenyum kecil. “its oke."

Percakapan itu tidak terdengar keras. Tidak menarik perhatian. Tapi dari sudut lain kantin—sepasang mata melihat semuanya.

Zivaniel.

Ia berdiri di dekat pintu kantin, bersama dua anggota OSIS. Map di tangannya penuh dengan catatan acara. Ia berhenti bicara begitu melihat Cherrin.

Melihat Elran.

Melihat cara Elran mencondongkan tubuh. Cara Cherrin menatap—tersenyum, dan terkekeh, bahkan juga tidak menjauh.

Rahang Zivaniel mengeras.

“Ada apa, Ketua?” tanya salah satu anggota OSIS.

“Tidak,” jawab Zivaniel singkat. “Lanjut.”

Ia berbalik.

Terlalu cepat.

“Elran,” kata Cherrin akhirnya. “Kalau lo cuma mau gombal mending—”

“Gue serius” potong Elran. “Itu aja.”

Cherrin menatapnya lama. “Ck gombalnya mas!.”

Elran tersenyum tipis. “Lo emang cantik banget. Tapi kenapa harus bareng Zivaniel? Beberapa murid pada gosipin elo sama Zivaniel. Gue tanya sama Icha juga dia nggak tau hubungan elo sama Zivaniel.” Aku Elran sambil mendengus kesal. Jelas cemburu saat beberapa temannya malah gosipin hubungan Cherrin dan Zivaniel. Padahal ia suka sudah lama dengan Cherrin.

Cherrin berdecak. "Gue cuman temenan." Sahut Cherrin membuat mata Elran berbinar.

"Beneran?"

Cherrin tidak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya, dan Elran kembali mengajak Cherrin ngobrol.

Jam istirahat berakhir.

Sepanjang hari, Cherrin tidak melihat Zivaniel lagi.

Sampai sore.

Acara OSIS berjalan sukses. Tepuk tangan memenuhi aula. Guru-guru memuji. Kepala sekolah tersenyum puas.

Zivaniel berdiri di depan, menerima ucapan selamat. Wajahnya tenang. Profesional. Tidak menunjukkan apa pun.

Saat Cherrin menghampirinya setelah acara selesai, Zivaniel tidak menatapnya.

“Kamu pulang sama aku?” tanya Cherrin.

“Tidak,” jawabnya. “Aku masih ada rapat evaluasi.”

“Oke nggak apa-apa kok, aku bisa pesen taksi.” Ucap Cherrin masih ceria. Namun, Zivaniel tidak seperti biasanya, pemuda itu malah terkesan lebih dingin dan datar dari biasanya.

Cherrin mundur selangkah. “Niel?”

Zivaniel akhirnya menoleh. Tatapannya datar.

“Hati-hati di jalan,” katanya dan berlalu pergi begitu saja meninggalkan Cherrin yang terdiam.

Itu saja.

Malam di mansion terasa berbeda.

Lebih luas.

Lebih sunyi.

Cherrin duduk di sofa ruang tengah, kucing abu-abu itu di pangkuannya. Ia menunggu. Tidak tahu apa yang ia tunggu.

Jam berdetak.

Zivaniel pulang hampir tengah malam. Nenek Sera tidak ada juga. Dan Varla– maminya Zivaniel juga sedang tidak ada. Membuat Cherrin bisa bernafas lega.

Zivaniel masuk tanpa suara, melepas sepatu, berjalan melewati ruang tengah tanpa menoleh.

“Niel,” panggil Cherrin pelan.

Ia berhenti.

“Ada apa?”

“Kamu marah?”

Hening.

Zivaniel menatap lantai. “Aku capek.”

“Karena acara?” tanya Cherrin.

“Ya.”

Cherrin mengatupkan bibirnya rapat saat Zivaniel terus berjalan begitu saja masuk ke dalam kamar tanpa mau berbicara lagi dengannya.

"Zivaniel kenapa ya? Kok kayaknya lain banget."

1
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Elran cemburu melihat kedekatan Niel dengan Cerrin ..
Julia and'Marian: 🤭🤭🤭,,
total 1 replies
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
mampir otor 🙏😊
Julia and'Marian: amiin kak, makasih doanya🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!