Rea Adelia, gadis sebatang kara yang lugu dan ceroboh, merantau ke kota besar demi mencari kerja. Namun, malam pertamanya di kota itu berubah menjadi mimpi buruk sekaligus awal takdir baru. Di sebuah gang sempit menuju kosannya, ia menemukan Galen Alonso—seorang pemimpin mafia kejam yang terluka parah akibat pengkhianatan.
Niat baik Rea membawanya menolong Galen ke dalam kamar kosnya yang sempit. Tanpa Rea sadari, menolong Galen berarti menyeret nyawa polosnya ke dalam dunia gelap yang penuh darah. Di antara sekat dinding kos yang rapuh, si gadis manis yang ceroboh harus hidup bersama sang mafia tampan yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Koper Pink dan Gang Sempit
Pagi masih memeluk desa Rea dengan erat, saat gadis mungil itu berdiri di depan pintu rumah singgah satu-satunya. Sebuah koper pink usang di tangannya, dan tekad baja di matanya yang bulat.
“Bik Lin, saya pamit, ya,” ucap Rea, suaranya terdengar bergetar menahan haru.
Wanita paruh baya yang sudah ia anggap ibu sendiri itu mengangguk dengan mata berkaca-kaca. “Iya Rea, hati-hati, ya. Jangan lupa kabari Bibi kalau sudah sampai.”
“Iya, makasih, Bik. Permisi.”
Rea melangkah keluar, meninggalkan satu-satunya tempat yang ia sebut rumah. Perjalanan dimulai dengan naik angkutan desa menuju stasiun kereta api, lalu berpindah ke stasiun bus untuk menempuh perjalanan antarkota yang panjang.
Di dalam bus, Rea menatap keluar jendela dengan takjub. “Wahh, ternyata dunia kita ini sebesar ini ya,” bisiknya pada diri sendiri, polos.
Malam pun tiba. Bus berhenti di terminal kota metropolitan yang terasa asing dan bising. Rea turun, menarik kopernya yang berderit di atas aspal kasar. Udara malam terasa dingin dan menusuk. Ia membuka ponselnya, membuka aplikasi peta daring.
“Jalan Kamboja nomor 15… Lurus belok kanan…,” gumamnya mengikuti navigasi suara dari aplikasi.
Rea memasuki sebuah gang sempit yang gelap, diapit oleh gedung-gedung tua yang menjulang. Lampu jalan satu-satunya berkedip-kedip menyeramkan. Aroma lembap dan karat memenuhi udara.
“Aduhhh!”
Rea tersandung sesuatu yang keras di tengah gang. Ponselnya terlempar ke lantai. Saat ia mendongak, matanya yang bulat terbelalak kaget. Di depannya, bersandar lemah di tembok, ada seorang pria bertubuh tegap dengan kemeja putih yang kini bersimbah darah segar. Tatapan mata pria itu tajam, dingin, dan penuh bahaya, namun Rea yang lugu hanya melihat satu hal: pria ini terluka dan butuh pertolongan.
"Paman? Paman tidak apa-apa?" Rea bertanya dengan nada panik yang kental.
Pria itu, Galen, hanya bisa mendesis menahan sakit. Ia ingin sekali membentak gadis ini agar menjauh, namun kekuatannya sudah habis. Rea, tanpa memikirkan bahaya yang mungkin mengintai, langsung menyampirkan lengan besar Galen ke bahu mungilnya. Tubuhnya yang kecil hampir ambruk saat menopang berat badan Galen yang dua kali lipat darinya.
"Paman ikut ke kos saya dulu ya, biar saya obati," ucap Rea terengah-engah. Dengan langkah gontai dan napas tersengal, ia membopong "beban raksasa" itu keluar dari gang.
Sesampainya di bangunan kos yang tampak sederhana, Rea segera menemui ibu kos.
"Bu, permisi... saya Rea yang pesan kamar. Boleh minta kuncinya sekarang?" tanya Rea dengan wajah berkeringat. Ibu kos yang tampak mengantuk hanya menyerahkan kunci tanpa banyak tanya, tidak menyadari bahwa di balik bayangan kegelapan, ada pria bersimbah darah yang sedang bersandar pada gadis itu.
Rea bergegas menuju kamarnya di lantai bawah. Begitu pintu terbuka, ia mengerahkan seluruh tenaga terakhirnya untuk merebahkan tubuh Galen di atas sofa tua yang ada di sudut ruangan.
Bruk!
"Hah... hah... paman berat sekali," keluh Rea sambil mengusap keringat di dahinya. Ia kemudian menatap pria tampan yang kini memejamkan mata dengan wajah pucat itu. Sifat cerobohnya kembali muncul; saat hendak mengambil kotak P3K, kakinya tersandung kaki sofa hingga ia hampir jatuh menimpa luka Galen.
"Aduh! Maaf, Paman! Aku tidak sengaja!" seru Rea panik, sementara Galen hanya bisa mengerang rendah dalam ketidaksadarannya.
Dengan telaten, tangan kecil Rea mulai membuka kancing kemeja Galen yang sudah basah oleh darah. Ia meringis ngeri melihat luka robek di perut pria itu, namun jemarinya yang gemetar tetap berusaha membersihkannya dengan air hangat dan cairan antiseptik.
“Apa Paman habis dirampok ya?” gumam Rea pelan sambil menempelkan kain kasa. Wajahnya berkerut penuh simpati. “Kasian banget, padahal udah tampan begini...”
Rea terus bergumam sendiri untuk menghilangkan rasa takutnya. Meski ceroboh, gerakannya saat membalut luka ternyata cukup rapi. Setelah beberapa saat bergelut dengan perban dan plester, Rea akhirnya bisa bernapas lega.
“Fyuhh... selesai.”
Rea menyeka keringat di pelipisnya dengan punggung tangan. Ia menatap wajah Galen yang tampak sedikit lebih tenang meski masih pucat pasi. Karena udara malam di kamar kosnya cukup dingin, Rea bangkit untuk mengambil selimut satu-satunya dari dalam koper pink-nya.
Dengan hati-hati, ia membentangkan kain itu dan menyelimuti tubuh besar Galen hingga ke dada. “Tidur yang nyenyak ya, Paman Tampan. Besok pagi pasti sembuh,” bisik Rea polos sebelum ia sendiri jatuh terduduk di lantai samping sofa, kelelahan karena perjalanan jauh dan drama malam itu.
Tanpa sadar, Rea pun tertidur sambil menyandarkan kepalanya di pinggiran sofa, tepat di samping tangan Galen yang penuh urat dan bekas luka.