NovelToon NovelToon
The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Identitas Tersembunyi / Slice of Life / Persahabatan / TKP / Roh Supernatural
Popularitas:92
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Seorang arwah anak yang terlupakan sejak 1987. Seorang detektif perempuan yang bisa melihatnya di tahun 2020. Bersama, mereka memecahkan kasus-kasus mustahil.

Tetapi setiap kebenaran yang mereka ungkap membawa Lisa dan Rhino semakin dekat pada misteri terbesar, identitas Rhino yang sebenarnya. Sebuah rahasia kelam yang, jika terungkap, bisa membebaskannya atau justru memisahkan mereka untuk selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Angin di atas rooftop gedung Kepolisian Seoul Pusat bukanlah angin biasa—ia adalah sungai udara dingin yang mengalir deras di antara kanvas pencakar langit, membawa serta aroma kompleks kota: asap knalpot yang tertinggal, uap air dari Sungai Han, dan kesepian dari jutaan jendela yang masih menyala. Lisa membiarkan angin itu menerpa wajahnya, berharap bisa menyapu rasa karut-marut di kepalanya. Pagar besi di hadapannya terasa dingin dan kokoh di bawah telapak tangannya, satu-satunya kepastian di malam yang penuh ketidakpastian.

Dia menyesap kopi kalengnya yang sudah kehilangan kehangatannya. Rasanya pahit dan hambar. Matanya yang berat dan dikelilingi lingkaran hitam menoleh ke samping. Ke ruang kosong di sebelah kirinya. Lalu perlahan, seperti fokus lensa kamera, sosok itu muncul—atau mungkin selalu ada di sana, hanya menunggu untuk disadari. Sam. Pemuda berambut tembaga yang jaket denimnya tidak berkibar sedikit pun meski angin menderu.

“Ini masih terasa sangat tidak masuk akal.” Gumam Lisa, suaranya hampir hilang dalam gemuruh kota di bawah. “Aku, Detektif Ahn Lisa, sedang mengobrol dengan seorang pria yang telah mati lebih lama dari usiaku, di atap markas polisi. Jika ada kamera tersembunyi di sini, karirku tamat besok pagi.”

Sam menoleh padanya. Senyum tipisnya muncul, tidak mencapai matanya yang berkilau bagai kaca tua. “Dunia yang kau anggap masuk akal, hanyalah lapisan teratas dari sesuatu yang jauh lebih dalam, lebih gelap, dan lebih sunyi. Laporan kasus di mejamu itu seperti daftar menu—ia tidak menggambarkan rasa sebenarnya dari masakan.”

Lisa memalingkan wajah, menatap kembali lautan lampu kuning dan putih yang berkedip. “Aku tidak percaya pada metafora. Aku percaya pada bukti.” Ia meneguk sisa kopinya yang pahit, lalu meletakkan kaleng kosong di atas beton dengan suara ‘klik’ yang keras. “Tunjukkan padaku bukti terakhir, yang tak terbantahkan. Bukan hanya cerita, bukan juga feeling. Tapi bukti.”

“Bukti seperti apa?” tanya Sam, suaranya datar.

“Bahwa kau benar-benar… bukan dari sini.” Lisa menatapnya langsung. “Menghilanglah sekarang. Lalu muncullah di tempat yang tidak bisa kutebak.”

Sam mengamatinya lama. Di matanya, Lisa bisa melihat kilatan sesuatu—apakah itu kekecewaan? Atau kesediaan untuk diperlakukan seperti trik sulap? Akhirnya, Sam mengangguk pelan. “Seperti yang kau inginkan.”

Tidak ada efek khusus. Bahkan tidak ada asap atau suara. Tubuh Sam mulai memudar dari tepiannya. Konturnya menjadi kabur, seperti gambar yang dilarutkan dalam air. Warna jaket denimnya menyatu dengan kegelapan, rambut kemerahannya memudar menjadi cokelat, lalu abu-abu, lalu transparan. Dalam waktu tiga detik, Lisa menghitungnya dengan degup jantungnya yang kencang, tempat di sampingnya kosong melompong. Hanya angin yang lalu-lalang melalui ruang yang tadinya ditempati sebuah siluet.

Lisa menahan napas. Matanya menyapu seluruh rooftop. Tangki air beton di sudut. Ventilasi mesin yang berdecit. Antena komunikasi yang berdiri seperti tengkorak raksasa. Tidak ada Sam dimanapun.

Lalu, sebuah bisikan, hangat dan tepat di daun telinga kirinya, membuat bulu kuduknya berdiri.

“Di sini.”

Lisa terlonjak ke samping, tangan kanannya refleks menyentuh tempat pistol yang tidak ada. Kaleng kopi yang ditinggalkannya terguling, sisa tetesan hitam menodai beton. Sam sekarang berdiri bersandar pada pintu logam tangga darurat, sepuluh meter jauhnya. Ia tidak terlihat lelah, tidak terlihat seperti baru berlari. Ia hanya… ada di sana. Seolah-olah ia selalu ada di sana, dan Lisa yang baru saja menyadarinya.

“Bagaimana… kau?” Nafas Lisa tersengal.

“Berjalan adalah untuk makhluk yang terikat ruang dan waktu.” Jawab Sam, mendorong dirinya dari pintu. Ia tidak berjalan menuju Lisa. Ia bergeser satu langkah, dua langkah, dan tiba-tiba ia sudah kembali di posisi semula, berdiri di samping pagar besi, menatap kota. “Jarak adalah ilusi bagi sesuatu yang sudah tidak memiliki massa. Jadi? Sudahkah kau percaya?”

Lisa menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan gemuruh di dadanya. Ini nyata. Ini bukan patahan jiwa. Ini adalah fakta baru yang harus diakomodasi, seperti fakta forensik yang bertentangan dengan kesaksian. Logika detektifnya, yang terlatih untuk beradaptasi, mulai membangun kerangka baru.

Diamnya lama. Angin bersiul di antara antena. Suara klakson dari jalan raya di bawah naik seperti teriakan dari dunia lain.

Akhirnya, Lisa berbicara, suaranya lebih tegas, kembali ke nada yang ia gunakan di ruang interogasi. “Aku punya sebuah tawaran.”

Sam menoleh, alisnya sedikit terangkat.

“Kau bilang kau terjebak tanpa tujuan, hanya melayang tanpa ada yang melihat, tanpa ada yang peduli.” Lisa menatapnya, matanya mengukur. “Apa itu benar?”

Sam mengangguk perlahan. Ekspresinya netral, tapi Lisa bisa merasakan getaran kesepian yang memancar darinya, seperti hawa dingin dari pintu lemari es yang terbuka. “Tiga puluh tiga tahun adalah waktu yang sangat panjang untuk menjadi bayangan, Lisa. Terutama ketika kau tahu, di suatu tempat, seharusnya ada namamu di sebuah batu nisan.”

Kalimat itu menyentuh sesuatu yang keras dan pragmatis dalam diri Lisa. Ia tidak bisa memberi Sam nama atau keadilan—belum. Tapi ia bisa memberi fungsi yang mungkin lebih dibutuhkan makhluk apapun.

“Mari kita buat perjanjian.” Ujar Lisa, menegakkan posturnya. “Kau boleh mengikutiku. Ke kantor, ke TKP, bahkan ke apartemenku jika situasi memaksa. Aku akan memberimu akses ke duniamu—dunia yang hidup.”

Sam menyilangkan tangan. “Dan sebagai gantinya?”

“Kau menjadi mataku di tempat yang tak bisa dijangkau.” Sorot mata Lisa tajam, bercahaya dengan tekad yang baru ditempa. “Bantu aku memecahkan kasus-kasus yang membeku. Kasus tanpa saksi, tanpa bukti, tanpa motivasi yang masuk akal. Berikan petunjuk yang tidak akan pernah ditemukan tim forensik. Bicaralah dengan… mereka yang seperti dirimu. Dengarkan keluhannya. Cari tahu di mana barang bukti dibuang, atau siapa yang sebenarnya melakukan kejahatan itu.”

Sam terdiam. Wajahnya sulit dibaca. “Jadi, kau ingin menggunakan hantu untuk menaikkan statistik penyelesaian kasusmu? Untuk promosi?” Nadanya datar, tidak menuduh, hanya bertanya.

“Aku ingin sebuah keadilan!” bantah Lisa, dan ia terkejut dengan intensitas di suaranya sendiri. “Setiap kasus cold case di lemari besi itu adalah seorang korban yang terlupakan, sebuah keluarga yang tidak pernah dapat penutupan. Jika ada koridor komunikasi yang… terbuka… dan bisa membantu mereka bersuara, itu kewajibanku untuk memanfaatkannya. Bukan untuk pangkat, tapi untuk mereka.”

Sam memandangnya lama sekali. Lisa membiarkan tatapannya, tidak menunduk. Ia melihat bagaimana mata Sam yang hangat itu seolah-olah memindai jiwanya, mencari kepalsuan. Kemudian, sesuatu di wajah Sam melunak. Bahkan, sudut bibirnya melengkung ke atas, bukan senyum, tapi sesuatu yang lebih mirip kelegaan.

“Sebuah perjanjian tak kasat mata.” Gumam Sam. “Bayangan dan detektif.” Ia menghela napas dan mengangguk. “Baik. Aku terima. Aku akan menjadi bayanganmu, Detektif Ahn. Partner rahasiamu.”

Rasa lega yang mendadak, dicampur dengan kegelisahan yang luar biasa, membanjiri dada Lisa. Ia mengulurkan tangan kanannya secara refleks, kebiasaan lamanya untuk mengokohkan kesepakatan.

Lalu ia membeku. Tangannya tergantung di udara antara mereka.

Sam menatap tangan itu, lalu menatap wajah Lisa yang berubah merah karena malu. Sebuah suara terkekeh pendek, hangat dan manusiawi, keluar darinya. “Jabat tangan mungkin agak… sulit secara teknis.” Katanya, matanya berbinar dengan cahaya humor yang samar.

Lisa menarik tangannya kembali dengan cepat, mengusapnya pada celana jinsnya seolah-olah basah. “Ya. Tentu. Maaf.” Rasanya bodoh sekali.

Sam memandangnya, dan senyumnya kali ini lebih lembut. “Hati-hati dengan apa yang kau izinkan masuk ke dalam hidupmu.” Bisiknya, suaranya tiba-tiba sangat serius. “Karena begitu kau mengakui keberadaan kami, dunia tidak akan pernah lagi terlihat sederhana. Kegelapan yang kau abaikan akan mulai membisikkan namamu. Dan dingin yang kau anggap hanya angin malam… akan selalu memiliki wajah.”

Lisa menelan ludah. Ia menatap kota yang luas di bawah, yang tiba-tiba terasa lebih asing, lebih dalam, seperti permukaan air yang menutupi jurang. “Sudah terlambat untuk mundur, kan?” Tanyanya, hampir pada dirinya sendiri.

“Sudah sejak kau menemuiku di lorong.” Jawab Sam.

Lisa mengangguk. Ia mengambil kaleng kopinya yang kosong, meremasnya dengan tangan yang dingin.

.

.

.

.

.

.

.

— Bersambung —

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!