Setelah mengalami kebutaan selama bertahun-tahun, Samira Hadid justru mendapatkan kembali penglihatannya lewat kecelakaan jatuh yang melukai kepalanya.
Ia kembali melihat dunia yang dulu terasa gelap. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama saat ia melihat suaminya memeluk wanita lain di dapur rumah mereka.
Terkepung rasa sakit dan kemarahan, Samira memutuskan untuk tetap berpura-pura buta dan mengamati semua permainan licik sang suami.
Lalu, ia mulai memutuskan pembalasan dendam. Ia bertekad untuk mengambil kembali semua yang telah suaminya rebut dan mencari kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 09
Pintu rumah itu terbuka perlahan setelah Larissa mengintip melalui celah kecil di samping daun pintu. Begitu melihat sosok lelaki berjas rapi dengan tas medis tergantung di bahunya, Larissa spontan menegakkan tubuhnya.
“Do-dokter Rayhan?” tanyanya gugup. “A-ada perlu apa datang kemari?”
Rayhan mengangguk singkat. Wajahnya terlihat tenang, tapi sorot matanya tajam saat menatap Larissa. “Aku diberitahu katanya kondisi Samira agak menurun, makanya aku datang untuk memeriksa kondisinya sebentar.”
Larissa ragu sejenak. Nalurinya menyuruhnya menutup pintu dan memanggil Arga lebih dulu, tapi ada sesuatu dari cara Rayhan berdiri yang membuat Larissa sulit menolak pria itu.
Terlebih lagi, selama ini ia memang segan pada dokter mata yang menangani Samira selama bertahun-tahun itu.
“Si-silakan masuk, Dok,” ucap Larissa akhirnya, bergeser memberi jalan. “Tapi Arga sedang tidak di rumah.”
“Tidak apa-apa,” jawab Rayhan singkat. “Aku hanya ingin memastikan kondisinya saja. Jika kondisi tubuhnya tidak memungkinkan, aku akan meminta dokter lain datang.”
Larissa mengangguk dan menutup pintu. Ia berjalan lebih dulu ke arah ruang tengah, memanggil Samira dengan suara dibuat selembut mungkin.
“Dokter Rayhan datang.”
Samira yang sejak tadi duduk di sofa dengan selimut tipis di pangkuannya, mengangkat wajah. Matanya tampak kosong, seperti biasa, atau setidaknya begitu yang terlihat oleh Larissa.
Namun di balik kelopak mata yang sedikit turun itu, Samira melihat segalanya dengan sangat jelas. Cara Larissa berdiri terlalu dekat dengan Rayhan. Cara jemarinya saling meremas gugup.
“Dokter?” suara Samira terdengar lemah, dibuat-buat. “Ada apa, Dok?”
Rayhan mendekat, lalu berlutut di hadapan Samira. Gerakannya terlihat profesional, tapi ada sesuatu yang hanya mereka berdua pahami, sebuah kesepakatan diam yang sudah dibangun sebelumnya.
“Aku ingin mengecek kondisimu sebentar,” katanya dengan nada resmi. “Boleh kita bicara di kamar?”
Larissa hendak membuka mulut, tapi Rayhan sudah lebih dulu menoleh padanya. “Tidak lama. Pasien perlu privasi.”
Larissa terdiam. Ia mengangguk kaku, lalu mundur selangkah. “Saya … saya di dapur saja kalau butuh apa-apa.”
Begitu langkah Larissa menjauh, Rayhan membantu Samira berdiri. Tangan mereka bersentuhan singkat, tapi penuh makna. Di dalam kamar, Rayhan menutup pintunya rapat-rapat. Sunyi menyergap mereka untuk beberapa detik.
Begitu duduk di sofa, Rayhan langsung membuka tasnya dan mengeluarkan map coklat tebal. “Ini adalah hasil tes laboratorium,” katanya lirih. “Vitaminmu memang sudah ditukar. Ada zat penekan saraf ringan di dalamnya. Tidak mematikan, tapi cukup untuk membuat tubuhmu lemah, pusing, dan bergantung.”
Samira menarik napas panjang. Meski sudah menduga, mendengar kepastian itu tetap membuat dadanya sesak.
“Mereka benar-benar ingin aku lumpuh dan tak bisa melakukan apapun,” gumamnya.
Rayhan mengangguk. “Bukan hanya tubuhmu. Mereka ingin melemahkan kehendakmu.”
Ia lalu mengeluarkan botol vitamin baru dan perlahan menukar isinya dengan yang asli, persis seperti resep yang pernah ia tulis bertahun-tahun lalu.
“Mulai hari ini, minum ini saja,” katanya. “Dan jangan khawatir. Tidak akan ada yang curiga.” Rayhan kembali meletakkan botol obat itu ke atas meja.
Samira tersenyum tipis. “Terima kasih, Dok.”
Namun senyum itu segera memudar, digantikan sorot mata yang lebih tajam. “Aku butuh bantuanmu untuk satu hal lagi.”
Rayhan menatapnya, memberi isyarat agar ia melanjutkan.
“Aku ingin tahu informasi mengenai anak Larissa,” ucap Samira pelan. “Aku yakin Arga tidak sebodoh itu. Jika dia berani sejauh ini, pasti ada sesuatu yang lebih besar.”
Rayhan terdiam beberapa detik, lalu mengangguk. “Aku bisa menyewa detektif swasta untuk menyelidiki hal itu. Aku mengenal seseorang yang biasa menangani kasus sensitif.”
“Lakukan,” kata Samira tanpa ragu. “Aku ingin tahu segalanya. Usia anak itu. Akta kelahiran. Hubungannya dengan Arga.”
Rayhan menghela napas pelan. “Kau yakin ingin melangkah sejauh ini?” tanyanya, menatap Samira dengan sorot mata yang sendu dan kasihan.
Samira mengangguk mantap. “Mereka yang lebih dulu melangkah terlalu jauh. Aku tidak bisa membiarkan mereka bertindak lebih jauh lagi.”
Ketukan pelan di pintu membuat mereka terdiam. Larissa menyembulkan kepala, berpura-pura menanyakan mereka ingin minum apa, padahal yang sebenarnya ia mencoba untuk menguping.
“Dok, mau minum teh atau air?” tanyanya pelan.
Rayhan menoleh dan menggeleng cepat, “Tidak perlu,” jawabnya singkat. “Aku sudah selesai.”
Ia membantu Samira kembali ke ruang tengah, lalu berpamitan dengan formal. Larissa mengantar sampai pintu, ia tersenyum namun wajahnya menyimpan kegelisahan yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.
Begitu pintu tertutup, Samira kembali duduk. Wajahnya kembali kosong. Namun pikirannya bekerja dengan cepat.
Tak sampai satu jam kemudian, ponsel Samira bergetar pelan. Ia menggeser layar dengan hati-hati. Pesan dari Indira, Samira langsung membacanya dalam hati.
Indira: File sudah dikirim. Semua laporan keuangan tiga tahun terakhir. Ada banyak transaksi mencurigakan.
Samira menahan senyum. Ia membuka file itu perlahan, membaca satu per satu angka yang selama ini disalahgunakan Arga. Ada kasus penggelapan kecil yang berulang. Dana operasional yang mengalir ke rekening asing serta pembelian aset yang tidak pernah tercatat secara resmi.
“Ia pasti mencoba untuk menyenangkan wanita itu dengan menggunakan uang perusahaan,” gumamnya. “Keterlaluan!” Samira mengepalkan tangannya kuat.
Ia juga membuka email lain, konfirmasi transaksi saham yang dilakukan secara diam-diam, melalui perantara dan nama pihak ketiga, Samira telah membeli kembali beberapa saham-saham perusahaan yang Arga jual ke luar dengan bantuan Indira.
Langkah kaki terdengar dari arah pintu depan. Samira langsung mengunci layar ponsel dan kembali memasang ekspresi lelah.
“Sayang?” tanya Arga, suaranya terdengar hangat namun semua perhatian itu hanyalah kepalsuan. “Kau tidak apa-apa? Kondisimu sudah membaik, kan? Apakah Larissa menjagamu dengan baik?”
“Dia lebih terlihat seperti mengawasi daripada menjaga,” kata Samira dalam hati
Tapi, Samira mengangguk. “Dia menjagaku dengan baik, dia bahkan memanggil Dokter Rayhan untuk datang,” jawab Samira sengaja. Ia ingin membuat lebih banyak perdebatan antara Arga dan Larissa.
Arga terdiam sepersekian detik, cukup lama untuk Samira menangkap kepanikan yang melintas di matanya.
“Oh,” katanya kemudian, tersenyum. “Kenapa dia tidak bilang padaku, ya?”
“Apa dia tidak mengatakannya padamu? Tidak apa-apa, mungkin saja dia lupa,” jawab Samira lembut. “Aku pikir kau sudah tahu.”
Arga melirik Larissa sekilas. Perempuan itu menunduk tapi tatapannya menunjukkan ia tidak tahu apapun.
Samira tersenyum kecil, senyum yang tak seorang pun pahami artinya. Permainan baru saja dimulai dan kali ini, ia tidak lagi sendirian.
Arga menarik kasar lengan Larissa ke dapur dan langsung menodongnya dengan pertanyaan-pertanyaan. “Apa ini Larissa? Apa yang kukatakan padamu tadi pagi? Ha? Kenapa kau tidak melakukan perintahku?”
Larissa menggeleng kuat, “Tapi aku tidak menghubungi dokter itu, Ga. Dia bilang, dia datang karena sudah ditelepon, kupikir … kupikir kau yang sengaja memanggilnya. Maka dari itu aku membukakan pintu untuknya,” terang Larissa tak mau disalahkan.
Arga bertolak pinggang. “Kau mencoba menentangku sekarang? Dengar, Larissa. Jika aku sampai gagal karena kau mengacau, awas saja, aku tidak akan segan-segan untuk membu^nuhmu! Kau mengerti?” ancam Arga dengan sorot mata tajam.
Larissa mau tak mau mengangguk takut. “Ba-baik.”