Kayra Ardeane mengasingkan diri ke desa sunyi bernama Elara demi mengubur trauma masa lalunya sebagai ahli bedah. Namun, ketenangannya hancur saat seorang pria bersimbah darah menerjang masuk dengan peluru di dada. Demi sumpah medis, Kayra melakukan tindakan gila: merogoh rongga dada pria itu dan memijat jantungnya agar tetap berdenyut.
Nyawa yang ia selamatkan ternyata milik Harry, seorang predator yang tidak mengenal rasa terima kasih, melainkan kepemilikan. Di bawah kepungan musuh dan kobaran api, Harry memberikan ultimatum yang mengunci takdir Kayra.
"Pilihannya sederhana, Dokter. Mereka selamat dan kau ikut denganku, atau kita semua tetap di sini sampai musuh mengepung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu."
Terjebak dalam pelarian maut, Kayra menyadari satu hal yang terlambat, ia memang berhasil menyelamatkan jantung Harry, namun kini pria itu datang untuk mengincar jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Kepulangan Sang Bayangan
"Harry, dia ... dia bekerja untuk Aris!" ujar Kayra terbata.
"Aku tahu," sahut Harry pelan. "Aku membiarkannya membuka pintu ini agar aku bisa menangkapnya secara langsung. Maaf membuatmu takut, Kayra."
Harry menatap Julian dengan tatapan yang sanggup membekukan darah siapa pun. "Enzo, bawa dia ke ruang interogasi. Pastikan dia tidak mati sebelum dia memberitahu kita koordinat pasti Aris di daratan utama."
Setelah Julian diseret keluar, Harry kembali menatap Kayra. Ia bisa melihat betapa terguncangnya wanita itu. Ia mengulurkan tangan, merangkup wajah Kayra dengan kedua tangannya yang kasar namun hangat.
"Perang ini baru saja berpindah ke daratan, Kayra," bisik Harry. "Aris sudah membuat kesalahan besar dengan menyentuh apa yang ada di pulauku. Besok, kita berangkat ke kota. Kau siap mengambil kembali hidupmu?"
Kayra menatap mata Harry, merasakan kekuatan yang mengalir dari pria itu. Rasa takutnya perlahan menguap, digantikan oleh keberanian yang membara. "Aku siap, Harry. Mari kita tunjukkan pada Aris apa yang terjadi saat dia mencoba memadamkan cahaya yang salah."
Malam terakhir di Isla de Sombra tidak dilewati dengan ketenangan. Setelah pengkhianatan Dokter Julian terungkap, suasana pulau berubah menjadi siaga satu. Namun, di dalam griya tawang pribadi milik Harry yang menghadap ke arah laut lepas, waktu seolah berjalan melambat.
Kayra berdiri di depan cermin besar, menatap sosok wanita yang terpantul di sana. Ia tidak lagi mengenakan kemeja putih kebesaran milik Harry, melainkan gaun sutra berwarna hitam pekat yang disediakan oleh pelayan Harry.
Gaun itu membalut tubuhnya dengan sempurna, memberikan kesan elegan namun misterius. Rambutnya yang biasanya hanya diikat asal, kini tergerai jatuh di bahunya. Di lehernya melingkar sebuah liontin perak berisi alat pelacak dan pemancar darurat, sebuah perhiasan fungsional dari Harry.
"Kau tampak berbeda," suara berat Harry memecah lamunan Kayra.
Pria itu berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja taktis hitam dengan rompi antipeluru yang belum dikancingkan. Ia tidak mendekat, hanya bersandar pada kusen pintu sambil melipat tangan di dada. Matanya menyapu penampilan Kayra dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan yang sulit diartikan, kekaguman yang tertahan oleh kedisiplinan seorang prajurit.
"Berbeda seperti orang asing?" tanya Kayra, mencoba merapikan bagian depan gaunnya yang terasa sedikit terlalu mewah untuk seseorang yang terbiasa dengan bau antiseptik puskesmas.
"Berbeda seperti seseorang yang siap menuntut balas," koreksi Harry.
Ia melangkah masuk, langkah kakinya tidak bersuara di atas karpet tebal. Ia berhenti tepat di belakang Kayra, menatap pantulan wanita itu di cermin.
"Aris tidak akan mengenali Kayra yang dulu dia remehkan. Besok, saat kita mendarat di kota, kau adalah Kayra Valeska. Pemegang otoritas medis tertinggi di bawah perlindungan Marcello."
Kayra membalikkan tubuhnya, kini berhadapan langsung dengan Harry. Jarak mereka cukup dekat hingga Kayra bisa mencium aroma sisa mesiu yang bercampur dengan sabun mandi pria itu. Tatapannya jatuh pada perban yang sedikit terlihat di balik kemeja Harry yang terbuka.
"Lukamu ... bagaimana rasanya?" tanya Kayra pelan, tangannya terangkat secara insting sebagai seorang dokter, namun ia berhenti di udara sebelum menyentuh dada Harry.
Harry menangkap tangan Kayra. Ia tidak menggenggamnya dengan kasar, melainkan menuntun telapak tangan wanita itu untuk menempel tepat di atas jantungnya. Kayra bisa merasakan detak jantung Harry yang kuat dan teratur di bawah telapak tangannya.
"Masih berdetak dengan benar," gumam Harry, suaranya melembut. "Kau melakukannya dengan sangat baik, Dokter. Kau menyelamatkan nyawaku dua kali dalam waktu kurang dari sebulan. Aku berhutang lebih dari sekadar perlindungan padamu."
Kayra merasakan panas merambat ke pipinya. Keintiman ini terasa lebih menyesakkan daripada ciuman mana pun. Harry tidak mencoba melakukan gerakan seksual, namun cara pria itu menatapnya, seolah Kayra adalah satu-satunya hal yang nyata di tengah dunianya yang penuh tipu daya, membuat pertahanan Kayra goyah.
"Aku melakukan tugas duniaku, Harry," bisik Kayra, mencoba menarik napas di antara dominasi aura pria itu. "Tapi besok, di kota itu ... aku akan masuk ke duniamu. Dunia di mana kejujuran tidak ada harganya."
Harry melepaskan tangan Kayra, namun ia tidak menjauh. Ia justru meraih sebuah kotak beludru kecil dari sakunya dan membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah cincin perak sederhana dengan permata kecil berwarna biru safir.
"Ini bukan janji pernikahan, jangan salah paham," ujar Harry dengan senyum tipis yang hampir tidak terlihat. "Ini adalah kunci akses ke seluruh akun rahasia yang sudah kusiapkan atas namamu. Jika sesuatu terjadi padaku di kota nanti, kau hanya perlu menyentuhkan cincin ini ke perangkat komunikasi apa pun, dan Enzo akan membawamu ke tempat aman yang tidak bisa dilacak oleh siapa pun. Bahkan oleh Luca."
Harry mengambil tangan kiri Kayra dan menyematkan cincin itu di jari manisnya. Sentuhan jari-jari Harry yang kasar dan dingin terhadap kulitnya yang halus menciptakan kontras yang membekas.
Harry tidak mencium tangannya kali ini. Ia hanya memegang tangan Kayra selama beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan, seolah sedang menyalurkan kekuatannya.
"Kau menyiapkan rencana pelarian untukku?" Kayra menatap cincin itu, lalu kembali menatap Harry. "Kau pikir kita akan gagal?"
"Aku tidak pernah berencana untuk gagal," sahut Harry tegas. "Tapi aku tidak akan membiarkan keberuntungan menjadi satu-satunya pelindungmu. Aku ingin kau tahu bahwa kau punya jalan keluar, meskipun aku tidak ada di sampingmu."
Kayra terdiam. Di balik sikap diktator dan berbahayanya pria ini, ada kepedulian yang sangat dalam yang belum pernah ia terima dari siapa pun, bahkan dari Aris yang dulu ia anggap sebagai ayah. Harry tidak menjanjikannya pelangi, dia menjanjikannya senjata untuk bertahan hidup.
"Aku akan kembali denganmu, Harry," ujar Kayra dengan nada yang penuh keyakinan. "Kita pergi bersama, kita kembali bersama. Itulah kesepakatannya."
Harry menatapnya lama, seolah sedang mempelajari setiap garis di wajah Kayra. Kemudian, ia melakukan sesuatu yang membuat Kayra terpaku. Harry merunduk, namun bukan untuk bibirnya. Ia menyandarkan dahinya di bahu Kayra sejenak, membiarkan berat tubuhnya bertumpu pada wanita itu selama beberapa detik. Itu adalah gestur kelelahan yang sangat manusiawi, sebuah pengakuan bahwa di balik topeng monsternya, Harry Marcello juga memikul beban yang luar biasa.
"Hanya kau satu-satunya orang yang tidak menatapku dengan rasa takut, Kayra," bisik Harry di dekat bahunya. "Jangan pernah ubah cara kau menatapku."
Kayra tidak memeluknya balik, namun ia juga tidak menghindar. Ia membiarkan Harry bersandar di sana, memberikan keheningan yang dibutuhkan pria itu sebelum badai yang sesungguhnya pecah besok pagi. Di ruangan itu, di tengah laut lepas yang gelap, dua jiwa yang rusak sedang mencoba membangun pondasi di atas reruntuhan masa lalu mereka.
Keesokan harinya, sebuah jet pribadi hitam tanpa logo lepas landas dari landasan pacu rahasia di Isla de Sombra. Di dalam kabin yang mewah, Kayra duduk berhadapan dengan Harry. Di samping mereka, layar hologram menampilkan profil lengkap Direktur Aris dan jadwal peresmian sayap baru rumah sakit pusat yang akan diadakan malam ini.
"Aris akan meresmikan fasilitas baru yang didanai secara gelap oleh Luca," Harry menjelaskan sambil memeriksa senjatanya dengan tenang. "Dia tidak tahu bahwa tamu kehormatan dari otoritas medis internasional yang akan datang malam ini adalah ... Kayra Valeska."
Kayra menatap paspor dan dokumen di depannya. Ia merasakan adrenalin yang sama seperti saat ia memegang jantung Harry di hutan. Kemarahan yang selama ini ia tekan kini berubah menjadi energi dingin yang terfokus.
"Dia akan melihat mayat yang dia kubur dua tahun lalu kembali untuk menagih hutang," ujar Kayra dingin.
Harry menatapnya dengan bangga. Ia mengulurkan segelas air ke arah Kayra, jemari mereka bersentuhan singkat saat gelas itu berpindah tangan. "Minumlah. Kau butuh ketenangan. Malam ini, kau akan menjadi pusat perhatian, dan aku akan menjadi bayangan di belakangmu yang memastikan tidak ada seorang pun yang berani menyentuhmu."