Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kue Pukis
"CACA!"
"Kau jangan mengambil permenku!"
Sedari tadi Caca sangat senang mengusik Gem. Gadis gemuk itu suka jika Gem kesal.
"Astaga, aku hanya meminta satu saja, Gem. Mulutku pahit."
"Kau sudah mengambil tiga! Dan ini punyaku." Gem menyimpan permennya ke saku celana yang ada di sebelah agar Caca tak bisa mengambilnya.
"Haishh.. Kau sangat tampan, Gem. Jika memberiku satu lagi."
"Tidak. Kau akan semakin terlihat seperti kudanil jika terus memakan permen."
"Apa? Kalau begitu biar ku makan kau." Sebelum Caca menyerang, Gem menahan kepala Caca dengan satu tangannya. Membuat Caca terlihat kesal karena sudah kalah.
Ezti juga ikut, ia duduk di kursi belakang bersama Rin. Mulutnya sedari tadi tak berhenti mengunyah, sebab ia mual jika mulutnya tidak senam.
Rin tidur dengan mulut terbuka, Ezti begitu heran Rin dengan mudahnya tertidur saat bokongnya menyentuh kursi.
"Pie, jangan sendirian. Kita bisa terpisah."
Kim mengingatkan saat sudah masuk ke Museum yang sedikit ramai oleh pengunjung.
"Tidak, aku bersamamu. Ayo kita ke sana." Pie menarik baju Kim menuju miniatur rumah-rumah adat.
"Bagaimana bisa mereka membuat rumah adat seperti aslinya?" Pie menoleh ke arah Caca yang sudah berada di sisinya.
"Kau mengejutkanku, Ca." Caca hanya menyeringai dan bergeser ke patung-patung yang menampilkan pakaian adat.
"Lihat, Kim. Mereka sangat detail membuatnya."
Pie menunjuk ke salah satu rumah adat Kalimantan. Kim sedikut menunduk untuk menjajarkan kepalanya melihat benda yang ditunjuk oleh Pie.
"Apa kau tertarik dengan rumah ini?"
"Ya. Apalagi jika menggunakan kayu ulin."
"Ulin?" Kim mengernyitkan keningnya, nama kayu yang asing menurutnya.
"Kau tahu kayu jenis ulin, kan?"
"Aku baru mendengarnya."
"Begitu kah?"
"Ya."
"Pie, coba lihat itu."
Kim menuju beberapa senjata yang ada di dalam kaca tebal.
"Senjata ini apa asli?"
"Entahlah. Menurutmu?"
Pie menggeleng.
"Aku tidak yakin. Kupikir mereka hanya tiruan."
Mereka meneruskan berkeliling untuk melihat seluruh pajangan yang ada di museum itu.
Hingga waktu yang ditentukan habis, Pak Guru mengajak mereka untuk berfoto bersama di halaman Museum dengan latar patung-patung hewan besar.
Perjalanan mereka dilanjutkan untuk bermain, yaitu ke salah satu Mall terdekat.
"Jangan sampai sendirian. Jika sudah selesai, tunggu teman yang lain di sini. Ini titik kumpul kita. Mengerti?"
"Mengerti, Pak."
"Silakan kalian berkeliling, dan ingat waktu."
Semua siswa langsung bubar dengan kelompok masing-masing.
Pie bersama teman-teman perempuan, Kim bersama geng mereka.
"Hei, lihat itu. Cantik sekali." Ezti menghampiri beberapa aksesories cantik yang terpajang di salah satu toko.
"Apa mahal?" Bisik Caca, Ezti menggeleng tanda tak tahu.
"Sebaiknya kita cari yang ada label harganya. Di sini Mall bukan pasar yang bisa ditawar." Ezti mengangguk mendengar ucapan Caca.
Pie dan teman lainnya hanya mendengar dan mengikuti.
Berkeliling hampir dua jam, Pie dan kelompoknya kembali dengan masing-masing barang yang mereka beli. Rata-rata adalah aksesories.
"Yang lain belum berkumpul?" Pie bertanya pada anak kelas satu yang sudah menunggu di titik kumpul mereka.
"Belum, Kak. Kupikir kami yang terakhir."
"Kita tunggu saja, mungkin sebentar lagi mereka datang." Baru saja Ezti berucap, kelompok Kim dan yang lainnya datang. Terlihat Kim dengan senyum lebar dengan menenteng plastik besar yang diyakini isinya adalah makanan.
"Pie, apa yang kau beli?" Kim terlihat antusias menghampiri Pie.
"Boneka, kacamata, dan aksesories."
"Tidak beli makanan?" Beo Kim.
Pie menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Tidak."
"Astaga, kenapa membeli barang yang tidak penting?" Kim mengomel sembari mengeluarkan beberapa camilan untuk Pie. Ia memasukkan ke dalam kantung belanja Pie.
"Kenapa dimasukkan ke sini?"
"Aku memberimu makanan. Kau tidak memikirkan perutmu, huh?"
"Mereka lucu, Kim." Pie tersenyum kecil.
"Lucu tapi tidak mengenyangkan.
Kim mendorong pelan Pie untuk masuk ke bus mengikuti teman-teman yang sudah lebih dulu masuk.
"Semuanya makanan?" Pie menunjuk plastik milik Kim.
"Tentu saja."
"Kau tidak membeli barang lain?"
"Tidak. Aku lebih tertarik makanan."
"Emm, ok."
Rombongan terlebih dahulu mampir untuk makan di tengah perjalanan pulang.
Salah satu warung bakso yang terlihat ramai menjadi tujuan Pak Guru untuk membawa semua anak muridnya mengisi perut.
"Kim! Mau ke mana?" Ucap Gustav saat mereka keluar dari warung makan karena sudah kenyang.
"Ke sana dulu!"
Kim menuju sebuah kedai yang menjual kue pukis, beberapa teman lain menghampiri ikut membeli juga.
"Di mana Pie?" Kim menghampiri Caca yang mengobrol bersam Ezti di sisi Bus.
"Pie? Kurasa di dalam." Kim mengangguk lalu masuk ke dalam, terlihat Pie duduk di kursinya menyender sembari mengelus perutnya yang sedikit buncit.
"Pie? Kau di sini?" Pie menoleh ke arah Kim yang datang.
"Ya, kenapa?"
"Ini untukmu." Kim memberikan sebungkus plastik putih kepada Pie.
"Untukku?"
"Ya."
"Kue apa ini, Kim?"
"Pukis."
"Oh, terima kasih." Pie tersenyum dan menyimpan plastik berisi kue tersebut ke tempat aman.
Bus berjalan ketika semua penumpang sudah naik dan menuju perjalanan pulang.