NovelToon NovelToon
Surat Cinta Dari Langit

Surat Cinta Dari Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir
Popularitas:468
Nilai: 5
Nama Author: habbah

Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Navigasi di Antara Keabadian

Ruang Antara itu tidak memiliki arah kompas. Di dalam kapsul yang Arlo sebut sebagai "Navigasi Langit", tidak ada istilah atas atau bawah, utara atau selatan. Semuanya terasa seperti berada di dalam sebuah bola kristal raksasa yang melayang di tengah samudra bintang. Alana masih bisa merasakan hangatnya jemari Arlo di pipinya sebuah sensasi yang begitu nyata hingga rasa sakit dari dunia bawah perlahan memudar, seperti mimpi buruk yang menguap saat fajar tiba.

"Ini tidak mungkin," bisik Alana, suaranya bergetar di antara rasa kagum dan ngeri. "Kau seharusnya sudah... kau hilang lima puluh tahun yang lalu, Arlo."

Arlo tersenyum, sebuah senyum yang membawa beban kebijaksanaan ribuan tahun namun tetap memiliki binar pemuda yang nekat. "Waktu adalah sungai yang lurus bagi manusia di bumi, Alana. Tapi di sini, waktu adalah sebuah lingkaran. Bagiku, aku baru saja lepas landas dari landasan pacu Navasari beberapa jam yang lalu. Aku terjebak dalam anomali ini, menunggu seseorang yang memiliki frekuensi jantung yang sama denganku untuk membuka kuncinya dari sisi lain."

Ia menuntun Alana mendekat ke jendela kapsul yang melengkung. Di luar, Alana tidak melihat kegelapan ruang angkasa yang kosong. Ia melihat benang-benang cahaya perak yang menjuntai dari langit menuju bumi, seperti jutaan surat yang belum terkirim.

"Apa itu?" tanya Alana terpesona.

"Itu adalah doa, harapan, dan cinta," jawab Arlo pelan. "Kakekmu, Surya, menemukannya pertama kali. Dia menyebutnya sebagai 'Hujan Pesan'. Navasari adalah salah satu dari sedikit tempat di dunia di mana jaring-jaring ini menyentuh tanah. Tugas kakekmu adalah menjaganya agar tetap murni. Dan sekarang, tugas itu ada di tangan kita."

Alana teringat pada Elian. Wajah pemuda itu saat ia berdiri di depan tangga mercusuar, siap mengorbankan nyawa demi dirinya, mendadak muncul di benaknya. "Elian! Kita harus kembali, Arlo! Dia sendirian di bawah sana menghadapi orang-orang itu. Mereka membawa senjata. Mereka akan membunuhnya!"

Wajah Arlo berubah serius. Ia melangkah menuju panel instrumen yang terdiri dari tuas-tuas kristal dan layar yang menampilkan koordinat dalam bentuk rasi bintang. "Kita tidak bisa kembali secara fisik sekarang, Alana. Gravitasi di mercusuar itu sedang dalam kondisi tidak stabil. Jika kita memaksa turun, anomali itu akan meledak dan menghancurkan seluruh desa. Tapi, kita bisa 'mengirimkan' bantuan."

Arlo mengambil sebuah perangkat yang mirip dengan alat perekam digital yang Alana temukan tadi, namun yang ini jauh lebih kompleks. "Darahmu, Alana. Aku butuh kau menyentuh konsol ini. Kau adalah pemegang otoritas terakhir untuk sistem pertahanan Navasari."

"Apa yang harus kulakukan?"

"Letakkan telapak tanganmu di atas sensor ini. Pikirkan tentang Navasari. Pikirkan tentang rumah kakek, tentang kedai kopi Bu Ratna, dan tentang Elian. Berikan 'izin' kepada langit untuk melindungi tanahnya."

Alana menutup matanya. Ia membiarkan memori tentang hari-harinya yang singkat namun bermakna di Navasari mengalir. Ia membayangkan aroma pinus yang basah, kilau kotak pos kuningan, dan kehangatan teh di kedai Bu Ratna. Ia membayangkan Elian yang selalu menjaganya dalam diam. Dengan penuh keyakinan, ia menekan telapak tangannya ke sensor kristal itu.

Seketika, kapsul itu bergetar hebat. Cahaya amber di sekeliling mereka meledak menjadi warna putih menyilaukan.

Di Bumi Puncak Mercusuar Navasari

Elian terdesak ke sudut ruangan. Darah mengalir dari pelipisnya akibat hantaman popor senjata salah satu agen berbaju hitam. Di depannya, tiga pria bersenjata menatapnya dengan dingin. Pemimpin mereka, seorang pria dengan mata satu yang tertutup bekas luka, melangkah maju.

"Di mana dia? Di mana kuncinya?" tanya pria itu dengan suara parau.

Elian meludah ke samping, menatap mereka dengan sisa keberaniannya. "Dia sudah pergi ke tempat yang tidak akan pernah bisa kalian sentuh dengan tangan kotor kalian."

Pria itu menggeram dan mengokang senjatanya, mengarahkannya tepat ke dahi Elian. "Kalau begitu, kau sudah tidak berguna lagi."

Namun, tepat sebelum pelatuk ditarik, langit di atas mercusuar terbelah.

Bukannya suara guntur, yang terdengar adalah suara simfoni yang begitu indah hingga membuat para agen itu menjatuhkan senjata mereka karena telinga mereka tidak sanggup menanggung frekuensi murni tersebut. Lensa Fresnel raksasa di tengah ruangan mendadak memancarkan pilar cahaya emas yang menembus atap mercusuar, melesat lurus ke arah langit malam.

Dari pilar cahaya itu, keluar gelombang energi yang menyapu seluruh puncak bukit. Kendaraan-kendaraan militer di bawah sana mendadak mati total. Seluruh peralatan elektronik para agen tersebut meledak dalam percikan api kecil. Namun bagi Elian, cahaya itu terasa seperti pelukan hangat.

Sebuah suara menggema di seluruh ruangan, suara yang sangat dikenal Elian.

"Pergilah, Elian. Bawa mereka pergi dari tanah ini. Navasari sudah berada di bawah perlindungan Langit."

Para agen itu ketakutan. Mereka melihat bayangan raksasa di langit bayangan sebuah pesawat kuno yang bersinar terang, melintasi hujan meteor dengan keanggunan yang mustahil. Mereka lari tunggang langgang menuruni tangga, meninggalkan Elian yang terduduk lemas di lantai.

Elian mendongak ke arah lensa mercusuar yang kini telah meredup, namun menyisakan sebuah bayangan kecil di dalamnya. Ia melihat siluet Alana yang sedang melambai padanya dari balik lapisan dimensi.

"Terima kasih, Alana," bisik Elian dengan air mata yang akhirnya jatuh. "Sampaikan salamku pada Arlo."

Di Dalam Navigasi Langit

Alana menarik napas lega saat melihat melalui layar instrumen bahwa para pengejar telah melarikan diri dan Elian selamat. Ia terduduk di kursi pilot, merasa kelelahan yang luar biasa namun juga kelegaan yang tak terlukiskan.

"Dia selamat," bisik Alana.

Arlo berdiri di sampingnya, meletakkan tangannya di bahu Alana. "Dia adalah penjaga yang baik. Tapi sekarang, dunia akan menganggapmu hilang, Alana. Di Jakarta, di desa, kau akan menjadi legenda atau sekadar berita orang hilang. Apakah kau menyesal?"

Alana menatap Arlo. Ia melihat ke dalam mata pria itu, di mana ia bisa melihat masa lalunya yang hancur namun juga masa depannya yang kini penuh dengan cahaya. Ia memikirkan surat-surat itu. Ia memikirkan perjalanan dari kotak pos tua menuju kapsul cahaya ini.

"Aku menghabiskan seluruh hidupku mencari tempat di mana aku tidak perlu berpura-pura," kata Alana dengan mantap. "Aku mencari cinta yang tidak meminta imbalan, dan sebuah tujuan yang lebih besar daripada sekadar bertahan hidup. Aku menemukannya di sini, Arlo. Bersamamu."

Arlo menarik Alana ke dalam pelukannya. Untuk pertama kalinya, mereka benar-benar bersatu, dua jiwa yang terpisah oleh waktu namun dipertemukan oleh frekuensi yang sama.

"Kalau begitu," kata Arlo sambil menggerakkan tuas utama pesawat. "Mari kita mulai perjalanan yang sebenarnya. Masih banyak surat yang harus kita kirimkan kepada mereka yang hampir menyerah di bawah sana. Kita akan menjadi surat cinta mereka, Alana. Langit tidak akan lagi menjadi tempat yang sepi."

Pesawat cahaya itu melesat, meninggalkan orbit bumi, menuju ke arah rasi bintang yang belum pernah ditemukan oleh teleskop mana pun. Di belakang mereka, Navasari bersinar seperti bintik cahaya yang tenang, sebuah bukti bahwa di antara bumi dan langit, selalu ada jalan bagi mereka yang berani percaya pada keajaiban.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!