NovelToon NovelToon
My Little Wife

My Little Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Sinar matahari pagi menembus celah gorden dapur, menciptakan partikel debu yang menari di udara yang kini beraroma gurih mentega dan kopi yang baru diseduh. Ziva bergerak lincah di dapur, sebuah pemandangan yang kontras dengan beberapa minggu lalu di mana ia lebih sering mengurung diri di kamar atau keluar rumah secepat mungkin untuk menghindari interaksi.

Hari ini, Ziva sudah rapi. Ia mengenakan setelan kantor berupa blus sutra berwarna emerald green yang dipadukan dengan celana bahan hitam berpotongan lurus. Rambutnya ia ikat setengah, menyisakan gelombang alami yang jatuh di bahunya. Meski sudah siap berangkat, ia menyempatkan diri untuk melakukan rutinitas baru yang entah sejak kapan mulai ia nikmati.

Ziva melangkah menuju kamar utama yang kini mereka tempati bersama. Di atas tempat tidur yang sudah rapi, ia meletakkan seragam dinas harian (PDH) milik Baskara. Ia memastikan tanda pangkatnya lurus, pin kewibawaannya tersemat sempurna, dan kemeja cokelat itu tidak memiliki kerutan sedikit pun. Ia bahkan menyiapkan kaus dalam putih dan kaus kaki hitam di sampingnya.

Setelah memastikan semuanya sempurna, Ziva kembali ke meja makan. Ia menata dua piring nasi goreng gila—resep andalannya yang banyak sayur namun tetap pedas—dan dua gelas jus jeruk segar.

Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang berat menuruni tangga. Baskara muncul dengan rambut yang masih agak basah, hanya mengenakan kaus oblong putih dan celana kain hitam, terlihat jauh lebih santai daripada penampilannya saat mengenakan seragam lengkap.

Baskara tertegun di anak tangga terakhir. Ia melihat Ziva sudah duduk manis di meja makan sambil menyesap kopinya, sementara di meja sudah tersedia sarapan yang masih mengepulkan uap panas.

"Sarapan dulu, Kak. Gue udah masak," ucap Ziva tanpa mendongak, matanya pura-pura fokus pada layar ponsel yang menampilkan berita ekonomi pagi ini. Namun, ada semburat merah tipis di pipinya.

Baskara menarik kursi di hadapan Ziva. "Kamu bangun jam berapa? Tadi aku lihat kamu sudah tidak ada di samping..." Kalimat Baskara menggantung sejenak, ia sedikit berdehem menyadari betapa intimnya kalimat itu terdengar.

Ziva meletakkan ponselnya, akhirnya berani menatap mata Baskara. "Jam lima. Gue nggak bisa tidur lagi setelah sholat, jadi mending gue masak. Oh iya, baju lo udah gue siapin di atas kasur. Udah gue rapihin juga, jadi lo nggak perlu ribet cari-cari kaus kaki lagi."

Baskara terdiam, ia menatap piring nasi gorengnya lalu menatap Ziva bergantian. Ada kilat kehangatan yang mendalam di matanya. "Terima kasih, Ziva. Kamu tidak perlu repot-repot menyiapkan baju setiap pagi."

"Nggak repot kok. Anggep aja... ucapan terima kasih karena semalam lo udah jemput gue pake motor gede," jawab Ziva cepat, lalu ia menyuapkan sesendok besar nasi goreng ke mulutnya agar tidak perlu bicara lagi.

Baskara mulai makan. Suasana meja makan pagi itu terasa sangat damai. Tidak ada lagi ketegangan yang membuat lambung perih. Hanya ada suara denting sendok dan obrolan ringan mengenai agenda mereka hari ini.

"Hari ini aku mungkin pulang agak malam. Ada gelar perkara kasus narkoba yang kemarin," ucap Baskara sambil mengelap bibirnya dengan tisu.

Ziva mengangguk. "Ya udah, gue juga kayaknya mau mampir ke toko buku sebentar sepulang kantor. Mau cari referensi buat proyek baru. Gue pulang naik taksi online aja nanti."

"Jangan," potong Baskara dengan nada otoritasnya yang khas, namun kali ini terdengar lebih seperti permintaan daripada perintah. "Hubungi aku kalau sudah mau pulang. Kalau aku tidak bisa jemput, aku akan minta Rio atau anggota lain yang sedang lewat untuk mengantarmu. Aku tidak tenang kalau kamu keluyuran sendirian malam-malam."

Ziva memutar bola matanya, namun ia tidak membantah. "Iya, Pak Polisi. Nanti gue kabarin."

Sesaat sebelum mereka beranjak, Ziva teringat obrolannya dengan Nisa kemarin. Ia menatap Baskara yang sedang menghabiskan jus jeruknya. Ada dorongan dalam dirinya untuk bercerita, namun ia merasa momennya belum pas. Ia hanya ingin menikmati kedamaian ini sedikit lebih lama.

"Kak," panggil Ziva saat Baskara berdiri hendak naik ke atas untuk berganti baju.

"Iya?"

"Seragam yang gue siapin tadi... jangan lupa pake parfum yang gue taruh di sampingnya ya. Gue suka baunya."

Baskara terpaku sejenak, lalu ia memberikan anggukan pelan dengan senyum tipis yang sangat menawan. "Baik, Zivanya Aurora."

Ziva memperhatikan punggung Baskara yang menghilang di balik tangga. Ia menyentuh dadanya, merasakan jantungnya yang berdegup tak beraturan. Dulu, ia pikir hidup satu atap dengan pria ini adalah neraka. Namun sekarang, ia menyadari bahwa setiap pagi yang mereka lalui bersama adalah satu langkah menjauh dari bayang-bayang luka masa lalu, dan satu langkah menuju sesuatu yang mungkin... bisa disebut sebagai cinta yang sesungguhnya.

Ziva segera membereskan piring-piring kotor dengan hati yang ringan. Hari ini, blazer emerald green-nya terasa lebih pas di tubuhnya, dan senyumnya bukan lagi topeng untuk menutupi kesedihan.

***

Pagi itu di Markas Kepolisian Resor, aroma kopi hitam yang kuat bercampur dengan wangi maskulin yang tidak biasa di ruangan unit Jatanras. Baskara melangkah masuk dengan dagu terangkat, bahunya tampak lebih tegap dari biasanya. Seragam dinas cokelatnya melekat sempurna tanpa satu pun lipatan yang salah arah. Pin kewibawaan di dadanya berkilat tertimpa lampu neon, dan aroma parfum sandalwood yang lembut namun tegas menguar setiap kali ia bergerak.

Rio, yang sedang asyik mengunyah gorengan sambil menatap layar monitor, mendadak berhenti mengunyah. Ia mengendus udara seperti pelacak profesional.

"Waduh, Komandan kita baunya kayak mau kondangan ke istana negara nih," goda Rio sambil memutar kursi rodanya mendekat ke meja Baskara. "Rapi banget, Bas. Perasaan nggak ada agenda upacara hari ini?"

Baskara tidak langsung menjawab. Ia duduk dengan tenang, mengeluarkan ponselnya, lalu merapikan posisi alat tulis di mejanya. "Cuma berpakaian sebagaimana mestinya anggota Polri, Rio. Jangan berlebihan."

"Berlebihan gimana? Itu kerah lo simetris banget sampai ke milimeter. Biasanya kan lo asal pake aja yang penting nggak bau apek," Rio menyipitkan mata, lalu ia menyentuh lengan seragam Baskara. "Gila, licin banget setrikaannya. Lo pake jasa laundry bintang lima mana?"

Baskara berdehem pelan, mencoba menahan senyum bangganya, namun gagal total. Sebuah lengkungan tipis muncul di sudut bibirnya. "Bukan laundry. Istriku yang nyiapin semuanya tadi pagi."

Suasana ruangan yang tadinya bising mendadak hening selama tiga detik, sebelum akhirnya ledakan sorakan terdengar dari kubikel-kubikel sebelah.

"WIDIIIIIH! Pengantin baru!" seru Bripka Danu dari sudut ruangan.

"Ciyeee, yang biasanya nyiapin baju sendiri sekarang udah ada asisten pribadi merangkap belahan jiwa!" timpal anggota lainnya.

Rio melongo, lalu tertawa terbahak-bahak sampai hampir tersedak sisa bakwan. "Beneran, Bas? Si Zivanya Aurora yang galak itu nyiapin baju lo? Sampai kaos kaki sama parfumnya juga?"

Baskara mengangguk pendek sambil mulai membuka berkas perkara, pura-pura sibuk padahal hatinya sedang berbunga-bunga. "Dia bangun pagi-pagi sekali. Masak nasi goreng gila, terus pas aku mau mandi, baju sudah rapi di atas kasur. Katanya... dia suka bau parfum ini."

Rio memegangi dadanya, pura-pura sesak napas. "Tolong, oksigen! Gue nggak kuat liat es kutub utara mendadak jadi marshmallow begini! Jadi ini alasan lo dari tadi senyum-senyum nggak jelas? Karena dimanjain bini?"

"Iri bilang bos!" sahut Danu yang disambut tawa pecah seisi ruangan.

Baskara hanya menggelengkan kepala, namun ia membiarkan mereka menggodanya. Ada kebanggaan tersendiri saat ia bisa memamerkan perhatian Ziva. Baginya, seragam yang disiapkan Ziva bukan sekadar pakaian, tapi simbol bahwa ia akhirnya diterima kembali di hidup gadis itu. Ia merasa seperti ksatria yang baru saja diberi zirah oleh ratunya sebelum pergi berperang.

Berbeda terbalik dengan suasana "adem-ayem" di kantor polisi, Zivanya Aurora sedang berada di tengah medan perang yang sesungguhnya. Ruang rapat di lantai sepuluh itu terasa sangat dingin karena AC yang disetel maksimal, namun suasana di dalamnya justru sangat panas.

Ziva duduk di antara para manajer senior dan jajaran direksi. Di depannya, layar proyektor menampilkan grafik berwarna merah yang menunjukkan penurunan efisiensi biaya operasional di salah satu cabang.

"Ziva, bisa jelaskan kenapa angka di kuartal kedua ini tidak sinkron dengan laporan audit internal?" tanya Pak Heru, Direktur Keuangan yang terkenal bertangan besi.

Ziva menarik napas dalam. Ia tidak gentar. Blus emerald green-nya tampak mencolok di antara setelan jas gelap para petinggi itu. Ia berdiri, memegang pointer laser dengan tangan yang stabil.

"Izin menjelaskan, Pak Heru. Ketidaksinkronan itu terjadi karena adanya perubahan regulasi pajak mendadak di bulan April, dan tim cabang belum melakukan penyesuaian pada sistem SAP mereka. Saya sudah melakukan rekapitulasi manual di halaman tiga belas, dan jika kita tarik garis lurus..."

Rapat itu berlangsung selama tiga jam tanpa henti. Pertanyaan demi pertanyaan menghujam Ziva seperti peluru. Ia harus mempertahankan argumennya, membela data yang ia susun semalaman, dan menghadapi tatapan skeptis dari beberapa rekan kerja yang merasa ia "terlalu cepat" naik daun.

Dahi Ziva mulai berkerat, ia merasa sedikit pusing karena melewatkan jam minum air putihnya. Namun, ia teringat pesan Baskara tadi pagi: "Kamu pintar, mereka beruntung punya kamu."

Saat suasana mencapai titik jenuh dan perdebatan mulai melingkar tanpa ujung, ponsel Ziva yang diletakkan telungkup di meja bergetar pendek. Ia melirik sekilas saat Pak Heru sedang sibuk berdiskusi dengan manajer lain.

Sebuah notifikasi WhatsApp muncul di layar kunci.

Baskara: Teman-teman kantor pada iri lihat seragamku rapi banget hari ini. Makasih ya, Ziva. Semangat rapatnya, jangan galak-galak sama bos kamu.

Ziva refleks menggigit bibir bawahnya untuk menahan tawa yang nyaris meledak di tengah rapat serius itu. Ketegangan di pundaknya mendadak luruh. Rasa pusingnya seolah menguap digantikan oleh rasa geli. Pria kaku itu benar-benar pamer ke teman-temannya? Benar-benar seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan baru.

"Ziva? Bagaimana menurutmu tentang usulan merger data ini?" suara Pak Heru kembali memanggilnya.

Ziva mendongak, matanya berkilat penuh percaya diri. "Saya rasa itu langkah yang tepat, Pak. Tapi dengan catatan, kita harus memperketat enkripsi di tingkat akses junior. Saya akan siapkan draf prosedurnya sore ini juga."

Pak Heru tampak terkesan, ia mengangguk puas. "Baik. Rapat selesai. Bagus, Ziva. Kamu sangat fokus hari ini."

Setelah semua orang keluar, Ziva terduduk lemas di kursinya. Ia menghela napas panjang, lalu mengambil ponselnya dan membalas pesan Baskara.

Zivanya: Dih, pamer banget sih jadi orang! Awas ya kalau besok-besok minta disiapin lagi, harganya mahal! Gue baru aja keluar dari rapat neraka, Kak. Capek banget.

Tak butuh waktu lama, balasan masuk.

Baskara: Satu porsi sate padang depan komplek cukup buat bayar jasanya? Aku jemput sekarang. Tunggu di lobi.

Ziva tersenyum lebar. Ia merapikan berkas-berkasnya dengan gerakan riang. Meskipun harinya hectic dan penuh tekanan, ia tahu selalu ada tempat pulang yang nyaman. Ada seseorang yang bangga memakainya seragam hasil setrikaannya, dan seseorang yang siap membelikannya sate padang sebagai obat lelah.

Ziva berjalan keluar ruang rapat dengan kepala tegak. Ia bukan lagi gadis yang rapuh karena masa lalu; ia adalah Zivanya Aurora, sang analis keuangan yang handal, sekaligus istri dari seorang perwira polisi yang—meskipun menyebalkan—ternyata sangat membanggakannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!