NovelToon NovelToon
Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Status: tamat
Genre:Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Di sisa-sisa medan perang yang bersimbah darah, Jenderal Eisérre Valois menemukan seorang prajurit wanita tanpa identitas. Wajahnya yang polos dan jemari yang tak tampak seperti kuli perang membuat Eisérre membawa gadis itu pulang ke paviliun pribadinya, jauh dari jangkauan balai kerajaan.

Gadis itu bangun tanpa ingatan, bahkan tanpa tahu bahwa namanya adalah Geneviève d’Orléans—putri kesayangan Kerajaan Prancis yang sedang dicari oleh seluruh pasukan negara. Di bawah asuhan Eisérre, Geneviève menjadi "sang mawar tanpa nama". Namun, saat cinta mulai tumbuh, bayang-bayang tunangan pilihan sang nenek dan rahasia besar di balik sobekan seragam Geneviève mulai terkuak. Eisérre harus memilih: setia pada kehormatan Valois, atau melepaskan segalanya demi seorang gadis yang identitasnya bisa mengguncang takhta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PROLOG: Sisa-Sisa Mahkota di Debu Perbatasan

Langit di perbatasan d’Orléans tidak lagi berwarna biru. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan abu kelabu dan kepulan asap hitam yang menari-nari di atas puing-puing benteng yang runtuh. Udara terasa berat, membawa aroma tembaga dari darah yang mengering dan bau belerang yang mencekik paru-paru. Perang baru saja mereda beberapa jam yang lalu, meninggalkan keheningan yang lebih menakutkan daripada suara dentuman meriam.

Di tengah keheningan itu, seorang wanita tergeletak tak berdaya di antara tumpukan jenazah prajurit. Tubuhnya yang mungil tampak tenggelam dalam seragam militer yang terlalu besar dan kotor oleh lumpur. Sebagian besar wajahnya tertutup oleh darah segar yang mengalir dari luka dalam di dahi, seolah-olah takdir sedang mencoba menyembunyikan kecantikan yang terlalu agung untuk berada di tempat sehina ini.

"Jenderal! Ada satu yang masih bernapas!" Teriakan itu memecah kesunyian.

Langkah kaki yang berat dan teratur mendekat. Sepatu bot militer yang mengkilap—meski kini ternoda debu—berhenti tepat di samping tubuh wanita itu. Jenderal Eisérre Valois, pria yang dikenal dengan julukan "Baja dari Valois," berdiri dengan jubah hitam yang berkibar tertiup angin dingin. Matanya yang tajam dan sedingin es menatap ke bawah, memindai sosok yang baru saja ditemukan ajudannya.

Eisérre berlutut, mengabaikan debu yang mengotori celana seragamnya yang mahal. Ia melihat keanehan pada dada kiri seragam wanita itu. Ada bekas robekan kasar yang dipaksakan. Benang-benang halus menjuntai, menunjukkan bahwa papan nama dan lambang kehormatan telah dicopot secara paksa sebelum wanita ini jatuh pingsan. Siapa pun yang melakukannya, mereka ingin wanita ini kehilangan identitasnya—atau mungkin, wanita ini sendiri yang melakukannya untuk bertahan hidup.

"Aneh sekali," gumam Ajudan Kael yang berdiri di belakang Eisérre. "Lihat tangannya, Jenderal. Halus sekali. Tidak ada kapalan seperti prajurit infanteri pada umumnya. Dan wajahnya... dia tampak seperti anak kecil yang tersesat di medan perang. Mungkin usianya baru dua puluh tahun?"

Eisérre tidak menjawab. Ia melepas sarung tangan kulitnya dan menyentuh denyut nadi di leher wanita itu. Kulitnya sehalus sutra, sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya yang kasar. Saat ia menyeka sedikit noda darah di pipi wanita itu, ia tertegun sejenak. Di balik luka dan debu, ada garis wajah yang memancarkan keanggunan seorang bangsawan tingkat tinggi.

"Siapa pun dia, dia bukan prajurit biasa," suara Eisérre berat dan penuh otoritas.

"Apa kita harus membawanya ke tenda medis pusat unTuk didata, Jenderal?"

Eisérre terdiam cukup lama. Ada insting yang aneh berbisik di kepalanya. Jika ia membawa gadis ini ke pusat data kerajaan, dengan seragam tanpa identitas, dia akan diinterogasi sebagai pengkhianat atau mata-mata. Namun, ada sesuatu yang membuat Eisérre merasa harus melindunginya.

"Tidak," perintah Eisérre tiba-tiba. "Kita akan kembali ke ibukota dalam satu minggu. Jangan biarkan siapa pun tahu tentang penemuan ini. Bawa dia ke kereta pribadiku. Aku akan mengurusnya sendiri di paviliun Valois."

"Tapi Jenderal, itu melanggar protokol—"

"Aku adalah protokol di sini, Kael," potong Eisérre tajam, membuat suasana seketika membeku.

Dua minggu berlalu dalam kegelapan bagi wanita itu. Di paviliun pribadi keluarga Valois yang tersembunyi jauh dari kebisingan istana, ia terbaring di atas tempat tidur empuk berhiaskan kain linen terbaik. Luka di dahinya telah dibersihkan, menyisakan bekas luka tipis yang justru menambah daya tarik mistis pada wajahnya yang baby face.

Saat cahaya matahari pagi menyusup melalui celah gorden, kelopak mata yang lentik itu bergetar. Geneviève d’Orléans terbangun. Kepalanya terasa seperti dihantam ribuan palu. Ia mencoba mengingat namanya, rumahnya, atau mengapa ia berada di ruangan asing yang sangat mewah ini. Namun, yang ia temukan hanyalah kekosongan yang putih dan dingin.

Ia menoleh ke samping dan menemukan seorang pria tinggi dengan bahu lebar berdiri di dekat jendela, menatapnya dengan intensitas yang membuatnya merinding.

"Di mana... di mana aku?" Suara Geneviève keluar sebagai bisikan yang serak.

Eisérre melangkah mendekat, bayangannya menutupi tubuh mungil Geneviève. "Kau berada di tempat yang aman. Siapa namamu, Nona?"

Geneviève terdiam. Ia mencoba menggali ingatannya, tapi kepalanya semakin berdenyut sakit. Ia menggeleng pelan dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Aku... aku tidak tahu. Aku tidak ingat siapa aku."

Eisérre menatap mata cokelat yang jernih itu. Ia tahu di luar sana, Raja Perancis sedang murka karena adiknya—Sang Putri Geneviève—hilang tanpa jejak di perbatasan. Namun, menatap wajah polos di depannya yang tampak begitu muda dan rapuh, Eisérre membuat keputusan paling berbahaya dalam hidupnya.

"Kalau begitu, kau akan tetap di sini sampai kau ingat," ucap Eisérre dingin, namun tangannya perlahan menyelipkan helai rambut Geneviève ke belakang telinga dengan lembut. "Untuk saat ini, namamu adalah... milikku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!