"Aku cuma mau jadi beban keluarga CEO, kenapa malah dikasih beban nyawa Mafia?!"
Velin mengira transmigrasi ke tubuh istri pengganti dalam drama CEO klise adalah tiket liburannya dari dunia korporat. Tugasnya mudah: diabaikan suami, dihina pelakor, lalu mati konyol.
Tapi Velin menolak alur! Saat ia sedang asyik berendam mawar untuk merayakan kebebasannya, plafon kamar mandinya jebol.
Bukannya suami yang datang minta maaf, justru seorang pria asing bersimbah darah jatuh tepat di hadapannya. Kieran Marva D’Arcy—Ketua Mafia kejam yang seharusnya tidak ada dalam naskah ini.
Satu pria ingin membuangnya, satu pria lagi mengancam akan menembaknya.
Saat alur drama sudah "Salah Server", apakah Velin akan tetap mengikuti naskah, atau justru menulis takdir baru bersama sang Mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Resign Jadi Manusia, Melamar Jadi Beban CEO
Layar monitor di depan Aveline Naylora Kirby tampak bergoyang. Bukan karena ada gempa bumi di Jakarta, melainkan karena kesadaran Velin—begitu ia akrab disapa—sudah berada di ambang batas.
"Laporan kuartal... revisi empat belas kali... kopi keenam..." gumam Velin dengan suara serak. Matanya merah, sekantong keripik kentang yang sudah melempem menjadi saksi bisu perjuangannya lembur hingga pukul sebelas malam.
Velin menyandarkan punggungnya yang terasa seperti akan patah menjadi dua. Sebagai budak korporat teladan, hidupnya hanya berputar antara revisi, omelan bos botak, dan mi instan di akhir bulan. Hiburan satu-satunya hanyalah drama-drama klise di ponselnya.
“Tuhan... kalau Engkau benar-benar sayang padaku, tolonglah,” batin Velin sambil menatap langit-langit kantor yang berjamur. “Lempar aku ke dunia drama. Jadi figuran pun nggak apa-apa, yang penting kaya. Aku mau ngerasain gimana rasanya pingsan estetik di pelukan CEO, bukan pingsan di atas tumpukan berkas tagihan begini.”
Velin menarik napas panjang, lalu... BRUK!
Kepalanya menghantam meja. Dunianya menggelap seketika.
"Nyonya? Nyonya Aveline? Bangun, Tuan Adriano sudah menunggu di meja makan."
Velin mengerang. Bau aromaterapi lavender yang mahal menusuk hidungnya. Sangat berbeda dengan bau parfum murah rekan kerjanya yang biasanya menyengat di pagi hari.
"Lima menit lagi, Pak Bos... revisinya besok saja..." gumam Velin sambil menarik selimut yang terasa sangat lembut. Tunggu. Selimut? Sejak kapan kantornya menyediakan selimut sutra?
Velin membuka mata dan langsung terduduk tegak. Ia tidak berada di kubikel sempitnya. Ia berada di sebuah kamar yang luasnya mungkin setara dengan satu lantai kantornya dulu. Lampu kristal menggantung mewah, dan furniturnya berlapis emas.
"Nyonya? Anda baik-baik saja?"
Seorang pelayan paruh baya menatapnya dengan wajah cemas. Velin segera menyambar cermin di samping tempat tidur. Wajahnya masih sama, tapi kulitnya...
"Wah, gila! Kulitku kenapa jadi sehalus pantat bayi begini? Mana kantung mata pandaku? Apa malaikat maut barusan memberiku paket perawatan wajah VIP sebelum masuk surga?" monolog Velin dalam hati, tangannya sibuk meraba pipinya yang kenyal.
"Nyonya Aveline?" pelayan itu memanggil lagi.
Velin menoleh perlahan. Ingatan asing tiba-tiba mengalir masuk ke kepalanya seperti air bah. Ia adalah Aveline, istri dari Adriano Indian Mally. Seorang istri pengganti yang diabaikan, dicaci maki, dan menurut naskah drama yang pernah ia tonton, ia akan bunuh diri di episode sepuluh karena kembalinya cinta pertama sang suami, Mirabella.
Velin terdiam sejenak. Pelayan itu semakin cemas, mengira nyonyanya sedang depresi berat. Namun, detik berikutnya, Velin justru melebarkan senyumnya hingga hampir ke telinga.
"Tunggu, Bi. Jadi aku sekarang kaya raya?" tanya Velin dengan mata berbinar.
"Tentu saja, Nyonya. Harta Tuan Adriano tidak akan habis tujuh turunan."
"Mampus! Doaku dikabulkan!" Velin berteriak kegirangan dalam hati. "Persetan dengan alur bunuh diri! Siapa juga yang mau mati kalau punya kartu kredit tanpa limit dan bathtub sebesar kolam renang? Mirabella mau balik? Silakan! Ambil saja si CEO kaku itu, yang penting fasilitas ini tetap milikku!"
"Nyonya, Tuan Adriano sudah sangat marah karena Anda terlambat turun ke meja makan. Nona Mirabella juga sudah menunggu," pelayan itu memperingatkan.
Velin memutar bola matanya malas. "Bilang sama Si Kulkas Dua Pintu itu, aku nggak lapar. Aku mau mandi mawar dulu. Oiya, tolong siapkan camilan paling mahal, cokelat impor, dan jus jeruk murni. Antar ke kamar mandi ya, Bi!"
"Tapi Nyonya... Tuan Adriano akan—"
"Tuan Adriano mau marah? Biarin. Suruh dia marah-marah sama tembok saja," potong Velin santai sambil melangkah menuju kamar mandi dengan gaya anggun yang dibuat-buat.
Velin menutup pintu kamar mandi mewah itu dengan kaki, lalu menguncinya. Ia menatap deretan sabun bermerek internasional di depannya.
"Pekerjaan? Resign! Target korporat? Kelaut aja! Sekarang targetku cuma satu: menikmati kemewahan ini sampai titik darah penghabisan. Maaf ya, Penulis Drama, Aveline yang ini nggak mau mati konyol. Aku mau jadi beban CEO yang paling bahagia di dunia!"
Velin tertawa konyol sambil mulai menyalakan keran air hangat, sama sekali tidak tahu bahwa di atas plafon kamar mandinya, sebuah 'anomali' berdarah dari dunia lain sedang bersiap untuk jatuh tepat di hadapannya.
terimakasih 🙏🙏🙏