Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: PERJALANAN KE GEUMSEONG
Matahari terbit di ufuk timur, menyinari empat penunggang kuda yang melintasi padang ilalang luas. Bayangan mereka memanjang di belakang, seperti jejak masa lalu yang ditinggalkan.
Namgung Jin memimpin di depan dengan Mawanggeom terselip di pinggang. Matanya awas mengamati sekitar, meskipun wilayah ini masih aman—jauh dari istana, jauh dari Majin. Tapi kewaspadaan adalah kebiasaan yang tidak bisa ia tinggalkan.
Di belakangnya, Nyonya Hwa Ryun berkuda dengan tenang. Sebagai mantan pemimpin sekte dan mata-mata ulung, perjalanan panjang bukan hal baru baginya. Ia lebih khawatir pada dua anggota baru rombongan.
Putri Sohwa berjuang keras mengendalikan kudanya. Tumbuh di istana, ia tidak pernah belajar menunggang kuda dengan baik. Para dayang biasa membawanya dengan tandu. Sekarang, pantatnya sakit, pegal di mana-mana, dan ia hampir jatuh tiga kali dalam satu jam pertama.
"Kau baik-baik saja?" tanya Miho di sampingnya.
"Aku... baik..." jawab Putri Sohwa dengan napas tersengal. "Hanya... butuh... sedikit... penyesuaian."
Miho tersenyum. Ia sendiri cukup terlatih—sebagai mata-mata, ia harus bisa berkuda cepat. Tapi melihat putri kerajaan kesulitan, ia merasa iba.
"Pegang kendali lebih erat. Jangan terlalu tegang. Ikuti irama kuda."
Putri Sohwa mencoba mengikuti saran. Perlahan, kudanya mulai bergerak lebih stabil.
---
Menjelang siang, mereka berhenti di tepi sungai kecil untuk beristirahat dan memberi minum kuda.
Putri Sohwa turun dengan kaki gemetar. Ia hampir jatuh, tapi Miho menangkapnya.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Mereka duduk di bebatuan, menikmati pemandangan sungai yang jernih. Ikan-ikan kecil berenang di antara bebatuan, dan burung-burung berkicau di pepohonan.
· "Aku tidak pernah melihat sungai seperti ini,"* gumam Putri Sohwa. "Di istana, semua buatan. Kolam dengan ikan mas, air mancur berukir naga. Tapi ini... alami."
"Indah, ya?" Miho tersenyum. "Aku tumbuh di desa dekat sungai. Setiap sore, aku bermain air dengan teman-teman."
"Kau beruntung."
"Sekarang kau juga bisa menikmatinya."
Namgung Jin duduk agak jauh, membuka bekal roti kering. Nyonya Hwa Ryun bergabung dengannya.
"Kau memperhatikan mereka?" bisiknya.
"Ya."
"Dua gadis malang yang terjebak di istana. Sekarang mereka bebas."
"Bebas? Tidak." Namgung Jin menggeleng. "Mereka hanya berpindah dari satu sangkar ke sangkar yang lebih besar."
"Kau keras."
"Aku realis."
Nyonya Hwa Ryun menghela napas. "Tapi setidaknya, di sangkarmu, mereka bisa belajar terbang."
---
Setelah istirahat, mereka melanjutkan perjalanan.
Sore harinya, mereka tiba di sebuah desa kecil. Rumah-rumah kayu sederhana berjajar, sawah menghijau di sekeliling, dan anak-anak berlarian di jalanan. Desa yang damai.
Mereka memutuskan untuk bermalam di penginapan satu-satunya di desa itu—sebuah rumah panggung dengan tiga kamar kosong.
Pemilik penginapan, seorang nenek tua bernama Makgeolli Halmoni, menyambut mereka dengan ramah.
"Wah, tamu muda-muda! Sudah lama tidak ada anak muda mampir ke sini." Ia menatap pakaian mereka yang kotor debu. "Kalian pasti dari jauh."
"Kami dari istana, Nenek," jawab Putri Sohwa polos.
"Istana?" Mata nenek itu membelalak. "Kalian bangsawan?"
"Bukan, Nenek. Kami hanya pelayan." potong Namgung Jin cepat.
Nenek itu mengangguk, tidak curiga. "Ya, ya, sudahlah. Yang penting kalian lapar. Nenek masakkan sesuatu."
---
Malam harinya, mereka makan bersama di ruang tamu penginapan. Makgeolli Halmoni memasak sup ayam hangat dan nasi putih dengan lauk sederhana. Tapi bagi Putri Sohwa, ini adalah makanan terlezat yang pernah ia makan.
"Ini... ini luar biasa!"
"Haha, kau suka, Nak?" Nenek itu tersenyum bangga. "Resep turun-temurun. Sudah seratus tahun lebih."
Putri Sohwa makan dengan lahap, tidak peduli dengan etika kerajaan. Miho tersenyum melihatnya.
Setelah makan, mereka duduk di beranda, menikmati angin malam. Bulan belum muncul, tapi bintang-bintang sudah berkelap-kelip.
"Jin-ah," panggil Putri Sohwa tiba-tiba.
"Apa?"
"Terima kasih. Karena membawaku ke sini."
"Jangan berterima kasih dulu. Perjalanan masih panjang."
"Tapi setidaknya, aku merasakan... kebebasan." Ia menatap bintang. "Di istana, aku selalu diawasi. Setiap langkah, setiap kata, harus hati-hati. Di sini... aku bisa bernapas lega."
Miho mengangguk setuju. "Aku juga. Sebagai mata-mata, aku selalu hidup dalam ketakutan. Takut ketahuan, takut dihukum. Sekarang..." Ia tersenyum. "...sekarang aku hanya takut pada Guru."
Namgung Jin menghela napas. "Aku tidak menakutkan."
"Kau menakutkan, Guru," sahut Nyonya Hwa Ryun dari dalam. "Tapi menakutkan dalam artian membuat kami selalu waspada."
"Itu bagus."
---
Keesokan harinya, mereka pamit pada Makgeolli Halmoni. Nenek itu memberi mereka bekal makanan untuk perjalanan.
"Hati-hati di jalan, anak-anak muda. Dunia ini kejam, tapi kebaikan hati akan selalu membimbingmu."
Putri Sohwa memeluk nenek itu—sesuatu yang tidak pernah ia lakukan pada siapa pun.
"Terima kasih, Nenek."
"Iya, iya. Pergilah. Dan ingat, rumah Nenek selalu terbuka untuk kalian."
Mereka melanjutkan perjalanan dengan hati lebih ringan.
---
Dua hari kemudian, mereka memasuki wilayah pegunungan.
Hutan lebat menggantikan padang ilalang. Pepohonan tinggi menjulang, menutupi sinar matahari. Jalannya mulai terjal, dan kuda-kuda kesulitan melangkah.
"Kita harus turun dan memandu kuda," kata Nyonya Hwa Ryun, yang paling berpengalaman di medan seperti ini.
Mereka turun, berjalan kaki sambil memegang tali kekang. Putri Sohwa sudah kelelahan, tapi ia tidak mengeluh. Ia hanya menggigit bibir dan terus berjalan.
Menjelang sore, mereka menemukan sebuah gua kecil di lereng bukit. Cukup luas untuk berlindung jika hujan turun.
"Kita bermalam di sini," putus Namgung Jin.
Mereka masuk ke dalam gua. Nyonya Hwa Ryun dan Miho sibuk mengumpulkan kayu bakar, sementara Putri Sohwa duduk di sudut, memijat kakinya yang lecet.
Namgung Jin duduk di mulut gua, mengamati luar. Mawanggeom di pangkuannya.
"Guru," panggil Putri Sohwa pelan.
"Ya?"
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tanya."
"Apa yang akan terjadi setelah kita sampai di Geumseong?"
"Kita akan bertemu Cheon Wu-gun. Mendapat informasi tentang Majin. Lalu... kita akan merencanakan langkah selanjutnya."
"Lalu kita akan melawan Majin?"
"Suatu hari nanti. Tapi tidak sekarang."
Putri Sohwa mengangguk. "Aku ingin kuat. Cukup kuat untuk membantu."
"Kau akan kuat. Tapi butuh waktu."
"Berapa lama?"
"Tergantung. Bakatmu bagus. Dalam setahun, kau mungkin setara kultivator level menengah."
"Setahun?" Putri Sohwa kecewa. "Terlalu lama."
"Kultivasi tidak bisa dipercepat. Kecuali..."
"Kecuali apa?"
Namgung Jin diam. Ada cara—cara terlarang yang ia ketahui. Tapi itu berbahaya, bisa merusak meridian permanen jika gagal.
"Tidak. Lupakan."
---
Malam turun. Api unggun menyala di tengah gua, menghangatkan mereka.
Mereka makan bekal dari Makgeolli Halmoni, lalu bersiap tidur. Nyonya Hwa Ryun mengambil giliran jaga pertama. Namgung Jin tidur dengan Mawanggeom di sampingnya.
Putri Sohwa tidur di dekat api, memeluk selimut tipis. Ini pertama kalinya ia tidur di gua, di alam terbuka. Aneh, tapi ia merasa aman.
Di tengah malam, ia terbangun. Sesuatu mengganggu tidurnya.
Ia membuka mata. Api sudah meredup. Nyonya Hwa Ryun duduk di mulut gua, waspada. Miho tidur di sampingnya. Namgung Jin... tidak ada.
Putri Sohwa duduk, mencari. Lalu ia melihatnya—Namgung Jin duduk di luar gua, di bawah sinar bintang. Ia sedang bermeditasi, dan di sekelilingnya, energi hitam berputar pelan.
Putri Sohwa bangkit, berjalan mendekat. Ia duduk di samping Namgung Jin, tidak mengganggu.
Beberapa saat kemudian, Namgung Jin membuka mata.
"Kau tidak tidur?"
"Tidak bisa." Ia menatap energi hitam yang masih tersisa di sekitar Namgung Jin. "Itu... apa?"
"Energi iblis. Sumber kekuatanku."
"Indah."
"Indah? Kebanyakan orang takut."
"Aku tidak takut." Ia menatap Namgung Jin. * "Karena kau tidak jahat."*
Namgung Jin tersenyum tipis. "Kau salah. Aku sangat jahat. Tapi kebaikan dan kejahatan itu relatif."
"Mungkin. Tapi yang kulakukan, kau menyelamatkanku. Kau menyelamatkan Miho. Kau mengajar kami. Itu tidak dilakukan orang jahat."
"Atau mungkin aku hanya menyelamatkan kalian karena kalian berguna."
Putri Sohwa tertawa kecil. "Kau selalu bicara seperti itu. Tapi matamu bilang lain."
"Mataku?"
"Matamu... kadang terlihat dingin, kadang hangat. Aku belajar membaca mata orang di istana. Mata orang yang hanya ingin memanfaatkan berbeda dengan mata orang yang peduli."
Namgung Jin diam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Aku akan tidur lagi. Selamat malam, Guru."
Ia kembali ke gua, meninggalkan Namgung Jin dengan pikirannya sendiri.
---
Pagi harinya, mereka melanjutkan perjalanan.
Setengah hari lagi, mereka akan tiba di Geumseong. Udara sudah berbeda—lebih dingin, lebih berat. Tanda bahwa mereka mendekati markas Magyo.
Putri Sohwa dan Miho tegang. Ini pertama kalinya mereka melihat markas iblis.
"Jangan takut," bisik Nyonya Hwa Ryun. "Mereka tidak akan menyakiti kalian. Kalian murid Guru."
"Kau yakin?"
"Aku kenal mereka. Cheon Wu-gun adalah pria baik—sebaik mungkin untuk pemimpin iblis."
Akhirnya, lembah tersembunyi itu muncul di depan mereka. Geumseong—bangunan-bangunan batu hitam yang menjulang di antara kabut.
"Kita sampai."
---