NovelToon NovelToon
Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Romansa
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Dulu, aku adalah gadis ceria yang percaya bahwa cinta adalah segalanya. Bertahun-tahun aku menemani setiap proses hidupnya, dari SMA hingga bangku kuliah. Namun, kesetiaanku dibalas dengan pemandangan yang menghancurkan jiwa di sebuah kost di Jogja. Tanpa sepatah kata, aku pergi membawa luka yang mengubah seluruh hidupku.

Tiga tahun berlalu. Aku bukan lagi gadis lembut yang mudah tersipu. Aku telah membangun tembok es yang tebal di hatiku, menjadi wanita karier yang dingin, kaku, dan menutup diri dari setiap laki-laki yang mencoba mendekat.

Namun, takdir seolah sedang bercanda. Di perusahaan tempatku sukses berkarier, ia kembali muncul sebagai rekan kerjaku. Sosok pria pengkhianat yang dulu sangat kucintai, kini harus berada di hadapanku setiap hari.

Saat kenangan pahit itu kembali menyeruak, dan rasa mual muncul setiap kali melihat wajahnya, seorang wanita dari masa lalu itu muncul kembali. Apakah pertemuan ini adalah kesempatan untuk sembuh, atau justru cara takdir untuk semakin m

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Aroma harum nasi kuning yang gurih langsung menyapa indera penciumanku begitu kami melangkah masuk ke rumah orang tua Arlan. Rumah ini tidak besar, tapi kehangatan yang memancar dari dalamnya jauh lebih mewah daripada apartemen dinginku di Jakarta.

Di atas meja makan kayu yang sederhana, sebuah tumpeng besar dengan hiasan janur kuning berdiri gagah. Di sekelilingnya berjajar ayam goreng lengkuas, sambal goreng ati, dan urap sayur yang tampak begitu menggoda.

"Ayo, ayo duduk! Keburu dingin semua ini," seru Ibu sambil menarik kursi untukku. Matanya berbinar, memancarkan kebahagiaan yang tulus yang sempat hilang selama tiga tahun terakhir.

Bapak memimpin doa. Suaranya yang serak dan berwibawa terdengar bergetar saat ia mengucap syukur atas kembalinya kesehatan Arlan dan kehadiran aku kembali di tengah mereka. Aku menunduk dalam, air mata haru hampir saja tumpah. Siapa sangka, keluarga yang pernah kumaki habis-habisan karena kesalahpahaman ini, justru menyambutku dengan pelukan paling hangat.

"Nah, sekarang potong tumpengnya. Arlan, kamu yang kasih ke Rania," perintah Ibu.

Arlan memotong bagian puncak tumpeng yang mengerucut sempurna, lalu meletakkannya di piringku bersama sepotong paha ayam favoritku.

"Potongan pertama untuk wanita paling sabar yang mau menunggu suaminya—eh, calon suaminya—pulang dari 'tidur' panjang," goda Arlan sambil mengerling nakal ke arahku.

"Uhukk!" Aku tersedak saking kagetnya. Wajahku memerah sampai ke telinga. Ibu dan Bapak tertawa lepas melihat reaksiku.

"Bapak senang sekali lihat Arlan senyum lagi begini, Ran," bisik Bapak di sela-sela makan. "Dulu saat kamu pergi, rumah ini sepi sekali. Arlan cuma diam di kamar, hobinya menggambar sketsa wajahmu sampai kertasnya habis."

Arlan tersenyum malu, ia menggenggam tanganku di bawah meja. "Semua sketsanya masih ada, Ran. Nanti aku kasih lihat di kamar."

Makan siang itu diiringi dengan cerita-cerita ringan tentang rencana masa depan Arania Distro dan bagaimana Arlan ingin aku tetap sukses di Jakarta sementara ia akan sering bolak-balik Jogja-Jakarta demi aku. Tidak ada lagi ketegangan. Dan kami akan membangun perusahaan bersama.Tidak ada lagi bayang-bayang Harva atau Siska. Yang ada hanya suara denting sendok yang beradu dengan piring dan tawa yang pecah berkali-kali.

"Ibu cuma pesan satu hal," ucap Ibu sambil memegang tanganku setelah makan selesai. "Jaga hati kalian. Jangan pernah biarkan orang luar punya celah untuk masuk lagi. Komunikasi itu kunci, Nak."

Aku mengangguk mantap. "Rania janji, Bu. Rania nggak akan jadi 'Ratu Es' lagi yang langsung pergi tanpa dengar penjelasan."

Sore itu, di teras rumah Arlan sambil menikmati teh melati hangat, aku menyadari bahwa bahagia itu sederhana. Bukan tentang jabatan besar di kantor pusat atau apartemen mewah di pusat kota, tapi tentang makan bersama orang-orang yang mencintaimu apa adanya, di kota yang akhirnya memaafkanmu.

Jogja, tumpeng ini, dan Arlan. Inilah akhir dari pelarian panjangku, dan awal dari rumah yang sebenarnya.

Perjalanan pulang ke Jakarta kali ini tidak lagi terasa seperti pelarian yang menyesakkan. Kereta eksekutif yang kami tumpangi melaju membelah malam, namun suasana di dalam gerbong terasa begitu hangat. Arlan menyandarkan kepalanya di bahuku, sementara jemari kami bertautan erat, seolah enggan terlepas meski hanya sedetik.

"Tiga tahun lalu, aku melihat punggungmu menjauh di stasiun ini, Ran. Rasanya seperti separuh nyawaku dicabut paksa," bisik Arlan pelan, menatap pantulan diri kami di kaca jendela kereta yang gelap.

Aku mengeratkan genggamanku. "Sekarang tidak ada lagi yang pergi, Lan. Kita pulang untuk membangun semuanya dari awal. Bersama-sama."

Kami menghabiskan waktu berjam-jam mendiskusikan masa depan. Arlan memaparkan visinya untuk menggabungkan sistem manajemen modern yang kupelajari di perusahaan besar dengan kreativitas desain dari distro ayahnya. Kami sepakat untuk membangun Arania Group, sebuah entitas baru yang tidak hanya bergerak di bidang retail, tapi juga konsultan kreatif.

"Aku ingin kamu tetap menjadi 'Ratu' di perusahaan kita nanti, tapi bukan ratu yang dingin," goda Arlan sambil mengecup punggung tanganku. "Aku ingin dunia tahu kalau Rania-ku sudah kembali."

Aku tertawa kecil. "Dan aku ingin Direktur Operasionalku ini tidak lagi menyembunyikan rahasia apa pun, bahkan hal sekecil apa pun."

Ketika kereta mulai memasuki wilayah Jatinegara, lampu-lampu kota Jakarta yang gemerlap menyambut kami. Kota ini, yang dulu menjadi tempatku bersembunyi di balik tembok es, kini akan menjadi saksi kebangkitan kami. Harva mungkin telah mencoba menghancurkan pondasi hidup kami, namun ia tidak sadar bahwa reruntuhan itu justru kami susun kembali menjadi benteng yang jauh lebih kokoh.

Begitu turun di Stasiun Gambir, Bang Haris sudah menunggu di depan lobi kedatangan. Ia tersenyum lebar melihat kami turun sambil bergandengan tangan.

"Gimana Jogja? Sudah berdamai dengan gudeg dan rindu?" tanya Bang Haris sambil mengambil alih koper kami.

"Lebih dari damai, Bang. Kami pulang membawa rencana besar," jawab Arlan mantap.

Di dalam mobil menuju apartemen, aku menatap gedung-gedung tinggi Jakarta dengan sudut pandang yang berbeda. Aku tidak lagi merasa terancam. Aku tidak lagi merasa mual melihat kerumunan laki-laki bersetelan jas. Karena di sampingku, ada pria yang telah membuktikan bahwa cinta sejati tidak akan pernah kalah oleh konspirasi sejahat apa pun.

"Ran, besok pagi kita ke kantor Ayah?" tanya Arlan saat mobil berhenti di depan gedung apartemenku.

"Ya. Kita serahkan surat pengunduran diri kita dari perusahaan lama, dan kita mulai hari pertama sebagai pemilik masa depan kita sendiri," jawabku tegas.

Arlan membantuku turun, lalu memelukku erat di bawah lampu lobi yang temaram. "Selamat datang di babak baru, Rania. Kali ini, tidak ada lagi pengkhianatan. Hanya ada kita, kerja keras, dan cinta."

Aku tersenyum, menatap matanya yang kini penuh dengan binar kehidupan. Pelarian panjang itu benar-benar berakhir di sini. Di pelukan pria yang pernah kusebut pengkhianat, namun ternyata adalah pahlawan bagi hatiku yang sempat membeku.

1
Ayudya
rania kalau kamu terus sendiri dan harus terpuruk dengan masa lalu ga bagus juga si menurut aku yga ada Mala kamu di anggap belum bisa menghilangkan bayangan masa lalu kamu🤣🤣🤣🤣
Ayudya
aku suka dengan karakter Rania tegas dan ga menye menye🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Dinar David Nayandra
si harga kok tau smpe datail gtu ya ada mata mata dia kayanya
Nur Atika Hendarto
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!