NovelToon NovelToon
Suamiku Menyesal Setelah Mengusirku

Suamiku Menyesal Setelah Mengusirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Amirur Rijal

Selama tiga tahun, Rania menjadi istri yang sempurna. Ia menelan hinaan keluarga suaminya, berpura-pura tidak mendengar bisikan yang menyebutnya wanita miskin yang hanya menempel pada kekayaan keluarga mereka.
Namun kesabaran itu berakhir di satu malam hujan. Suaminya sendiri… mengusirnya dari rumah. Tanpa mereka sadari, wanita yang mereka hina selama ini menyimpan rahasia besar,
Rania bukan wanita biasa. Ia adalah pewaris tunggal dari keluarga Hartono, salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Ketika kebenaran mulai terungkap, semuanya berubah. Orang-orang yang dulu merendahkannya mulai menyesal. Dan pria yang pernah mengusirnya dari rumah… kini memohon agar ia kembali. Tapi setelah semua luka yang ia rasakan,
masih adakah tempat di hatinya untuk pria itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amirur Rijal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Ketika Aku di Usir

Hujan turun sejak sore.

Bukan hujan deras yang mengamuk seperti badai, melainkan hujan yang sabar, jatuh satu-satu di atas genting rumah besar keluarga Adrian, menetes di ujung daun, lalu mengalir pelan di kaca jendela tinggi yang menghadap halaman depan.

Rania berdiri di tengah ruang tamu.

Lampu kristal di langit-langit memantulkan cahaya kuning yang lembut, tapi entah kenapa malam ini ruangan itu terasa lebih dingin dari biasanya.

Di tangannya hanya ada sebuah koper kecil.

Tidak besar.

Tidak berat.

Hanya berisi beberapa pakaian yang ia masukkan dengan cepat.

Tiga tahun tinggal di rumah ini, tetapi barang yang ia bawa pergi tidak lebih dari isi koper itu.

Ironis.

Rania menatap lantai marmer yang licin di bawah kakinya. Di permukaannya, bayangan dirinya terlihat samar seorang wanita dengan wajah pucat, rambut panjang yang sedikit basah karena udara lembap, dan mata yang tampak tenang… terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja diminta pergi dari rumahnya sendiri.

“Cepat sedikit.”

Suara itu datang dari sofa panjang di seberang ruangan.

Ibu mertua Rania, Ny. Veronica, duduk dengan sikap anggun yang dingin. Tangannya menyilangkan sebuah majalah mahal, seolah kejadian malam ini hanya gangguan kecil dalam jadwalnya.

“Aku tidak punya waktu menunggu drama seperti ini,” katanya tanpa menatap Rania.

Rania mengangkat kepalanya sedikit.

Di samping Veronica berdiri seorang wanita lain. Rambutnya disanggul rapi, pakaiannya mahal, dan di wajahnya tergambar senyum yang samar namun penuh kemenangan.

Clara.

Teman masa kecil Adrian.

Atau mungkin… lebih dari itu.

Rania sudah lama menyadari bagaimana Clara selalu hadir di sekitar suaminya. Makan malam bisnis, pesta keluarga, bahkan beberapa perjalanan kerja.

Tapi selama ini ia memilih diam.

Karena ia percaya pada satu hal yang sederhana.

Ia percaya bahwa jika ia menjadi istri yang baik… suatu hari Adrian akan melihatnya.

Sayangnya, kenyataan tidak bekerja seperti cerita.

Langkah kaki berat terdengar dari tangga.

Rania tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang turun.

Adrian.

Pria itu berjalan turun dengan langkah tenang, mengenakan kemeja putih yang masih rapi, seolah malam ini hanyalah malam biasa.

Ia berhenti beberapa meter dari Rania.

Tatapannya dingin.

Tidak marah.

Tidak juga sedih.

Hanya… kosong.

“Sudah siap pergi?” tanyanya.

Nada suaranya datar, hampir seperti berbicara dengan orang asing.

Rania menatap pria yang pernah ia nikahi itu selama beberapa detik.

Tiga tahun lalu, ketika mereka berdiri di altar pernikahan, ia sempat berpikir hidupnya akan berubah.

Ia tahu Adrian tidak mencintainya.

Pernikahan itu terjadi karena alasan bisnis dan tekanan keluarga.

Namun ia berpikir… mungkin seiring waktu semuanya bisa berubah.

Tiga tahun adalah waktu yang cukup lama untuk mencoba mencintai seseorang.

Sayangnya, itu tidak cukup bagi Adrian.

“Apa aku punya pilihan lain?” tanya Rania pelan.

Adrian tidak menjawab.

Veronica mendengus kecil dari sofa.

“Pilihan?” katanya sinis. “Seharusnya kau sudah tahu tempatmu sejak awal.”

Ia akhirnya berdiri, berjalan beberapa langkah mendekati Rania.

Sepatu hak tingginya berbunyi tajam di lantai marmer.

“Kami sudah cukup sabar menoleransi keberadaanmu di rumah ini,” lanjutnya. “Tapi sekarang semuanya sudah jelas.”

Veronica melirik Clara.

Clara menunduk sedikit, pura-pura canggung.

Rania tahu permainan ini.

Ia tahu sejak lama.

Namun tetap saja, ada sesuatu di dalam dadanya yang terasa perih.

“Tiga tahun,” kata Rania pelan.

Semua orang di ruangan itu menatapnya.

“Tiga tahun aku mencoba menjadi bagian dari keluarga ini.”

Tidak ada yang menjawab.

Rania melanjutkan dengan suara tenang.

“Aku bangun setiap pagi sebelum semua orang. Aku memasak sarapan sendiri walaupun ada koki. Aku menemani Adrian ke acara keluarga meski semua orang di sana menatapku seperti aku barang asing.”

Ia berhenti sebentar.

Matanya bertemu dengan Adrian.

“Tapi ternyata itu semua tidak pernah cukup.”

Adrian menghela napas pelan, seolah percakapan ini membuatnya lelah.

“Kita sudah membicarakan ini sebelumnya,” katanya. “Pernikahan ini tidak pernah benar-benar berhasil.”

Rania tersenyum tipis.

“Ya. Aku tahu.”

Veronica menyela dengan nada tajam.

“Kalau kau tahu, seharusnya kau pergi dari awal.”

Clara akhirnya bicara untuk pertama kalinya.

“Sebenarnya… aku merasa tidak enak dengan situasi ini,” katanya lembut, walaupun matanya tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun.

“Tapi hubungan Adrian dan aku sudah terlalu lama…”

Rania tidak mendengarkan sisanya.

Kata-kata itu seperti suara yang datang dari jauh.

Aneh.

Ia berpikir ia akan menangis malam ini.

Atau marah.

Atau setidaknya merasa hancur.

Tapi yang ia rasakan justru sesuatu yang lain.

Lega.

Perlahan, Rania menutup koper kecilnya.

Klik.

Suara kunci koper itu terdengar jelas di ruangan yang sunyi.

Adrian memperhatikannya dengan alis sedikit berkerut.

“Kau tidak akan memohon?” tanyanya.

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Rania menatapnya beberapa detik, lalu menggeleng pelan.

“Untuk apa?”

Adrian tampak sedikit terkejut.

Selama ini Rania selalu diam, selalu mengalah.

Ia tidak menyangka wanita itu akan menjawab seperti ini.

Rania mengangkat koper kecilnya.

“Kalau memang ini yang kamu inginkan… aku akan pergi.”

Veronica mencibir.

“Bagus. Akhirnya kau mengerti.”

Rania berjalan menuju pintu depan.

Langkahnya tenang.

Satu langkah.

Dua langkah.

Setiap suara sepatu di lantai marmer terasa seperti hitungan mundur.

Saat tangannya menyentuh gagang pintu, ia berhenti.

Ia tidak menoleh.

Namun ia berkata pelan,

“Adrian.”

Pria itu mengangkat kepalanya.

“Apa?”

Rania tersenyum kecil.

Senyum yang aneh. Tenang.

“Semoga kamu tidak menyesal.”

Veronica langsung tertawa.

“Menyesal? Karena mengusir wanita miskin seperti kamu?”

Rania akhirnya membuka pintu.

Udara malam yang dingin langsung masuk ke dalam rumah.

Hujan turun lebih deras sekarang.

Ia melangkah keluar.

Pintu tertutup di belakangnya.

Suara itu terdengar final.

Di luar gerbang rumah besar itu, jalanan basah memantulkan cahaya lampu kota.

Rania berjalan beberapa langkah menjauh dari rumah.

Ia berhenti di trotoar.

Hujan membasahi rambut dan mantelnya, tapi ia tidak bergerak.

Beberapa detik kemudian…

Sebuah mobil hitam berhenti perlahan di depannya.

Mobil itu mahal.

Sangat mahal.

Pintunya terbuka.

Seorang pria tua turun dengan cepat dari kursi pengemudi.

Rambutnya sudah memutih, tapi posturnya masih tegap.

“Non Rania…”

Nada suaranya penuh hormat.

Ia sedikit membungkuk.

“Saya sudah menunggu.”

Rania menatap pria itu sebentar.

“Pak Arman.”

Pria tua itu mengangguk.

“Semuanya sudah siap.”

Ia membuka pintu belakang mobil.

“Pesawat pribadi keluarga sudah menunggu di bandara.”

Hujan semakin deras.

Rania menoleh sekali lagi ke arah rumah besar di belakangnya.

Lampu-lampu rumah itu masih menyala terang.

Di balik jendela itu ada pria yang pernah ia cintai.

Dan keluarga yang selalu menganggapnya tidak layak.

Rania menarik napas pelan.

“Tiga tahun,” gumamnya.

Pak Arman menatapnya dengan hati-hati.

“Anda tidak apa-apa, Nona?”

Rania tersenyum kecil.

Untuk pertama kalinya malam itu, senyumnya terlihat benar-benar tulus.

“Aku baik-baik saja.”

Ia masuk ke dalam mobil.

Pak Arman menutup pintunya dengan hati-hati.

Mobil hitam itu perlahan meninggalkan rumah keluarga Adrian.

Di dalam rumah…

Adrian berdiri di dekat jendela.

Entah kenapa, setelah pintu tadi tertutup, rumah itu terasa lebih sunyi dari biasanya.

Clara datang mendekatinya.

“Adrian,” katanya lembut.

“Kita akhirnya bisa bersama tanpa masalah lagi.”

Adrian tidak menjawab.

Matanya menatap ke luar jendela.

Di kejauhan, ia melihat mobil hitam yang membawa Rania pergi.

Ada sesuatu yang terasa aneh di dadanya.

Tapi ia tidak tahu apa.

Ia hanya tahu satu hal.

Malam ini, ia baru saja mengusir istrinya dari rumah.

Dan ia sama sekali tidak tahu…

bahwa wanita yang pergi dengan koper kecil itu

adalah satu-satunya pewaris keluarga Hartono.

Salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini.

Dan suatu hari nanti…

ketika kebenaran itu terungkap,

Adrian akan menyadari bahwa malam ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

1
Amirur Rijal
siap, makasih
Lena mula
Semangat terus nulisnya ya kak💪🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!