NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tidak Seharusnya Terjadi Oleh Gadis Yang Datang Dari Masa Depan

Cinta Yang Tidak Seharusnya Terjadi Oleh Gadis Yang Datang Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Cinta Terlarang / Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir
Popularitas:411
Nilai: 5
Nama Author: TOKOPAIJO

UPDATE SETIAP HARI JAM 12 SIANG.

Nara tidak pernah benar-benar memahami ayahnya.

Baginya, ayahnya hanyalah pria dingin yang hidup seperti bayangan di rumah yang terlalu sunyi. Tidak pernah menjelaskan apa yang terjadi pada keluarga mereka, dan tidak pernah mencoba memperbaiki hubungan yang telah retak.

Suatu malam, setelah pertengkaran lama yang akhirnya meledak, Nara menemukan sebuah jam tua misterius di gudang rumah. Ketika ia memutar jarumnya… Dunia berubah. Nara terbangun di tahun 1995, di kota yang sama namun jauh berbeda.

Di sana ia bertemu seorang pria muda yang santai, karismatik, dan penuh mimpi.

Namanya Raka.

Pria itu menolongnya, berjalan bersamanya di kota malam, dan perlahan membuat Nara merasa nyaman di dunia yang bukan miliknya. Sampai suatu hari Nara menemukan fakta dan menyadari bahwa Raka… adalah ayahnya.

Sekarang Nara harus menghadapi kenyataan yang mustahil, Ia jatuh cinta pada seseorang yang seharusnya tidak pernah ia cintai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TOKOPAIJO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Tidak Seharusnya Dekat Denganmu

Satu tetes air mata itu terasa seperti lahar panas di kulit Nara.

Ibu jari Raka yang mengusap pipinya terasa sedikit kasar.

Ada kapalan di ujung jarinya.

Jejak dari ribuan jam yang ia habiskan untuk menekan senar gitar.

Namun sentuhan itu begitu lembut, sangat berhati-hati.

Seolah Nara adalah sesuatu yang rapuh, yang bisa hancur jika ia menekannya terlalu keras.

Nara mematung.

Dunia di sekelilingnya berhenti berputar.

Lampu taman yang berwarna kuning pudar.

Suara jangkrik di balik semak-semak.

Angin malam yang meniup dedaunan mahoni.

Semuanya seakan ditarik mundur, menyisakan hanya mereka berdua di tengah ruang dan waktu yang salah ini.

Mata Raka menatapnya dengan intensitas yang tidak pernah Nara duga bisa dimiliki oleh pria ini.

Bukan tatapan usil.

Bukan tatapan seorang pemuda jalanan yang suka bercanda.

Melainkan tatapan seorang pria yang sedang melihat tepat ke dalam jiwa perempuan di depannya.

Nara menelan ludah.

Tenggorokannya terasa kering dan sakit.

"Tarik wajahmu, Nara." Akal sehatnya berteriak dengan panik di dalam kepala. "Menjauh, dia ayahmu. Menjauh sekarang juga!"

Namun tubuhnya mengkhianatinya.

Nara tetap diam.

Bibirnya sedikit terbuka, napasnya tertahan di dada.

Ia membiarkan ibu jari Raka berdiam di pipinya selama beberapa detik yang terasa begitu sangat lama.

Ia merasakan kehangatan yang mengalir dari sentuhan itu.

Kehangatan yang selalu ia rindukan dari sosok ayahnya di masa depan, namun tidak pernah ia dapatkan.

Ayahnya di masa depan adalah dinding es yang tidak bisa ditembus.

Tetapi Raka di tahun ini... ia adalah api unggun di tengah malam yang dingin.

Dan Nara sedang berjalan terlalu dekat dengan api itu.

"Kenapa dunia ini terlalu kejam?" ulang Raka pelan.

Suaranya rendah, hampir seperti bisikan.

Tangannya perlahan turun dari pipi Nara, namun matanya tidak melepaskan pandangannya sedetik pun.

"Apa yang terjadi padamu sebelum kamu datang ke kota ini, Nara? Siapa yang membuatmu menangis seperti ini?"

Pertanyaan itu menghunjam dada Nara.

"Kamu." Nara ingin menjeritkan jawaban itu.

"Kamu di masa depan, ketidakpedulianmu, kebisuanmu, dan sekarang, kebaikanmu di masa lalu ini yang akan menghancurkanku."

Tapi tentu saja, kata-kata itu hanya tertahan di ujung lidah.

Nara membuang muka.

Ia memutus kontak mata itu secara paksa, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dadanya yang bergemuruh.

Ia menarik kerah jaket denim milik Raka yang sedang membalut tubuhnya, merapatkan jaket itu seolah benda mati itu bisa melindunginya dari perasaannya sendiri.

"Bukan siapa-siapa," jawab Nara pelan, suaranya kembali bergetar. "Hanya... teringat rumah, teringat betapa berantakan semuanya."

Raka terdiam sebentar.

Ia memperhatikan profil samping wajah Nara.

Melihat bagaimana gadis itu mati-matian menahan emosinya.

"Kalau rumahmu terlalu berantakan untuk ditinggali..." kata Raka santai, memecah ketegangan itu dengan caranya yang khas. "...kamu selalu bisa duduk di taman ini, mendengarkan musik, dan musisinya lumayan tampan."

Nara hampir tertawa mendengarnya.

Sebuah senyum kecil yang dipaksakan muncul di bibirnya.

Raka selalu punya cara untuk membuat suasana menjadi lebih ringan.

Itulah pesonanya.

Pesona yang membuat Sinta ibunya yang kaku dan serius itu pada akhirnya akan jatuh cinta padanya.

Dan pesona yang sama, yang kini sedang menjerat Nara.

"Rak!"

Sebuah teriakan keras dari arah jalan memecahkan gelembung keheningan mereka.

Nara tersentak.

Ia menoleh ke arah sumber suara.

Beberapa orang dari kerumunan tadi mulai kembali.

Ardi berjalan mendekat dengan dua gelas plastik kopi di tangannya.

Di belakangnya, Bima dan Deni mengikuti sambil tertawa keras membahas sesuatu yang tidak jelas.

"Waktu istirahat habis, Bung!" seru Ardi dari kejauhan. "Kopimu sudah kubelikan, ayo mulai lagi, malam masih panjang!"

Suasana yang tadinya intim dan hening, dalam sekejap kembali bising dan hidup.

Raka menghela napas panjang.

Ia menoleh ke arah teman-temannya sebentar, lalu kembali menatap Nara.

"Sebentar," kata Raka pada Nara, nada suaranya sedikit enggan. "Aku main beberapa lagu lagi, setelah itu aku akan mengantarmu kembali ke kontrakan. Jangan ke mana-mana."

Nara menggeleng cepat.

Kepanikan kembali mengambil alih kesadarannya.

Ini adalah momennya.

Ia tidak boleh tinggal lebih lama lagi.

Jika ia duduk di sini, mendengarkan Raka bernyanyi dengan jaket pemuda itu memeluk tubuhnya... ia akan kalah.

Ia tidak akan pernah bisa menjalankan misi Aruna untuk menyatukan Raka dan Sinta.

"Tidak usah," tolak Nara terburu-buru, ia berdiri dari bangku kayu itu dengan gerakan canggung.

Raka ikut mendongak, keningnya berkerut.

Tangannya yang baru saja memegang leher gitar, terhenti.

"Apa maksudmu tidak usah? Udara semakin dingin, dan ini sudah hampir tengah malam."

"Aku bisa pulang sendiri," kata Nara cepat.

Ia melangkah mundur satu langkah.

Menjauh dari jangkauan Raka.

"Aku lelah, aku ingin tidur," dusta Nara tanpa menoleh. "Terima kasih untuk jaketnya, besok aku kembalikan, bersenang-senanglah dengan teman-temanmu."

"Tunggu, Nara!"

Nara tidak mendengarkan.

Ia mulai melangkah.

Awalnya pelan, lalu berubah menjadi langkah setengah berlari.

Ia harus pergi.

Ia harus lari dari perasaannya sendiri.

Sepatu kets putihnya menghantam jalan setapak taman yang terbuat dari susunan batu alam.

Langkahnya tidak beraturan.

Pikirannya kacau balau.

Cahaya lampu taman yang kekuningan membuat bayangannya memanjang di tanah.

Suara panggilan Raka dari belakang tertelan oleh suara Ardi dan Bima yang mulai mendekat.

Nara mempercepat langkahnya.

Ujung jaket denim Raka yang kebesaran berkibar pelan di belakangnya.

Matanya mulai buram oleh air mata baru yang kembali menggenang.

Ia tidak memperhatikan jalan.

Ia tidak melihat bayangan gelap di atas jalan setapak itu.

Satu susunan batu alam di taman itu sedikit terangkat, menyembul keluar karena akar pohon mahoni tua yang tumbuh di bawahnya.

Sepatu Nara menghantam ujung batu itu dengan keras.

Dukk.

Keseimbangannya hilang seketika.

Waktu terasa melambat.

Nara merasakan tubuhnya terdorong ke depan.

Gravitasi menariknya dengan paksa.

Tangannya secara refleks terentang ke depan, bersiap menerima rasa sakit dari hantaman aspal dan kerikil yang tajam.

Ia memejamkan matanya erat-erat.

Menunggu rasa perih itu datang.

Namun, rasa sakit itu tidak pernah tiba.

Tepat sebelum lutut dan telapak tangannya menghantam tanah yang keras, sebuah tarikan kuat mencengkeram lengan atasnya.

Tarikan itu begitu kuat, begitu cepat, hingga tubuh Nara terpelanting ke belakang.

Dunia berputar dalam sepersekian detik.

Bruk.

Nara tidak jatuh ke tanah.

Tubuhnya menabrak sesuatu yang padat, keras, dan hangat.

Sesuatu yang bernapas.

Aroma parfum murah yang bercampur dengan bau angin malam langsung menyerbu indra penciumannya.

Sangat dekat, sangat pekat.

Nara membuka matanya dengan napas terkesiap.

Sepasang lengan yang kuat melingkar erat di pinggangnya, menahan tubuhnya agar tidak merosot ke tanah.

Dada yang keras terasa menempel di punggungnya.

Napas yang sedikit memburu terasa hangat menyapu puncak kepalanya.

"Raka." Nara membeku.

Seluruh saraf di tubuhnya seakan tersengat aliran listrik.

Ia bisa mendengar detak jantung di punggungnya.

Berdegup sangat kencang, sama kencangnya dengan detak jantungnya sendiri.

Di belakang mereka, terdengar suara benda kayu berbenturan dengan tanah berkerikil.

Klotak.

Raka telah menjatuhkan gitarnya begitu saja demi berlari mengejarnya.

Gitar kesayangannya, instrumen yang tidak pernah ia biarkan lecet sedikit pun.

"Kamu ceroboh sekali."

Suara Raka terdengar tepat di atas telinganya.

Rendah, parau, dengan kepanikan yang berusaha keras ia tutupi.

Nara tidak bisa berbicara.

Lidahnya kelu.

Posisi mereka saat ini... terlalu intim.

Tangan kiri Raka memeluk pinggangnya erat, sementara tangan kanannya menahan bahu Nara.

Nara bertumpu sepenuhnya pada dada pemuda itu.

"A-aku..." Nara mencoba bersuara, namun kalimatnya terputus.

Perlahan, Raka memutar tubuh Nara agar menghadapnya.

Gerakannya sangat hati-hati, seolah memastikan Nara tidak terluka di bagian mana pun.

Kini, mereka berdiri berhadapan.

Jarak di antara mereka tidak lebih dari satu jengkal.

Tangan Raka masih memegang kedua bahu Nara.

Lampu taman menyorot dari atas, menerangi wajah Raka yang dipenuhi raut kekhawatiran yang tegang.

"Kamu terluka?" tanya Raka, matanya menyapu wajah Nara, lalu turun ke lengan dan lututnya.

Nara menggeleng pelan. "Tidak, aku... aku tidak apa-apa."

Raka menghembuskan napas kasar.

Ia memejamkan matanya sesaat, lalu membukanya lagi.

"Kenapa kamu selalu mencoba lari dariku hari ini?" tanya Raka.

Nara menelan ludah.

Jarak sedekat ini adalah siksaan.

Ia bisa merasakan hembusan napas Raka di wajahnya.

Ia bisa melihat pantulan dirinya sendiri di dalam pupil mata pemuda itu.

"Aku tidak lari," dusta Nara, meskipun suaranya mengkhianatinya dengan bergetar parah. "Aku hanya ingin pulang."

Raka memajukan wajahnya sedikit.

"Di kafe tadi, kamu mendorongku menjauh. Sekarang, kamu lari meninggalkanku." Raka menatap tepat ke dalam manik mata Nara. "Apa yang salah, Nara? Apa yang membuatmu tiba-tiba bertingkah seperti ini?"

Nara tidak tahan lagi.

Matanya mulai berkaca-kaca kembali.

"Karena aku tidak seharusnya berada di dekatmu," bisik Nara putus asa, kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya yang bergetar.

Sebuah kejujuran yang fatal.

Raka terdiam.

Napasnya tertahan.

Kata-kata Nara terdengar sangat ambigu, namun di saat yang sama, sangat menyayat hati.

Raka menatap mata gadis di depannya, mata yang memancarkan ketakutan dan keputusasaan.

Bagi Raka, gadis ini adalah misteri terbesar yang pernah mendarat di hidupnya.

Namun di detik ini, Raka tidak peduli tentang dari mana Nara berasal.

Ia tidak peduli tentang tingkahnya yang berubah hari ini.

Tanpa sadar, pandangan Raka turun ke bibir Nara yang sedang bergetar menahan tangis.

Dunia terasa sangat hening.

Bahkan suara langkah Ardi dan Bima yang sedang berlari mendekat dari arah bangku taman, terdengar seolah berada di dimensi lain.

Raka memiringkan kepalanya sedikit.

Jarak di antara wajah mereka semakin menipis.

Nara berhenti bernapas.

Otaknya menjerit memberikan peringatan bahaya tingkat tinggi.

"Dia ayahmu! Mundur! Mundur sekarang juga!"

Namun tubuhnya seolah terkena sihir.

Ia terpaku di tempatnya.

Sebagian dari dirinya yang paling gelap dan paling egois, ingin membiarkan momen ini terjadi.

Ingin membiarkan gravitasi yang salah ini menariknya hingga hancur.

Mata Raka semakin meredup.

Hanya tinggal beberapa sentimeter.

"Raka! Gitarmu jatuh, gila!"

Teriakan Bima membelah keheningan malam itu seperti petir yang menyambar.

Sihir itu pecah seketika.

Nara tersentak mundur dengan keras, melepaskan diri dari pegangan Raka seolah tangan pemuda itu terbakar.

Dada Nara naik turun dengan cepat, memompa udara dengan panik.

Raka ikut tersentak.

Ia mengerjapkan matanya, seolah baru saja terbangun dari sebuah hipnosis yang sangat dalam.

Ia menatap kedua tangannya yang kini kosong, lalu menatap Nara dengan tatapan yang sulit diartikan.

Campuran antara rasa bersalah, kebingungan, dan rasa frustrasi yang nyata.

"Rak! Kamu tidak apa-apa?" Ardi muncul di belakang mereka, memegang gitar Raka yang tadi terjatuh di atas tanah berkerikil.

Raka menarik napas panjang, ia mengusap wajahnya dengan satu tangan, mencoba mengusir kabut yang baru saja menyelimuti akal sehatnya.

Ia berbalik, menerima gitarnya dari tangan Ardi dengan sebuah senyum kecil yang terlihat dipaksakan.

"Gitarmu lecet sedikit di bawah, Rak," kata Ardi heran. "Tumben sekali kamu menjatuhkan barang kesayanganmu ini."

"Tidak apa-apa," jawab Raka pelan, nada suaranya kembali santai meskipun terdengar sedikit sumbang. "Hanya tersandung."

Nara memanfaatkan momen ketika Raka menoleh pada teman-temannya itu untuk mengambil langkah mundur.

Satu langkah.

Dua langkah.

Kepanikan yang tadi sempat mereda oleh pesona Raka, kini meledak di dadanya dengan kekuatan penuh.

Napasnya memburu.

Telinganya berdenging.

"Apa yang baru saja kulakukan?" Raka menoleh kembali ke arah Nara, tatapannya kini jauh lebih jernih dari sebelumnya. Menyadari apa yang hampir terjadi di antara mereka, mata pemuda itu menyiratkan rasa bersalah yang bercampur dengan kebingungan.

"Nara..." panggil Raka lembut.

Ia melangkah maju sedikit, tapi segera berhenti ketika melihat Nara semakin mundur. Raka menjaga jaraknya. "Biar kuantar kamu pulang sekarang, ini sudah terlalu malam."

"Tidak."

Suara Nara keluar bergetar, hampir seperti bisikan ketakutan.

Ia menggeleng keras.

Raka mengerutkan kening, raut kekhawatirannya kembali muncul. "Nara, sungguh, soal barusan aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu takut, tolong biarkan aku mengantarmu dengan aman."

"Tolong, Raka," potong Nara cepat, suaranya pecah, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. "Jangan ikuti aku."

Raka terdiam.

Tangannya yang sempat terulur perlahan turun kembali ke sisi tubuhnya. Ia adalah pria yang santai, pria yang tidak pernah memaksakan kehendaknya pada siapa pun. Melihat betapa hancur dan paniknya gadis di depannya, Raka memilih untuk menghormati batasan itu.

Ia mengangguk pelan, rahangnya sedikit mengeras menahan kekecewaan pada dirinya sendiri.

"Hati-hati, Nara."

Nara tidak menunggu kalimat pemuda itu selesai.

Ia membalikkan badan dan langsung berjalan cepat menjauhi kerumunan, membelah keheningan taman kota.

Ia tidak menoleh ke belakang.

Ia tahu Raka masih berdiri di sana, menatap punggungnya yang perlahan menghilang ditelan bayangan pepohonan.

Di bawah balutan jaket denim yang kebesaran itu, Nara berjalan setengah berlari menyusuri trotoar yang remang.

Udara malam terasa menusuk, namun wajahnya terasa panas oleh air mata yang akhirnya jatuh membasahi pipi.

Jantungnya masih berdetak liar.

Pikirannya hancur berantakan.

Ia baru saja hampir membiarkan hal gila itu terjadi, ia hampir berciuman dengan ayahnya sendiri di masa lalu.

Langkahnya semakin cepat, seolah ia bisa berlari dari dosa dan takdir yang menjeratnya.

Aruna benar.

Waktu adalah sungai yang arus bawahnya sangat mematikan.

Dan malam ini, Nara menyadari dengan kengerian yang absolut... ia sedang tenggelam.

Tepat ke dasar pusarannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!