Pernikahan yang di dasari oleh paksaan sering kali tidak berjalan harmonis dan ironisnya Nika dan Devan harus terlibat di hubungan yang seperti itu.
Nika yang menyetujui pernikahan itu hanya karena semata mata untuk keselamatan perusahaan keluarga nya yang sudah susah payah di bangun oleh para sesepuh keluarganya.
Sedangkan Devan yang menyusulkan persyaratan pernikahan sebagai jaminan bukan semata mata menginginkan tubuh Nika sebagai hadiah dari kedermawanannya menyelamatkan perusahaan keluarga Nika namun jauh dari itu Devan memiliki alasan tersembunyi yang jauh dari perkiraan Nika.
Dan sepanjang pernikahan yang sudah berjalan Nika yang memang memiliki watak yang keras kepala sering sekali memberikan perilaku dingin dan kata kata menyakitkan pada Devan suaminya hanya untuk membuat pria itu menyerah akan pernikahan mereka.
Dan saat harapan Nika hampir terwujud mengapa bukan senang yang ia rasakan? Novel ini akan menceritakan perjuangan Nika untuk kembali mengambil hati suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Topeng yang Retak
Perjalanan pulang dari luar kota terasa jauh lebih singkat dibandingkan malam pencekam sebelumnya. Di dalam mobil SUV milik Devan, suasana begitu hangat; jemari Nika tertaut erat di atas kendali persneling dengan jemari Devan. Cincin klasik itu berkilau tertimpa cahaya matahari pagi yang menembus kaca depan. Nika merasa seolah-olah beban seberat gunung telah terangkat dari pundaknya. Ia menatap profil samping suaminya—rahang yang tegas, tatapan mata yang kini lebih lembut, dan senyum tipis yang sesekali muncul saat Devan meliriknya.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Devan, suaranya rendah dan penuh godaan.
"Hanya sedang memastikan kalau ini bukan mimpi, Mas," jawab Nika manja, menyandarkan kepalanya di bahu Devan. "Aku merasa... akhirnya aku bisa bernapas dengan benar."
Devan terkekeh pelan, mengecup punggung tangan Nika. "Ini nyata, Ni. Dan aku tidak akan membiarkanmu sesak napas lagi. Kita akan mulai semuanya dari nol. Tanpa tekanan, tanpa akting di depan kamera atau kolega."
Namun, kebahagiaan itu seolah terbentur tembok beton saat mereka sampai di halaman rumah besar milik orang tua Nika. Ayah Nika, Pak Batubara, sudah berdiri di beranda dengan wajah yang tidak bersahabat. Di sampingnya, Ibu Nika tampak cemas, meremas sapu tangan di tangannya. Nika mengernyit; biasanya ayahnya akan menyambut Devan dengan pelukan formal yang penuh basa-basi bisnis, tapi kali ini, aura di sana terasa sangat dingin.
"Turunlah. Sepertinya Papa ingin bicara hal penting," ucap Devan, raut wajahnya kembali serius dan waspada.
Begitu mereka melangkah masuk ke ruang tamu yang megah namun kaku itu, Pak Batubara tidak memberikan basa-basi sedikit pun. Ia melemparkan sebuah koran bisnis ke meja marmer di depan Devan.
"Apa maksudnya ini, Devan? Aku dengar kamu membatalkan kontrak suplai material dengan perusahaan pamanmu sendiri untuk proyek Bali? Dan kamu mengalihkan aset pribadimu kepada Nika tanpa persetujuanku?" suara Pak Batubara menggelegar, penuh otoritas yang menuntut.
Nika tertegun. Ia menoleh ke arah Devan, lalu ke arah ayahnya. "Papa? Apa hubungannya aset Mas Devan dengan persetujuan Papa? Itu hak Mas Devan sebagai suami."
"Diam kamu, Nika! Kamu tidak tahu apa-apa!" bentak ayahnya. "Perjodohan ini dibuat agar aliran modal antara perusahaan kita dan Adiguna Group tetap terjaga. Jika Devan mulai bertindak sendiri tanpa melibatkan keluarga besar kita, maka kesepakatan di balik layar itu batal!"
Devan berdiri tegak, melindungi Nika di belakang punggungnya. Tatapannya tajam, menatap mertuanya tanpa rasa takut. "Kesepakatan apa, Pak? Kesepakatan di mana Anda menggunakan putri Anda sendiri sebagai jaminan utang perusahaan Anda yang hampir bangkrut setahun lalu? Atau kesepakatan di mana saya harus menutup mata atas penggelapan dana material yang dilakukan paman Nika?"
Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Nika merasa dunianya seolah berputar. Jaminan utang? Bangkrut?
"Mas... apa maksudnya ini?" bisik Nika, suaranya bergetar.
Devan berbalik sejenak, menatap Nika dengan tatapan penuh penyesalan. "Maafkan aku, Ni. Aku merahasiakan ini karena aku ingin kamu mencintaiku tanpa merasa berhutang budi atau merasa terhina. Setahun lalu, perusahaan Papamu berada di ambang kehancuran. Beliau memintaku menyuntikkan dana besar dengan syarat... aku harus menikahimu agar hubungan bisnis ini bersifat permanen."
Pak Batubara memerah wajahnya. "Aku melakukan itu untuk masa depanmu juga, Nika! Agar kamu tetap bisa hidup mewah!"
"Mewah?" Nika melangkah maju, air mata kemarahan mulai mengalir di pipinya. "Papa menjualku! Papa membiarkanku merasa bersalah selama enam bulan karena mengira aku adalah beban bagi Mas Devan, padahal Papa yang menjadikan aku barang dagangan!"
Nika tertawa getir, sebuah tawa yang penuh dengan rasa sakit yang mendalam. Ia teringat betapa ia sering menyalahkan Devan atas "perjodohan paksa" ini, padahal Devan adalah orang yang membayar harga sangat mahal untuk menyelamatkan keluarganya, sekaligus menanggung kebencian Nika setiap harinya.
"Dan sekarang," lanjut Devan dengan nada dingin pada Pak Batubara, "Saya sudah mengalihkan sebagian besar aset saya atas nama Nika. Secara hukum, Nika kini memiliki kekuatan untuk memutuskan apakah dia ingin terus membantu perusahaan Anda atau tidak. Saya tidak lagi terikat pada perjanjian gelap Anda. Saya hanya terikat pada janji saya untuk membahagiakan istri saya."
Ibu Nika mulai menangis. "Maafkan kami, Nika... Papa hanya terlalu kalap saat itu."
"Jangan minta maaf padaku, Ma. Minta maaflah pada Mas Devan yang sudah Papa injak-injak harga dirinya selama ini," ucap Nika tegas. Ia meraih tangan Devan, menggenggamnya kuat-kuat. "Ayo pergi, Mas. Rumah ini bukan lagi tempatku."
"Nika! Kalau kamu pergi sekarang, jangan harap kamu bisa kembali lagi ke keluarga ini!" teriak ayahnya.
Nika berhenti di ambang pintu. Ia menoleh perlahan, menyeka air matanya dengan ujung jari yang mengenakan cincin dari Devan. "Aku tidak butuh kembali, Pa. Karena aku sudah menemukan rumah yang sebenarnya. Rumah yang tidak dibangun dari utang dan kebohongan, tapi dari kesabaran dan cinta yang tulus."
Mereka melangkah keluar menuju mobil. Di dalam kabin yang sunyi, Nika menangis sejadi-jadinya di bahu Devan. Semua kepingan puzzle kini telah lengkap. Ia menyadari betapa sempurnanya pengorbanan suaminya. Devan tidak hanya memberikan hatinya, tapi juga reputasi dan hartanya untuk melindungi wanita yang bahkan tidak pernah tersenyum padanya di awal pernikahan.
"Kenapa kamu tidak bilang sejak awal, Mas?" tanya Nika di sela isaknya.
"Karena aku ingin kamu memilihku karena aku adalah Devan, bukan karena aku adalah penyelamat keluargamu," jawab Devan sambil mengelus rambut Nika dengan sangat lembut. "Aku ingin hatimu merdeka, Ni. Bukan terpaksa karena rasa terima kasih."
Nika mendongak, menatap mata Devan yang kini juga berkaca-kaca. Ia menyadari satu hal yang luar biasa: penyesalannya yang kemarin terasa begitu besar, kini berubah menjadi rasa syukur yang tak terhingga. Ia memang menyia-nyiakan sosok sempurna ini di masa lalu, tapi ia bersumpah akan menggunakan setiap detik di masa depannya untuk membayar semua itu dengan cinta yang lebih besar.
"Mas..." bisik Nika. "Ayo kita buat pesta pernikahan kita sendiri. Kali ini, tanpa ada urusan bisnis. Hanya kita berdua, dan orang-orang yang benar-benar menyayangi kita."
Devan tersenyum, sebuah senyum yang sangat cerah, seolah-olah awan mendung di atas pernikahan mereka telah benar-benar sirna. "Tentu. Tapi jangan ada ikan asin di menu kateringnya, ya? Aku tidak ingin tamu-tamu kita pingsan karena aromanya."
Nika tertawa kecil di tengah sisa air matanya, mencubit lengan Devan dengan gemas. "Enak saja! Ikan asin itu yang membuat kita bersatu lagi, tahu!"
"Iya, iya. Sang penakluk hati beraroma terasi," canda Devan sambil menyalakan mesin mobil.
Mereka meninggalkan gerbang rumah Batubara, menuju masa depan yang meskipun tidak pasti, namun terasa jauh lebih kokoh karena dibangun di atas kejujuran yang pahit namun membebaskan. Nika tahu perjuangan mereka belum selesai—masih ada masalah perusahaan dan kemarahan ayahnya—tapi selama tangan Devan berada di dalam genggamannya, ia yakin pondasi cinta mereka tidak akan pernah retak lagi oleh badai mana pun.