Sebuah rumah kontrakan tua di pinggiran kota terlihat seperti rumah biasa.
Catnya kusam, halamannya sepi, dan harganya sangat murah. Terlalu murah untuk ukuran rumah sebesar itu.
Karena kebutuhan dan kondisi keuangan, tiga sahabat Raka, Bima, dan Siska memutuskan untuk menempatinya tanpa banyak bertanya.
Namun sejak malam pertama, mereka mulai menyadari bahwa rumah itu menyimpan sesuatu yang tidak biasa.
Pintu sering terbuka sendiri.
Kursi goyang bergerak tanpa ada yang menyentuh. Terdengar suara langkah dari loteng setiap tengah malam.
Dan yang paling mengejutkan… rumah itu ternyata sudah lama dihuni oleh makhluk tak kasat mata.
Pocong yang suka memasak mie di dapur. Kuntilanak yang gemar menonton sinetron.
Hingga sosok misterius dari kamar belakang yang jarang muncul, namun selalu membuat bulu kuduk berdiri.
Di rumah itu, manusia dan hantu hidup berdampingan… meski tidak selalu damai.
Karena satu per satu rahasia rumah tersebut mulai terungkap.
ini bukan rumah biasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Tengah Malam
Tamu Tengah Malam
Ketukan di pintu depan semakin keras.
TOK…
TOK…
TOK…
Suasana di ruang tamu langsung berubah tegang. Hujan yang tadi berhenti tiba-tiba turun lagi, disertai angin yang membuat jendela rumah bergetar.
Bima sudah hampir menangis.
“Rak… kita pura-pura nggak ada orang aja ya…”
Raka yang sebenarnya juga takut mencoba tetap tenang.
“Masalahnya… hantunya sudah tahu kita di sini.”
Siska menatap ke arah pintu dengan wajah pucat.
“Siapa sebenarnya yang di luar?”
Ucup yang berdiri di tengah ruangan terlihat gelisah. Ia tidak lagi usil seperti tadi.
“Itu… penagih rumah.”
Bima langsung bingung.
“Penagih rumah apaan?!”
Pocong yang masih duduk di dapur menjawab sambil mengaduk mie.
“Hantu yang dulu juga pernah tinggal di sini… tapi diusir.”
Bima makin panik.
“Terus sekarang dia mau apa?!”
Ucup menjawab pelan.
“Mau masuk lagi.”
Ketukan di pintu tiba-tiba berubah menjadi lebih keras.
BAM!
BAM!
BAM!
Seolah-olah seseorang memukul pintu dengan sangat kuat.
Siska mundur beberapa langkah.
“Dia marah…”
Kakek tua berjalan pelan menuju pintu.
Langkahnya tenang, tapi wajahnya sangat serius.
“Sudah lama dia tidak datang,” gumamnya.
Raka memberanikan diri bertanya.
“Kenapa dia diusir dari rumah ini?”
Kakek tidak langsung menjawab.
Ia berhenti tepat di depan pintu.
Lalu berkata pelan,
“Karena dia bukan hanya ingin tinggal…”
Semua menunggu.
Kakek melanjutkan,
“…dia ingin menguasai rumah ini.”
Bima langsung memegang kepala lagi.
“Rak… kita kontrak rumahnya salah.”
Dari luar terdengar suara berat lagi.
“BUKA PINTUNYA!”
Angin tiba-tiba meniup keras hingga jendela bergetar.
Kuntilanak yang tadi santai sekarang berdiri.
“Dia makin tidak sabar.”
Ucup berbisik ke Raka.
“Kalau pintunya dibuka… dia akan mencoba masuk.”
“Kalau tidak dibuka?”
Ucup mengangkat bahu.
“Dia bisa marah.”
Bima langsung berkata cepat,
“Jangan dibuka!”
Namun tiba-tiba…
PINTU DEPAN BERGETAR.
BUM!
BUM!
BUM!
Seolah ada sesuatu besar yang menabraknya dari luar.
Siska menjerit.
“Dia mau mendobrak!”
Kakek tua akhirnya membuka suara dengan tegas.
“Cukup.”
Ia memegang gagang pintu.
Semua langsung panik.
Bima berteriak,
“KEK JANGAN DIBUKA!”
Namun…
KLIK.
Pintu itu terbuka perlahan.
KREEEEET…
Angin dingin langsung masuk ke dalam rumah.
Di depan pintu berdiri sosok tinggi dengan pakaian hitam panjang.
Wajahnya pucat dan matanya gelap.
Ia menatap ke dalam rumah dengan senyum tipis.
“Akhirnya… pintu ini dibuka lagi.”
Ucup langsung bersembunyi di belakang sofa.
Pocong berhenti makan mie.
Kuntilanak melipat tangan.
Raka, Bima, dan Siska hanya bisa berdiri kaku.
Sosok itu melangkah satu langkah ke depan.
Namun tepat saat kakinya hampir melewati ambang pintu…
Tiba-tiba tubuhnya terpental.
BRAK!
Ia terdorong mundur seperti menabrak tembok tak terlihat.
Bima melongo.
“Loh?”
Sosok itu berdiri lagi dengan wajah kesal.
Kakek berkata tenang,
“Rumah ini masih dilindungi.”
Sosok itu tertawa pelan.
“Hanya masalah waktu.”
Ia menatap ke dalam rumah.
Lalu matanya berhenti pada tiga manusia yang berdiri ketakutan.
Raka.
Bima.
Siska.
Senyumnya berubah lebih lebar.
“Ah… sekarang ada manusia.”
Bima langsung bersembunyi di belakang Raka lagi.
Sosok itu berkata pelan,
“Kalau begitu… permainan akan lebih menarik.”
Kakek menatapnya tajam.
“Pergi dari sini.”
Sosok itu tertawa lagi.
“Untuk malam ini… iya.”
Ia mulai mundur perlahan ke arah kegelapan di luar.
Namun sebelum benar-benar pergi, ia berkata dengan suara dingin.
“Aku akan kembali.”
Ia menunjuk ke arah rumah.
“Dan saat aku kembali… rumah ini akan menjadi milikku.”
Angin tiba-tiba berhembus kencang.
Lampu rumah berkedip.
Lalu sosok itu… menghilang dalam kegelapan gang.
Pintu rumah perlahan tertutup sendiri.
KREEET…
Suasana kembali sunyi.
Beberapa detik tidak ada yang bicara.
Lalu Bima berkata pelan,
“Rak…”
“Iya?”
“Besok kita cari kontrakan lain ya?”
Pocong langsung protes dari dapur.
“Eh jangan! Nanti aku makan mie sendirian lagi!”
Ucup juga ikut memohon.
“Aku juga belum sempat main sama kalian!”
Kuntilanak menambahkan santai,
“Lagipula kalian sudah terlanjur tinggal di sini.”
Raka mengerutkan kening.
“Maksudnya?”
Kakek menatap mereka dengan wajah serius.
“Sekarang… kalian juga bagian dari rumah ini.”
Semua langsung terdiam.
Bima gemetar.
“Bagian… dari rumah ini?”
Kakek mengangguk pelan.
“Dan mulai malam ini…”
Ia melihat ke arah pintu depan.
“…kalian juga ikut menjadi targetnya.”
Bima langsung berteriak.
“RAK! KITA TERJEBAK DI RUMAH HANTU!”
Jika rasa penasaran kalian sudah tak tertahan, pastikan kalian terus mengikuti perjalanan ini… dan jangan lupa mampir untuk membaca, karena setiap halaman menyimpan rahasia yang tak akan kalian lihat sebelumnya. 🙏
Tulis di komentar ya 👇 Jangan lupa like dan vote supaya cerita ini terus lanjut ke session 2 ya...👍