Zafira adalah perempuan sederhana yang hidup tenang—sampai satu malam mengubah segalanya. Ia dituduh mengandung anak Atharv, pewaris keluarga terpandang.
Bukti palsu, kesaksian yang direkayasa, dan tekanan keluarga membuat kebenaran terkubur.
Demi menjaga nama baik keluarga, pernikahan diputuskan sepihak.
Atharv menikahi Zahira bukan sebagai istri, melainkan hukuman.
Tidak ada resepsi hangat, tidak ada malam pertama—hanya dingin, jarak, dan luka yang terus bertambah.
Setiap hari Zahira hidup sebagai istri yang tak diinginkan.
Setiap malam Atharv tidur dengan amarah dan keyakinan bahwa ia dikhianati.
Namun perlahan, Atharv melihat hal-hal yang tidak seharusnya ada pada perempuan licik:
Ketulusan yang tak dibuat-buat
Air mata yang disembunyikan.
Kesabaran yang tak wajar.
Kebenaran akhirnya mulai retak.
Dan orang yang sebenarnya bersalah masih bersembunyi di balik fitnah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjauh
Pertemuan singkat dengan Raisa meninggalkan luka yang jauh lebih dalam dari yang Zafira kira.
Senyum sinis itu, kata-kata tajam yang dibungkus ejekan, semuanya kembali berputar di kepalanya seperti gema yang tak kunjung reda. Zafira berjalan perlahan meninggalkan halaman mansion, langkahnya terasa berat, seolah setiap inci tanah menahan kakinya untuk bergerak.
Sesampainya di dalam kamar, ia menutup pintu dan bersandar di sana cukup lama. Tangannya gemetar, dadanya kembali sesak. Rasa sakit itu tidak lagi berbentuk air mata yang mengalir deras, melainkan nyeri yang diam—mengendap, menekan, dan melelahkan.
“Aku harus kuat…” bisiknya pada diri sendiri.
Zafira duduk di tepi ranjang, menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang kacau.
Ia mengingat semua yang telah terjadi dalam hidupnya—fitnah, pernikahan yang dipaksakan, jarak Atharv yang semakin dingin, dan kini kehadiran Raisa yang seolah datang hanya untuk memastikan luka itu tetap terbuka.
Namun untuk pertama kalinya, Zafira tidak membiarkan dirinya runtuh. Ia mengusap wajahnya, mengangkat kepalanya perlahan. Jika selama ini ia bertahan karena terpaksa, kini ia ingin bertahan karena dirinya sendiri.
Ia mungkin terluka, mungkin sendirian, tetapi Zafira tahu satu hal—ia tidak boleh membiarkan siapa pun melihatnya kalah. Tidak oleh fitnah, tidak oleh kesunyian, dan tidak oleh perempuan yang pernah berusaha menghancurkan hidupnya.
Malam turun dengan sunyi yang menenangkan, atau setidaknya itu yang Zafira harapkan. Ia duduk di tepi ranjang, menatap jendela yang terbuka sedikit.
Lampu taman berpendar lembut, angin malam menyentuh wajahnya pelan. Untuk sesaat, ia merasa tenang—sendirian, tanpa suara, tanpa tuntutan.
Namun ketenangan itu hancur seketika.
Pintu kamarnya terbuka dengan hentakan keras. Zafira tersentak dan spontan memalingkan pandangannya.
Jantungnya berdegup kencang saat melihat Atharv berdiri di ambang pintu, wajahnya gelap, sorot matanya penuh amarah yang asing dan menakutkan.
“K-kamu sudah pulang?” tanya Zafira pelan, suaranya bergetar.
Atharv tidak menjawab.
Ia melangkah mendekat dengan cepat. Terlalu cepat. Zafira bahkan tak sempat berdiri ketika suara tamparan keras mendarat di pipinya.
Tubuhnya terhuyung, kepalanya berdenyut, rasa perih menyebar bersamaan dengan rasa kaget yang membuat napasnya tercekat.
“Apa yang kau lakukan di belakangku, Zafira?” bentak Atharv, suaranya dingin dan tajam. “Raisa datang menemuiku. Katanya kau sering bersama pria lain saat aku tidak ada di rumah.”
Zafira membeku. Tangannya gemetar menyentuh pipinya yang panas.
“A-apa? Itu tidak benar,” ucapnya terbata, matanya berkaca-kaca. “Aku tidak pernah—”
“Berhenti berbohong!” Atharv memotong keras. “Aku sudah muak dengan cerita dan alasanmu.”
Air mata Zafira jatuh. Dadanya terasa sesak, lebih sakit daripada tamparan itu sendiri.
“Itu fitnah, Atharv,” katanya lirih namun tegas. “Sama seperti yang dulu. Raisa berbohong lagi.”
Atharv terdiam sesaat, napasnya berat. Namun keraguan tak serta-merta meredakan amarahnya.
Di hadapan Zafira yang gemetar dan terluka, satu pertanyaan menggantung menyakitkan di udara:
apakah ini akan kembali menjadi fitnah yang menghancurkan hidupnya, ataukah kebenaran akhirnya akan diberi ruang untuk didengar?
Zafira menguatkan dirinya, meski tubuhnya masih gemetar dan pipinya terasa perih. Dengan napas tersengal, ia mengangkat wajahnya menatap Atharv tatapan yang penuh luka, tapi juga kejujuran.
“A-aku tidak tahu apa yang Raisa katakan kepadamu, Atharv,” ucapnya terbata, suaranya nyaris pecah. “Tapi aku tidak pernah bersama pria lain saat kamu tidak ada di rumah, Atharv. Tidak pernah.”
Atharv menatapnya tajam, rahangnya mengeras.
“Kau berharap aku percaya begitu saja?” katanya dingin.
“Aku bersumpah,” jawab Zafira lirih namun tegas, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. “Aku bahkan jarang keluar rumah. Hidupku hanya di sini. Aku menanggung diam, jarak, dan kesunyianmu aku tidak punya siapa-siapa.”
Keheningan menyelimuti kamar itu. Zafira berdiri terpaku, menunggu keputusan yang terasa seperti vonis.
Di antara mereka, fitnah kembali berdiri sebagai dinding tinggi—dan Zafira hanya bisa berharap, kali ini, kebenaran tak lagi kalah oleh amarah.
Zafira melangkah setengah langkah mendekat, meski lututnya terasa lemah. Suaranya bergetar hebat, namun ia memaksakan keberanian yang tersisa.
“Walaupun pernikahan ini hanya karena fitnah,” katanya lirih, “tapi aku benar-benar tidak pernah seperti itu, Atharv. Aku tidak pernah mengkhianatimu bahkan sejak awal aku tidak pernah punya siapa pun.”
Atharv tertawa pendek, hambar, penuh amarah yang belum padam.
“Cukup,” potongnya dingin. “Aku sudah mendengar semuanya di kantor. Raisa tidak datang hanya membawa kata-kata kosong.”
“Itu bohong,” Zafira menggeleng cepat. “Dia selalu memfitnahku. Dari dulu sampai sekarang.”
“Diam!” suara Atharv meninggi lagi, membuat Zafira tersentak. “Aku melihat sendiri bagaimana dia bersikeras. Kau pikir aku sebodoh itu untuk tidak meragukanmu?”
Zafira terdiam. Dadanya terasa seperti diremas kuat-kuat.
“Jadi kau tetap tidak percaya padaku?” tanyanya nyaris tak bersuara.
Atharv menatapnya tajam, tanpa ragu.
“Tidak,” jawabnya singkat dan menusuk. “Aku sudah terlalu marah untuk mendengarkan pembelaanmu.”
Kata itu mematahkan sesuatu di dalam diri Zafira. Ia berdiri kaku, air matanya jatuh tanpa suara.
Bukan hanya karena tuduhan itu, tapi karena ia sadar sekali lagi, fitnah telah lebih dipercaya daripada dirinya. Dan malam itu, ia kehilangan harapan kecil yang sempat ia genggam bahwa Atharv akan berdiri di pihaknya.
Air mata Zafira semakin deras mengalir, jatuh tanpa bisa ia kendalikan. Dadanya terasa sesak, seolah ada beban besar yang menekan napasnya hingga sulit ditarik.
Kakinya terasa lemah, dan untuk sesaat ia benar-benar ingin menyerah menyerah pada pernikahan ini, pada fitnah, pada rasa sakit yang seakan tak pernah memberinya jeda.
Ia menundukkan kepalanya, bahunya bergetar hebat. Suaranya keluar lirih, hampir tak terdengar, penuh kelelahan yang menahun.
“Hari ini dia datang menemuiku,” gumam Zafira.
Atharv terdiam.
“Aku bertemu Raisa di halaman mansion,” lanjut Zafira dengan suara pecah. “Aku tidak mencarinya. Aku tidak mengundangnya. Dia datang sendiri dan mengatakan hal-hal yang sama, seperti dulu.”
Ia mengusap air matanya kasar, menahan isak yang kembali naik.
“Aku mencoba kuat, Atharv. Aku mencoba diam. Tapi apa pun yang aku lakukan, aku selalu salah di matamu.”
Zafira mengangkat wajahnya sedikit, namun tak berani menatap pria itu sepenuhnya.
“Kalau memang aku seburuk itu di matamu,” katanya lirih, penuh putus asa, “katakan saja supaya aku tahu seberapa jauh lagi aku harus bertahan.”
Keheningan jatuh di antara mereka berat, menyesakkan—sementara Zafira berdiri dengan hati yang hampir hancur sepenuhnya.
Zafira menarik napas panjang, seolah mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. Ia menyeka air matanya perlahan, lalu menundukkan kepala lebih dalam.
Ada kelelahan yang begitu nyata di wajahnya kelelahan karena terus membela diri tanpa pernah benar-benar didengar.
“A-aku akan mencoba memahami kamu,” ucapnya lirih. “Mungkin kemarahanmu, kecurigaanmu semua itu terlalu berat untukku lawan sekarang.”
Ia melangkah mundur satu langkah, memberi jarak di antara mereka.
Bukan karena benci, melainkan karena ingin melindungi dirinya sendiri dari luka yang terus bertambah.
“Mulai sekarang, aku akan menjauh. Aku tidak akan mengganggumu, tidak akan berharap apa pun lagi.”
Zafira mengangkat wajahnya sebentar, menatap Atharv dengan mata yang basah namun kosong.
“Mungkin dengan begitu kamu akan lebih tenang.”
Tanpa menunggu jawaban, ia memalingkan tubuhnya, melangkah perlahan menjauh. Setiap langkah terasa berat, namun juga pasti.
Malam itu, Zafira memilih diam dan menjauh bukan karena kalah, melainkan karena ia sudah terlalu lelah untuk terus terluka.
Sebelum Atharv benar-benar berbalik meninggalkannya, Zafira menghentikannya dengan suara yang hampir tak terdengar.
Tubuhnya masih menghadap lantai, jemarinya saling menggenggam erat seolah menahan dirinya agar tidak runtuh.
“Asingkan aku ke tempat yang jauh,” ucapnya lirih namun jelas, sarat keputusasaan. “Agar aku tidak melihatmu lagi, agar aku tidak terus berharap pada seseorang yang tidak pernah percaya padaku.”
Atharv terdiam sejenak di tempatnya berdiri. Zafira melanjutkan, suaranya bergetar hebat.
“Mungkin dengan begitu, hidupmu akan lebih tenang. Dan a-aku bisa berhenti merasa sakit setiap kali menatapmu.”
Tak ada tangisan keras, hanya air mata yang jatuh satu per satu, sunyi dan menyedihkan. Kalimat itu bukan permintaan manja, melainkan penyerahan diri—sebuah pengakuan bahwa bertahan di dekat
Atharv justru menghancurkannya perlahan.
Keheningan kembali menggantung.
Dan sebelum Atharv menjawab atau mungkin tanpa jawaban sama sekali jarak di antara mereka terasa semakin jauh, lebih jauh dari sekadar satu langkah kaki.