"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."
Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.
Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.
Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.
Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 9
Jakarta selalu memiliki aroma yang sama, campuran antara debu jalanan, asap knalpot, dan ambisi yang tidak pernah padam. Namun bagi Kirana, kepulangannya kali ini membawa aroma yang berbeda, aroma pembalasan yang dingin.
Tiga bulan di Singapura dan pengasingan di Bogor telah mengubah segalanya. Tidak ada lagi Kirana yang ragu. Di bawah bimbingan Reza, ia telah membangun Nirmala Capital menjadi kekuatan misterius yang mulai menggerogoti kaki-kaki kekuasaan Mahendra Group.
Namun, untuk menghancurkan sebuah dinasti, ia tidak bisa hanya menyerang dari luar. Ia harus masuk ke jantung pertahanan mereka, membiarkan musuhnya merasa menang, lalu menghancurkannya dari dalam.
Malam itu, Hotel Ritz-Carlton Jakarta menjadi saksi bisu kembalinya sang 'Ratu Es'. Acara Investment Summit yang diadakan oleh konsorsium perbankan adalah tempat di mana keluarga Mahendra sedang mengemis kepercayaan investor untuk proyek hotel di Bali yang kini mangkrak dan hampir bangkrut.
Kirana turun dari Mercedes-Maybach hitam pekat. Ia mengenakan gaun sutra berwarna perak metalik yang jatuh dengan sempurna di tubuhnya yang kini tampak lebih ramping namun tegap. Rambutnya yang dipotong bob tajam memberikan kesan wanita yang sangat berkuasa. Ia tidak mengenakan perhiasan apa pun kecuali sebuah jam tangan pria berukuran besar di pergelangan tangannya untuk sebuah simbol dominasi.
"Ingat, Kirana," suara Reza terdengar melalui earpiece kecil yang tersembunyi. "Arka adalah mangsa yang lapar. Dia sedang terpojok secara finansial. Dia akan mencari siapa saja yang bisa menyelamatkannya. Jadilah penyelamat itu, tapi jangan biarkan dia menyentuh jiwamu lagi."
Kirana menarik napas panjang, membenarkan letak gaunnya, dan melangkah masuk.
Di dalam ballroom, suasana terasa tegang bagi keluarga Mahendra. Arka tampak lebih kurus. Wajahnya yang biasanya penuh kesombongan kini dihiasi gurat kecemasan yang ia tutupi dengan senyum palsu. Skandal taruhan itu telah membuatnya menjadi paria di mata beberapa kolega bisnis lama, meskipun kekayaan ayahnya masih mampu melindunginya dari jeratan hukum.
"Belum ada kabar dari perwakilan Nirmala Capital?" tanya Surya Mahendra dengan suara rendah yang penuh amarah.
"Belum, Ayah. Mereka bilang akan mengirimkan CEO mereka langsung malam ini," jawab Arka, matanya gelisah menyisir ruangan.
Tiba-tiba, suara riuh rendah terdengar dari arah pintu masuk. Kerumunan wartawan dan pengusaha terbelah seperti Laut Merah. Kirana berjalan masuk dengan langkah yang sangat tenang. Ia tidak menoleh ke kiri atau ke kanan. Tujuannya hanya satu, meja utama di mana keluarga Mahendra duduk.
Arka terpaku. Gelas sampanye di tangannya hampir terjatuh. Matanya membelalak, tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Kirana?" gumamnya, suaranya bergetar antara kaget dan tidak percaya.
Kirana sampai di depan meja mereka. Ia tidak tersenyum. Ia hanya menatap Surya dan Arka bergantian dengan tatapan yang sangat profesional dan dingin.
"Selamat malam, Pak Surya. Pak Arka," suara Kirana terdengar sangat jernih dan berwibawa. "Saya Kirana, CEO dari Nirmala Capital. Saya di sini untuk membahas minat kami terhadap proyek Bali Anda."
Surya Mahendra berdiri, wajahnya menunjukkan kebingungan yang bercampur dengan rasa hormat yang dipaksakan. "Kirana? Bagaimana bisa... maksud saya, kami mengira Anda sudah..."
"Sudah hancur?" Kirana memotong dengan senyum tipis yang mematikan. "Dunia bisnis tidak pernah berhenti hanya karena satu malam yang buruk, Pak Surya. Saya telah beralih ke investasi strategis, dan kebetulan, aset Mahendra Group di Bali masuk dalam kriteria kami."
Arka melangkah maju, mencoba mendekati Kirana. "Kirana, aku tidak percaya ini kau. Kau terlihat... berbeda."
Kirana menatap Arka seolah-olah pria itu hanyalah debu di sepatunya. "Pak Arka, di ruangan ini, saya adalah investor Anda. Bukan mantan rekan bisnis atau apa pun yang Anda pikirkan. Bisakah kita bicara secara profesional?"
Pertemuan itu berlanjut di ruang VIP yang lebih privat. Surya, Arka, dan Kirana duduk mengelilingi meja bundar. Kirana mengeluarkan tabletnya dan mulai memaparkan angka-angka yang membuat Surya terperangah. Ia tahu setiap celah kebocoran keuangan mereka.
"Saya bersedia menyuntikkan dana sebesar lima ratus miliar rupiah untuk menyelamatkan proyek Bali," ujar Kirana tenang. "Tapi dengan satu syarat. Manajemen proyek harus berada di bawah kendali Nirmala Capital secara penuh, dan Pak Arka harus bekerja langsung di bawah pengawasan saya sebagai manajer lapangan."
Arka terkejut. "Bekerja di bawah pengawasanmu? Di lapangan?"
"Jika Anda ingin menyelamatkan nama keluarga Anda, Pak Arka, Anda harus membuktikan bahwa Anda bisa bekerja, bukan hanya bertaruh," balas Kirana tajam.
Surya Mahendra tidak punya pilihan lain. Bank sudah memberikan tenggat waktu. Jika malam ini ia tidak mendapatkan komitmen investor, asetnya akan disita. "Kami setuju," ucap Surya berat.
~
Setelah Surya pergi untuk mengurus dokumen awal, tinggal Arka dan Kirana di ruangan itu. Suasana menjadi sangat canggung.
Arka berdiri, mencoba melembutkan ekspresi wajahnya. "Kirana, aku tahu kau membenciku. Aku tahu apa yang terjadi di pesta itu adalah kesalahanku yang paling besar. Tapi melihatmu kembali seperti ini... aku merasa bangga, sekaligus menyesal."
Kirana tidak bergeming. Ia merapikan dokumennya. "Simpan kata-katamu, Arka. Aku di sini untuk bisnis."
"Dengar," Arka mencoba meraih tangan Kirana, namun Kirana dengan cepat menariknya. "Aku sudah berubah. Skandal itu menghancurkanku, Kirana. Aku menyadari bahwa aku telah kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar peduli padaku. Selama tiga bulan ini, aku tidak pernah berhenti mencarimu."
"Kau mencariku untuk menyelamatkan sahammu, bukan untukku," desis Kirana.
"Tidak! Aku serius," Arka tampak sangat emosional. "Aku bahkan kembali ke panti asuhan itu setiap minggu, mencoba menemukan jejakmu di sana. Anak-anak menanyakanmu setiap hari. Aku... aku menyadari bahwa aku tidak hanya menyakitimu, tapi aku menyakiti diriku sendiri."
Arka mengambil sesuatu dari sakunya. Itu adalah kalung safir yang dulu diputuskan oleh Kirana. Rantainya sudah diperbaiki, tampak berkilau di bawah lampu ruangan.
"Aku menyimpannya. Aku memperbaikinya setiap hari, berharap suatu saat aku bisa memakaikannya kembali di lehermu dan memohon pengampunan."
Kirana merasakan getaran kecil di hatinya. Apakah dia berakting lagi? batinnya. Tapi mata Arka tampak sangat berbeda, ada kesedihan yang terlihat sangat nyata di sana. Namun, Kirana segera teringat suara Arka di telepon malam itu. Suara yang tertawa meremehkannya.
"Simpan kalung itu untuk wanita yang akan kau tipu berikutnya, Arka," Kirana berdiri dan berjalan menuju pintu. "Sampai jumpa di lokasi proyek Bali hari Senin besok. Pastikan kau memakai sepatu bot, karena kita akan bekerja di lumpur, bukan di kelab malam."
~~
Hari-hari berikutnya di Bali adalah ujian mental bagi Kirana.
Proyek hotel itu terletak di tebing curam di kawasan Uluwatu. Kirana sengaja memberikan jadwal yang sangat padat bagi Arka. Ia ingin melihat Arka menyerah. Ia ingin melihat Arka mengeluh dan menunjukkan sifat aslinya yang manja.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Arka datang tepat waktu setiap pagi. Ia mengenakan pakaian kerja sederhana, turun langsung ke area konstruksi, berbicara dengan para mandor, dan bahkan ikut mengangkat material saat alat berat mengalami kerusakan. Tidak ada lagi Arka yang sombong.
Suatu sore, hujan deras mengguyur lokasi proyek. Kirana sedang memeriksa draf arsitektur di bedeng darurat saat ia melihat Arka masih di luar, membantu para pekerja menutup tumpukan semen dengan terpal agar tidak rusak terkena air.
Arka masuk ke bedeng dalam keadaan basah kuyup, menggigil kedinginan.
"Kenapa kau lakukan itu? Ada pekerja yang bisa melakukannya," ujar Kirana sambil memberikan handuk tanpa menatapnya.
Arka mengambil handuk itu, tersenyum lemah. "Ini proyek kita, Kirana. Aku tidak ingin mengecewakanmu lagi. Jika semen ini rusak, kita akan terlambat satu hari lagi. Aku tidak ingin Nirmala Capital merugi karena kecerobohanku."
Kirana terdiam. Ia melihat Arka yang menggigil, mencoba menghangatkan tangannya dengan napasnya sendiri. Sisi kemanusiaan dalam diri Kirana mulai goyah. Ia teringat Arka yang dulu ia cintai, Arka yang tampak sangat peduli.
"Minumlah kopi ini," Kirana menyodorkan gelasnya.
Arka menerimanya, jari-jari mereka bersentuhan sesaat. Kali ini, Kirana tidak menarik tangannya dengan cepat.
"Terima kasih, Kirana," bisik Arka. "Kau tahu, bekerja di sini, di bawah perintahmu... ini adalah hal paling jujur yang pernah kulakukan dalam hidupku. Aku merasa seperti manusia lagi, bukan sekadar simbol kekayaan."
Selama seminggu di Bali, Arka menunjukkan perubahan yang luar biasa. Ia tidak lagi merayu dengan kata-kata manis yang murahan. Ia merayu dengan tindakan. Ia membawakan makan siang untuk Kirana, ia memastikan Kirana tidak kelelahan, dan ia selalu mendengarkan setiap instruksi Kirana dengan patuh.
Malam terakhir di Bali, mereka berdiri di tepi tebing, menatap matahari terbenam di Samudra Hindia.
"Kirana," Arka memulai, suaranya terdengar sangat tulus di tengah suara deburan ombak. "Aku tahu aku tidak pantas mendapatkan kesempatan kedua. Tapi aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk membuktikan bahwa aku bukan lagi pria di pesta itu. Aku mencintaimu, bukan karena taruhan, bukan karena bisnis... tapi karena kau adalah satu-satunya cahaya yang tersisa di hidupku yang gelap ini."
Kirana menatap laut luas. Ia merasakan air mata mulai menggenang. Apakah ini jebakan lagi? Atau apakah penderitaan benar-benar bisa mengubah seseorang?
"Arka... jangan lakukan ini," bisik Kirana.
"Aku tidak melakukan apa-apa selain menyatakan kebenaran," Arka mendekat, aroma air laut dan keringat maskulinnya terasa nyata. "Berikan aku satu kesempatan, bukan sebagai CEO, tapi sebagai pria yang ingin menebus kesalahannya."
Kirana menatap mata Arka. Untuk sesaat, ia melihat kembali pria yang ia cintai dulu. Pertahanannya mulai retak. Profesionalismenya mulai goyah oleh serangan 'kelembutan' Arka yang tampak begitu nyata.
Namun, jauh di Jakarta, Reza sedang menatap layar monitornya, memantau komunikasi Arka. Ia melihat sebuah pesan terkirim dari ponsel rahasia Arka kepada ayahnya, Surya Mahendra.
"Dia mulai luluh, Ayah. Rencananya berhasil. Dalam sebulan, Nirmala Capital akan ada di bawah kendali kita. Aku akan memastikan dia memberikan seluruh sahamnya sebagai bukti cintanya padaku."
Kirana tidak tahu bahwa di balik air mata dan kerja keras Arka di lumpur Bali, sebuah jaring laba-laba yang lebih besar dan lebih mematikan sedang ditenun. Dan kali ini, Arka bermain jauh lebih rapi.
...----------------...
Next Episode.....