NovelToon NovelToon
Benih Yang Ku Sembunyikan

Benih Yang Ku Sembunyikan

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Lari Saat Hamil / Berbaikan / Tamat
Popularitas:100.3k
Nilai: 4.7
Nama Author: Ayumarhumah

Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.

Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.

Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Di dalam rumah, Albi duduk di kursi kayu dekat jendela. Nara mengambilkan air hangat, lalu botol obat dari lemari kecil yang sejak dulu tidak pernah benar-benar disembunyikan hanya jarang disebut.

“Ngombe sik,” ujar Nara sambil menyodorkan gelas.

(Minum dulu.)

Albi menurut. Tegukan pertama pelan, yang kedua sedikit lebih lama. Bahunya turun, seolah beban kecil dilepaskan.

“Kowe kok manut saiki?” Nara menatapnya sambil menyilangkan tangan.

(Kamu kok nurut sekarang?)

Albi tersenyum tipis. “Soale sing ngomong bojoku.”

(Karena yang bicara istriku.)

“Wingi-wingi yo bojomu,” balas Nara cepat.

(Kemarin-kemarin juga istrimu.)

“Iya… tapi saiki bojoku nesune alus.”

(Iya… tapi sekarang marahnya lembut.)

Nara mendengus, menahan senyum. “Isih iso guyon, berarti durung parah.”

(Masih bisa bercanda, berarti belum parah.)

“Ngono kuwi tandhane aku sehat,” sahut Albi santai.

“Ngono kuwi tandhane kowe ngeyel,” balas Nara.

Mereka saling pandang. Lalu tertawa kecil, bukan keras, lebih seperti napas yang akhirnya bisa dilepas.

Nara duduk di bangku kecil. Tangannya reflek meraih pergelangan Albi merasakan denyut yang sedikit lebih cepat dari biasanya.

“Bi…” suaranya melembut. “Yen awakmu kesel, ora usah pura-pura kuat. Aku iki ora mung bojomu pas sehat. (Kalau tubuhmu capek, jangan pura-pura kuat. Aku ini bukan istrimu hanya saat kamu sehat.)

Albi menunduk. Matanya menatap lantai beberapa detik.

“Aku ngerti,” katanya pelan. “Aku mung wedi… yen aku ngeluh, omah iki abot.”

(Aku paham. Aku cuma takut… kalau aku terlalu banyak mengeluh, rumah ini jadi berat.)

Nara menggeleng kecil. “Omah iki abot yen kowe meneng. Dudu yen kowe crita.”

(Rumah ini berat kalau kamu diam. Bukan kalau kamu bercerita.)

Kalimat itu jatuh tepat. Albi mengangguk kecil, menyerah dengan caranya sendiri.

“Yo wis,” katanya akhirnya. “Aku janji… yen badan iki ora enak, aku ngomong.”

(Ya sudah. Aku janji… kalau badanku tidak enak, aku akan bilang.)

“Janji karo sopo?”

(Janji sama siapa?)

“Karo bojoku.”

(Sama istriku.)

Nara tersenyum. “Lan karo anakmu.”

(Dan sama anakmu.)

Albi tersenyum lebih lebar kali ini. “Iyo. Karo Arbani uga.”

(Iya. Sama Arbani juga.)

Beberapa saat kemudian, Albi bersandar. Matanya terpejam, napasnya mulai teratur. Nara tidak pergi. Ia tetap duduk di sana, membuka buku catatan kecil di meja, yang isinya bukan jadwal obat, tapi hal-hal remeh: belanja, jadwal sekolah, dan satu tulisan tangan Albi dari entah kapan.

“Yen aku lali, elingno.”

(Kalau aku lupa, ingatkan.)

Nara mengusap dadanya sendiri pelan.

Sembilan tahun. Rumah ini tidak dibangun dari janji besar atau cinta yang meledak-ledak, melainkan dari hal-hal kecil yang dipelihara setiap hari.

Dari luar, rumah itu tampak biasa.

Tapi di dalamnya, ada keberanian untuk berhenti berpura-pura.

Cinta mereka mungkin tidak keras. Tapi cukup kuat untuk membuat seseorang berhenti berpura-pura.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Sore itu, suara langkah kecil terdengar dari luar pagar, Arbani pulang dengan wajah lelah. Anak itu terlalu aktif—les, kegiatan sekolah, dan segala hal yang membuat harinya selalu penuh.

“Bu… Pak… aku muleh.”

(Bu… Pak… aku pulang.)

Nara yang sedang di dapur menoleh. “Arbani wis tekan.”

(Arbani sudah sampai.)

Anak itu masuk dengan tas masih menggantung miring di bahu. Biasanya ia langsung bercerita, tentang temannya, tentang pelajaran, tentang apa saja. Tapi kali ini langkahnya melambat saat melihat ayahnya terbaring di kursi panjang ruang tengah.

“Pak?” panggilnya pelan.

Albi membuka mata, terkejut sepersekian detik, lalu tersenyum. “Lho… wis muleh?”

(Lho… sudah pulang?)

Arbani mengangguk. Ia tidak mendekat dulu. Matanya meneliti wajah ayahnya, pucat yang tidak biasa, napas yang tidak sekuat pagi tadi.

“Pak kok turu sore-sore?”

(Pak kok tidur sore-sore?)

“Pakmu kesel sethithik,” jawab Nara cepat dari arah dapur.

(Ayahmu capek sedikit.)

Arbani meletakkan tasnya pelan. Ia mendekat, berdiri di samping kursi, ragu apakah boleh bicara lebih keras.

“Pak… loro, ya?”

(Pak… sakit, ya?)

Albi hendak menyangkal, tapi mata anak itu terlalu jujur untuk dibohongi. Ia mengangkat tangan sedikit, memberi isyarat agar Arbani mendekat.

“Mrene,” katanya pelan.

(Sini.)

Arbani naik ke kursi, duduk di sisi ayahnya seperti dulu—kepalanya sejajar dada Albi. Tangannya kecil, tapi hangat saat menyentuh lengan ayahnya.

“Pak… aku dina iki oleh nilai apik.”

(Pak… hari ini aku dapat nilai bagus.)

Albi tersenyum. “Pinter tenan.”

(Pintar sekali.)

“Tapi aku ora seneng nek Pak turu terus.”

(Tapi aku nggak suka kalau Pak tidur terus.)

Kalimat itu jatuh tanpa nada menuduh. Justru karena itulah, dadanya Albi terasa ditarik kuat.

“Nak…” suaranya sedikit serak. “Pak iki mung ngaso. Ora ninggal.”

(Nak… Ayah ini cuma istirahat. Bukan pergi.)

Arbani menggeleng pelan. “Aku ngerti. Tapi… nek Pak kesel, ngomong. Ojo meneng.”

(Aku tahu. Tapi… kalau Pak capek, bilang. Jangan diam.)

Nara berhenti di ambang pintu. Tangannya menggenggam kain lap erat-erat.

“Kok kowe iso mikir ngono?” tanya Albi lirih.

(Kok kamu bisa mikir begitu?)

Arbani menunduk, lalu menjawab jujur, “Soale aku wedi.” (Karena aku takut.)

Hening.

“Wedi opo?”

(Takut apa?)

“Wedi nek sesuk Pak ora iso ngancani aku maneh.” (Takut kalau besok Pak nggak bisa nemenin aku lagi.)

Satu kalimat. Dan cukup untuk membuat Albi menutup mata.Tangannya meraih punggung anak itu, memeluk, pelan, tapi penuh.

“Nyuwun ngapunten, Le,” bisiknya.

(Maafkan Ayah, Nak.)

“Pak ora pengin nggawe kowe wedi.”

(Ayah nggak mau bikin kamu takut.)

Arbani menyandarkan kepala ke dada ayahnya. “Aku mung pengin Pak jujur.”

(Aku cuma ingin Pak jujur.)

Albi mengangguk kecil. “Iyo. Pak janji.”

(Iya. Ayah janji.)

Nara mendekat, berlutut di samping mereka. Tangannya mengusap rambut anaknya.

“Kowe wis pinter, Le,” ucapnya lirih.

(Kamu sudah pintar, Nak.)

Arbani mengangkat wajahnya. “Bu… Pak iki duwekku, ya?”

(Bu… Pak ini punyaku, ya?)

Nara menahan napas. “Iyo. Duwekmu.”

(Iya. Punyamu.)

Albi tersenyum, matanya basah tapi tidak jatuh. “Lan Pak yo duweke ibumu.”

(Dan Ayah juga punya ibumu.)

Arbani tersenyum kecil. “Yo wis. Aku lungguh kene wae.”

(Ya sudah. Aku duduk di sini saja.)

Sore itu tidak ada tangis. Hanya satu anak, satu ayah, dan satu ibu yang belajar bahwa kejujuran kadang lebih menenangkan daripada kepura-puraan.

Bersambung ....

Siapin tisunya ya 😭😭😭😭😭

1
Reni Setia
makasih untuk novelnya
Ayumarhumah: sama-sama kak
total 1 replies
Dysha♡💕
Luar biasa
Anifa
terlalu kudet coba aja keluar cari kerja kek
Mazree Gati
untung baca endinya dulu
Rika
bagus
Lia Sakking
banyak bawangnya..AQ berharap masih ada lanjutannya
ratih haerunnisa
alhamdulillah ada translate bahasa indonesianya juga. seru ceritanya. tp kadang ga nyambung karena ga ngerti bahasa jawa. 😄
Naufal hanifah
luar biasa
Susi Almaidah
Ya Allah endingnya nyesek, tpi banyak hikmahnya
Mei Susilowati
sedino pisan itu sehari sekali bukan seminggu sekali😊😊
Sripuan
cerita nya luar biasa, artinya seuntai kata cinta tapi mengandung ungkapan dan makna, seperti kepercayaan, kesabaran, ketulusan, keikhlasan, pengertian, pemahaman, kejujuran dan pengorbanan, dari mereka orang 2 yang memiliki jiwa dan hati nurani yang tulus dan ikhlas, Thor semoga cerita selanjutnya akan lebih mengguncang jiwa dan hati para pembacanya mu, semangat author menulis cerita selanjutnya di tunggu ya 💪💪💪💪💪✍️📖👍😍😍💖💖🥰👩‍❤️‍👩❤️🙏🤲
Endang Sulistia
keren banget
Endang Sulistia
hebat banget Bu bidan....
Endang Sulistia
kok jumpa sih...ganggu aja ni orang😤😤
Endang Sulistia
mewek aku Thor 😭😭😭
Suryati Nurdin
kok aku yg mellow ya
Larasati
nyesek banget 😭😭😭🥀
tugas mu sdah selesai Albi tidak merasakan sakit lagi 😭😭😭😭 asli q nangis di bab ini 😭
Larasati
😭😭😭😭😭
Linggo Yani
suka tapi sedih
Sugiharti Rusli
semoga takdir yang harus memisahkan mereka sekarang jadi bekal bagi Arbani ke depannya dan tetap menjadikan sosok Albi sebagai ayah yang selalu hadir❤❤🤍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!