Ketika dunia seolah runtuh di sekelilingnya, hanya cinta anak-anak yang bisa membangunnya kembali.
Rian baru saja di-PHK ketika rumah tangganya yang sudah berjalan 7 tahun hancur berkeping-keping. Dituduh selingkuh oleh istri, Novi, dan dipermalukan oleh keluarga besarnya, ia tidak punya pilihan selain kembali ke kampung halaman dengan membawa dua anaknya – Hadian dan Alea. Kedua anak itu dengan tegas memilih mengikuti ayahnya, bahkan menolak untuk bertemu dengan ibunda kandung mereka yang kini sudah hidup dengan orang lain.
Di rumah panggung peninggalan orangtuanya, Rian memulai dari nol. Dengan tangan yang terlatih bekerja keras dan dukungan tak lekang dari kedua anaknya, ia mengolah lahan pertanian, membuka peternakan, hingga akhirnya mendirikan perusahaan dan restoran yang sukses.
Setiap langkah kemajuan yang diraihnya tak pernah lepas dari kehadiran Hadian dan Alea. Ketika pertemuan tak terduga dengan Novi dan keluarga barunya terjadi berkali-kali, anak-anak itu tetap berdir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. TUDUHAN SELINGKUH PERTAMA
Udara malam yang segar masuk melalui jendela terbuka, namun suasana di dalam rumah terasa sangat tegang dan penuh dengan ketegangan. Rian baru saja pulang dari mencari pekerjaan harian – hari ini dia berhasil mendapatkan pekerjaan membersihkan kebun rumah seorang pengusaha di kawasan elit Cirebon, membawa pulang sedikit uang yang cukup untuk membeli beras dan telur untuk makan malam.
Dia menemukan Novi sedang duduk di meja makan dengan wajah yang memerah dan tatapan mata yang penuh dengan kemarahan. Di depannya tergeletak sebuah foto kecil yang diambil dari acara perusahaan beberapa bulan yang lalu – foto itu menunjukkan Rian sedang berbincang dengan Siti, seorang rekan kerja wanita dari bagian administrasi yang juga terkena PHK beberapa minggu yang lalu.
“Siapa wanita ini, Rian?” tanya Novi dengan suara yang tinggi dan penuh dengan emosi yang meledak begitu Rian masuk ke dalam rumah. Dia menunjukkan foto itu dengan tangan yang gemetar, matanya sudah mulai berkaca-kaca akibat kemarahan dan kesedihan yang membara di dalam dirinya.
Rian melihat foto itu dengan bingung sebelum akhirnya mengingat momen ketika foto itu diambil. “Itu Siti, rekan kerja dari bagian administrasi,” ujarnya dengan suara yang tenang, mencoba untuk menjelaskan dengan sabar. “Kita sedang berbincang tentang rencana perusahaan untuk mengurangi staf saat itu. Foto itu diambil oleh Anton saat acara ulang tahun perusahaan beberapa bulan yang lalu.”
“Berbincang saja?” balik Novi dengan nada yang penuh dengan ejekan. “Kamu melihat dia dengan mata yang penuh dengan perhatian! Aku sudah curiga sejak dulu kenapa kamu sering pulang terlambat dari kerja sebelum PHK! Apakah kamu sudah selingkuh dengannya sejak itu?”
Rian merasa seperti ada petir yang menyambar langsung ke hatinya. Tuduhan itu begitu besar dan menyakitkan, terutama karena tidak ada sedikit pun kebenaran di dalamnya. “Tidak ada yang seperti itu, Novi!” ujarnya dengan suara yang semakin tinggi, merasa tidak tahan dengan tuduhan yang tidak berdasar itu. “Siti hanya teman kerja saja. Aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya setelah kita semua terkena PHK! Bagaimana bisa kamu menyatakan sesuatu yang begitu besar tanpa bukti apapun?”
“Bukti?” teriak Novi dengan semakin marah. “Foto ini sudah cukup menjadi bukti bagiku! Selain itu, kamu selalu jauh dariku akhir-akhir ini – kamu tidak pernah mau berbicara denganku dengan jujur dan selalu tampak sedang menyembunyikan sesuatu! Bukankah itu tandanya kamu sudah memiliki orang lain?”
Rian merasa darahnya mulai mendidih mendengar tuduhan itu. Dia sudah merasa sangat tertekan dengan kesulitan ekonomi yang mereka alami dan tekanan dari keluarga Novi untuk mendapatkan pekerjaan yang stabil dalam waktu satu bulan. Dan sekarang istri sendiri yang menyalahkannya dengan hal yang paling menyakitkan bagi seorang suami.
“Aku sedang jauh darimu karena aku sedang berjuang sekuat tenaga untuk mencari uang dan memberikan kehidupan yang layak bagi kamu dan anak-anak!” teriak Rian dengan suara yang penuh dengan kemarahan dan kesedihan. “Aku tidak punya waktu untuk melakukan hal yang tidak pantas seperti selingkuh! Semua yang kulakukan hanyalah untuk keluarga kita!”
“Kau bilang itu untuk keluarga kita?” balik Novi dengan menangis deras. “Tapi bagaimana dengan aku? Aku merasa seperti istri yang tidak dihargai! Kamu selalu sibuk mencari pekerjaan atau duduk diam tanpa ingin berbicara denganku! Aku merasa sendirian dan tidak diinginkan!”
Rian terdiam sejenak mendengar kata-kata itu. Dia menyadari bahwa dia memang telah terlalu fokus pada masalah ekonomi keluarga dan kurang memperhatikan perasaan dan kebutuhan emosional istri. Namun itu bukan alasan bagi Novi untuk menyalahkannya dengan tuduhan yang tidak benar seperti selingkuh.
“Aku mengerti jika kamu merasa diabaikan, Sayang,” ujarnya dengan suara yang lebih lembut setelah beberapa saat terdiam. “Aku menyesal karena tidak bisa memberikan perhatian yang cukup padamu. Tapi itu bukan alasan bagi kamu untuk menyatakan bahwa aku selingkuh dengan seseorang yang hanya teman kerja saja! Aku mencintaimu dengan sepenuh hati dan aku tidak akan pernah melakukan sesuatu yang bisa menyakitimu atau merusak keluarga kita!”
Namun kata-kata itu sepertinya tidak mampu menenangkan kemarahan dan keraguan yang ada di dalam hati Novi. Dia terus menangis dan menyalahkan Rian dengan berbagai tuduhan yang semakin tidak masuk akal, mulai dari menyatakan bahwa Rian sudah lama tidak mencintainya lagi hingga menyatakan bahwa dia hanya menikah dengannya karena merasa kasihan.
Suara tangisan dan teriakan mereka akhirnya membangunkan Hadian dan Alea yang sedang tidur di kamar. Alea langsung menangis melihat orang tuanya yang sedang berdebat dengan sangat keras, sementara Hadian berdiri dengan wajah yang pucat dan penuh dengan kesedihan di pintu kamar.
“Jangan marah lagi ya Papa, Bu Mama,” ujar Hadian dengan suara yang bergetar, mencoba untuk menghampiri orang tuanya namun berhenti di tengah jalan karena merasa takut dengan suasana yang sangat tegang. “Kita sudah banyak mengalami kesusahan. Tolong jangan bertengkar lagi.”
Melihat wajah anak-anaknya yang ketakutan dan kesedihan, Rian dan Novi langsung berhenti berdebat. Novi menangis lebih deras dan segera membungkus Alea dengan pelukan yang erat, sementara Rian mendekat ke arah Hadian dan menepuk pundaknya dengan lembut.
“Aku minta maafkan kamu berdua ya Nak,” ujar Rian dengan suara yang penuh dengan kesedihan. “Papa dan Mama tidak sengaja membuat kamu takut. Kita semua sedang mengalami kesulitan, tapi kita tidak boleh saling menyalahkan satu sama lain seperti ini.”
Novi juga mengangkat kepalanya dan melihat putra sulungnya dengan mata yang berkaca-kaca. “Maafkan Mama ya Hadian,” ujarnya dengan suara yang lembut. “Mama sedang sangat emosional dan tidak bisa berpikir dengan jernih. Mama mencintaimu dan Kakak Alea dengan sepenuh hati, dan Mama juga mencintai Papa. Hanya saja Mama merasa sangat tertekan dengan semua kesusahan yang kita alami.”
Setelah itu, mereka semua duduk bersama di ruang tamu, saling memeluk dan menangis bersama-sama. Rian menjelaskan kembali kepada Novi bahwa tidak ada hubungan khusus antara dirinya dan Siti, hanya hubungan teman kerja yang biasa saja. Dia juga berjanji bahwa dia akan lebih memperhatikan perasaan dan kebutuhan istri serta akan selalu berkomunikasi dengan jujur tentang segala sesuatu yang terjadi dalam hidup mereka.
Novi juga mengaku bahwa dia merasa sangat tertekan dengan tekanan dari keluarga dan kesulitan ekonomi yang mereka alami, sehingga membuatnya mudah merasa curiga dan marah terhadap hal-hal yang tidak jelas. Dia berjanji bahwa dia akan mencoba untuk lebih percaya pada Rian dan akan selalu berbicara dengan terbuka jika ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman.
“Kita adalah pasangan suami istri yang harus saling percaya dan mendukung satu sama lain,” ujar Rian dengan suara yang penuh dengan cinta setelah suasana mulai tenang kembali. “Kita sudah melalui banyak kesulitan bersama dan kita pasti akan bisa melalui kesulitan ini juga. Yang penting adalah kita tidak pernah menyerah pada cinta dan kepercayaan yang kita miliki satu sama lain.”
Novi mengangguk dan menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya. “Aku mencintaimu, Rian,” ujarnya dengan suara yang lembut. “Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa kamu dan anak-anak kita. Aku akan berusaha untuk menjadi istri yang lebih baik dan lebih percaya padamu.”
Mereka menghabiskan sisa malam itu dengan berbincang dengan tenang tentang segala sesuatu yang mereka rasakan dan harapkan untuk masa depan. Mereka berjanji bahwa mereka akan selalu berkomunikasi dengan baik dan tidak akan pernah lagi membuat tuduhan tanpa bukti yang bisa merusak hubungan mereka.
Di kamar sebelah, Hadian dan Alea sudah tertidur pulas kembali setelah melihat orang tuanya yang sudah kembali damai dan saling mencintai. Hadian menggenggam tangan adik perempuannya dengan erat dan berdoa dalam hati agar keluarga mereka tidak akan pernah lagi mengalami kesulitan seperti ini dan akan selalu hidup dengan bahagia bersama-sama.
Meskipun mereka tahu bahwa masih ada banyak tantangan yang akan datang dan jalan yang akan ditempuh tidak akan mudah, namun Rian dan Novi merasa bahwa mereka telah melewati salah satu ujian terberat dalam hubungan mereka. Dan dengan cinta, kepercayaan, dan komitmen yang mereka miliki satu sama lain, mereka yakin bahwa mereka akan bisa mengatasi segala rintangan yang ada dan membangun kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan serta kedamaian bagi keluarga mereka yang sangat dicintai.