Ketika ada yang telah mengisi hati Amara, datanglah seseorang yang membuatnya kembali ke kisah masa lalu yang ingin di lupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Arafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa ini?
Malam ini Amara sedang istirahat sepulang dari butik. Luka di kakinya sedang di obati oleh Lala. Mereka membahas banyak hal yang terjadi hari ini. Suasana sangat hangat di temani kedua orang tua mereka.
" Gaun nya suka kan La? ".
" Banget dong kak. Kakak tak pernah mengecewakan. Selalu the best"..
" Bisa aja kamu".
Dia tertawa riang bersama senyuman dari kami semua. Saat itu juga bell rah berbunyi. Ibu pergi untuk melihat siapa yang datang malam ini.
Ternyata Adit, dia memasuki rumah mengikuti langkah ibu.
" Malam om, malam Ra, Lala". sapanya ramah.
"Malam". jawab kami serempak tapi seperti tak begitu suka dengan kedatangan nya.
" Kenapa nak? datang malam malam? ".
" Kemarin niatnya pengen ngajak Amara ketemu mama lagi om, tapi ternyata Amara habis kecelakaan, jadi saya mau jenguk dia".
" Kamu baru tahu Amara kecelakaan? kemana aja? Kalau soal ketemu mama kamu ntar dulu aja Nunggu Amara benar benar sehat buat menghadapi mama kamu".
"Iya om, Aku sibuk banget akhir akhir ini. Om bener biar Amara sembuh dulu aja. Semoga bisa secepatnya".
" Kamu nggak mikirin kak Amara emang? Dia masih sakit raganya, mau di tambah sakit hatinya lagi? ".Lala mulai bersuara menantang.
" Maksud kamu apa? ".
" Bertemu mama kamu itu perlu stok kesabaran yang banyak Dit. Aku harus sehat dulu. harus kuat biar nanti tidak tumbang".
" Kan kemarin waktu ketemu respon mama baik Ra. Jadi ku pikir semakin banyak ketemu semakin baik".
" Baik di hadapan kamu sama papamu. tapi saat kalian nggak ada, runtuh harga diriku ".
" Mama bilang apa? kenapa kamu nggak bilang sama aku? ".
" Intinya dia bilang agar aku sadar diri, aku yang bukan siapa siapa nggak pantas buat kamu".
" Ya ampun maafin mama Ya Ra.. Aku nggak tahu. Tapi kamu masih mau usaha kan Ra? ".
" Tentu saja mau. Asal kamu juga mau berjuang, bukan malah main belakang".
Dia diam tak menjawab, tapi wajahnya menyimpan sesuatu yang di sembunyikan. Dia terlihat ragu untuk menjawab.
" Aku akan perjuangkan kamu kok" jawabnya akhirnya.
" Yang tegas kak, harus bisa milih jangan semuanya mau". Lala mengomentari.
" Tentu aku pilih Amara, kalau tidak mana mungkin sampai sejauh ini".
" Di sini b ilang gitu, kalau di rumah gitu nggak? ".
" Tentu saja".
" Ingat ya kak, Sampai kak Amara kenapa napa, habis kamu". Lala mengancam.
" Jangan begitu La... ". Ayah menasehati Lala.
" Lala cuma nggak mau kak Amara terluka yah, lahir mau pain batin".
Malam ini, rasa jengkel karena Adit bohong akhirnya tumpah juga. Walau masih kecewa tapi aku harus terus maju untuk membuktikan kalau aku layak di akui. Bukan untuk mendapatkan Adit. tapi untuk mendapat pengakuan dari mamanya.
*************
Hari ini. Di butik kedatangan mbak Sofia untuk membahas tentang baju pengantin. Kami semua terlihat antusias. Semua bergabung menyumbangkan ide masing masing. Hingga seseorang memanggil Amara.
" Amara. di depan ada yang nyariin ". Kata seorang karyawan butik ini.
" Siapa?".
" seorang ibu ibu, nggak tahu siapa".
" ok, aku ke depan".
Dengan langkah yang masih tertatih, Amara menuju depan, tempat orang yang mencarinya datang. Dan berapa terkejutnya aku saat melihat yang datang adalah mamanya Adit.
" Tante mencari saya? ". sapaku saat sudah ada di hadapannya.
Lagi, dia mengamati ku dari atas ke bawah, semua tak luput dari tatapan tajamnya. Masih dengan senyum sinisnya.
" Jadi, emang kerja di sini kamu? ".
" iya tan, Maaf ada apa ya? ".
" kamu ngomong apa sama Adit? Kamu ngadu kalau saya ngomong kamu nggak pantas buat dia? Kamu pikir dengan ngadu kamu bisa masuk keluarga saya? ".
" Bukan ngadu tante, tapi seperti kata tante bahwa saya harus sadar diri, bahwa saya nggak pantas buat dia. Makanya saya mau dia mikirin lagi tentang hubungan kita".
" Tapi omongan kamu membuat dia ngelawan saya. Pokoknya apapun yang terjadi saya tetap akan jodohin dia sama Maria. Jadi jangan baper kamu".
" Silahkan tante, saya akan senang hati menerimanya. Hanya saja tante harus membuat Adit menyetujuinya. Karena intinya ada di dia. Biarpun tante tetap mendekatkan Adit dengan wanita lain tapi kalau Adit nya nggak mau lepasin saya, maka saya akan tetap berdiri".
" Jangan sombong kamu, Kamu pikir Adit bisa terus melawan saya? dia itu penurut. pasti nanti juga mau nuruti saya".
" Jika itu terjadi. saya pasti akan terima. Tapi kalau menurut saya. paksaan tidak akan berakhir baik, jadi mending jangan terlalu memaksa, biarkan dia memilih karena ini hidup dia, dia yang akan menjalani".
" Tidak perlu menasehati ku. Kamu tak tahu apapun tentang kami. Saya ibunya paling tahu yang terbaik untuk dia. Yang pasti saya peringatkan kamu untuk menjauh. Kecuali kamu bisa sebanding dengan keluarga kami".
Dia langsung pergi meninggalkan ku sebelum aku kembali menjawab. Pergi meninggalkan butik tanpa ada kata kata lain selain kembali merendahkan ku. Rasanya masih sakit, tapi kalo ini tak kan ku ambil pusing. Lebih baik fokus pada hidupku sendiri. Kali ini aku sudah pasrah, aku hanya akan menjalani yang sesuai dengan porsi ku. Tak akan memaksakan apa pun.
Aku putuskan untuk kembali ke ruangan, melanjutkan meeting yang sempat tertunda. TPi baru tiga langkah kakiku berjalan, ada yang memanggilku.
" Amara..... ". Panggil karin membuatku menoleh.
Tapi betapa terkejut nya aku, saat aku menoleh, ku lihat Karin bersama seorang lelaki paruh baya dengan perawakan tinggi dan tegas. Dia, papanya Adit. Entah ada apa ini? tadi mamanya sekarang papanya. Semoga kali ini tidak membuatku emosi lagi.
Dia mendatangi ku dengan gagahnya. Dia tersenyum ramah membuat ketegangan ki berkurang. Aku mulai menarik nafas dalam untuk meredam emosi yang tadi masih tersisa.
" Amara... ".
" Iya om, Apa om mencariku ada perlu apa kiranya? *.
" Saya tadi kebetulan lewat dan ingat kamu kerja di sini, jadi mampir sebentar. Tidak mengganggu kan? ".
" Tidak kok om, ada meeting sebenarnya, tapi tak masalah kok".
" Oh ya, Aduh maaf ya... Tapi kita ngobrol bentar aja ya? ".
Aku mengangguk dan tersenyum. Dia pun tersenyum membuatku lebih tenang. Aku heran bagaimana bisa suami istri ini berperilaku terbalik seperti ini.
" Tadi saya lihat istri saya dari Sini tapi dia tidak membawa belanjaan apa pun. Saya jadi ingat kamu. Apa dia menemui mu? apa dia bicara dengan mu? ".
" Benar om. Tadi kami sempat ngobrol".
" Dia menyakiti hatimu? " Dia bertanya dengan lembut membuatku menghangat ".
Aku hanya diam yak tahu harus menjawab apa.
" Sudah saya duga. Tapi apapun yang dia bilang mohon jangan di ambil hati ya.. Maafkan dia. Adit sudah cerita semuanya. Dan saya harap kamu mau menemani Adit berjuang, karena jujur saya setuju kalau Adit sama kamu. Dia mungkin keterlaluan, tapi dia tak sejahat itu. Om bantu kalian pasti. Om usahakan yang terbaik untuk kalian. Jadi jangan menyerah ya".
" Entahlah om, saya juga tidak tahu". Jujur aku memang bingung harus jawab apa.
" Om mengerti perasaan mu, Adit pun sama kaya kamu. Masih perlu meyakinkan mamanya. Pokoknya tetap semangat".
" Saya usahakan om. Mengenai hasilnya nanti, saya serahkan semua sama Allah".
" om.. setuju". Dia masih tetap tersenyum. " Ya sudah, om pergi dulu. Kamu juga harus lanjut kerja".
" Baik om., hati hati di jalan". Aku ikut tersenyum.
Dia meninggal kan butik dan juga hatiku yang jadi bimbang. Tapi sudahlah, jalani saja yang ada. dan melakukan yang terbaik.