Setelah dokumentasi ekspedisi mereka melesat ke permukaan dan menjadi perbincangan dunia, nama "Gautama Family" bukan lagi sekadar nama keluarga biasa.
Mereka kini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang sukmanya tersesat di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.
Kelahiran Arka Kumitir Gautama, bayi yang lahir tepat di ambang batas kematian semalam, membawa aura baru sekaligus beban yang lebih berat bagi keluarga ini.
Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah panggilan pahit datang dari benua lain. Ada raga-raga yang terbaring kaku; tubuh mereka masih di sini, namun sukma mereka telah didekap habis oleh kegelapan alam sebelah.
.Kalian akan kembali mendengar suara teriakan, tangisan, dan jeritan dari sudut-sudut bumi yang paling sunyi. Ekspedisi ini akan terus berjalan hingga waktu memaksa mereka untuk berhenti.
[Saya sarankan baca Season 1, supaya lebih mengenal kemampuan dan karakter keluarga Gautama]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 021 : Berita Pahit dan Kamu
Malam itu, Roma tidak lagi terasa romantis. Di dalam ambulans yang melesat membelah jalanan berbatu yang licin, hanya ada suara raungan sirene yang memekakkan telinga dan deru napas Rachel yang pendek-pendek.
Adio duduk di samping tandu, tangannya mencengkeram erat jemari Rachel yang dingin dan berlumuran darah kering.
Wajah Adio pucat pasi, matanya tidak sedetik pun beralih dari wajah wanita yang separuh jiwanya kini seolah sedang berada di ambang maut.
Setiap kali monitor jantung di dalam ambulans berbunyi tidak stabil, jantung Adio seolah ikut berhenti berdetak. Ia terus menggumamkan nama Rachel, memohon pada semesta agar tidak mengambil nyawa wanita itu sekarang.
Begitu roda tandu menyentuh lantai koridor rumah sakit, suasana menjadi hiruk-pikuk. Adio berlari kecil mengiringi langkah cepat para perawat yang mendorong Rachel menuju ruang tindakan darurat.
Ia terus membisikkan doa-doa tak beraturan, hatinya mencelos setiap kali melihat Rachel memuntahkan darah hitam dari sudut bibirnya—sisa-isanya energi ghaib yang membakar tubuhnya dari dalam, merusak sel-sel saraf yang tak sanggup menampung kekuatan lima leluhur sekaligus.
"Rachel, bertahanlah! Aku di sini! Jangan pergi dulu, tolong!" bisik Adio, suaranya parau dan bergetar hebat.
Seorang perawat pria bertubuh tegap menahan bahu Adio tepat di depan pintu ganda yang bertuliskan Area Terbatas. Langkah Adio terhenti paksa, sementara tandu Rachel terus melesat menjauh di balik pintu tersebut.
"Maaf, Tuan. Anda tidak boleh masuk ke dalam. Silakan tunggu di area tunggu," ucap perawat itu dalam bahasa Inggris dengan aksen Italia yang kental.
"Aku dokter! Aku tahu kondisinya! Biarkan aku masuk! Dia butuh aku!" bantah Adio setengah berteriak, matanya memerah menatap pintu yang mulai tertutup.
Ia merasa sangat tidak berdaya. Ia benci kenyataan bahwa meskipun ia memiliki gelar dokter, ia tidak bisa melakukan apa-apa selain menunggu di luar seperti orang asing.
"Tuan, tolong tenang. Anda sedang tidak stabil secara emosional. Biarkan tim kami bekerja. Ini prosedur rumah sakit," tegas perawat itu sambil mendorong pintu hingga tertutup rapat.
Adio mematung di depan pintu kayu itu. Napasnya tersengal, dan perlahan ia merosot jatuh ke lantai koridor yang dingin.
Tangannya yang masih bersimbah darah ia gunakan untuk menutupi wajahnya. Ia tidak peduli lagi pada martabatnya sebagai seorang dokter ternama.
Di sini, di lorong sunyi ini, ia hanyalah seorang pria yang sedang hancur karena wanita yang ia cintai dalam diam sedang bertarung nyawa di dalam sana.
Ia menangis sejadi-jadinya, meratapi setiap detik yang ia lalui tanpa pernah berani mengungkapkan perasaannya selama bertahun-tahun ini.
Hampir tiga jam berlalu. Jam dinding di lorong itu seolah bergerak melambat, setiap detiknya terasa seperti siksaan bagi Adio.
Ketika pintu ruang tindakan akhirnya terbuka, seorang perawat senior keluar dengan membawa papan catatan medis.
Adio langsung melompat bangun, menyongsong perawat itu dengan tatapan penuh tuntutan dan harapan yang rapuh.
"Bagaimana? Bagaimana keadaannya? Rachel sudah sadar?" tanya Adio beruntun.
Perawat itu menghela napas panjang, menatap Adio dengan tatapan simpati yang membuat jantung Adio seolah berhenti berdetak.
"Nona Rachel sudah stabil secara vital. Pendarahan internalnya sudah berhasil kami tangani."
Adio mengembuskan napas lega yang singkat, sebelum perawat itu melanjutkan kalimatnya dengan nada yang lebih berat.
"Namun, Tuan... ada trauma hebat pada saraf tulang belakangnya di area lumbal. Sepertinya ada tekanan energi atau kontraksi otot yang luar biasa hebat hingga menghanguskan beberapa jaringan saraf sensorik dan motoriknya secara permanen."
Adio tertegun, lidahnya mendadak kelu. Sebagai dokter, ia tahu persis apa arti istilah "menghanguskan jaringan saraf".
"Maksudmu... sarafnya?"
"Ada kemungkinan besar Nona Rachel tidak akan bisa berjalan lagi. Kedua kakinya tidak merespons rangsangan apa pun saat ini. Kami harus melakukan observasi lebih lanjut, tapi Anda harus bersiap untuk kemungkinan terburuk. Kelumpuhan total pada ekstremitas bawah."
Dunia Adio seolah runtuh seketika.
"Lumpuh? Tidak... tidak mungkin. Dia kuat! Dia Rachel! Pasti ada cara lain! Kalian pasti salah!"
"Kami sudah melakukan yang terbaik, Tuan. Saat ini, dia akan dipindahkan ke ruang rawat intensif. Anda bisa menemaninya setelah dia dipindahkan," ucap perawat itu pelan sebelum pergi meninggalkan Adio yang terpaku dalam kesunyian yang mencekam.
Pukul setengah lima pagi. Rachel telah dipindahkan ke kamar rawat nomor 212. Ruangan itu sangat sunyi, hanya ada suara detak mesin jantung yang menemani kesendirian mereka.
Adio duduk di sofa kecil di sudut ruangan. Ia sangat terpukul. Bayangan Rachel yang selalu berdiri tegak, gagah, dan penuh otoritas saat melindungi keluarga Gautama kini harus terbaring layu.
Sepanjang malam, Adio menangisi kondisi Rachel. Ia tidak habis pikir mengapa takdir begitu kejam pada gadis sesetia dan seberani Rachel.
Air matanya mengucur deras meratapi diagnosa kelumpuhan itu, memikirkan bagaimana masa depan Rachel nanti, hingga akhirnya tubuhnya menyerah pada kelelahan emosional yang luar biasa. Adio pun jatuh tertidur di sofa dengan mata yang membengkak hebat.
Sekitar pukul enam pagi, kelopak mata Rachel bergerak perlahan. Bau antiseptik yang tajam menusuk indra penciumannya, mengingatkannya bahwa ia masih berada di dunia manusia.
Ia membuka mata, menatap plafon putih yang diterangi cahaya fajar yang mulai menyelinap masuk. Hal pertama yang ia rasakan adalah kekosongan yang mengerikan di bawah pinggangnya.
Rachel mencoba menggerakkan kakinya. Ia mengerahkan seluruh konsentrasinya, namun tidak ada respons. Ia mencoba lagi, kali ini dengan paksaan yang membuat dahi pucatnya berkeringat dingin.
Tetap tidak ada. Kakinya seolah lenyap dari peta tubuhnya. Rachel tertegun. Ia mendongak ke atas, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong, mencoba menahan badai emosi di dalam dadanya.
Setetes air mata jatuh di sudut matanya. Ada rasa sakit yang mendalam, rasa tak terima yang mencekik, namun ia segera menepisnya. Ia ingat Marsya.
Ia ingat wajah adiknya yang selamat. Rachel menarik napas panjang, mencoba menenangkan hatinya yang separuh hancur. Dengan gerakan gemetar, ia mencoba memeluk dirinya sendiri di bawah selimut.
"Nggak apa! Sumpah, nggak apa!" bisik Rachel pelan pada dirinya sendiri, mencoba menjadi kuat di tengah kehancurannya.
"Kamu bukan satu-satunya orang yang lumpuh di dunia ini. Gak apa, Rachel! Yang penting adikmu selamat! Selamat ya, udah jadi kakak yang bisa diandalkan! Aku mencintaimu!"
Suara Rachel tercekat saat ia menghapus air matanya dengan kasar. Ia mencoba menarik napas dalam-dalam beberapa kali untuk menenangkan diri.
Setelah beberapa menit merasa cukup tenang dan mampu mengendalikan raut wajahnya, Rachel mengalihkan pandangannya dan mendapati Adio yang masih tertidur di sofa.
Ia memperhatikan betapa sembabnya kedua mata pemuda itu, bahkan dalam tidurnya pun Adio tampak sangat lelah.
'Dia menangis?' pikir Rachel dengan hati yang menghangat sekaligus hiba.
Tiba-tiba, suhu di sudut atap kamar menurun secara drastis. Lima kepala makhluk ghaib muncul di sana, melayang di dekat plafon. Mereka adalah sahabat ghaib Rachel.
Namun kali ini, wajah mereka penuh dengan rasa bersalah yang mendalam, tidak ada satupun yang berani menatap mata Rachel secara langsung.
"Aku tidak berani menemuinya! Kita tidak berguna! Kita membiarkannya hancur!" lirih Albert dengan suara bergetar dari atas sana.
"Huaaa... Aku tidak mau bertemu Rachel dulu! Ini salahku! Aku yang membiarkannya melakukan perjanjian itu!" isak Barend pelan, lalu hantu kecil itu menghilang seketika.
Melissa, Anako dan Gelanda hanya menatap Rachel dengan pandangan sendu, mata ghaib mereka menyiratkan duka yang teramat sangat.
Tak lama kemudian, mereka berlima pun menghilang dalam senyap, meninggalkan Rachel kembali dalam sunyi kamar rumah sakit.
Tak lama, Adio tersentak dari tidurnya. Ia terbangun dan langsung menoleh ke arah ranjang dengan gerakan refleks. Ia terkejut melihat Rachel sudah duduk bersandar di bantal dengan mata terbuka lebar.
Adio segera berdiri dengan kaki yang masih agak lemas, menghampiri Rachel yang hanya menatapnya biasa saja, seolah tidak baru saja kehilangan kemampuan berjalannya. Rachel bahkan menaikkan salah satu alisnya lalu tersenyum tipis ke arah Adio.
"Kenapa, Pak dokter?" tanya Rachel lirih.
Adio terdiam.
Ia tak habis pikir. Bagaimana mungkin Rachel bisa setenang ini setelah diagnosa seburuk itu? Andai Adio bangun sedikit lebih awal, ia pasti tahu bahwa Rachel pun sempat hancur.
Namun sekarang, yang ada di hadapannya adalah sosok Rachel yang tak mau menunjukkan kelemahannya, sosok yang sudah mengambil konsekuensi besar dan tidak boleh menyesalinya.
Tanpa menjawab pertanyaan Rachel, Adio menarik Rachel dalam satu kali hentakan ke dalam pelukannya. Ia mendekapnya sangat erat, mengusap surai panjang Rachel yang terurai berantakan.
Bau khas rambut Rachel menyeruak, wangi yang selalu Adio hafalkan dalam setiap rindu diam-diamnya.
Rachel tersenyum di dalam pelukan itu. Untuk pertama kalinya setelah kepergian Thoriq, hatinya benar-benar luluh dan membuka diri untuk Adio. Rachel membalas pelukan itu, mengusap punggung Adio yang terasa kaku.
"Kamu gak perlu nangis! Kalau kamu memang sekarang merasa aku sedikit menjadi bebanmu... Gak apa! Kamu boleh pergi jika kamu mau!" ujar Rachel dengan nada bicara yang pelan namun sangat berarti.
Adio terkejut bukan main mendengar kalimat itu. Ia menjauhkan tubuhnya sedikit, menatap lekat mata Rachel dengan sorot tajam.
"Apa yang kamu bicarakan, Rachel?"
"Yo, jangan terlalu ngejar aku! Sekarang aku punya kekurangan!" tutur Rachel dengan suara tenang.
"Maksudmu?" tanya Adio lagi.
Rachel mengangkat bahunya sejenak, menatap kakinya yang tertutup selimut.
"Aku lumpuh, Adio! Ini kekuranganku! Aku tidak akan bisa berjalan lagi!"
"Kamu lumpuh, atau tidak? Kamu tetap Rachel. Dan aku mencintaimu!" jawab Adio dengan lantang dan penuh penekanan di setiap katanya.
Rachel tertegun. Jantungnya berdegup kencang, memberikan rasa hangat yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia menunduk lalu terkekeh pelan, mencoba menyembunyikan rasa harunya.
"Sejak kapan kamu punya perasaan itu ke aku?"
"Sejujurnya, sejak pertama kali takdir menghubungkan kita! Sejak Thoriq masih hidup," ucap Adio dengan napas yang memburu.
"Aku hanya menyimpannya karena kamu punya Thoriq saat itu. Tapi sekarang... hampir dua tahun lebih, Rachel. Aku tidak berani mengatakannya karena aku tahu bayangan Thoriq masih rapat kamu simpan. Aku gak tahu gimana caranya masuk ke sana. Tapi sekarang, aku sudah meyakinkan hatiku."
Adio menggenggam tangan Rachel erat, menatapnya dengan penuh permohonan.
"Bolehkah aku memeluk erat hatimu? Bolehkah aku menulis namaku di sana? Aku tidak peduli bagaimana pun perubahan yang terjadi pada tubuhmu. Aku tetap mencintai Rachel Gautama yang ini! Maukah kamu menerimaku? Sebagai belahan hatimu, setelah pangeran pertamamu pergi? Aku mencintaimu!"
Air mata Rachel jatuh begitu saja, namun kali ini air mata kebahagiaan. Ia tidak menyangka Adio menyimpan cinta sedalam itu. Rachel menatap Adio dengan senyum paling tulus yang pernah ia miliki selama ini.
"Maaf... aku telat menyadari kalau kamu menyayangi aku sebesar itu. Maaf kalau keterpurukanku selama ini buat kamu jadi gak berani mengetuk hatiku. Maaf kalau selama ini aku egois!" ucap Rachel parau.
"Jadi, Rachel Gautama... mana jawaban dari perasaanku? Apakah hanya kata maaf?" tanya Adio lembut.
Kelembutan suara Adio membelai hati Rachel. Tanpa kata lagi, ia mengangguk pasti. Rachel mengulurkan kedua tangannya, membelai wajah Adio sejenak, lalu menarik kepala pemuda itu ke arahnya.
Cuppp.
Satu kecupan lembut Rachel berikan tepat di pipi Adio, membuat pemuda itu bersemu merah.
Saat Rachel hendak menarik diri karena malu setelah aksi beraninya, Adio menahannya. Pandangan mereka bertemu, saling mengunci satu sama lain dalam damba asmara yang akhirnya tersalurkan.
"Aku mencintaimu!" ucap keduanya bersamaan.
Mereka tersentak, lalu tertawa renyah bersama, menertawakan kekompakan mereka yang tak terduga. Tak lama, suasana kembali hening namun hangat. Adio menarik wajah Rachel perlahan.
Sebuah ciuman singkat di bibir mereka menyatu—ciuman pertama yang menjadi saksi bisu awal hubungan mereka. Setelah beberapa detik, Rachel mendorong Adio pelan dengan wajah yang memerah padam.
"Sialan, nikahi aku dulu, baru kamu boleh berbuat lebih!" ujar Rachel sambil menutupi wajahnya dengan bantal karena malu yang luar biasa.
Adio tertawa lepas, ini pertama kalinya ia melihat Rachel yang garang bisa bersikap semanis dan semalu itu.