Apa yang kalian pikirkan tentang putri tertukar? Sang putri asli menderita? Oh kalian salah tentang Aurora Bellazena, gadis cantik bermata Dark Hazel itu adalah putri kandung yang tertukar. Kesalahan pihak rumah sakit membuat Aurora tertukar dengan Anjani Harvey.
Kembali ke rumah keluarga asli tak membuat Aurora di cintai. Namun, apa ia peduli? Tentu tidak ia hanya butuh status untuk menutup sesuatu yang berbahaya dalam dirinya, siapa Aurora sebenarnya? Ikuti perjalanan gadis cantik bermata Drak Hazel itu dalam novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
PLAK!
Suara tamparan menggema di ruang keluarga mewah milik Harvey, semua orang terkejut bahkan Aurora saja sampai menatap tak percaya dengan apa yang ia lihat.
'Aku ingin Anjani yang ditampar lalu kenapa malah Aruna?' batinnya tak habis pikir.
Aruna menatap sang Mama tak percaya, ini adalah pertama kalinya ia di tampar dan itu tepat setelah kedatangan Aurora ke rumah ini.
"Ini semua gara-gara kamu, dasar pembawa sial!" teriak Aruna, dia menunjuk Aurora dengan marah.
"Runa, cukup!" kata Kaynen, dia mencengkram tangan Aruna.
"Kakak juga ingin membela pencuri itu? Kenapa setelah dia datang keluarga kita jadi seperti ini? Padahal dulu kita semua bahagia!" bentak Aruna kemarahannya meluap sebab tak Terima di tampar begitu saja oleh Sang Mama.
"Runa, Kakak bilang diam!" sentak Kaynen.
"Kenapa? Dia pencuri?" teriaknya lagi tak kalah keras.
"ARUNA!" kali ini Baskara yang bertindak.
Aruna diam, napasnya tersengal dengan wajah memerah, tangan gadis cantik itu mengepal erat hingga buku jarinya memutih.
"Dia bukan pencuri Aruna, bukan dia!" kata Baskara dengan suara parau.
"Apa maksud Papa?" tanya Aruna.
Baskara menyerahkan ponsel Aurora pada Aruna, dan gadis itu yang bingung pun hanya bisa menerima tanpa bertanya apapun.
Matanya melihat dan mengawasi hingga apa yang ia lihat tak pernah ia duga sebelumnya atau dalam hatinya sekalipun.
"Anjani? Benarkan ini Anjani?" tanya Aruna dengan suara yang jelas dapat di dengar oleh Anjani dan Aurora.
Anjani yang mendengar langsung menyambar ponsel itu, wajahnya pucat pasi saat semua kejahatannya jelas terekam di sana tanpa sensor sama sekali.
DEGH
'Bagaimana mungkin?' batin Anjani.
...****************...
Aurora hanya diam mengamati apa yang perlu ia amati, duduk tenang di sofa soal ia sedang menonton pertunjukan seru yang sayang jika itu terlewat begitu saja.
"Ma, Pa, Kak, ini-ini buk-bukan aku!" suara Anjani serak, gugup dan jelas terdengar aneh di telinga mereka.
"Jani, tak mungkin itu palsu, kan? Jelas itu rekaman asli yang di ambil pagi ini," ujar Kaynen dia telah meragukan Aurora sebelumnya.
"Kak, in-ini," Anjani gugup, dia bingung bagaimana akan berkilah.
Tatapan semua orang bagaikan panah yang di arahkan tepat ke ulu hati Anjani, rasa sesak langsung mendera hingga ke inti jantungnya.
"Apa? Mau berkilah? Kenapa kamu melakukan itu, Jani?" kali ini kekecewaan jelas terpancar dari mata Adeline, sorot mata yang biasanya selalu hangat itu mendadak berubah penuh intimidasi yang tak bisa Anjani Terima.
"Aku melakukan ini karena iri, kalian akan lebih sayang pada Aurora karena dia putri kandung, benarkan?" ungkap Anjani, hanya ini alasan yng ia gunakan.
Padahal dia melakukan itu karena tak suka memiliki saingan sebagai putri kesayangan di keluarga Harvey yang kaya.
"Kenapa mengatakan itu, Nak? Jika kami tak sayang maka kamu mungkin sudah tak akan tinggal di sini lagi," jelas Baskara.
"Jadi Papa dan Mama berniat mengusir aku?" tanya Anjani dengan mendesak Papa dan Mamanya agar jujur.
"Tidak, karena kami sayang kamu, Nak!" ungkap Adeline.
"Aku takut, Ma, takut kalian lebih sayang Aurora dari pada aku," suara Anjani yang serak dan penuh kesedihan membuat mereka iba. Namun, rasa itu justru tak ada pada hati Adeline yang jelas ia adalah seorang ibu.
"Jangn takut, kami akan tetap sayang kamu, Jani! Kali ini hanya peringatan dan jangan ulangi lagi!" jelas Kaynen, dia mengusap pelan kepala Anjani yang sekarang dalam pelukan Adeline.
Anjani mengangguk. Namun, dalam hati ia merutuk atas kegagalan hari ini, dia akan merencanakan kembali sesuatu yang lebih besar demi bisa mengusir Aurora dari rumah ini.
Sedangkan Aurora yang melihat drama itu selesai begitu saja hanya memutar bola mata malas, dia bangun dan akan meninggalkan ruang tamu yang membuat ia pengap itu.
"Nak," hingga panggilan halus dan pelan itu menghentikan langkah Aurora.
Aurora menoleh, dia menatap Adeline yang sedang memandang sendu kearahnya.
"Ada apa?" tanya Aurora, suaranya serak dan terkesan di buat agar terdengar kecewa.
Adeline melangkah maju, langkah pelan nan teratur itu terdengar sebagai bentuk rasa menyesal yang tak bisa ia ungkap kan.
"Kamu mau kemana, Nak?" tanya Adeline, dia menatap sendu Aurora.
"Ke kamar, kenapa?" jawaban acuh dari Aurora membuat Adeline merasakan sakit.
"Kamu belum selesai sarapan, sayang, ayo kita lanjutkan sarapan lagi!" ajak Adeline, dia mengulurkan tangannya. Namun, penghindaran Aurora membuat ia agak kecewa.
"Aku tak lapar, kalian lanjut saja!" setelah itu Aurora berlalu meninggalkan ruang tamu yang terasa pengap itu dalam keadaan canggung.
"Kalian harus minta maaf pada Aurora!" hingga suara itu membuat mereka semua menoleh.
Aruna dan Kaynen menatap Baskara dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Dengar, tidak?" sentak Baskara.
"Baik, Pa!" angguk keduanya.
"Dan ini juga berlaku untuk kamu, Anjani!" kali ini tatapan tajam di dapatkan oleh Anjani dari Baskara yang dulu selalu penuh kasih sayang.
"Tap-"
"Papa tidak mau mendengar bantahan apapun!" setelah itu Baskara berlalu meninggalkan ruang tamu untuk kembali ke kamar karena pagi ini ia harus ke kantor.
...****************...
Sore itu, udara di luar rumah terasa dingin, bahkan angin terasa kencang menerpa jendela kamar Aurora.
Gadis itu, Aurora Bellazena namanya sedang duduk tenang di tepi jendela, dia menatap dan mengawasi taman bunga di mana ada sosok Adeline sedang sibuk menyiram tanaman.
Aurora tersenyum tipis. Namun, senyumnya surut saat melihat Anjani datang bersama Aruna,"Kamu kalah satu langkah denganku Anjani!" gumam Aurora sinis.
Rasanya Aurora ingin bermain lagi dengan Anjani. Namun, ia bingung permainan apa yang menyenangkan, sebab sejak kejadian pagi tadi ia tak bertatap muka dengan Anjani, jadi gadis itu tidak membuat masalah apapun.
TOK
TOK
TOK
Ketukan pintu kamar membuat Aurora mengalihkan fokus dari keluarga bahagia itu ke pintu kamarnya.
Dia menatap dengan mata memicing tajam seolah bingung dengan siapa yang mengetuk pintunya sore-sore begini."Masuk!" seru Aurora.
Pintu di buka, dan salah seorang pelayan muda masuk dengan wajah menunduk.
"Kamu siapa?" tanya Aurora.
"Nona, saya Dilla, saya pelayan baru yang akan bertugas menjadi pelayan pribadi anda!" jawabnya takut-takut.
"Pelayan pribadi?" tanya Aurora dengan wajah bingung.
"Iya, Nona," angguknya.
Aurora hanya mengangguk saja, ia tak peduli dengan pelayan asalkan gadis itu tak mengganggu rencananya saja.
"Kamu bisa keluar! Ingat ini!" suara Aurora terdengar tegas dan tak ada suara pelan seperti biasa,"Jangan masuk kedalam kamar ini jika aku tak memanggil kamu! Apa paham?" sambungnya.
Dilla mendongak, dia menatap Aurora dengan takut-takut. Dan anggukan di berikan sebagai bukti ia mengerti semuanya.
"Bagus, kamu bisa keluar!" usirnya.
Dilla berlalu meninggalkan kamar Aurora dengan langkah pelan dan wajah menunduk, dia takut pada Aurora apalagi melihat tatapan mata gadis cantik pemilik netra drak Hazel itu.
Dilla adalah pelayan baru yang di rekrut oleh Adeline sebagai pelayan pribadi Aurora supaya putrinya itu ada yang membantu jika memerlukan sesuatu.
selalu d berikan kesehatan😄