Dulu Salma Tanudjaja hidup dalam kebodohan bernama kepercayaan. Kini, ia kembali dengan ingatan utuh dan tekad mutlak. Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi adalah kisah kesempatan kedua, kecerdasan yang bangkit, dan balas dendam tanpa cela. Kali ini, Salma tak akan jatuh di lubang yang sama, ia yang akan menggali lubang itu untuk orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jatuh dengan Telak
Salma melirik sekilas ke arah Manda yang duduk di sudut sofa dengan wajah penuh kecemasan palsu. Dalam hati, Salma mencibir. Ia tahu betul drama apa yang sedang dimainkan saudari angkatnya itu.
Pasti Manda yang 'tidak sengaja' membocorkan kabar miring pada ayahnya.
"Papah, aku... aku cuma makan di luar sebentar tadi," ucap Salma dengan nada bicara yang sengaja dibuat gugup, seolah-olah ia sedang menyembunyikan rahasia besar.
"Salma! Kamu ini semakin hari semakin berani, ya!" Seno berdiri dari kursi kebesarannya. "Apa karena Papah terlalu memanjakanmu, jadi kamu pikir bisa berbuat seenaknya?"
Kemarahan Seno memuncak. Baginya, berkelahi dengan murid laki-laki sudah cukup memalukan, dan sekarang Salma malah berani kencan diam-diam? Jika dibiarkan, martabat keluarga Tanudjaja bisa hancur karena ulah putri kandungnya sendiri yang mulai terlihat seperti preman sekolah.
Bibir Salma gemetar, matanya mulai berkaca-kaca. "Papah... kenapa Papah jadi galak sekali padaku? Papah tidak pernah seperti ini sebelumnya."
Semua orang di ruangan itu tertegun. Biasanya, Salma akan membalas dengan kata-kata kasar atau sikap membangkang yang keras kepala.
Namun, melihat Salma yang tampak begitu rapuh, Seno mendadak kehilangan kata-kata. Rasa bersalah mulai menyelinap di hatinya.
"Kalau begitu, jelaskan pada Papah. Kenapa kamu baru pulang jam segini?" nada suara Seno melembut.
Salma tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru membiarkan air matanya jatuh berderai. Ia sesenggukan, dadanya naik turun menahan isak tangis yang menyesakkan.
"Papah... Papah cuma tahu caranya memarahi aku tanpa mau bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Di sekolah... aku sangat menderita, Pah. Aku diperlakukan tidak adil, tapi Papah malah menyudutkan aku seperti ini."
Salma sendiri terkejut betapa mudahnya ia mengeluarkan air mata. Mungkin ini bakat terpendam yang baru aktif setelah ia dilahirkan kembali. Aktingnya sempurna; benar-benar seperti tokoh utama dalam sinetron.
Melihat putrinya menangis hebat, Seno menjadi panik. Bi Surti segera berlari membawakan tisu. "Non Salma, jangan menangis lagi. Ayo cerita pelan-pelan sama Tuan."
"Aku ingin belajar dengan tenang," isak Salma makin menjadi, "tapi orang-orang menuduhku curang saat ujian. Aku beruntung punya teman baik seperti Aksa Abhimana, tapi mereka malah menggosipkan kalau kami pacaran."
Aku dan Kak Manda selalu baik-baik saja, tapi ada saja orang yang mencoba mengadu domba kami."
Salma mengatur napasnya yang tersengal. "Yang paling parah, tadi ada beberapa murid laki-laki yang merasa menjadi pahlawan untuk Kak Manda. Mereka mengadangku di lapangan bola, katanya mau memberi pelajaran karena aku tidak menghormati Kakak."
Kalau bukan karena Aksa datang menolong, mungkin sekarang aku sudah masuk rumah sakit. Aksa terluka demi melindungiku, jadi aku mengantarnya ke klinik dan mentraktirnya makan sebagai ucapan terima kasih. Pak Asep juga melihat semuanya. Kami cuma berteman, Pah!"
Pak Asep, sopir keluarga yang sejak tadi berdiri di dekat pintu, segera maju memberikan kesaksian. "Tuan, apa yang dikatakan Non Salma benar. Dia dan Den Aksa hanya teman biasa. Non Salma bahkan yang menelepon saya sendiri untuk menjemputnya di tempat makan itu."
Seno merasa seperti baru saja ditampar kenyataan. Di hadapan air mata putri kandungnya, ia merasa sangat gagal. Ia tidak tahu harus berkata apa untuk menebus rasa bersalahnya.
Manda, yang duduk tak jauh dari sana, meremas jemarinya dengan geram. Ia tahu betul siapa yang sebenarnya dihajar, Bagas dan kawan-kawannya. Salma dan Aksa bahkan tidak lecet sedikit pun!
Namun, di situasi seperti ini, mana mungkin ia membongkar hal itu?
"Pah, lihat kan? Aku sudah bilang kalau Papah terlalu berlebihan," Manda akhirnya berdiri, mencoba menenangkan suasana. "Salma, jangan menangis lagi ya. Papah marah karena dia sayang dan khawatir padamu."
"Siapa yang berani mengganggumu? Beritahu Papah, besok Papah akan ke sekolah!" Seno mendekat dan memegang tangan Salma. "Maafkan Papah, Sayang. Papah salah karena langsung memarahimu tanpa bertanya. Papah janji tidak akan mengulanginya lagi."
Salma menyeka air matanya, menatap Seno dengan mata yang masih basah. "Benarkah, Pah?"
"Papah janji!" Seno mengangkat jarinya, bersumpah.
Salma akhirnya tersenyum kecil di sela isakannya.
Seluruh penghuni rumah Tanudjaja akhirnya bisa bernapas lega.
"Pah, aku lapar," ucap Salma sambil memeluk lengan Seno, manja. "Aku mau makan Semur Iga Sapi buatan Papah."
"Siap, Sayang! Papah buatkan sekarang juga. Kamu mandi dulu, ya?" Seno langsung bersemangat. Semua amarahnya tadi menguap begitu saja.
Manda melihat pemandangan itu dengan perasaan seperti baru saja menelan lalat.
Sebelum naik ke lantai atas, Salma sengaja menghampiri Manda dan memegang tangannya. "Kak, apa Kakak salah bicara pada Papah tadi sampai Papah salah paham? Padahal aku sudah bilang ke Kakak kalau aku mau ke klinik dulu."
Seno, yang baru sampai di pintu dapur, menoleh sejenak ke arah Manda dengan dahi berkerut.
Manda rasanya ingin meledak. Ini benar-benar serangan balik yang mematikan dari Salma.
"Maafkan Kakak, mungkin tadi cara penyampaianku yang membuat Papah salah paham. Maaf ya, Salma," ucap Manda dengan wajah penuh penyesalan yang dipaksakan.
Seno yang melihat itu tidak berpikir terlalu jauh. Ia melambaikan tangan agar Salma segera naik. "Sudahlah, ini salah Papah. Tidak usah menyalahkan Kakakmu. Ayo mandi, sebentar lagi makanannya siap."
Salma tersenyum manis. "Iya, Pah."
Namun, begitu kakinya melangkah di tangga dan membelakangi mereka, senyum manis itu menghilang. Tatapannya berubah sedingin es.
Pelan-pelan saja, Manda. Merobek topengmu satu per satu jauh lebih menyenangkan daripada menghancurkanmu sekaligus.
Setengah jam kemudian, Salma turun dengan pakaian rumahan yang santai. Seno menyambutnya dengan bangga, menunjukkan hasil masakannya.
Salma duduk dan mulai mencicipi daging iga yang empuk itu. Rasanya... sangat familier, dan sangat enak.
Tiba-tiba, dada Salma terasa sesak. Kenangan dari kehidupan sebelumnya menghantamnya. Sudah berapa lama ia tidak merasakan kasih sayang tulus seperti ini?
Air matanya hampir jatuh lagi, tapi kali ini bukan karena akting.
"Kenapa, Sayang?" Seno panik melihat mata Salma memerah. "Apa rasanya tidak enak?"
Salma meletakkan sendok dan garpunya, lalu tiba-tiba beranjak dan memeluk ayahnya erat-erat. "Pah, maafkan aku. Selama ini aku selalu nakal dan sering menyakiti hati Papah dan Mamah."
Mulai sekarang, aku janji akan jadi anak yang penurut. Aku tidak akan membuat Papah marah lagi."
Hati Salma sakit saat mengingat bagaimana tragisnya akhir hidup keluarganya di masa lalu. Ia bersumpah tidak akan membiarkan hal itu terulang.
"Anak bodoh, bicara apa sih? Papah dan Mamah akan selalu menyayangimu. Sudah, jangan menangis, nanti cantikmu hilang," Seno mengelus rambut putrinya.
"Pah, aku akan belajar dengan giat dan jadi murid yang baik, oke?" Salma menatap Seno.
Seno tertawa kecil, menyeka air mata putrinya. "Papah percaya padamu. Masalah yang lalu biarlah berlalu. Sekarang, ayo habiskan makanannya. Papah janji, setiap minggu Papah akan masak untukmu."
"Yey! Sayang Papah!" Salma bersorak riang.
Manda, yang sejak tadi menonton dari ujung meja makan, merasakan kecemburuan yang membakar dadanya. Seno begitu mudah memaafkan Salma hanya karena beberapa tetes air mata.
Wajah Manda sempat memperlihatkan ekspresi iri yang nyata sebelum ia sadar dan segera mengubahnya kembali menjadi senyuman lembut.
"Kak, kenapa wajah Kakak pucat begitu? Kakak sakit?" tanya Salma sengaja.
Manda tersentak, lalu tertawa kecil yang dipaksakan. "Ah, tidak apa-apa. Aku cuma terharu melihat kalian akur lagi."
Salma menatap Manda dengan senyum penuh arti. Seolah ia bisa membaca setiap pikiran kotor di balik wajah manis itu.
"Pah, jangan merepotkan Kak Manda terus. Percayalah sama Salma, apa pun yang Kakak bisa lakukan, aku juga pasti bisa melakukannya. Sebagai putri Papah, aku tidak akan membuat Papah malu."
"Papah percaya padamu. Ayo makan, jangan tunggu Mamah, dia sedang pergi dengan teman-temannya," ajak Seno.
Malam itu, Salma makan dengan sangat lahap, sementara bagi Manda, makanan itu terasa hambar seperti mengunyah kertas.
Setelah makan, Salma kembali ke kamarnya untuk mengerjakan tugas. Meskipun sudah lama tidak menyentuh buku pelajaran, tapi entah bagimana, pengetahuan itu seolah sudah terpatri di jiwanya.
Ia menyelesaikan tugas matematikanya dengan cepat. Sekitar jam sepuluh malam, pintu kamarnya diketuk.
"Salma, kamu sudah tidur?" Itu suara Manda.
Salma mengernyitkan dahi. Mau apa lagi dia malam-malam begini? Salma bangkit dan membukakan pintu. "Ada apa, Kak?"
Manda melirik ke dalam kamar Salma yang mewah. Kamar bertema bunga jusmine yang dirancang khusus oleh desainer interior ternama atas permintaan Seno.
Manda selalu membenci kamar ini karena mengingatkannya pada perbedaan status mereka.
"Boleh Kakak masuk?" tanya Manda lembut.
"Masuk saja," Salma mempersilakan.
Manda duduk di sofa kecil. "Kamu lagi belajar ya? Rajin sekali."
"Tinggal sedikit lagi kok," jawab Salma santai, berpura-pura tetap memercayai Manda seperti dulu.
"Sebenarnya Kakak merasa kamu banyak berubah belakangan ini, Salma," ucap Manda mencoba memancing.
Salma tersenyum tipis. "Mungkin aku baru sadar kalau diam saja saat ditindas itu tidak berguna. Lebih baik membuat mereka yang tidak nyaman, kan?"
Manda menatap Salma, mencari celah kebohongan. "Tapi kamu jangan terlalu kasar di sekolah, Kakak khawatir padamu."
"Tenang saja, Kak. Aku bisa mengatasi mereka semua," balas Salma penuh percaya diri.
Manda merasa pembicaraan ini sia-sia. Ia pun bersiap untuk pergi, tapi tidak sebelum ia menjalankan rencana kecilnya.
Saat Manda berdiri untuk berpamitan, ia sengaja melangkah maju ke arah kaki Salma, berniat untuk tersandung dan jatuh seolah-olah Salma yang menyandungnya.
Namun, refleks Salma sudah jauh lebih tajam. Begitu kaki Manda bergerak, Salma menarik kakinya dengan gerakan kilat.
Bruk!
Manda jatuh tersungkur dengan keras di lantai kayu.
Wajah Salma mendadak dingin sesaat sebelum berubah menjadi ekspresi panik. "Kak Manda! Kakak kenapa? Ya ampun, Kakak kok tidak hati-hati sih?"
Papah! Bi Surti! Tolong, Kak Manda jatuh!"
Manda merintih kesakitan. Rencananya adalah jatuh dengan anggun dan membuat Salma disalahkan, tapi karena Salma menarik kakinya, ia benar-benar jatuh dengan telak.
Lututnya terasa sangat nyeri.
"Kak, jangan bergerak dulu!" Salma berteriak kencang ke arah pintu. "Papah! Cepat ke sini! Kak Manda kecelakaan!"
Seno dan Bi Surti segera berlari naik. Seno tampak khawatir melihat Manda yang terduduk lemas di lantai.
"Ada apa? Bagaimana bisa jatuh?" tanya Seno.
"Tadi Kak Manda mau keluar, tapi sepertinya dia kurang fokus dan terpeleset," Salma menjelaskan dengan mata berkaca-kaca, seolah dia yang paling mengkhawatirkan Manda.
Manda ingin sekali berteriak bahwa ini salah Salma, tapi tidak ada alasan yang logis karena Salma bahkan tidak menyentuhnya. Ia terpaksa menelan kekesalannya sendiri.
"Iya Pah, aku saja yang tidak hati-hati."
"Bawa ke bawah, panggil Dokter Heru biar diperiksa," perintah Seno. Meskipun nada bicaranya khawatir, Salma bisa melihat ada sedikit keraguan di mata ayahnya.
Dokter Heru Pramono segera datang. Untungnya hanya memar di lutut. Sepanjang pemeriksaan, Salma terus bersikap manis dan penuh perhatian, membuat Manda makin muak.
Malam itu, setelah semua orang pergi, Salma berbaring di tempat tidurnya. Ia merenungkan kejadian hari ini. Ada sesuatu yang aneh.
Kekuatan fisiknya terasa meningkat drastis, begitu juga dengan pendengarannya. Apakah ini efek samping dari reinkarnasi?
Keesokan paginya, Salma bangun dengan segar. Ia turun ke bawah dan melihat Manda sudah duduk di meja makan dengan lutut yang diperban.
"Pagi, Kak! Bagaimana lututnya? Masih sakit?" tanya Salma dengan nada ceria yang sengaja dibuat untuk membuat Manda kesal.
Manda memaksakan senyum. "Masih sedikit nyeri."
Begitu sampai di Citra Bangsa Global High School, Salma langsung turun dari mobil dan masuk ke area sekolah lebih dulu, meninggalkan Manda.
Ia tidak mau membuang energi dengan bersikap pura-pura di depan umum.
"Pagi, Salma!" suara Naya Wardhana menyapa dari belakang. Gadis jenius itu berlari kecil menyusulnya. "Tumben kamu tidak bersama 'Kakak' kesayanganmu itu?"
penampilan cupu ternyata suhu 😂
darin sinta,salsa,ini salma
semangat Thor ⚘️⚘️⚘️