NovelToon NovelToon
Maira, Maduku

Maira, Maduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Poligami / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Nikah Kontrak / Konflik etika
Popularitas:591
Nilai: 5
Nama Author: Tika Despita

Maira yang terbiasa hidup di dunia malam dan bekerja sebagai perempuan malam, harus menerima tawaran menjadi madu oleh seorang pemuda bernama Hazel Dinata, pengusaha ternama di kota tersebut.

Awalnya Maira menolak, karena baginya menjadi perempuan yang kedua dalam sebuah hubungan akan hanya saling menyakiti sesama hati perempuan. Tetapi karena alasan mendesak, Maira akhirnya menerima tawaran tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pindah ke Apartemen

“Beb, jadi beneran kamu akhirnya nerima tawaran VVIP itu?” tanya Roy dengan tangan bersidekap di dada, tubuhnya bersandar di kusen pintu kamar.

“Hmmm.” Maira mengangguk singkat tanpa menoleh. Tangannya masih sibuk melipat pakaian dan memasukkannya ke dalam koper kecil miliknya.

Roy menghela napas pelan, lalu tersenyum.

“Aku seneng, beb. Kamu akhirnya bisa keluar dari sini.”

Ucapannya terdengar tulus. Roy adalah salah satu saksi bagaimana Maira, yang dulu masih berusia tujuh belas tahun, dipaksa bekerja di tempat ini oleh mama kandungnya sendiri. Dia melihat sendiri bagaimana Maira bertahan, menangis diam-diam, dan memaksakan senyum setiap hari.

Maira berhenti sejenak. Ia menutup koper, lalu berdiri dan langsung memeluk Roy. Baginya, Roy bukan sekadar rekan kerja. Pria itu sudah seperti kakak kandung yang selalu melindunginya selama ini.

“Jangan balik ke sini lagi ya. Janji,” ucap Roy lirih. Air matanya tumpah tanpa bisa dicegah.

Maira hanya mengangguk pelan di bahunya. Tenggorokannya terasa tercekat untuk berkata apa pun.

“Aku doain semua cita-cita kamu tercapai di luar sana,” lanjut Roy dengan suara bergetar.

“Aku pengin lihat gadis kecil yang dulu datang ke sini itu benar-benar sukses dan bahagia.”

“Kamu jadi sok puitis,” balas Maira sambil tersenyum kecil, meski matanya ikut berkaca-kaca.

Roy terkekeh pelan.

“Sini, aku bantu bawain koper kamu ke depan.”

Ia mengambil koper Maira dan berjalan lebih dulu keluar kamar.

Di depan klub, Hazel sudah berdiri di samping mobilnya. Pria itu tampak rapi dan tenang, menunggu Maira yang hari ini memang akan dibawa pindah olehnya, sebelum mereka benar-benar menikah nantinya.

“Maira…” panggil Mami Rose yang bergegas keluar dari dalam klub. Wanita itu langsung memeluk Maira erat, seolah tak ingin melepas.

“Terima kasih, Mi,” ucap Maira tulus sambil menatap wajah wanita bertubuh sedikit gembul itu.

 “Mami sudah bantu Maira selama ini.”

“Iya, sayang,” jawab Mami Rose sambil mengusap kepala Maira penuh sayang.

“Mami doain kamu selalu bahagia.”

Hazel mendekat dan membukakan pintu mobil.

“Ayo, Maira. Kita berangkat sekarang.”

Barang-barang Maira sudah lebih dulu dimasukkan ke bagasi. Maira mengangguk dan melangkah masuk ke dalam mobil. Sebelum pintu tertutup, ia menoleh ke arah depan klub. Mami Rose dan Roy masih berdiri di sana, menatapnya.

Maira tersenyum haru, lalu melambaikan tangan.

Hazel menutup pintu, menghidupkan mesin, dan melajukan mobil menuju apartemen yang sudah ia siapkan untuk Maira.

Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa hening. Hazel fokus menyetir, sementara Maira menatap lurus ke depan. Pikirannya dipenuhi rencana hidup yang harus ia jalani setelah ini.

Menjadi madu pria di sebelahnya. Memberikan keturunan. Lalu setelah semuanya selesai, ia akan bebas. Pergi sejauh mungkin bersama ayahnya dan memulai kehidupan baru, jauh dari tempat ini, jauh dari masa lalu yang tak ingin ia ingat lagi.

-

-

Hazel membantu membawa koper Maira menuju apartemen, sementara Maira berjalan mengikutinya dari belakang. Matanya tak berhenti menoleh ke kanan dan kiri. Lorong apartemen itu terlihat bersih, elegan, dengan pencahayaan hangat yang membuatnya sadar satu hal, tempat ini jelas bukan apartemen biasa. Pasti mahal. Sangat mahal.

Setibanya di depan pintu apartemen, Hazel meraih kenop pintu hendak membukanya. Namun, sebelum sempat diputar, pintu itu lebih dulu terbuka dari dalam.

Nadia berdiri di ambang pintu dengan senyum sumringah.

“Maira, ayo masuk,” ajaknya ceria sambil menarik tangan Maira masuk ke dalam.

Maira sedikit terkejut, tapi tetap menuruti. Pandangannya langsung menyapu ruangan apartemen yang luas dan tertata rapi.

“Sayang, taruh di sana aja dulu kopernya,” ucap Nadia sambil menunjuk sudut ruangan.

“Kamu duduk dulu bareng Maira di sini. Aku bikinin es jeruk dulu, biar kalian segar.”

Belum sempat ada yang menjawab, Nadia sudah melangkah cepat menuju dapur dengan semangat yang berlebihan.

Maira menoleh ke arah Hazel. Alisnya sedikit berkerut. Banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya, tapi tak satu pun terucap.

“Kamu tenang saja,” ucap Hazel akhirnya, seolah membaca isi pikirannya.

“Saya dan Nadia tidak tinggal di sini. Dia ke sini cuma buat bantu beres-beres. Apartemen ini sudah lama tidak ditempati.”

“Oh…” jawab Maira pelan. Jawaban itu terasa pas dengan kebingungan yang sejak tadi ia simpan.

Tak lama, Nadia kembali membawa tiga gelas es jeruk dan meletakkannya di atas meja.

“Ayo, diminum dulu,” ujarnya.

“Terima kasih, Na…” Maira menggantung ucapannya, jelas kebingungan harus memanggil Nadia dengan sebutan apa.

“Panggil mbak aja,” sahut Nadia ringan.

“Hm…” Maira tersenyum tipis sambil mengangguk.

“Maira, ayo lihat kamar kamu dan Hazel nanti,” ajak Nadia lagi dengan mata berbinar, terlalu antusias.

Maira semakin heran. Dalam hati, ia tak bisa berhenti bertanya-tanya. Mana ada seorang istri yang begitu bersemangat menikahkan suaminya dengan perempuan lain, bahkan menyiapkan kamar untuk suami dan madunya sendiri. Ia melirik Hazel. Pria itu tampak tak nyaman, rahangnya mengeras sejak tadi.

“Nadia,” tegur Hazel akhirnya.

“Ya?” sahut Nadia, masih dengan senyum di wajahnya.

“Ayo kita pulang. Aku rasa kamu sudah terlalu berlebihan.”

“Apanya yang berlebihan?” Nadia membalas cepat.

“Bukankah semuanya harus sempurna, Hazel? Aku mau nanti kamu nyaman tinggal bareng Maira.”

“Nadia…” suara Hazel terdengar lirih. Lelah.

Beberapa detik hening. Lalu Nadia menghela napas panjang.

“Ok. Kita pulang sekarang,” ucapnya akhirnya, meski jelas masih enggan.

Saat berjalan keluar, Nadia berhenti sejenak dan menoleh ke arah Maira.

“Oh ya, Maira. Besok ada makan malam bareng orang tua aku dan Hazel. Jadi kamu dandan yang cantik ya. Besok Hazel yang jemput.

“Baik,” jawab Maira, meski raut wajahnya tak bisa menyembunyikan kebingungannya.

Pintu apartemen tertutup. Maira berdiri sendirian di tengah ruangan luas itu.

“Benar-benar pasangan aneh,” gumamnya pelan sambil membawa kopernya ke dalam kamar.

1
Qhaqha
Jangan lupa bintang dan ulasannya ya... 😊😊🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!