Angin Siang Itu Berhembus Cukup Kencang, Memainkan Helai Rambut Panjang Milik Jelita Yang Sedang Duduk Santai Di Selasar Universitas. Bagi Jelita, Dunia Hanya Sebatas Apa Yang Bisa Dilihat Oleh Mata Dan Logika. Baginya, Cerita Hantu Hanyalah Dongeng Pengantar Tidur Untuk Orang-Orang Penakut."Hari Ini Kita Gak Ada Kelas! Gimana Kalau Kita Ke Gedung Kosong Sebelah," Ajak Salah Satu Teman Jelita Yang Bernama Dinda. Matanya Berkilat Penuh Rencana Tersembunyi.Jelita Mengangkat Alisnya Sebelah, Menatap Dinda Dengan Tatapan Remeh. "Buat Apa Kita Kesana? Kamu Mau Ngajak Mojok Ya?" Selidik Jelita Sambil Tersenyum Tipis."Kamu Kan Gak Pernah Takut Dan Gak Pernah Percaya Hal Kaya Gitu. Kita Mau Tantang Kamu Kesana Untuk Uji Nyali," Kata Dinda Tegas."Bener Juga! Lumayan Hiburan Di Saat Lagi Kelas Kosong," Sambung Ira Yang Tiba-Tiba Bergabung, Memberikan Dorongan Ekstra Agar Jelita Terpojok.Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan. "Oke, Siapa Takut? Ayok Kita Kesana."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Cahaya fajar menyelinap masuk melalui celah-celah jendela gedung tua yang rapuh, membawa secercah warna oranye yang mulai memudarkan kabut ungu milik Arjuna. Aura mistis yang tadinya begitu pekat perlahan menipis saat kekuatan sang Pangeran Kegelapan melemah oleh kehadiran sang surya.
Arjuna berdiri, perlahan melepaskan dekapan eratnya dari tubuh Jelita yang tampak lemas dan bergetar hebat. Seiring dengan memudarnya kabut, rantai-rantai bayangan yang melilit Ira dan Dinda pun hancur menjadi debu hitam. Dinda dan Ira yang sudah kehabisan tenaga akibat tekanan batin dan fisik, seketika jatuh pingsan di atas lantai dingin, menyusul Jelita yang mulai kehilangan kesadarannya di pelukan terakhir Arjuna.
Arjuna merunduk, menopang tubuh Jelita yang hampir jatuh ke lantai. Ia menatap wajah Jelita untuk terakhir kalinya pagi itu dengan tatapan yang sangat intens—campuran antara gairah yang belum tuntas dan posesifitas yang tak tergoyahkan.
Arjuna merapatkan wajahnya, hidungnya bersentuhan dengan hidung Jelita yang napasnya masih memburu dalam keadaan setengah sadar. "Kali ini aku membiarkanmu lolos, Sayang! Tapi tidak untuk lain kali. Sampai jumpa."
Cup! Arjuna membungkam bibir Jelita dengan ciuman yang dalam dan penuh kuasa, seolah menyegel setiap sel dalam tubuh gadis itu agar tetap terikat padanya. Ciuman itu terasa sedingin es namun meninggalkan sensasi terbakar yang menjalar hingga ke pergelangan tangan Jelita, tempat gelang hitam itu melingkar.
Bersamaan dengan terbitnya matahari sepenuhnya di ufuk timur, sosok Arjuna perlahan menjadi transparan dan menghilang menjadi partikel-partikel debu biru yang tertiup angin. Aura dingin yang mencekam seketika berganti dengan kehangatan pagi yang asing.
Suasana aula kembali menjadi ruang dekan yang berdebu dan usang. Tidak ada lagi singgasana megah, tidak ada lagi cahaya biru kemerahan. Yang tersisa hanyalah tiga orang gadis yang terbaring tak berdaya di lantai.
Jelita adalah yang pertama membuka mata. Kepalanya terasa sangat berat, dan ada rasa perih yang tertinggal di bibirnya. Ia meraba pergelangan tangannya—gelang itu masih di sana, tampak berkilau meskipun hanya terkena cahaya lampu ruangan yang redup.
"Ira... Dinda..." rintih Jelita sambil berusaha duduk. Tubuhnya terasa pegal seolah-olah ia baru saja melakukan aktivitas fisik yang sangat berat selama berjam-jam.
Ia menoleh ke arah kedua sahabatnya yang masih tidak sadarkan diri. Memori tentang perlakuan 'intim' Arjuna di depan mereka membuat wajah Jelita kembali panas karena malu dan amarah yang bercampur aduk.
"Ngghh... Jelita?" Dinda mulai tersadar. Ia memegangi lehernya yang terasa kaku. Ingatan tentang mata merah Arjuna dan rantai bayangan membuat Dinda langsung berteriak kecil begitu ia melihat Jelita. "Jel! Kamu tidak apa-apa?! Dia... hantu mesum itu sudah pergi?"
Ira juga mulai terbangun dengan napas tersengal. Ia segera berdiri meski kakinya masih gemetar. Tatapannya langsung tertuju pada tanda kemerahan di leher dan pundak Jelita yang terlihat jelas karena pakaian Jelita yang berantakan.
"Kita harus pergi dari sini sekarang juga, Jelita. Sebelum dia kembali!" tegas Ira dengan nada yang penuh kecemasan. Ia menyadari bahwa sahabatnya bukan lagi Jelita yang dulu—ada sesuatu dari Arjuna yang kini tertinggal di dalam jiwa Jelita.
Kini mereka melangkah tergesa-gesa meninggalkan gedung tua tersebut. Begitu sampai di depan halaman gedung, Dinda berteriak histeris.
"Oh astaga, Jelita!" teriak Dinda. "Kenapa kamu merah-merah begitu?! Sungguh keterlaluan hantu sialan itu! Sahabat kita belum pernah pacaran dan disentuh laki-laki, malah sekalinya disentuh sama hantu mesum!" ujar Dinda dengan bergidik ngeri.
"Aduh, Dinda! Bisa diam tidak? Suaramu itu bisa terdengar sampai ke gedung sebelah!" desak Ira sambil mencoba menutupi bahu Jelita dengan jaketnya yang tersisa.
Jelita hanya bisa menunduk dalam. Wajahnya memerah padam bukan lagi karena hawa dingin, melainkan rasa malu yang luar biasa. Ia menyentuh tanda kemerahan di lehernya dengan jemari yang masih bergetar. Rasanya masih terasa dingin, namun ada denyutan hangat yang aneh, seolah detak jantung Arjuna masih tertinggal di sana.
Sinar matahari yang mulai terang justru membuat tanda-tanda 'kepemilikan' di tubuh Jelita terlihat sangat nyata. Di leher, pundak, hingga pergelangan tangan yang mengenakan gelang hitam itu, terdapat bekas kemerahan yang samar-samar berpendar keemasan jika terkena cahaya matahari langsung.
Jelita mengeratkan jaketnya, berusaha menyembunyikan tanda-tanda itu. "Sudahlah, Dinda. Yang penting kita sudah keluar dari sana. Aku... aku tidak ingin membahasnya sekarang."
"Bagaimana tidak dibahas, Jel! Itu di lehermu... itu bukan cuma merah biasa! Itu seperti... oh, aku tidak sanggup mengatakannya!" Dinda terus mengoceh sambil berjalan cepat menuju parkiran motor. Sesekali ia menoleh ke belakang, takut jika sosok tinggi besar Arjuna tiba-tiba muncul dari bayangan pohon.
Ira tetap diam, namun matanya yang tajam terus memperhatikan Jelita. Ia melihat bagaimana Jelita terus-menerus mengusap bibirnya yang sedikit bengkak. Sebagai sahabat yang paling peka, Ira tahu bahwa apa yang terjadi di dalam sana bukan sekadar gangguan hantu biasa. Ini adalah sebuah klaim yang sangat dalam.
"Kita tidak pulang ke rumah masing-masing," ucap Ira tiba-tiba saat mereka sampai di motor. "Kita langsung ke rumah Kakek Wiryo. Hanya dia yang bisa menjelaskan kenapa hantu itu menyebutmu 'Ratunya' dan kenapa dia meninggalkan tanda sebanyak ini di tubuhmu."
Jelita tersentak. "Kakek? Tidak, Ira! Kakek tidak boleh tahu!"
"Dia justru harus tahu sebelum 'si mesum' itu datang lagi malam nanti, Jel!" tegas Ira sambil menghidupkan mesin motornya.
Tanpa mereka sadari, dari salah satu jendela lantai atas gedung tua yang gelap, sesosok bayangan transparan dengan mata biru yang tajam memperhatikan kepergian mereka. Arjuna berdiri di sana, menyilangkan tangan di depan dadanya yang telanjang, dengan seringai miring yang menandakan bahwa ia sedang menunggu malam berikutnya untuk kembali 'menjemput' miliknya.
"Sebaiknya kita pulang ke rumahku, aku takut ayah dan ibu kamu melihat semua ini!" usul Ira.
Ira menatap Jelita dengan tatapan yang sangat serius, tangannya masih mencengkeram setang motor dengan kuat. Ia menyadari jika Jelita pulang ke rumahnya sendiri dalam kondisi baju berantakan dan leher penuh tanda kemerahan, Burhan dan Diana pasti akan murka atau jatuh pingsan karena ketakutan.
"Benar kata Ira, Jel. Kamu tidak mungkin pulang dengan keadaan seperti... 'habis dikeroyok' begitu," timpal Dinda sambil membantu Jelita membenarkan letak jaketnya. "Ibumu itu tipe yang teliti! Sekali lihat lehermu yang merah-merah ini, urusannya bisa panjang!"
Mereka membelah jalanan pagi yang mulai ramai dengan perasaan was-was. Jelita duduk di boncengan Ira, menyembunyikan wajahnya di balik pundak sahabatnya itu. Setiap kali angin menerpa lehernya, bekas ciuman Arjuna terasa berdenyut—bukan sakit, melainkan rasa dingin yang elektrik, seolah sang Pangeran Kegelapan sedang membisikkan sesuatu di nadinya.
Di tengah perjalanan, Jelita merasa seolah ada tangan besar yang tak kasat mata melingkar di pinggangnya. Ia tersentak dan hampir terjatuh dari motor! Arjuna, meski raganya menghilang bersama fajar, seolah meninggalkan "jejak" yang terus meraba kulit Jelita.
Sesampainya di rumah Ira yang sedang sepi, mereka segera masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Jelita langsung berdiri di depan cermin besar, dan untuk pertama kalinya, ia melihat dengan jelas apa yang telah dilakukan Arjuna padanya.
Di cermin, Jelita melihat leher dan tulang selangkanya dipenuhi bercak kemerahan yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Namun yang aneh, tanda itu tidak terlihat seperti memar biasa; ada guratan halus berwarna emas di tengahnya yang membentuk pola ukiran kuno, persis seperti motif pada gelang hitamnya.
Jelita menyentuh bibirnya yang sedikit bengkak dan memerah akibat ciuman penutup dari Arjuna tadi. "Dia benar-benar gila... dia sengaja melakukan ini agar semua orang tahu!" bisik Jelita parau, matanya mulai berkaca-kaca antara marah dan sensasi aneh yang tak bisa ia jelaskan.
"Astaga, Jelita! Itu bukan cuma merah-merah biasa!" Dinda mendekat, wajahnya pucat pasi saat melihat tanda itu dari dekat. "Ini... ini seperti stempel kepemilikan! Lihat, polanya bahkan bergerak kalau kamu bernapas!"
Ira berjalan mendekat sambil membawa sebaskom air hangat dan kain. "Diamlah Dinda, jangan menakut-nakutinya! Jel, lepas jaketmu. Aku akan coba mengompresnya. Kita harus menghilangkan tanda ini sebelum kita berangkat ke rumah kakekmu siang nanti."
Namun, saat kain hangat itu menyentuh leher Jelita, tiba-tiba suhu di kamar Ira merosot tajam! Kaca cermin di depan Jelita mendadak berembun, dan sebuah tulisan muncul di permukaan kaca seolah ditulis oleh jari yang tak terlihat:
"Milikku tidak akan bisa kau hapus, Ratu Kecilku."
Jelita berteriak kecil dan mundur hingga menabrak tempat tidur. Di saat yang sama, gelang hitam di pergelangan tangannya memancarkan cahaya biru yang menyilaukan, membuat Ira dan Dinda terlempar mundur!
"Dia... dia masih di sini! Dia tidak benar-benar pergi!" jerit Dinda sambil meringkuk di sudut kamar.
Suara tawa rendah Arjuna yang bariton dan seksi kembali bergema di keempat sudut ruangan, meskipun sosoknya tidak terlihat. Hawa dingin merayap di kaki Jelita, seolah pria itu sedang berlutut di depannya dan mencium lututnya melalui udara.