NovelToon NovelToon
Rintik Di Barisan Belakang

Rintik Di Barisan Belakang

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Aruna selalu memilih duduk di barisan paling belakang.
Di sana, dia merasa aman, terlindung dari keramaian, dari tatapan, dari hal-hal yang membuat dadanya sesak.
Hujan adalah teman terbaiknya, satu-satunya suara yang mengerti diamnya.

Sampai suatu pagi, di tengah gerimis dan jendela berkabut, Bu Maita menyebut dua nama yang tak pernah Aruna bayangkan akan berdampingan.

“Aruna Pratama dan Dhira Aksana.”

Dhira, cowok yang selalu jadi pusat perhatian, yang langkahnya tenang tapi meninggalkan riak kecil di mana pun dia lewat.
Sejak saat itu, barisan belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi.
Perlahan, tanpa sadar, Aruna mulai membuka ruang yang sudah lama dia kunci rapat-rapat.

Di antara rintik hujan, catatan pelajaran, dan detik-detik canggung yang tak terduga, Aruna belajar bahwa beberapa pertemuan datang seperti gerimis.
pelan, jujur, dan sulit dilupakan.

Karena kadang, seseorang masuk ke dalan hidupmu setenang hujan, tanpa suara, tapi kamu ingat selalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mimpi Buruk yang Kembali

Aruna nggak suka tidur.

Bukan karena insomnia. Bukan karena nggak ngantuk. Tapi karena... mimpi.

Mimpi buruk yang selalu dateng. Berulang. Kayak film horor yang diputer terus-menerus di kepala, nggak peduli seberapa keras dia berusaha melupakannya.

Malam ini juga.

Aruna rebahan di kasurnya, selimut ditarik sampai dagu, mata terpejam tapi... nggak nyenyak. Napasnya pendek-pendek. Keringat mulai muncul di pelipis meski AC kamarnya nyala.

Dan mimpi itu... dateng lagi.

---

...Koridor sekolah SMP. Lantai keramik putih yang retak di beberapa tempat. Dinding cat hijau muda yang kusam. Bau desinfektan murah yang nyengat....

...Aruna berdiri sendirian di tengah koridor itu. Seragam SMP-nya—rok biru tua, baju putih yang kebesaran—basah. Basah karena... air comberan yang tadi disiram ke tubuhnya....

...Tawa. Tawa kenceng dari belakang....

...Aruna noleh pelan....

...Ada mereka....

...Lima cewek. Semuanya lebih tinggi dari Aruna. Lebih cantik. Lebih... percaya diri....

...Dan di depan mereka... Nisa....

...Bukan Nisa SMA. Tapi Nisa SMP. Dengan senyum yang... sama. Senyum kejam yang bikin Aruna pengen lari tapi kakinya... nggak bisa gerak....

..."Liat deh, si cupu basah-basahan," kata Nisa sambil ketawa. "Cocok banget buat kamu, Aruna. Bau comberan sama bau badan kamu kan mirip."...

...Tawa makin keras....

...Aruna nunduk. Tangannya gemetar. Nggak bisa ngomong apa-apa....

..."Eh, Aruna." Suara lain. Suara cowok. Dari belakang....

...Adrian....

...Cowok tinggi dengan rambut cepak, seragam nggak dimasukin, tatapan mata yang... dingin. Cowok yang dulu sering... sering nyakitin Aruna....

...Adrian jalan mendekat. Tangan kekarnya mendorong bahu Aruna—keras—sampai Aruna jatuh. Punggungnya bentur lantai. Sakit....

..."Kamu pikir kamu bisa kabur dari masa lalu?" bisik Adrian, jongkok di depan Aruna, wajahnya deket banget. "Kamu akan selalu jadi pecundang. Lemah. Nggak berharga."...

..."Nggak..." bisik Aruna pelan, suaranya gemetar. "Aku... aku bukan..."...

..."Bohong." Nisa ikut jongkok. Senyumnya makin lebar. "Kamu lemah. Kamu nggak ada gunanya. Dhira deket sama kamu? Dia cuma kasian. Cuma... belas kasihan."...

...Belas kasihan....

...Kata-kata itu... nyelekit....

..."Nggak... nggak..." Aruna geleng-geleng kepala, air mata mulai jatuh. "Dhira... Dhira nggak kayak gitu... dia... dia baik..."...

..."Baik?" Nisa ketawa. Keras. Nyaring. "Dia baik karena kamu kelihatan menyedihkan, Aruna. Nggak ada cowok yang beneran mau sama cewek kayak kamu."...

...Tawa makin keras. Semua orang di koridor itu ketawa....

...Dan Aruna... nangis....

...Nangis keras. Tubuhnya gemetar. Tangannya nutupin wajah tapi air matanya nggak berhenti....

..."Kamu nggak akan pernah cukup baik."...

..."Nggak akan pernah."...

..."Nggak akan pernah."...

---

"NGGAK!"

Aruna terbangun.

Napasnya tersengal. Dadanya naik turun cepet. Keringat dingin membasahi dahinya, lehernya, punggungnya. Selimutnya kusut, jatuh ke lantai.

Aruna duduk di kasur, peluk lututnya, kepala di lutut, napasnya... nggak bisa tenang.

*Cuma mimpi. Cuma mimpi. Cuma mimpi.*

Tapi rasanya... nyata.

Rasanya kayak... kayak dia balik lagi ke SMP. Balik ke masa di mana dia... nggak ada yang peduli. Di mana dia... lemah.

Tok tok tok.

Ketukan di pintu.

"Aruna?" Suara Arya dari luar. Khawatir. "Kamu mimpi buruk lagi?"

Aruna nggak jawab. Tangannya gemetar. Matanya masih basah.

Pintu terbuka pelan. Arya masuk, masih pake kaos tidur, rambut berantakan, mata ngantuk tapi... wajahnya cemas.

"Dek..." Arya duduk di tepi kasur, ngeliat Aruna yang masih peluk lutut, gemetar. "Mimpi buruk lagi ya?"

Aruna ngangguk pelan. Nggak bisa ngomong. Tenggorokannya... kering.

Arya mengelus punggung Aruna pelan. Lembut. "Udah lewat, dek. Kamu aman sekarang."

Aman.

Tapi kenapa Aruna nggak ngerasa aman?

Kenapa mimpi itu terus dateng?

Kenapa... kenapa dia nggak bisa lupa?

"Kak..." suara Aruna keluar kecil, gemetar. "Aku... aku capek..."

"Capek kenapa?"

"Capek... capek inget terus... capek takut terus... capek ngerasa... ngerasa aku nggak... nggak cukup..."

Arya diem. Tangannya berhenti mengelus. Terus... dia peluk Aruna. Erat.

"Aruna, dengerin Kakak ya." Suara Arya pelan tapi tegas. "Kamu cukup. Kamu lebih dari cukup. Orang-orang yang dulu nyakitin kamu itu... mereka salah. Bukan kamu. Mereka yang salah."

Tapi Aruna... nggak percaya.

Dia nggak bisa percaya.

Karena suara-suara di mimpi itu... suara-suara itu lebih keras dari kata-kata Arya.

"Kakak... aku... aku nggak tau lagi..." Aruna nangis di pelukan kakaknya. Nangis keras. Nangis yang... ditahan selama ini.

Arya cuma peluk adiknya lebih erat. Nggak ngomong apa-apa lagi. Cuma... ada.

Dan Aruna... nangis sampai nggak ada air mata lagi.

Sampai napasnya pelan.

Sampai akhirnya... dia ketiduran lagi di pelukan Arya.

Tapi sebelum tidur...

Matanya ngeliat ke sudut kamar.

Jurnal cokelatnya terbuka di meja belajar. Tulisan terakhir sebelum tidur masih keliatan:

..."Mimpi buruk kembali. Wajah-wajah itu kembali. Aku takut suatu hari mereka akan benar-benar nyata lagi."...

---

Pagi harinya.

Aruna bangun dengan mata sembab.

Bengkak. Merah. Kulitnya pucat. Bibirnya kering.

Dia ngeliat cermin di kamar mandi. Ngeliat wajahnya sendiri yang... berantakan.

*Ya Allah... gimana aku ke sekolah kayak gini...*

Aruna cuci muka. Berkali-kali. Sampai air dinginnya bikin wajahnya agak enakan. Tapi matanya... tetep keliatan sembab.

Dia pake jilbab lebih rapat dari biasanya. Nutupin sebagian wajah. Berharap... berharap nggak ada yang ngeliat.

Sampai sekolah, Aruna langsung ke kelas. Nggak lewat kantin. Nggak nyapa siapa-siapa. Langsung duduk di bangkunya—barisan keempat dari depan, tempat barunya—terus nunduk, taruh kepala di meja.

Capek.

Dia capek banget.

Capek fisik. Capek mental. Capek... ngerasa.

Beberapa menit kemudian, Kayla dateng. "Aruna? Kamu... kamu nggak enak badan?"

"Aku baik-baik aja, Kay..." jawab Aruna pelan, nggak ngangkat kepala.

"Tapi wajahmu—"

"Aku baik-baik aja."

Kayla diem. Nggak ngelanjutin. Cuma... duduk di sebelah Aruna, diam-diam khawatir.

Bel masuk bunyi.

Anak-anak mulai masuk kelas. Rame. Berisik.

Dan dari pintu...

Dhira masuk.

Cowok itu jalan santai ke bangkunya, tapi... matanya ngelirik ke Aruna.

Sekilas.

Terus... berhenti.

Dhira ngeliat Aruna yang masih nunduk. Ngeliat postur tubuhnya yang... lemah. Beda dari biasanya.

Ada yang salah.

Dhira tau.

Dia jalan ke bangkunya, duduk, tapi... matanya terus ngelirik ke belakang. Ke Aruna.

Pelajaran dimulai. Tapi Dhira... nggak fokus.

Otaknya penuh sama... Aruna.

*Dia kenapa? Dia sakit? Atau... ada yang terjadi?*

Jam istirahat pertama.

Aruna nggak keluar kelas. Masih duduk. Masih nunduk.

Kayla pergi ke toilet. Jadi Aruna sendirian sekarang.

Dan tiba-tiba...

Ada yang duduk di bangku sebelahnya.

Aruna menengadah pelan.

Dhira.

Duduk di bangku yang tadi ditempatin Kayla, ngeliatin Aruna dengan tatapan... khawatir.

"Kamu... kamu nggak apa-apa?" tanyanya pelan.

Aruna ngangguk cepet. "Iya... aku baik-baik aja..."

"Bohong."

Deg.

Aruna diem.

Dhira nunduk dikit, biar matanya sejajar sama mata Aruna. "Matamu sembab. Wajahmu pucat. Dan kamu... kamu keliatan capek banget."

Aruna... nggak bisa bohong lagi.

Dia nunduk dalam. Tangannya menggenggam ujung jilbabnya. Gemetar.

"Aku... aku cuma... cuma mimpi buruk..." bisiknya pelan.

"Mimpi buruk tentang apa?"

"Tentang... tentang masa lalu..."

Dhira diem. Ngeliatin Aruna lama.

Terus... tanpa bilang apa-apa... dia duduk lebih deket. Bahunya nyaris nyentuh bahu Aruna.

Nggak ngomong.

Cuma... ada.

Aruna ngerasa kehangatan itu. Kehangatan dari kehadiran Dhira yang... yang nggak bertanya lebih jauh. Yang nggak maksa. Yang cuma... ada.

Dan entah kenapa...

Dadanya... sedikit lebih tenang.

Sedikit lebih... aman.

Mereka duduk kayak gitu. Diam. Beberapa menit.

Sampai Kayla balik, liat Dhira duduk di situ, terus senyum kecil—senyum yang ngerti—dan nggak ganggu mereka.

Dan Aruna... dalam hati bisik:

*Ya Allah... kenapa... kenapa cowok ini bisa bikin aku ngerasa... nggak sendirian?*

*Kenapa... dia selalu ada... pas aku lagi... lemah?*

*Apa... apa dia beneran peduli?*

*Atau aku... aku cuma berharap terlalu banyak?*

Tapi Aruna nggak berani nanya.

Takut jawabannya...

Nggak sesuai harapan.

---

Siang itu, pulang sekolah, Aruna jalan sendirian lagi.

Langit mendung. Angin kenceng. Kayaknya mau hujan.

Aruna ngeliat langit. Ngeliat awan hitam yang bergerak cepet.

Dan tiba-tiba...

Dia inget mimpi semalam.

Inget wajah-wajah yang ngehinanya.

Inget kata-kata mereka.

*"Kamu nggak akan pernah cukup baik."*

Aruna berhenti di tengah jalan.

Berdiri diam.

Tangannya gemetar.

Matanya... basah lagi.

*Apa... apa mereka bener?*

*Apa aku... apa aku emang nggak akan pernah... cukup?*

Hujan mulai turun.

Rintik pelan.

Tapi Aruna nggak gerak.

Cuma berdiri di situ. Kehujanan. Basah. Dingin.

Nggak peduli.

Karena dingin di luar...

Nggak sedingin... dingin di dalem hatinya.

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap 👍🙏 Aruna kamu kuat ada Author dan Reader yang stay with you 😇
Mentari_Senja: mkasih, kak🙏
total 1 replies
checangel_
Ghibah itu ............... ya seperti itu🤧, terkadang kita suka nggak sadar bahwa apa yang kita bahas itu termasuk dalam rumpun ghibah 🤧
checangel_: No comment🤭/Silent/
total 2 replies
checangel_
Rasanya gimana sih, nangis tanpa air mata /Sob/, pasti berat banget 🤧
checangel_: Waduh, beneran nangis bawang itu🤧/Hey/
total 6 replies
checangel_
Singgah hanya untuk mampir dan nitip salam 'Assalamu'alaikum' gitu ya🤭/Facepalm/🤧
Mentari_Senja: waalaikumsalam🤭
total 1 replies
checangel_
Karena cintamu hanya lewat 🤧
checangel_
Aruna/Facepalm/
checangel_
Bahkan sampai sekolah dong berita anginnya 🤧
checangel_
Wah, stalker kah /Facepalm/
checangel_: Begitulah kehidupan sekarang, banyak yang kepo /Facepalm/
total 2 replies
checangel_
Nah, benar itu kata Ibu 🤧, jangan dipendam jika menyimpan perasaan pada seseorang 😇, tapi tetap ingat ya, imanmu tetap yang paling utama
Mentari_Senja: kata2 seorang ibu emang gk pernah salah😌
total 1 replies
Risa Sangat Happy
Dhira jangan sedih ya karena bapak kamu suatu saat akan menyesal selalu membenci kamu
Yayang Risa Always Together
Dhira ngga usah patah semangat biarkan saja ayahmu mau ngomong apa
Risa Yayang Married
Dhira semangat tunjukkan bahwa kamu bisa membanggakan ayah kamu
Yayang Risa 💏👨‍👩‍👧‍👦
Dhira hidup kamu menyedihkan banget kamu di salahkan sama ayah kamu terus
Risa Imuet
Dhira kamu ngga usah pikirkan omongan ayah kandungmu
Risa Selalu Beautiful
Dhira ngga usah sedih masih ada teman kamu yang menyayangi kamu
Risa Happy With Yayang
Dhira kasihan ngga pernah dapat kasih sayang dari orang tuanya
Risa Selalu Teristimewa
Kasihan Dhira ngga pernah dapat kasih sayang dari ayahnya
Yaris Cinta Sampai Selamanya
Ternyata hidupnya Dhira menyedihkan banget ya
Risa Yayang Selamanya Bahagia
Dhira abaikan saja ayah kandungmu suatu saat ayahmu menyesal karena menghina kamu dan menuduh kamu pembawa sial
Suamiku Paling Sempurna
Dhira biarkan saja ayah kandung kamu menuduh kamu apa tapi kamu tunjukkan ke dia bahwa kamu bisa jadi orang hebat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!