Di balik senyumnya yang lembut dan rumah tangga yang terlihat harmonis, Kiandra menyimpan luka yang tak kasat mata. Lima tahun menikah, pengorbanan dan cintanya pada Adam Mahendra, suaminya, seakan tak berarti.
Nadira, wanita manipulatif yang datang dengan sejuta topeng manis dan ambisi untuk merebut apa yang bukan miliknya.
Awalnya Kiandra memilih diam, berharap badai akan berlalu. Namun ketika suaminya mulai berubah, ketika rumah yang dibangunnya dengan cinta hampir runtuh oleh kebohongan, Kiandra sadar diam bukan lagi pilihan.
Dengan hati yang patah namun tekad yang utuh, Kiandra memulai perjuangannya. Bukan hanya melawan Gundik yang licik, tapi juga melawan rasa sakit yang suaminya berikan.
Di tengah air mata dan pengkhianatan, ia menemukan kekuatan baru dalam dirinya. Harga diri, dan cinta yang layak di perjuangkan.
Kiandra kembali membangun karirnya, membuat gundik suaminya semakin tidak setara dalam segala hal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
WARNING!!!
Adam dan Nayla sudah tiba di Jerman setelah perjalanan panjang yang melelahkan. Udara dingin menyambut begitu mereka keluar dari bandara, membuat Nayla refleks merapatkan mantel ke tubuhnya. Adam menggenggam kopernya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali menggenggam jemari Nayla, seolah memastikan wanita itu benar-benar ada di sisinya.
Perjalanan menuju hotel mereka lewati dalam diam yang nyaman. Lampu-lampu kota Berlin berkelebat di balik kaca mobil, memantulkan bayangan wajah Nayla yang tampak letih namun puas. Ada rasa lega yang tak terucap, akhirnya mereka tiba, jauh dari hiruk-pikuk yang selama ini membebani pikiran.
Begitu sampai di hotel dan mendapatkan kunci kamar, mereka langsung naik ke lantai tujuan. Pintu kamar terbuka, memperlihatkan ruangan bernuansa hangat dengan lampu temaram yang menenangkan. Nayla masuk lebih dulu, menanggalkan sepatu, lalu membuang kopernya begitu saja di dekat pintu. Tanpa banyak bicara, dia menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang empuk, memejamkan mata sambil menghela napas panjang.
“Lelah sekali,” keluh Nayla lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh empuknya bantal.
Adam terkekeh pelan melihat tingkah Nayla. Ia melepas jaket dan pakaiannya dengan gerakan santai, berusaha mengusir rasa penat yang sama. Setelah itu, ia melangkah mendekati ranjang, tatapannya lembut menelusuri wajah Nayla yang terlihat begitu kelelahan. Dengan hati-hati, Adam naik ke ranjang dan menindih tubuh Nayla tanpa benar-benar membebani, menopang tubuhnya dengan siku agar Nayla tetap merasa nyaman.
Nayla membuka mata dan menatap Adam, senyum tipis terbit di sudut bibirnya. Tatapan mereka bertaut, menyimpan banyak hal yang tak perlu diucapkan. Adam menggeser rambut Nayla yang menutupi keningnya, sentuhannya hangat dan penuh perhatian.
“Kita akan menghabiskan waktu berdua di sini” ucap Adam pelan, seolah kalimat itu adalah penutup dari semua kegelisahan yang mereka bawa selama ini.
Nayla mengangguk, lalu melingkarkan tangannya di leher Adam. Rasa lelah itu perlahan berubah menjadi ketenangan, digantikan oleh perasaan aman karena berada di tempat yang jauh, namun justru terasa lebih dekat dari sebelumnya. Di kamar hotel yang sunyi itu, mereka membiarkan waktu berjalan lambat, menikmati kebersamaan tanpa perlu terburu-buru, sebuah jeda yang sangat mereka butuhkan sebelum menghadapi hari-hari berikutnya.
Adam perlahan bangkit dari atas tubuh Nayla. Tatapannya tak lepas dari wanita itu, sementara jemarinya bergerak hati-hati membuka kancing pakaian Nayla, seolah menikmati setiap detik kedekatan mereka. Gerakannya tidak tergesa, lebih seperti ungkapan hasrat yang tertahan sejak perjalanan panjang tadi.
Nayla masih terlentang di atas ranjang, menatap langit-langit kamar dengan sudut bibir terangkat samar. Lelah memang masih terasa di sekujur tubuhnya, namun kehadiran Adam di dekatnya menghadirkan sensasi lain yang sulit diabaikan.
"Kau mau apa? Memangnya tidak capek?" tanya Nayla yang masih terlentang di atas ranjang. Lekuk tubuhnya yang seksi pasti membuat siapapun tidak tahan ingin menyentuhnya.
Adam tersenyum menyeringai, tatapannya penuh keyakinan. “Tidak ada rasa capek, untuk hal ini, baby,” ucapnya ringan namun sarat makna.
Nayla terkekeh mendengar jawaban itu. Dia menggeleng kecil, lalu kembali menatap Adam dengan tatapan menggoda. “Kau memang maniak, sayang,” balasnya sambil tertawa pelan, menikmati bagaimana kelelahan mereka perlahan berubah menjadi kehangatan yang intim.
Adam tidak hanya melepaskan celana yang dikenakan Nayla, dia juga menanggalkan coat dan kemeja yang sejak tadi masih melekat di tubuhnya. Kini Nayla hanya mengenakan pakaian dalamnya saja, sambil terbaring santai di atas ranjang hotel yang hangat.
“Aku capek, sayang,” rengek Nayla manja. Meski kata-katanya mengeluh, sikapnya justru berbanding terbalik. Ia sama sekali tidak berusaha menutupi diri, malah berpose santai seolah sengaja menguji kesabaran Adam.
“Kamu tidur aja, sayang. Aku cuma mau main sebentar,” ucap Adam dengan senyum menyeringai yang khas.
Adam lalu merebahkan tubuhnya di samping Nayla dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Keintiman di antara mereka terasa begitu dekat. Tangannya bergerak perlahan, menyusuri tubuh mulus wanita itu, dan melepaskan sesuatu....
Ctak…
Dengan satu gerakan cepat, pengait br* yang dikenakan Nayla pun terlepas. Nayla terkekeh pelan, sementara Adam hanya tersenyum puas, menikmati momen kebersamaan mereka di negeri asing yang terasa semakin hangat di balik pintu kamar hotel itu.
"Ahhh....Adam, kamu memang nakal" desah Nayla, ketika Adam meremas bokongnya sambil mencium leher jenjang miliknya.
Adam melerai pelukannya, hingga memperlihatkan dada besar milik Nayla. Tangannya pun terulur menyentuh dan meremas kedua dada Nayla secara bergantian, matanya melihat wajah Nayla yang terlihat sayu menikmati sentuhan Adam.
"Katanya kamu mau tidur baby" goda Adam tersenyum licik. Tangannya tidak berhenti meremas dada Nayla.
"Bagaimana aku bisa tidur kalau kamunya seperti ini" Ucap Nayla sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
"Aku memang sengaja tidak ingin membuatmu tidur. Kita kesini untuk menikmati waktu berdua baby, bukan untuk tidur" ucap Adam sambil menundukkan wajahnya, dia memasukkan dada Nayla kedalam mulutnya.
Adam menghisap puti*ng Nayla seperti bayi yang kehasan, sementara tangannya tidak tinggal diam, terus meremas dada Nayla.
Nayla merem melek, dia yang tadinya mengantuk kini matanya berubah segar. Adam memang paling pintar kalau soal ranjang.
"Akh... Sakit sayang" pekik Nayla ketika Adam menggigit putingnya.
Adam hanya terkekeh, dia berganti menghisap dada Nayla yang satunya lagi. Gerakan tangannya semakin lama semakin turun ke perut dan berhenti di bagian inti Nayla yang masih terbungkus oleh kain segitiga. Adam mengusapnya dengan begitu lembut.
Plug.....
Adam melepaskan hisapannya dari dada Nayla.
"Bagaimana baby, kamu masih mengantuk?" goda Adam sambil tertawa kecil melihat wajah Nayla yang sudah memerah di penuhi nafsu.
Tanpa berkata-kata, Nayla menarik tengkuk leher Adam, dan mencium bibir laki-laki itu dengan begitu nafsu. Sejak tadi dia sudah berusaha menahannya tetapi tidak bisa. Lenguhan, decapan, terdengar nyaring di kamar tersebut.
Tangan Adam terus bekerja, dia menurunkan celana dalam Nayla hingga tubuh wanita itu polos tanpa sehelai benang pun. Reflek Nayla melebarkan kedua kakinya memberikan akses untuk Adam bermain.
Bibir keduanya masih saling bertaut, Adam memasukkan kedua jarinya kedalam milik Nayla dan mengocoknya.
"Euhg....." lenguh Nayla di sela-sela ciumannya, dadanya membusung menahan sesuatu yang nikmat di bawah sana.
Adam terus menggerakan jari tangannya keluar masuk di dalam milik Nayla yang sudah becek. Tak puas dengan itu, Adam kembali memasukkan satu jarinya, hingga total tiga jari yang masuk kedalam liyang wanita itu.
Nayla melepaskan tautan bibirnya, dia menjerit-jerit tidak karuan, Adam menyesap dada Nayla sambil mengocok milik Nayla dengan begitu cepat. Jarinya mengaduk-ngaduk, dan jempol tangannya mengusap klit*risnya.
"Akkhhh..... Sayang" desah Nayla.