NovelToon NovelToon
Kupilih Keduanya

Kupilih Keduanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Harem
Popularitas:939
Nilai: 5
Nama Author: A19

Zevanya Putri Wiratmadja. Putri tunggal seorang konglomerat kaya di Kotanya. Hidupnya sangat sempurna karena memiliki keluarga harmonis dan juga kakak laki-laki yang tampan. Namun siapa sangka? Diam-diam Vanya malah menyukai kakak laki-lakinya itu.

Saat Vanya dengan nekat akan menyatakan perasaannya, kakak laki-lakinya malah mengenalkan seorang wanita yang ia claim sebagai pacarnya.

Di tengah kekacauan hatinya, Vanya bertemu dengan laki-laki menyebalkan yang makin membuat kacau hari-harinya.

Akankah Vanya memilih untuk melupakan kakaknya? Ataukah Vanya lebih memilih untuk memperjuangkan cintanya? Atau malah pindah haluan dan memilih laki-laki menyebalkan yang sayangnya sangat tampan itu?

ikuti terus kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Rencana Menyatakan Perasaan

Pertandingan basket antara kelas XI IPA 1 dan XI IPS 2 telah usai. Kini guru olahraga membebaskan mereka untuk melakukan apa saja sampai jam olahraga selesai. Masih ada waktu sekitar 30 menit lagi sebelum pergantian pelajaran.

"Vanya, gw tadi keren nggak main nya?" Surya menghampiri Vanya dan dua sahabatnya yang duduk di bangku penonton barisan nomer 2 dari bawah.

"Bagus, lo kan Ketua Tim Basket sekolah" jawab Vanya apa adanya.

"Bukan gitu Van. Kalo menurut pendapat pribadi lo. Gw keren nggak?" Surya tidak memakai Jersey seragam basketnya. Namun keringat yang membasahi wajah dan baju olahraga membuat nya makin terlihat sexy karena tubuh atletis nya tercetak jelas dengan sempurna.

"Ngapain tanya gw? Emang gw pelatih basket lo apa!" Vanya mulai berucap dengan nada ngegas, yang artinya ia mulai terganggu dengan pertanyaan Surya.

"Tau tuh! Tanyain sana sama fans fans lo. Atau tanyain tuh sama barisan cewe-cewe lo" Rain ikutan ngegas. Ia yang anti dengan cowo playboy merasa terganggu dengan adanya Surya di depan mereka. Sok ganteng sekali pikirnya.

"Udah udah guys. Cabut aja yuk" Lea menggandeng kedua sahabatnya di masing-masing sisi tangan nya. Takut mereka membuat keributan.

Surya menatap sendu kepergian tiga gadis famous itu. Sedari dulu hanya Vanya yang ia suka. Surya memacari banyak gadis lain hanya untuk pelampiasan karena penolakan Vanya. Dan ia juga ingin membuktikan pada Vanya jika ia banyak di inginkan oleh para siswi di sekolah mereka. Namun sayang cara itu malah membuatnya makin di jauhi oleh Vanya.

"Udahlah bro, cari yang lain aja. Vanya se susah itu buat di dapetin" Dika menepuk pelan bahu Surya. Tanpa Surya sadari, saat ia tadi sedang terdiam menyaksikan kepergian Vanya, Dika mendekat kearahnya.

"Nggak bisa. Gw udah suka sama dia dari pandangan pertama waktu MOS" balas Surya. Ia mendudukkan tubuhnya di bangku penonton bekas Vanya duduk tadi.

"Tapi dia dingin banget sama lo, bahkan ngga melirik lo sedikit pun. Prestasi lo juga ngga mempan buat dia. Dia cewe pinter bro!" Dika memaparkan fakta yang sulit Surya terima.

"Lagian apasi yang lo suka? Dia emang terkenal, tapi banyak yang bilang karena dia itu murid pinter dan juga karena dia bisa sahabatan sama Putri dari Wiradjaya Grub dan Aldrick Corporation. Selain itu? Muka cantik? Cewe cantik mah banyak. Udahlah move on aja" Dika mencoba menasehati sahabatnya. Meski mereka berdua bukan dari keluarga konglomerat, namun orangtuanya memiliki beberapa Toko dan Supermarket di kota mereka.

"Apaan sih! Gw suka sama dia karena emang cuman dia yang bisa bikin gw degdegan hanya karena liat wajahnya doang" balas Surya tak terima.

"Awas aja lo jelek-jelekin dia lagi!" ancam Surya tak main-main. Setelah mengatakan itu, Surya meninggalkan Dika begitu saja.

Kembali lagi pada Vanya dan dua sahabatnya. Kini mereka bertiga sudah berganti seragam dan sedang duduk di bangku masing-masing pada kelas mereka. Pergantian pelajaran masih 10 menit lagi.

"Eh guys, gw rencananya mau nembak kak Fian" ucap Vanya pelan.

Mereka bertiga duduk melingkar di belakang kelas.

Teman kelas mereka yang lain sibuk dengan urusan masing-masing, jadi mereka semua tak akan bisa mendengar pembicaran 3 sahabat itu di belakang ruang kelas, tepatnya di belakang meja Vanya dan Lea. Mereka duduk bersila di lantai.

"Lo udah gila ya!" Rain berucap pelan, namun matanya menyorot tajam menatap Vanya.

"Tadi malem gw ngobrol sebentar, waktu gw bahas perasaan, kak Fian malah menghindar dan pergi gitu aja. Gw yakin banget kak Fian pasti suka sama gw"

"Buset PD bener lo anjirr" Rain menjitak pelan kepala Vanya.

"Gilak nih temen lo. Perkara gitu doang di bilang suka" Lea berdecak kesal sambil geleng-geleng kepala.

"Emangnya om Danu bakalan setuju sama hubungan kalian?" tanya Rain. Otaknya yang paling waras mulai bekerja.

"Ya harus setuju lah. Mereka kan udah anggep kak Fian sebagai anaknya. Apa bedanya kalo kak Fian jadi menantu mereka?" Vanya masih keukeuh dengan keinginan nya.

"Vanya yang cantik, nggak gitu juga konsepnya! Itu namanya lo maksain keadaan" Lea mencoba menyadarkan sahabatnya dengan sopan. Takut tiba-tiba di geplak oleh Vanya jika salah sampai salah ucap.

"Lagian kenapa sih lo ngga cari cowo lain aja? Kan banyak tuh yang deketin lo, gw liat-liat Raza baik tuh orangnya. Ngapain coba lo suka sama kakak sendiri sampai-sampai lo nggak pernah nyoba pacaran sama yang lain" Rain pun mulai gemas dengan sepupunya ini.

"Perasaan kan nggak bisa di paksain tauk" jawab Vanya dengan jujur.

"Ya gw juga tau kaleee" balas Rain sewot.

"Nah itu lo tau" ucap Vanya.

"Nih ya, kalo misalnya lo di tolak, lo bakalan gimana nantinya? Maksud gw, apa nggak akan akward nantinya ketika kalian di moment hanya berdua aja? Dan yang pasti lo akan sakit hati juga kan?" tanya Lea realistis.

"Ngomongin yang bagus dulu napa si?! Misal kalau gw di terima gimana, misal kak Fian juga punya perasaan yang sama gimana. Jangan malah bahas kalo gw di tolak gimana. Ah jahat banget sih lo" kesal Vanya.

"Ya justru kita harus bicarain dulu kemungkinan terburuknya Vanya sayang" balas Rain.

"Kalo di terima alhamdulillah , kalo di tolak ya yaudah" ucap Vanya dengan santai.

"Nggak mungkin! Lo aja suka sama kak Fian dari lama. Nggak mungkin lo nggak patah hati kalo nanti di tolak" Rain menyampaikan fakta yang membuat Vanya langsung berdecak kesal.

"Tau ah, kalian jahat"

Seorang guru mapel Fisika memasuki kelas Vanya. Mereka bertiga pun bergegas ke tempat masing-masing. Namun Vanya tak bisa fokus mendengarkan pelajaran kali ini. Kepalanya di penuhi berbagai kemungkinan tentang jawaban apa yang akan ia dapatkan jika menyatakan perasaan nanti malam.

Sedangkan di tempat lain, kelas Vano sekarang sedang jamkos. Guru yang harusnya mengajar hanya memberikan tugas saja dan izin tidak masuk kelas karena ada kepentingan.

"Lo tau akun sosmed tunangan lo nggak? Kali aja dia pernah post foto dua sahabatnya" tanya Radit.

Mereka bertiga sudah selesai mengerjakan tugas. Kini mereka sedang duduk di bangku masing-masing namun ketiganya saling berhadapan. Kursi Radit di hadapkan ke belakang agar mereka bisa mengobrol dengan leluasa.

"Tumben banget cowo cuek kaya lo nanya-nanya soal cewe. Njir lah kesambet apaan lo Dit" seperti biasa Vano sangat lah menyebalkan.

"Kemaren kan gw udah bilang kalau mau move on" balas Radit. Diantara mereka bertiga, Radit lah yang paling sabar.

"Nggak ada. Gw lupa nanya ke Tante Anya" jawaban Tian membuat Radit mendesah kecewa.

"Bokap udah ngabarin, katanya besok kita udah bisa berangkat sekolah ke Wiratmadja" Radit dan Tian kompak menoleh ke arah Vano.

"Gilak! Secepat itu?" Tian terheran-heran.

"Bokap lo oke banget" puji Radit.

"Yaiyalah. Bokap gw gitu loh" pamer Vano dengan bangga sambil menepuk dadanya.

"Cewe lo gimana? Lo kabarin kagak?" tanya Tian.

"Dih najis! Biarin dia tau dengan sendirinya. Kalau udah, baru deh gw minta maaf" jawab Vano acuh tak acuh.

"Emang pinter banget akting lo. Orang-orang nggak akan bisa bedain lo beneran tulus apa nggak pacaran sama si nenek lampir" balas Tian.

"Biarin aja. Biar dia bangga dulu karena bisa gw pacarin. Tapi nanti, gw akan bikin dia patah hati sampe pengen bunuh diri" tekad Vano. Wajahnya serius saat mengatakan itu.

"Kejam banget lo" sambar Radit.

"Yeah makasih atas pujiannya. Gw mau keluarga mereka menerima karma nya" bibir Vano terangkat membentuk sebuah seringaian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!