Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Merlion dan Jaring Laba-Laba Baja
Singapura menyambut mereka dengan kelembapan udara yang mencekam dan hutan beton yang berkilauan. Jauh dari suasana pulau tropis yang terisolasi, negara kota ini adalah rimba bagi para predator berkerah putih. Di sini, uang berbicara lebih keras daripada peluru, dan rahasia terkubur di balik server-server gedung pencakar langit yang tak tertembus.
Aruna melangkah keluar dari jet pribadi di Changi dengan identitas baru sebagai Madamme Elena Van de Berg, seorang janda kaya dari Belanda yang bergerak di bidang perhiasan antik. Ia mengenakan kacamata hitam besar dan setelan linen krem yang elegan. Di pelukannya, Leonardo—yang kini menggunakan paspor dengan nama Leo—tampak tenang, tertidur dalam balutan selimut kasmir.
Dante berjalan di sampingnya, berperan sebagai kepala keamanan pribadi dengan nama samaran Viktor. Ia mengenakan setelan jas hitam tanpa dasi, telinganya terpasang earpiece yang terus terhubung dengan Marco yang sudah lebih dulu tiba di Singapura untuk menyiapkan unit apartemen di Marina Bay Sands.
"Tetaplah di karakter, Elena," bisik Dante saat mereka melewati pemeriksaan imigrasi VIP. "Singapura punya mata di setiap sudut. Kamera-kamera di sini tidak hanya memindai wajah, tapi juga gaya berjalanmu."
Aruna hanya mengangguk kecil. Ia merasakan sedikit keringat dingin di telapak tangannya. Pergelangan tangannya yang bertanda melati ditutupi oleh jam tangan berlian lebar yang dirancang khusus oleh Dante untuk memblokir sinyal frekuensi rendah yang mungkin dipancarkan oleh kunci tersebut.
"Aku tahu, Viktor," jawab Aruna dengan nada dingin yang sudah ia latih. "Pastikan saja mobilnya sudah siap. Leo butuh istirahat."
Unit apartemen mereka terletak di lantai 55, menghadap langsung ke arah Gardens by the Bay. Ruangannya sangat modern, didominasi kaca dan baja, namun Aruna merasa seperti berada di dalam akuarium raksasa.
Begitu pintu tertutup dan sistem pemindai keamanan Marco menyatakan ruangan itu bersih dari alat penyadap, Aruna langsung merosot ke sofa. Ia membuka kancing atas kemejanya, membiarkan Leonardo yang mulai merengek untuk menyusu.
"Marco, kau sudah menemukan posisi 'The Architect'?" tanya Dante sambil melepaskan jasnya, memperlihatkan pistol yang terselip di balik ketiaknya.
Marco muncul dari ruang kerja yang dipenuhi monitor. "Dia tidak lagi menggunakan nama itu, Tuan. Sekarang dia dikenal sebagai Dr. Silas Chen, seorang konsultan bioteknologi terkemuka yang bekerja untuk pemerintah Singapura. Dia tinggal di sebuah bungalo di daerah Bukit Timah yang dijaga sangat ketat."
"Bioteknologi?" Aruna menoleh. "Jadi dia benar-benar orang yang membantu ayahku menanamkan 'benda' ini di tanganku?"
"Silas Chen adalah otak di balik sistem pengamanan biometrik Adrian," jawab Dante. "Dia bukan hanya insinyur, dia adalah seorang ahli bedah saraf dan kriptografer. Jika ada orang yang bisa memisahkan kaitan antara hormonmu dan kunci itu tanpa memicu penghancuran data, itu adalah dia."
Leonardo melepaskan hisapannya sejenak, menatap Aruna dengan mata bulatnya yang mengantuk. Aruna mengusap dahi bayinya. "Lalu bagaimana kita mendekatinya? Jika dia bekerja untuk pemerintah, kita tidak bisa menculiknya begitu saja."
"Kita tidak perlu menculiknya," Dante menyeringai tipis. "Besok malam, ada pesta amal di ArtScience Museum. Silas Chen adalah salah satu tamu kehormatannya. Kita akan masuk ke sana sebagai donatur."
"Dan Leo?"
"Dia ikut," tegas Dante. "Ingat, kuncimu hanya stabil jika dia ada di dekatmu. Jika kita bertemu Silas dan dia ingin melakukan pemindaian awal, kau harus sedang dalam kondisi 'optimal'. Artinya, kau harus menggendongnya."
Aruna menghela napas. "Pesta mafia di pulau, pemakaman di Italia, dan sekarang pesta amal di Singapura. Hidupku benar-benar menjadi sirkus berbahaya, Dante."
"Setidaknya penontonnya kali ini memakai tuxedo, Aruna," canda Dante, mencoba mencairkan suasana.
Malam pesta itu tiba. ArtScience Museum yang berbentuk seperti bunga teratai raksasa tampak bersinar di bawah lampu-lampu kota. Aruna tampil memukau dengan gaun backless berwarna zamrud yang memamerkan lekuk tubuhnya yang matang namun tetap anggun. Leonardo berada di dalam kereta bayi mewah yang didorong oleh seorang perawat yang sebenarnya adalah agen bayaran Marco yang sangat terlatih.
Dante berdiri di dekatnya, matanya terus menyapu ruangan.
"Target di arah jam dua," bisik Dante melalui mic tersembunyi.
Aruna menoleh perlahan. Seorang pria tua dengan rambut perak dan kacamata berbingkai emas sedang berdiri sendirian di dekat jendela besar, memegang segelas sampanye. Itu adalah Dr. Silas Chen.
Aruna menarik napas panjang. Ia mengambil Leonardo dari kereta bayinya, mendekap bayi itu di dadanya. Seketika, ia merasakan kehangatan yang stabil mulai mengalir ke pergelangan tangannya. Tanda melati di balik jam tangannya mulai berdenyut lembut, bersiap untuk dikenali.
Ia melangkah mendekat. "Dr. Chen? Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan legenda bioteknologi dunia."
Silas Chen berbalik. Awalnya ia tampak ingin memberikan senyum formal, namun saat matanya jatuh pada pergelangan tangan Aruna—meski tertutup jam tangan—dan kemudian pada Leonardo, wajahnya berubah pucat.
"Kau..." suara Silas bergetar. "Kau tidak seharusnya berada di sini."
"Aku di sini untuk menyelesaikan apa yang dimulai ayahku, Dokter," bisik Aruna, cukup pelan agar hanya Silas yang mendengar. "Dan aku membawa 'kunci' yang merindukan pembuatnya."
Silas menatap sekeliling dengan panik. "Ini jebakan. The Consortium sedang mengawasiku. Jika mereka melihatku bicara denganmu, kita semua akan mati sebelum makanan penutup disajikan."
"Maka ajak kami ke tempat yang aman," ujar Dante yang tiba-tiba muncul di samping Aruna, memberikan tekanan fisik yang halus pada Silas. "Sekarang, Dokter. Sebelum aku kehilangan kesabaranku."
Silas menelan ludah. Ia menatap Leonardo yang sedang menggenggam jari Aruna. "Bayi itu... dia tumbuh sehat. Adrian pasti sangat bangga."
"Adrian sudah mati," sahut Aruna dingin. "Dan aku tidak mau anak ini menjadi bagian dari mesin perangmu lagi. Pisahkan sistem ini dariku, atau aku akan membocorkan seluruh data ini ke publik dan membiarkan dunia finansial hancur berantakan."
Silas Chen mendesah pasrah. "Ikut aku ke ruang VIP di lantai atas. Aku punya alat pemindai portabel di sana. Tapi aku peringatkan kalian... memisahkan kunci ini bukan hanya soal operasi medis. Ini soal memutus ikatan yang sudah mendarah daging."
Di ruang VIP yang kedap suara, Silas Chen mengeluarkan sebuah perangkat kecil berbentuk seperti cakram perak. Ia meminta Aruna meletakkan tangannya di atasnya sementara ia tetap menggendong Leonardo.
"Isapannya, Aruna. Dia harus menyusu sekarang," perintah Silas. "Aku butuh data puncak dari oksitosinmu untuk melihat bagaimana enkripsi itu mengunci ke sistem sarafmu."
Aruna menatap Dante dengan ragu. Dante mengangguk. Aruna kemudian membuka sedikit gaunnya, menutupi Leonardo dengan kain transparan, dan mulai menyusuinya.
Begitu proses itu dimulai, layar di perangkat Silas mulai menampilkan grafik-grafik rumit berwarna hijau dan merah.
"Luar biasa," gumam Silas. "Adrian menggunakan denyut jantung bayi ini sebagai clock signal untuk enkripsinya. Jika detak jantung bayi ini berhenti atau menjauh, datanya akan teracak. Ini bukan sekadar kunci, Aruna... ini adalah simfoni biologis."
"Bisakah kau memutusnya?" tanya Dante tidak sabar.
Silas terdiam lama, menatap grafik yang berdenyut di layar. "Bisa. Tapi ada harganya. Jika aku memutus kaitan ini, tanda di tangan Aruna akan menghilang, tapi datanya harus dipindahkan ke wadah baru."
"Wadah apa?" tanya Aruna.
Silas menatap Leonardo. "Ke dalam sumsum tulang anak ini. Dia akan menjadi kunci permanen yang tidak membutuhkan siapa pun lagi. Dia akan menjadi penguasa tunggal atas warisan Valerius."
"TIDAK!" Aruna berteriak, hampir menjatuhkan Leonardo. "Aku tidak akan membiarkanmu menanamkan kutukan ini pada anakku!"
"Itu satu-satunya cara, Aruna," Silas berkata dengan nada sedih. "Atau kau tetap menjadi kuncinya selamanya, dan Leonardo akan selalu menjadi target agar kau tetap bisa 'bekerja'. Pilihannya: kau tetap terikat padanya dalam bahaya, atau dia menjadi mandiri namun memikul beban itu sendiri."
Dante mengepalkan tinjunya. "Ada pilihan ketiga, Silas. Hancurkan datanya. Hapus semuanya. Kami tidak butuh uang itu."
Silas tertawa getir. "Hancurkan data Valerius? Itu sama saja dengan mencoba memadamkan matahari dengan segelas air. Data itu sudah terhubung dengan ribuan server di seluruh dunia. Jika kita menghapusnya secara paksa, itu akan memicu dead man switch yang akan meledakkan bom digital di setiap bank pusat dunia."
Tiba-tiba, pintu ruang VIP didobrak kasar.
Bukan oleh penjaga bank, melainkan oleh tim taktis berseragam hitam tanpa lencana. Mereka bukan dari The Consortium.
"Bergerak sedikit saja, dan bayi itu akan mati!" teriak pemimpin tim tersebut.
Aruna mendekap Leonardo erat. Tanda di tangannya berubah menjadi warna merah membara, memancarkan panas yang menyengat kulitnya. Di tengah kekacauan itu, Aruna menyadari bahwa perjalanannya di Singapura bukan untuk mencari kebebasan, melainkan untuk menyadari bahwa ia dan Leonardo terjebak dalam desain yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.
"Dante!" teriak Aruna saat tim taktis itu mulai menembakkan gas bius.
Pandangan Aruna mulai kabur. Hal terakhir yang ia lihat adalah Silas Chen yang mencoba menyembunyikan cakram data itu di sakunya, dan Dante yang berjuang melawan tiga pria sekaligus untuk mencapainya.
"Leo..." bisik Aruna sebelum semuanya menjadi gelap.