Demi membalas kehancuran masa depan putranya oleh Ratu Komunitas yang tak tersentuh, seorang mantan konsultan branding melakukan balas dendam sosial dan intelektual dengan meruntuhkan reputasi musuhnya di mata para ibu elit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yukipoki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat Kepercayaan Berubah Menjadi Rasa Curiga
Kirana menarik Ibu Siska ke ruang Komite bukan untuk membahas Gala Dinner.
Itu adalah interogasi.
Pintu tertutup rapat. Tidak ada notulen. Tidak ada saksi. Hanya dua perempuan yang selama ini berdiri di sisi yang sama—kini saling menatap dengan kecurigaan yang belum pernah ada sebelumnya.
Nadia tidak berada di sana, tetapi ia tahu persis apa yang terjadi.
Rina, meskipun sedang “cuti”, tetap menjadi telinga yang setia. Sebuah pesan suara masuk ke ponsel Nadia, suaranya lirih dan tergesa.
“Bu Nadia… Bu Siska keluar ruangan sambil menangis. Kirana mengurungnya hampir satu jam.”
Nadia memejamkan mata.
Ia bisa membayangkan nada Kirana—dingin, tajam, menusuk—menuduh Siska tidak cukup loyal. Menuduhnya bermain dua kaki. Menuduhnya membiarkan narasi tentang Dimas berkembang demi menjatuhkan Kirana.
Aliansi yang dibangun dengan ketakutan memang selalu rapuh. Begitu satu orang mulai panik, yang lain akan dijadikan korban.
Dan hari ini, korban itu bernama Siska.
***
Malamnya, Nadia kembali duduk di meja kerjanya. Lampu temaram. Kopi yang sudah dingin. Kemenangan kecil tadi siang tidak membuatnya euforia—hanya memberinya ruang bernapas.
Rina dan Siska hanyalah percikan. Kepanikan sementara.
Target sebenarnya tetap sama: Gala Dinner.
Nilai suci yang Kirana banggakan. Panggung tempat ia merasa paling berkuasa, paling dipuja, dan paling aman.
Nadia membuka kembali file donatur. Nama Ibu Nina kembali menarik perhatiannya—diam, mengamati, dan tidak pernah bereaksi emosional. Keheningan Nina adalah bentuk penyelidikan.
Jika Nina mencari sesuatu yang nyata, Nadia akan memberinya arah.
Ia menyusun satu e-mail anonim lagi. Kali ini bukan untuk Kirana. Bukan pula untuk donatur.
Tujuannya adalah Ketua Yayasan Tangan Emas—figur resmi yang jarang bersuara, tetapi memegang legitimasi hukum.
Isi pesannya sederhana. Tidak menuduh. Tidak menyerang.
—“Yth. Bapak Ketua,
Ada keraguan di kalangan donatur terkait Lelang Konsultasi Ibu Kirana. Apakah sesi tersebut sudah terikat kontrak resmi sebagai aset Yayasan, atau merupakan aset pribadi yang hanya menggunakan Gala Dinner sebagai media promosi? Mohon klarifikasi kontrak legalnya, mengingat ini menyangkut transparansi dan tax deduction bagi pemenang lelang.”—
Itu saja.
Satu pertanyaan tentang kertas. Tentang legalitas. Tentang sesuatu yang Kirana benci: batas.
Lelang itu lahir dari ide yang dianggap sepele. Tidak pernah ada kontrak. Tidak pernah ada ikatan hukum. Kirana menyukai panggung, bukan kewajiban.
Jika Ketua Yayasan mulai bertanya, Kirana akan terpojok tanpa harus dituduh apa pun.
***
Tak lama kemudian, Nadia melihat pengumuman Kirana di Grup WA Elite Moms.
[Kirana Widjaja]:
“Kita telah menerima testimoni yang sangat menyentuh untuk lelang saya. Saya benar-benar terharu dengan loyalitas para guru. Ini membuktikan bahwa integritas adalah pilar The Golden Bridge.”
Nadia menatap layar tanpa ekspresi.
Ia tahu Kirana tidak sedang terharu.
Ia sedang membaca ulang satu kalimat yang mengganggu pikirannya: *ketenangan batin*.
Setelah pertengkaran soal Ciledug. Setelah tuduhan pada suami sendiri. Setelah donatur mulai bertanya soal kontrak—kalimat itu bukan pujian. Itu cermin.
Dan Kirana membenci cermin.
Saat itulah Nadia mengambil langkah yang paling halus—dan paling berbahaya.
Ia menulis pesan pertamanya yang bersifat pribadi di grup Elite Moms.
[Nadia Permata]:
“Testimoni yang indah sekali, Bu Kirana. Guru-guru seperti Pak Taufik memang langka. Saya sendiri baru pulang dari rumah sakit menemani Aksa kontrol. Semoga semua Moms dan anak-anak selalu sehat.”
Pesan itu tampak polos. Hangat. Keibuan.
Padahal fungsinya mematikan.
Ia mengunci alibinya sebagai ibu yang sibuk merawat anak.
Dan pada saat yang sama, ia mengarahkan kecurigaan Kirana menjauh dari dirinya—menuju Mr. Taufik.
Jika Kirana harus memilih musuh, Nadia memastikan namanya bukan salah satunya.
***
Sore itu, Rina kembali menelepon.
“Bu Nadia… Ibu Nina menelepon Kirana.”
Nadia duduk tegak. “Tentang apa?”
“Bukan dana yayasan. Tapi kontrak lelang. Nina bertanya apakah konsultasi Bu Kirana itu aset pribadi atau aset Yayasan.”
Nadia menutup mata, menahan senyum.
“Kirana panik,” lanjut Rina. “Dia marah besar. Dia bilang semua orang sekarang sibuk minta kertas. Ibu Nina bilang, tanpa kontrak resmi, lelang itu berisiko dan merugikan donatur secara pajak.”
Itu pukulan tepat di pusat ketakutan Kirana.
Bukan reputasi. Bukan gosip.
Dokumen.
Nadia memberi instruksi terakhir pada Rina hari itu.
“Hubungi Bu Siska. Katakan padanya, Kirana sedang bertengkar hebat dengan Ibu Nina soal legalitas lelang. Suruh dia fokus pada anaknya. Jangan biarkan dia jadi korban lagi.”
Dengan satu pesan itu, Siska akan tahu bahwa masalahnya bukan personal. Bahwa Kirana memang sedang menghancurkan siapa saja yang berdiri terlalu dekat.
***
Malam semakin larut. Nadia duduk di balkon rumahnya, memandangi langit yang gelap.
Balas dendam ini memang terasa memuaskan. Tapi di sela dinginnya strategi, ada satu hal yang terus berdenyut: Aksa.
Di hard drive terenkripsi, memo asli Mr. Taufik masih tersimpan. Bukti bahwa anaknya tidak pernah bersalah.
Nadia tahu, ia tidak bisa selamanya menciptakan kepanikan. Ia juga harus memberi Kirana sesuatu yang terasa seperti kontrol—agar Kirana lengah.
Ia kembali membuka file penerimaan siswa baru.
Daftar beasiswa tahun depan. Lima nama. Anak-anak yang akan menjadi wajah kebaikan Kirana di panggung publik.
Nadia berhenti pada satu nama.
Rizky.
Anak yatim. Pintar. Bersih. Terlalu bersih.
Ia menulis e-mail anonim lain, kali ini seolah berasal dari orang tua luar sekolah—cemburu, khawatir, dan penuh tuduhan kecil.
Menuduh Rizky pernah melakukan bullying ringan. Tidak ada bukti. Tidak ada detail.
Nadia tahu Kirana tidak akan menyelidiki. Kirana akan menghapus nama itu demi keamanan citranya.
Dengan begitu, Kirana akan sibuk mengorbankan satu anak tak bersalah—dan melupakan ancaman yang jauh lebih besar.
Nadia menatap layar sebelum menekan kirim.
“Ambil dia, Kirana,” bisiknya pelan.
“Dan lupakan Ciledug.”