Adila Dimitri... Kesucian yang sudah terenggut, tidak mengubahnya menjadi wanita lemah. Mandiri, kuat, berani dan tidak takut dengan apapun, sudah menjadi slogan dalam hidupnya.
"Hidup ini pilihan, apapun yang membuatmu sedih, tinggalkan...!!!
Apapun yang membuatmu tersenyum, pertahankan...!!!"
Aditya Putra Wiriaatmaja... kehilangan cinta karena kondisi yang membuatnya tidak bisa bertahan.
"Aku bukannya tak mau merelakan kepergianmu, aku hanya menyesali kelemahanku memperjuangkanmu untuk tetap disisiku. Aku belajar tulus untuk mencintai meski tak harus memiliki, belajar ikhlas merelakan meski harus kehilangan...!!"
Pertemuan yang diawali dengan drama settingan yang Adila ciptakan, membuat mereka terjebak dalam kondisi yang tidak nyaman, hingga akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali dalam kondisi yang jauh berbeda.
Akankah sifat absurd Adila mampu meluluhkan hati Aditya yang menyukai wanita sederhana dan anggun seperti mantan kekasihnya dulu???
Sequel dari ❤Cinta Yang Hilang❤...
Pantengin terus di semua partnya👌👌
Happy reading💋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HeniNurr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghindar
Gaun putih sebatas dada terbentang panjang hingga mencapai tujuh meter. Rambut yang di sasak, digelung melingkar dengan untaian mahkota batu swaroski yang menghiasinya.
Nama yang bersinar didunia modelling di Surabaya, membuat seorang desainer terkenal mempercayakan gaun hasil rancangan bertemakan wedding dipakai oleh Adila untuk diperkenalkan keseluruh pelosok negeri.
"Endes banget sih you... dipakein apapun selalu oke." Celutuk Moly sang make-up artist yang keahliannya sudah tidak diragukan lagi dalam industri hiburan.
Sudah banyak artis-artis lokal yang sering dia make over, tapi satu yang sampai saat ini belum bisa ia wujudkan, yaitu mendadani sang Diva Indonesia Krisdayanti.
"Nggak punya receh... uang maenan mau?" Gurau Adila sambil menjawil dagu Moly.
Moly mengerucutkan bibir," Stand Up Honey..." Menarik tangan Adila.
Adila menuruti arahan Moly, ia berdiri dengan mengangkat sedikit gaunnya agar tak terinjak. Moly dengan bantuan satu asistennya memutarkan tubuh Adila, membetulkan riasan rambut yang masih belum terlihat rapi dengan sisir sasaknya.
"Oke cukup."
Adila memutar badannya lagi," Serius udah Mon?"
Moly memicingkan mata, mendengar Adila memanggil dirinya dengan Mon. Ia tidak menampik kalau Mon, kependekan dari Momon, nama asli di kampung halamannya, Magetan. Tapi untuk sekarang, No... dia lebih suka dipanggil Moly, sang make-up cantik bertangan emas. Cantik dalam arti tanda kutif, patut dipertanyakan keasliannya.
"Stop panggil ek dengan nama Mon... jangan ampe semua orang tahu nama KTP ek... cukup kamu aja yang tahu." Gerutu Moly.
Adila terbahak," Nama Momon itu unik tahu."
"Tapi itu nggak sesuai dengan karakter ek... No say me Mon, oke...please..?" Rengekan Moly terdengar manja.
Adila menyatukan bibirnya kedalam, menahan tawa melihat tampang si Momon alias Moly dengan tingkah kemayu yang dibuat sok imut.
Pipi cabi, hidung bangir, fostur tubuh tinggi agak gempal, layaknya laki-laki normal pada umumnya, apalagi ditambah dengan warna kulit yang hitam manis, tapi itu beberapa bulan yang lalu, sekarang kulitnya menjadi putih bersih karena empat bulan berturut-turut ia mulai rutin melakukan suntik pigmen yang sekarang lagi booming dikalangan artis dan para model.
"Oke-oke gue bakal silent."
Moly memberikan sun jauh dengan bibir monyongnya," I Love U full."
Mengacuhlan perkataan Moly, Adila melihat penampilannya didepan cermin, Perfect... pujinya sendiri dalam hati.
Adila kembali melirik Moly," Sebenernya siapa sih yang bakalan jadi pasangan gue sekarang, kok nggak keliatan?" Tanyanya.
"Nanti juga you tahu .. surprise dong, you pasti happy."
Adila mencebik, tak seperti biasanya ia mendapatkan pasangan yang masih tetap dirahasiakan. Padahal biasanya dia akan tahu lebih dulu sebelum kata deal itu terucap dari agency yang menanunginya.
"Semua sudah siap?" Seorang kru fotografer melongokan kepalanya dibalik pintu.
"Siap Honey..." Seru Moly dengan kedipan mata genit.
Dengan bantuan asisten Moly, Adila masuk keruang pemotretan yang sudah dirancang sedemikian rupa.
Dari arah belakang, seseorang memegang tangannya.
"Biar ku bantu."
Adila menoleh, wajahnya menegang," Ngapain lu disini?"
"Menurutmu?" Tanyanya balik.
Adila melihat penampilan Nugie, Tuxedo putih berdari kupu-kupu dengan bunga yang terselip disaku bagian atas.
Jangan bilang kalau dia adalah... Adila menyipitkan mata.
Nasi sudah menjadi bubur, arang sudah menjadi abu dan awan sudah berubah pekat, bukan awan diluar tapi awan dihatinya, hitam.
Adila menepis tangan Nugie," Gue bisa sendiri."
Bukannya berjalan ke depan latar Adila memilih menemui penanggung jawab pemotretan kali ini.
"Pasangan aku beneran dia Mas?"
"Emang kamu baru tahu, Bos Nugie sengaja bikin surprise buat kamu. Desainernya kan kerabatnya Bos Nugie... jadi dia pengen kamu jadi model wanita dan dia jadi model laki-lakinya."
"Tapi kan dia bukan model, mana bisa bergaya depan kamera?"
"Demi cinta apa sih yang nggak bisa. Udah lah Dil yang penting honor yang kamu terima dua kali lipat lebih gede dari biasanya kan."
Adila membuat kepalan tangan sebulat mungkin, geram hati, geram juga pikiran. Andai saja dia tahu dari awal, dia pasti akan tolak mentah-mentah tawaran ini walau dibayar dengan harga selangit.
"Oke kita mulai... cepet sana."
Adila menarik nafas, melangkahkan kaki menghampiri Nugie yang sudah siap didepan latar. Bagaimana pun dia harus bersikap profesional, walau pemotretan kali ini akan sangat menguras emosinya hingga habis.
Sang fotografer mulai mengarahkan gaya mereka, membidikan kamera.
"Satu... dua..."
Cekrek... cekrek... cekrek...
"Ekspresimu mana Dil, ayo santai... buat senatural mungkin." Ujar fotografer itu.
"Iya Mas... maaf."
Adila menghembuskan nafas, bagaimana ia bisa santai kalau harus berpose mesra dengan laki-laki yang sangat dia benci.
Seorang penata gaya menghampiri mereka, menyimpan tangan Adila didada Nugie dan tangan Nugie memeluk pinggang ramping Adila.
"Sekarang kalian berpandangan, dibuat semesra mungkin."
Oke relaks Adila.... setelah ini semuanya selesai.
"Dila, lihat aku..." Bisik Nugie.
Dengan enggan Adila melihat kedalam mata Nugie," Nggak usah banyak berharap, ini hanya didepan kamera."
"Dil...," Seru sang fotografer,"... senyum manjanya mana, buat seolah kalian benar-benar sedang bahagia dihari pernikahan kalian."
Adila menggerutu dalam hati, Najis.... kalau saja tidak ada tanda tangan kontrak dia sudah kabur sedari tadi.
Nugie tersenyum penuh kemenangan, puas dengan rencananya hingga Adila tidak lagi bisa berkutik.
Hampir lima jam dengan berganti gaun beberapa kali, akhirnya pemotretan itu selesai.
Tergesa Adila menuju mobilnya, tapi apa yang dia perkirakan benar terjadi. Nugie berdiri dengan bersandar dipintu mobil miliknya.
"Awas gue mau balik." Hardik Adila.
"Pulang bareng aku aja ya Dil?"
Adila melipat tangan diperut," lu kira mobil gue mogok ampe harus nebeng mobil elu?"
"Dil...."
"Minggir... gue lagi buru-buru."
"Dil aku harus minta maaf dengan cara apalagi?"
"Gue bilang minggir... stok maaf gue udah habis buat orang kayak lu."
Adila mendorong badan Nugie, masuk kedalam mobil dan menghidupkan mesinnya.
"Gue nggak bakalan lepasin lu begitu aja Adila..." Teriak Nugie saat mobil Adila melaju keluar area parkir.
Adila melihat Nugie dari kaca spion," Dasar cowok gila." Umpatnya.
Ia mengemudikan mobilnya dengan kencang, tujuan dia sekarang adalah Rumah Sakit Pelita Medika, mengambil obat yang masih harus rutin Adira minum agar daya tahan tubuhnya kembali stabil, begitu kata Dokter saat Adira diperbolehkan pulang pacsa operasi tiga minggu yang lalu.
Sampai diparkiran Rumah Sakit, Adila turun dengan bersenandung. Nyanyiannya mengambang saat melihat seorang perempuan yang berjalan oleng, akan terjatuh. Dengan langkah lebar, Adila menyangga tubuh perempuan itu.
"Eh...eh...eh... Mbak nggak kenapa-napa... ayo duduk disini Mbak." Adila menuntun perempuan itu duduk dikursi besi.
Ia mengeluarkan botol air mineral dari dalam tas gendongnya.
"Minum dulu Mbak, kebetulan aku punya air yang belum dibuka... ini masih utuh baru aku beli dan belum sempat aku minum, jadi Mbak nggak usah jijik... ayo diminum Mbak.!"
Bukannya diterima, perempuan itu malah melihat Adila sangat intens, seakan ini bukanlah kali pertama dia melihatnya.
Adila mengoyang-goyangkan botol didepan perempuan itu," Mbak... ayo diminum, aku nggak bohong kok, ini masih baru."
Perempuan itu tersentak," Oh iya..."
Adila menarik kembali botol itu," Lupa.... sebentar aku buka dulu kemasannya, Mbak kan lagi sakit, pasti susah kalau harus buka botol yang masih baru, bawaannya mager, nggak ada tenaga, iya kan?"
Perempuan itu menanggapi dengan senyuman.
"Nih Mbak..."
"Makasih ya..."
"Mbak lagi sakit ya, mukanya pucet banget... Mbak mau pulang atau mau kemana... Mbak sendiri atau sama siapa.... kalau sendiri, biar aku anterin... pulangnya kemana, jauh nggak dari sini, aku anterin mau ya... nggak usah bayar aku bukan tukang ojeg kok."Cerocosnya.
Lagi-lagi wanita itu tersenyum.
"Kok malah senyum?"
"Pertanyaannya kebanyakan, bingung harus jawab yang mana dulu..." Jawab wanita itu dengan lembut.
Seketika Adila tertawa," Maaf Mbak, kebiasaan kalau ngomong suka nyerocos, bawaan dari orok."
"Oh iya, nama Mbak siapa... nama saya Adila, biar nggak kepanjangan panggil aja Dila, temen-temen aku panggilnya kayak gitu." Seraya mengulurkan tangannya.
"Arini..."
"Wah nama kita samaan ya hurufnya dari A."
"Terus Mbak suka dipanggil apa, Arini... Arin.. atau Rini?" lanjut Adila lagi.
"Arini aja, nggak ada panggilan khusus seperti Dila." Ujarnya.
Adila manggut-manggut, kemudian melihat Arini yang kembali minum air mineral yang diberikannya.
Cantik banget ya nih cewek, kalem and adem lagi bawaannya
"Gimana sekarang sakitnya Mbak, udah mendingan belum... kita periksa aja yuk mumpung di Rumah Sakit, kalau udah di Rumah kan repot harus balik lagi kesini. Mending kalau jalannya kosong, kalau macet man bikin tambah mumet... males banget kan jadinya."
"Mbak udah nggak papa, agak sedikit mendingan mungkin pengaruh dari bayi juga."
Adila terperangah," Jadi Mbak lagi hamil?"
Perempuan yang bernama Arini itu mengangguk.
"Kok perutnnya rata, nggak kelihatan lagi hamil?"
"Ini baru mau dua bulan, jadi belum kelihatan."
"Oh...pasti seneng banget bakal punya debay buat pertama kali, pasti seru ya punya keluarga kecil, mudah-mudahan anak Mbak perempuan biar cantik kayak Mamanya."
Perempuan itu mengulas senyum," Ini hamil yang kedua, anak yang pertama sudah besar, mau lima tahun, laki-laki."
Mulut Adila menganga lebar, tak percaya," Masa sih, kok nggak kelihatan ya, apa rahasianya sih Mbak masih bisa langsing kek gini kayak masih gadis gitu.... Eh tahu nggak Mbak, aku juga pengen banget menikah muda, biar nanti pas punya anak itu, kayak Ade sama Kakak aja keliatannya... lucu banget kan jadinya." Tutur Adila yang begitu sangat bersemangat menceritakan mimpinya.
"Apa sih Mbak rahasianya?" Tanyanya lagi.
"Mbak nggak punya rahasia apa-apa."
Adila berdecak," Ah Mbak ini... pasti suami Mbak klepek-klepek ya punya istri secantik Mbak, imut-imut gemesin gimana gitu."
Tetap dengan tersenyun ramah perempuan itu membalas celotehan panjangnya.
"Mbak mau pulang kan, biar aku anterin, kebetulan aku bawa mobil... kasian sama debaynya."
"Nggak usah, Mbak udah pesen taxi online, mungkin sebentar lagi juga datang."
"Oh... ya udah aku tungguin ampe taxi Mbak datang kalau gitu." Dengan menyilangkan kaki.
"Dila kuliah atau kerja?"
"Kuliah nyambi kerja Mbak... tapi kuliahnya nggak kelar-kelar, habis dosennya pada kiler semua, bikin BT jadinya kan... jadi sekaramg lebih fokus dulu sama dunia model, bisa bikin aku bebas nggak terbebani sama tugas yang terus menerus menggunung." Curhat Adila.
Perempuan itu mengelus pundak Adila," Dosen itu nggak ada yang galak, kitanya aja yang harus pinter menyiasati, buat orang tuamu bangga kalau kamu bisa menjadi apa yang mereka harapkan."
Adila terhenyak, wejangan dari perempuan ini membuat bulu kuduknya meremang, apalagi sampai membawa nama orang tua.
"Eh itu taxi Mbak datang... Mbak duluan ya, mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi."
Adila ikut berdiri, membantu perempuan yang sepertinya masih merasa kesakitan," Saya bantu Mbak."
Adila membantu Perempuan itu berjalan hingga masuk kedalam taxinya.
"Makasih ya Dila."
"Sama-sama Mbak... hati-hati dijalannya ya?"
Adila melambaikan tangan, termangu menatap mobil taxi membawa perempuan bernama Arini itu.
Kapan ya gue bisa wanita seanggun dia... hujan batu dulu baru bisa kayaknya, huuh....
❤❤❤❤
Kalian yang sudah baca karya aku yang sebelah sana ❤Cinta Yang Hilang❤ pasti tahu adegan pertemuan ini, tepatnya ada di part 130. dan disini aku bikin dari sisi Adilanya.
Buat yang belum baca, kalian boleh intipin karya pertama aku ya judulnya ❤Cinta Yang Hilang❤, udah ada audio book nya juga loh... sekalian promo sebenernya😆😂.
Jangan lupa like, coment& Votenya ya...!!!
I Love U All😙😙