~Karya Original~
[Kolaborasi dari dua Author/BigMan and BaldMan]
[Update setiap hari]
Sebuah ramalan kuno mulai berbisik di antara mereka yang masih berani berharap. Ramalan yang menyebutkan bahwa di masa depan, akan lahir seorang pendekar dengan kekuatan yang tak pernah ada sebelumnya—seseorang yang mampu melampaui batas ketiga klan, menyatukan kekuatan mereka, dan mengakhiri kekuasaan Anzai Sang Tirani.
Anzai, yang tidak mengabaikan firasat buruk sekecil apa pun, mengerahkan pasukannya untuk memburu setiap anak berbakat, memastikan ramalan itu tak pernah menjadi kenyataan. Desa-desa terbakar, keluarga-keluarga hancur, dan darah terus mengalir di tanah yang telah lama ternodai oleh peperangan.
Di tengah kekacauan itu, seorang anak lelaki terlahir dengan kemampuan yang unik. Ia tumbuh dalam bayang-bayang kehancuran, tanpa mengetahui takdir besar yang menantinya. Namun, saat dunia menjerumuskan dirinya ke dalam jurang keputusasaan, ia harus memilih: tetap bersembunyi/melawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BigMan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8 - Kehendak Kaisar vs Tekad Klan Strein: Pedang Tirani vs Sang Penjaga
Kisaki Gin, legenda yang kini menjadi pedang bagi sang tirani, tetap membisu, hanya membiarkan angin menggugurkan debu-debu pertempuran dari zirah hitam legamnya yang megah.
Anzai menoleh sedikit, nada suaranya tetap dalam dan mutlak.
"Sudahi ini."
Hanya dua kata, namun itu bukanlah perintah biasa. Itu adalah dekret dari seorang kaisar yang tidak akan menerima penolakan.
Kisaki Gin sedikit menundukkan kepala, nada suaranya tetap dingin, hampir tanpa emosi, namun dengan ketundukan mutlak yang menyiratkan betapa beratnya langkah ini baginya.
“Sebagaimana titahmu, Yoru-sama.”
Tanpa membuang waktu, ia mulai berjalan ke medan pertempuran dengan langkah mantap. Setiap jejaknya terasa berat, bukan karena zirahnya, tetapi karena pilihan yang telah ia buat bertahun-tahun lalu—untuk menjadi tangan dari kehendak mutlak Yoru Anzai.
Di bawah, pertempuran masih berkecamuk sengit. Dua pendekar dari Klan Strein kini telah bergabung, mengubah jalannya pertempuran. Yujin bertarung dengan kecepatan brutalnya, sementara Akari menari dalam pertempuran bersama Hanami, menghadang laju Asakura. Hitoshi sendiri telah terjun untuk membantu Masao melawan raksasa bernama Alzasha.
Namun, kehadiran Kisaki Gin di medan perang mengubah segalanya.
Langkahnya begitu tenang, begitu tak tergesa-gesa, namun kehadirannya saja cukup untuk membuat medan perang terasa lebih sunyi. Para prajurit Klan Strein yang melihatnya mendadak menegang, insting mereka berteriak bahwa sang monster telah bergerak.
Namun, sebelum ia bisa bergerak lebih jauh—
CRAAK!
Tanah di depannya retak dan melesak dalam ketika seseorang menghantam tanah dengan kekuatan luar biasa. Asap dan debu membumbung, lalu sosok itu muncul.
Seorang pria bertubuh kekar, dengan rambut panjang liar dan sorot mata tajam seperti serigala. Otot-ototnya yang dipenuhi bekas luka bercerita tentang peperangan yang tak terhitung jumlahnya. Sebuah deskripsi yang mengaburkan fakta bahwa ia sudah cukup tua untuk bisa mengalahkan sang legenda.
Dialah Obura, Komandan Militer Klan Strein yang selama ini menghabiskan waktunya di ruangan pribadinya—tak terlihat.
Mata Kisaki Gin menyipit sedikit di balik helmnya. Ia mengenali pria ini—pria yang seharusnya telah mati dalam perang beberapa tahun silam.
"Jadi kau masih hidup," suara Kisaki Gin tetap dingin, tanpa jejak keterkejutan.
Obura hanya menyeringai tipis. Ia melangkah maju, kepalan tangannya mengepal begitu erat hingga sendi-sendinya berderak.
“Kau pikir aku akan membiarkan seorang anjing tirani berjalan sesukanya di tanah kami?”
Kisaki Gin tak langsung menjawab. Sebagai seorang legenda yang pernah dihormati, ia dapat merasakan sesuatu dalam kata-kata itu—sebuah tekad yang kuat, sesuatu yang mirip dengan… dirinya yang dulu.
Namun, ia tak lagi menjadi pahlawan. Ia telah menjadi algojo Anzai, sang tirani.
Dengan tenang, ia menghunus pedangnya.
"Maka tunjukkan apakah tekadmu cukup untuk menentang kehendak Kaisar."
Tanpa aba-aba, keduanya menerjang.
Ledakan kekuatan mengguncang medan perang, menciptakan riak yang membuat setiap prajurit yang bertarung berhenti sejenak. Di tengah pertempuran yang mengamuk, kini, dua sosok moster beradu.
Satu yang masih mempertahankan kehormatan klannya.
Dan satu yang telah menyerahkan dirinya kepada sang tirani.
BOOM!
Tanah berguncang saat Obura menerjang ke depan, kepalan tangannya meluncur bagaikan meteor, menghantam udara dan menciptakan ledakan tekanan yang menghancurkan batu-batu di sekitarnya. Kisaki Gin melangkah ke samping dengan elegan, pedangnya berkilat dalam gerakan presisi yang nyaris tak terlihat.
CLANG!
Obura menangkis serangan itu dengan lengannya yang telah dilindungi jirah dari baja. Percikan logam dan darah beterbangan. Tidak seperti pendekar lain yang menghindari bilah Kisaki Gin, Obura malah menyambutnya dengan tubuhnya sendiri, membiarkan bilah itu menggores kulitnya yang kasar.
Kisaki Gin bergumam rendah.
"Kau masih barbar seperti dulu."
Obura menyeringai, darah menetes dari luka tipis di lengannya, tapi matanya justru bersinar penuh perhitungan.
"Dan kau masih sehebat dulu, tapi lebih dingin… lebih kosong."
Tanpa peringatan, Obura berputar dengan cepat, kakinya menyapu tanah dan menimbulkan badai debu, mengaburkan penglihatan. Dalam sepersekian detik, ia sudah berada di belakang Kisaki Gin, tinjunya melesat dengan kecepatan yang tak seharusnya dimiliki oleh tubuh seberat itu.
DUAGG!
Pukulan itu menghantam dada Kisaki Gin, melemparkannya ke belakang sejauh beberapa meter. Prajurit dari kedua pihak yang bertarung di sekitarnya mundur dengan ketakutan, menyaksikan pertempuran antara dua monster ini dengan mata terbelalak.
Namun, Kisaki Gin tak bergeming. Ia berdiri kembali seolah pukulan tadi hanyalah embusan angin. Tanpa suara, ia mengangkat pedangnya, menunjuk langsung ke arah Obura.
"Ketika kau melawanku, kau melawan kehendak sang tirani."
Obura tertawa kecil, lalu meludah ke tanah.
"Kehendak? Aku hanya melihat seorang pria yang pernah menjadi pahlawan, sekarang menjadi bayangan dari dirinya sendiri."
Sorot mata Kisaki Gin tetap tak berubah, sedingin baja.
"Pahlawan tidak akan pernah mengubah dunia. Hanya Yoru-sama, yang kelak akan menjadi Kaisar yang dapat melakukannya."
Obura mendecakkan lidahnya.
"Kalau begitu, tunjukkan padaku... apakah kehendak Kaisarmu bisa meremukkan tekad Klan Strein!"
Dengan raungan yang mengguncang medan perang, Obura melesat lagi. Kali ini ia tak hanya mengandalkan kekuatan, tetapi juga strategi. Ia melompat ke atas, lalu menghantam tanah dengan kekuatan luar biasa, menciptakan gelombang kejut yang membuat Kisaki Gin sedikit kehilangan keseimbangan.
Kesempatan itu tidak disia-siakan. Dalam sepersekian detik, Obura sudah berada di depan Kisaki Gin, kedua tangannya terkepal, menghantam ke bawah dengan tenaga yang cukup untuk menghancurkan sebuah rumah.
Namun—
SLASH!
Darah memercik.
Sebuah luka tipis membelah dada Obura.
Dalam satu gerakan halus, Kisaki Gin telah melesat ke belakang, pedangnya masih meneteskan darah. Obura mundur beberapa langkah, menggeram pelan.
Kisaki Gin tidak berbicara, tetapi tatapan matanya cukup untuk memberi jawaban.
Pertempuran ini bukan tentang kekuatan semata. Ini adalah perang antara tekad dan kehendak.
Obura mencengkeram dadanya yang berdarah, tapi senyumnya tidak hilang.
"Aku tidak akan membiarkanmu melangkah lebih jauh, Kisaki Gin."
Kisaki Gin tetap diam.
Obura mengeluarkan kekuatan spiritualnya.
Tubuhnya seketika dilingkupi aura merah membara seperti api—berpendar menggeliat di udara. Setiap langkahnya mengguncang tanah, meninggalkan retakan dalam yang menyebar seperti sarang laba-laba.
Di hadapannya, Kisaki Gin berdiri diam. Udara di sekitarnya seakan membeku, dipenuhi tekanan yang menyesakkan.
Saat Obura meluncurkan tinju mautnya, udara di sekitarnya terbakar. Api menyelimuti kepalannya, membentuk kepala harimau raksasa yang meraung ganas.
DUAGG!
Serangannya menghantam udara kosong.
Dalam sekejap mata, Kisaki Gin sudah menghilang dari pandangan. Tidak—bukan menghilang. Ia bergerak terlalu cepat hingga tubuhnya seakan tak kasat mata.
Dari belakang Obura, terdengar suara dingin yang menyerupai gemuruh petir di kejauhan.
"Lamban."
SLASH!
Pedang Kisaki Gin menyala dengan gemercik petir kebiruan saat ia mengayunkannya dengan presisi yang sempurna. Seketika, ledakan energi meledak dari bilahnya, menghantam Obura dan melemparkannya ke belakang sejauh puluhan meter. Tubuh Obura menabrak tanah dengan keras, menciptakan kawah besar yang membelah medan perang.
Suara dentuman yang dihasilkan begitu mengerikan hingga pasukan di sekitar mereka berhenti bertarung sejenak, terpaku oleh kedahsyatan duel antara dua sosok yang diakui legenda ini.
Namun, dari dalam kawah yang berdebu, suara gemuruh terdengar.
"Kisaki Gin..."
Perlahan, Obura bangkit. Matanya menyala dengan kobaran api yang semakin ganas. Aura merah keemasan di sekeliling tubuhnya semakin pekat, hingga menciptakan gelombang panas yang meretakkan tanah di sekitarnya.
Kisaki Gin menatapnya tanpa ekspresi. Pedangnya masih bersinar dengan nyala biru dari gemercik petir yang menyengat, kontras dengan aura lawannya.
Obura menyeringai, ia meraih senjata Guan Dao tergantung di punggungnya dan lalu menghentakkan ke tanah.
BOOM!
Ledakan aura melesat dari tubuhnya, menciptakan badai energi yang menghancurkan batu-batu di sekitarnya. Dengan kekuatan luar biasa, ia melompat ke udara, lalu menghantam ke bawah dengan senjata Guan Dao yang berlapiskan api bagai meteor menyala.
"RAAAAAAHHHH!!!"
Kisaki Gin tetap diam.
Namun, pada detik terakhir sebelum pedang Guan Dao menghantamnya, pedang miliknya tiba-tiba berkobar semakin dahsyat. Suara gemercik petir semakin nyaring dan menjalar ke seluruh medan perang, merambat di udara, dan membentuk lingkaran energi di sekelilingnya.
Lalu—
"Terlalu gaduh."
Dengan satu ayunan ringan, gelombang energi petir meledak keluar dari pedangnya, menghantam Obura tepat di dada dan mengirimnya kembali ke udara sebelum akhirnya menghantam tanah dengan kekuatan yang mengguncang pertempuran.
Asap dan debu mengepul.
Dari balik kabut kehancuran itu, Kisaki Gin melangkah perlahan, pedangnya terus bergemercik dengan suara yang semakin nyaring dan berisik.
Obura, meskipun tubuhnya penuh luka dan darah, tetap tertawa kecil.
"Aku tidak akan membiarkanmu melangkah lebih jauh, Kisaki Gin."
Kisaki Gin menatapnya, tatapannya tetap dingin.
"Kehendak Kaisar tidak bisa dihentikan oleh tekad yang sudah usang."
Cahaya petir di pedangnya menyala semakin terang, bergetar seolah-olah merespons kemarahannya yang terselubung.
Dari kejauhan, medan perang masih berkecamuk. Pasukan Naga Hitam semakin mendesak Klan Strein, dan kehadiran Kisaki Gin hanya mempercepat kehancuran mereka.
Namun, di tengah kobaran api dan darah, dua pendekar ini tetap bertarung.
Aura kobaran api dan kilatan petir bertabrakan, menciptakan percikan yang membelah langit.
Pertempuran ini bukan sekadar duel.
Ini adalah perang antara keyakinan dan kehendak.
Dan hanya satu dari mereka yang akan keluar sebagai pemenang.
...----------------...
...----------------...
Ilustrasi Figur :
Asano Obura—kiri
Kisaki Gin—tengah
Dai Hitoshi—kanan
1. Disiplin >> Lulus.
2. .... ?
Lanjut thoorr!!! /Determined//Determined/