Cerita ini kelanjutan dari novel "Mencari kasih sayang"
Pernikahan adalah ibadah terpanjang karena dilakukan seumur hidup. Pernikahan juga disebut sebagai penyempurnaan separuh agama.
Dua insan yang telah di satukan dalam ikatan pernikahan, tapi kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Hari memiliki rahasia yang dapat menghancurkan kepercayaan Resa. Apakah dia dapat bertahan?
Resa menemukan kebenaran tentang Hari yang telah menyembunyikan kebenaran tentang status nya. Resa merasa dikhianati dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apakah dia harus memaafkan Hari atau meninggalkannya?
Apakah cinta Resa dan Hari dapat bertahan di tengah konflik dan kebohongan? Apakah Resa dapat memaafkan Hari dan melanjutkan pernikahan mereka?
Apakah mereka akan menemukan kebahagiaan atau akan terpisah oleh kebohongan dan konfliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9 Aku sumbernya salah
Sore hari itu, matahari mulai terbenam di ufuk barat, memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan nyaman. Resa duduk di jendela kamarnya, menatap ke luar dengan pandangan yang jauh. Dia masih teringat dengan percakapan yang dia dengar tadi siang, dan itu membuatnya merasa sedih dan kesepian.
Resa memutuskan untuk keluar rumah, berjalan gontai sambil menunggu kepulangan suaminya. Dia berdiri di bahu jalan, sesekali menautkan kedua tangannya. Tak lama,Tina yang baru pulang kerja turun dari angkot dan melihat kakaknya,dia berlari menghampiri Resa.
"Teh, lagi ngapain diam di jalan?" tanya Tina setelah berada di sampingnya Resa.
Resa mengulas senyum. "Lagi nunggu kakak ipar mu, Tin. Jenuh diam di kamar terus, jadinya gabut di sini," lirih Resa dengan bergurau.
"Aish, ya udah aku temenin deh," tawar Tina yang di angguki Resa.
Untuk mengusir kesunyian, sesekali mereka mengobrol dan Resa bertanya perihal laki-laki yang sedang dekat dengan adiknya. Tina tersenyum dan memulai cerita tentang cowok yang sedang menjadi perhatiannya. Resa mendengarkan dengan saksama, senyumnya semakin melebar saat mendengar cerita Tina.
Keadaan berubah serius ketika Resa bertanya lagi, "Tin, kamu serius dengan cowok itu? Apakah kamu sudah tahu tentang latar belakangnya?" Tina terdiam sejenak, sebelum menjawab dengan nada yang lebih pelan.
"Aku sudah tahu tentang keluarganya, Teh. Tapi aku tidak tahu tentang masa lalunya. Apakah itu penting?" Tina bertanya dengan nada yang sedikit ragu.
Resa mengangguk. "Penting, Tin. Kamu harus tahu tentang masa lalunya sebelum kamu memutuskan untuk serius dengan dia. Aku tidak ingin kamu kecewa seperti_." Resa berkata dengan nada yang serius, namun menggantung ucapannya membuat Tina terkejut dengan perubahan ekspresi kakaknya.
"Dia sepupu Wina.kelihatannya baik,royal sama aku!" Resa mengatupkan bibir. Apa jawabannya salah? Ekspresinya terlihat kesal. Padahal Tina menjawab apa adanya.
"kamu yakin ?"
"Itu sudah jadi Pilihanku, kayak teteh milih A Hari.''
Resa mengalihkan pandangan ke sisi lain. "Kamu yakin? Bukankah laki-laki seperti kang Hasan yang kamu idamkan."
Tina menelan ludah. "Aku sudah memilih jalanku. Maksudnya untuk menghargai Tawaran orang tua Semoga dia memang yang terbaik"
Resa menghembuskan nafas berat. "Lain kali,jangan mengambil keputusan berdasarkan pandangan orang.karena katanya dia sangat baik!" Ucap Resa tiba-tiba kesal. Jelas Tina bingung, kenapa hal seperti ini membuat kakaknya marah?
Namun kebingungan nya terjawab saat melihat suami dari kakaknya melintas dengan membonceng perempuan,dan salahnya Hari dia terus melaju meskipun telah melihat keberadaan Resa yang berdiri menunggu kepulangannya.
Resa berlari ke arah rumah dan masuk ke dalam kamar. Perempuan itu menundukkan tubuhnya sambil menyeka air mata.
Tina menggelengkan kepala sambil sesekali mengeluarkan suara decakan dari mulut.saat Hari sudah memarkir kan motornya di halaman rumah.
"Kakak kamu mana,tadi AA liat dia di depan" tanya hari pada Tina yang sedang ber diri melipat kedua tangannya
"Pikir aja sendiri" imbuh Tina ikut kesal dengan sikap kakak iparnya.
"kalian kenapa sih?" Tanya Hari melihat pada adik iparnya.
"Harusnya tadi AA berhenti,teh Resa melihat A Hari membonceng bi Ika,Tapi AA malah melaju tak menghiraukan teh Resa yang sudah menunggu di jalan dari tadi.Gimana mau di sayang istri kalau enggak peka begini. Perempuan itu ingin di istimewakan dan paling penting hanya satu-satunya." Jelas Tina, membuat Hari terpaku.
"Aku harus gimana?" gumam hari merasa bingung sendiri Tina langsung tertawa. "Aa itu udah berada di orang yang tepat. Sekarang A Hari cuman butuh satu hal." Saran Tina menghentikan langkahnya. Hari hanya menautkan alisnya tak mengerti.
" jelasin apa pun alasannya dan minta maaf. Kalau dia tanya dalam hal apa, bilang aja. Aku sumbernya salah."
"Depan Ibu kalian? Apa gak masalah." Tanya hari yang melihat keberadaan Komala di ruangan keluarga
"JANGAN, ADUH! Gak malu apa jadi tontonan"
"Aku enggak biasa lihat kakak kamu marah.pintu kamar di kunci kayaknya" adu hari dengan suara pelan.Tina menepuk jidat,kenapa pria dewasa ini gak peka sama hal bujuk membujuk pikirnya,pantas saja menjadi Duda orang nya kaku dan gak peka begini.
Hari berjalan ke arah kamar dan tangan nya mendorong gagang pintu, ternyata tak terkunci seperti dugaannya. Saat pintu terbuka, dia melihat Resa yang duduk di pinggir ranjang dengan tertunduk. Hari duduk di samping Resa, Resa memalingkan muka kesal pada Hari, namun Hari menangkup kedua pipi istrinya yang sudah basah dengan air mata.
Menghapus jejak air mata dengan ibu jarinya dengan lembut, "Kenapa menangis, hemmm?" tanya Hari yang tak peka akan keadaan Resa. Alih-alih menjawab, Resa makin tergugu di hadapan suaminya.
Selepas apa yang terjadi di rumah itu, ditambah dia melihat suaminya berboncengan dengan wanita yang jelas-jelas menyukai Hari, membuat Resa sakit hati. Sedikit lebay, namun hatinya yang lembut tak mampu menyembunyikan perasaan rapuhnya.
"Maaf kalau aa buat salah, yang bikin kamu nangis kaya gini," kata Hari dengan nada yang lembut.
Resa tak menjawab, dia berusaha menghindar dari tatapan mata yang selalu membuat dia luluh. Kekesalannya belum sirna, apa lagi sikap Hari yang tidak peka membuat Resa ingin menghindar dari Hari.Namun, Hari tak membiarkan istrinya beranjak, dia merangkul tubuh Resa dalam dekapannya, dan perlakuan itu berhasil menenangkan Resa.
Setelah beberapa saat, suara azan maghrib mulai terdengar dari masjid yang tidak jauh dari rumahnya. Resa mengingatkan suaminya untuk ikut berjamaah ke masjid. "A, sudah waktunya sholat maghrib," kata Resa dengan lembut.
Hari mengangguk dan berdiri dari duduknya. "iya Ai,AA ke masjid dulu ya," katanya beranjak dari tempat duduknya, untuk mengambil wudhu.
Resa juga melakukan hal yang sama, berharap bahwa dengan berdoa, dia bisa melupakan kesedihannya dan merasa lebih tenang. Dia mengambil wudhu dan mempersiapkan diri untuk shalat, hanya Allah tempat pengaduannya saat ini.yang akan memberikan ketenangan dan kekuatan untuk menghadapi kesulitan yang sedang dia hadapi.
Setelah shalat, Resa duduk kembali di jendela, menatap ke luar dengan pandangan yang masih jauh. Dia merasa bahwa hari ini adalah hari yang berat baginya, tapi dia juga tahu bahwa dia harus terus maju dan tidak boleh menyerah. Dia mengambil napas dalam-dalam, berusaha untuk mengusir kesedihan yang masih terasa di dalam hatinya.
Resa menatap Hari dengan mata yang masih terlihat sedih. Dia mengambil napas dalam-dalam, berusaha untuk menjelaskan perasaannya, namun bibirnya seakan berat untuk berucap. Hari memandang Resa dengan mata yang penuh kasih sayang, menunggu dengan sabar untuk Resa berbicara.
"Ai, kamu ingin cerita sesuatu?" kata Hari dengan nada yang lembut, berusaha untuk membuat Resa merasa nyaman dan aman.
Resa menatap Hari dengan pandangan yang sama, namun dia mulai merasa lebih tenang dengan kehadiran suaminya. Dia mengambil napas dalam-dalam, berusaha untuk menjelaskan perasaannya.
"Aku merasa sedih karena aku merasa tidak cukup baik dalam hal apapun," kata Resa dengan suara yang pelan, berusaha untuk menjelaskan perasaannya.
Hari memandang Resa dengan mata yang penuh kasih sayang,sambil menghampiri Resa, menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya,dia berusaha untuk membuat Resa merasa nyaman dan aman.Tapi Dirinya tak sanggup untuk berkata kata.