Ribuan lembar di Papirus,ribuan kata kata cinta yang aku hanturkan Tidak cukup mendeskripsikan Aku mencintaimu.
"Aku tidak pernah bisa menaklukkan rindu ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilly✨, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Selena menatap ratu dengan ekspresi datar. "Jangan bilang Anda memanggil saya jauh-jauh ke Inggris hanya untuk hal yang tidak penting."
Ratu tersenyum licik. "Tentu saja tidak. Ini sangat penting."
Selena menyilangkan tangan. "Kalau begitu, beri tahu saya. Apa yang begitu mendesak hingga Anda menyeret saya ke sini tanpa peringatan?"
Ratu terbatuk kecil, lalu dengan wajah serius berkata, "Anjingku kabur."
Hening.
Selena berkedip. "Maaf, apa?"
"Anjingku kabur," ulang ratu dengan nada dramatis. "Corgi kesayanganku, Winston, melarikan diri dari istana pagi ini. Dan seperti yang kau tahu, ini adalah situasi DARURAT."
Selena menutup matanya sebentar, mencoba menenangkan diri. "Anda ingin saya, mantan penasihat kerajaan, terbang 14 jam ke sini... untuk mencari anjing Anda?"
Ratu mengangguk mantap.
Selena menghela napas dalam. "Yang Mulia, saya sungguh merasa sangat—"
"Tidak, tidak, dengarkan aku!" potong ratu, sekarang matanya berbinar penuh emosi. "Winston adalah anjing spesial! Dia memiliki insting luar biasa! Dia bisa merasakan bahaya sebelum terjadi!"
Selena menatapnya skeptis. "Jadi, Anda bilang... seekor anjing kecil berbulu itu adalah agen rahasia?"
Ratu mengangguk dengan semangat. "Aku yakin dia pergi karena ada sesuatu yang salah! Mungkin ada konspirasi, mungkin ada pengkhianatan! Kita harus menemukannya SEGERA."
Selena menatap ke langit-langit. "Ini pasti mimpi buruk..."
Tapi sebelum dia bisa mengeluh lebih jauh, pintu ruang kerajaan terbuka dan seorang pengawal masuk dengan wajah panik. "Yang Mulia! Winston ditemukan di dapur!"
Ratu langsung berdiri. "Apa?! Bagaimana kondisinya?"
"Dia... sedang makan sosis."
Hening lagi.
Selena menatap ratu dengan tatapan penuh penilaian. "Jadi... 'agen rahasia' Anda ternyata hanya lapar?"
Ratu berdeham, merapikan gaunnya dengan elegan. "Baiklah, mungkin aku sedikit berlebihan."
Selena menghela napas panjang. "Tolong jangan panggil saya ke sini lagi kalau bukan soal hidup dan mati."
Ratu tersenyum kecil. "Tidak bisa janji."
Selena mengusap wajahnya, mencoba menenangkan diri. “Yang Mulia, saya benar-benar ingin marah sekarang, tapi saya juga terlalu jet lag untuk itu.”
Ratu terkekeh, lalu menepuk pundaknya. “Ayolah, jangan terlalu serius. Anggap saja ini reuni kecil-kecilan.”
“Tentu. Reuni yang melibatkan penerbangan 14 jam dan pencarian anjing lapar.” Selena memutar matanya.
Tiba-tiba, Winston—si corgi kecil yang tadi menjadi pusat perhatian—muncul dari balik pintu dengan sepotong sosis masih tersangkut di mulutnya. Dia menatap Selena, mengunyah perlahan, lalu menggoyangkan ekornya seolah berkata, “Masalah apa? Aku baik-baik saja.”
Selena menunjuk ke arahnya. “Lihat itu! Bahkan dia tidak peduli.”
Ratu tersenyum penuh kemenangan. “Tapi kau di sini, dan itu yang penting.”
Sebelum Selena bisa membalas, seorang pelayan masuk dengan nampan teh dan kue-kue kecil. Ratu langsung duduk dengan anggun dan mengambil satu kue. “Sekarang, karena kau sudah di sini, bagaimana kalau kita ngobrol santai? Aku ingin tahu bagaimana kehidupan pensiunmu.”
Selena menyandarkan kepala ke kursi, merasa semakin terjebak. “Yang Mulia, kalau saya mengatakan saya sangat sibuk, apakah saya bisa pulang?”
Ratu hanya tersenyum. “Tidak.”
Selena menatap langit-langit. “Tentu saja.”
Selena menghela napas panjang, menatap teh di depannya seolah itu adalah garis hidupnya yang terakhir. “Baiklah, Yang Mulia. Jadi, apa alasan sebenarnya saya dipanggil ke sini?”
Ratu menyeruput tehnya dengan santai, lalu tersenyum kecil. “Tidak bisakah seorang nenek tua merindukan cucu kesayangannya?”
Selena menyipitkan mata. “Yang Mulia, saya bukan cucu Anda.”
“Detail kecil.”
Selena menatapnya tanpa ekspresi. “Saya juga bukan rakyat Inggris.”
“Lagi-lagi detail kecil.”
Selena memijat pelipisnya. “Anda benar-benar menikmati ini, bukan?”
Ratu hanya tertawa kecil, lalu melirik Winston yang kini sedang berguling di karpet, tampak puas setelah mencuri sosis. “Tapi kalau kau benar-benar ingin tahu… ada sedikit masalah yang hanya bisa kau tangani.”
“Masalah.” Selena mengulang kata itu dengan datar. “Anda tahu, saya resmi pensiun. Saya sudah cukup berurusan dengan politik, intrik kerajaan, dan pencarian anjing lapar.”
Ratu tersenyum misterius. “Oh, ini bukan masalah politik. Lebih… pribadi.”
Selena merasakan firasat buruk. “Seberapa pribadi?”
Ratu meletakkan cangkirnya dan menatapnya dengan penuh arti. “Kau ingat Pangeran Adrian?”
Selena langsung bangkit. “Tidak.”
“Kau bahkan belum mendengar permintaanku.”
“Jawabannya tetap tidak.”
“Kau bahkan tidak tahu apa yang akan kukatakan.”
“Jika itu melibatkan Pangeran Adrian, jawabannya tetap TIDAK.”
Ratu menghela napas, lalu tersenyum lembut. “Kau tahu, kau adalah satu-satunya orang yang berani berkata ‘tidak’ padaku lebih dari tiga kali dalam satu percakapan.”
“Dan saya akan melakukannya lagi,” kata Selena tanpa ragu.
Ratu tertawa kecil, lalu menyandarkan diri ke kursi. “Baiklah, baiklah. Setidaknya nikmati tehnya dulu. Setelah itu, kita lihat apakah kau masih bisa menolak.”
Selena mengambil cangkirnya dengan ekspresi waspada. “Kenapa rasanya seperti saya sedang masuk ke dalam perangkap?”
Ratu hanya tersenyum tanpa menjawab.
Selena menghela napas, lalu meneguk tehnya dengan hati-hati. Rasanya enak, tapi dia tetap merasa seperti sedang menelan jebakan.
Ratu mengamatinya dengan tatapan penuh arti. “Bagaimana rasanya?”
“Seperti teh,” jawab Selena datar.
“Bukan tehnya yang kumaksud.”
Selena mendesah. “Baiklah, Yang Mulia. Katakan saja langsung. Apa yang terjadi dengan Pangeran Adrian?”
Ratu tersenyum, senang akhirnya pembicaraan sampai ke titik ini. “Dia dalam masalah.”
Selena menatapnya tanpa ekspresi. “Masalah seperti tersesat di taman istana, atau masalah seperti dia secara tidak sengaja menyatakan perang terhadap negara lain?”
“Lebih dekat ke opsi kedua.”
Selena menutup matanya sejenak, mencoba mencerna kata-kata itu. “Tolong katakan padaku dia tidak benar-benar menyatakan perang.”
“Tidak… tapi dia hampir melakukannya.”
Selena memijat pelipisnya. “Tolong jelaskan sebelum saya benar-benar kehilangan kesabaran.”
Ratu meletakkan cangkir tehnya dengan tenang. “Adrian dikirim untuk menghadiri pertemuan diplomatik di suatu negara kecil di Eropa Timur. Sayangnya, seseorang salah menerjemahkan ucapannya, dan sekarang ada desas-desus bahwa dia menantang putra mahkota negara itu untuk duel.”
Selena menatapnya dalam diam. Lalu, dia berkata, “Anda bercanda, kan?”
Ratu mengangkat bahu. “Sayangnya tidak. Dan sekarang, kami butuh seseorang untuk meredakan situasi sebelum segalanya meledak.”
Selena mengusap wajahnya. “Dan orang itu adalah saya?”
“Kau satu-satunya yang bisa menangani Adrian tanpa ingin melemparnya ke sungai.”
Selena berpikir sejenak, lalu berkata, “Saya tetap ingin melemparnya ke sungai.”
“Tapi kau tidak akan melakukannya.”
Selena menghela napas panjang. “Jadi, kapan saya harus berangkat?”
Ratu tersenyum puas. “Besok pagi.”
Selena menatap langit-langit, bertanya-tanya kenapa dia selalu terjebak dalam kekacauan seperti ini.
Keesokan paginya, Selena berdiri di landasan pacu dengan kacamata hitam menutupi separuh wajahnya. Angin pagi menyapu rambutnya saat ia menatap jet pribadi kerajaan yang sudah menunggunya.
“Aku masih bisa kabur sekarang,” gumamnya pelan.
“Kecuali kalau Anda bisa lari lebih cepat dari jet ini, saya rasa tidak,” sahut suara di sebelahnya.
Selena melirik sekilas. Itu Adrian. Sang pangeran tampak santai, mengenakan jas dengan kancing atas terbuka dan ekspresi tanpa beban di wajahnya.
“Oh, kau sudah kembali dari hampir menyatakan perang?” sindir Selena.
Adrian terkekeh, lalu memasukkan tangannya ke saku. “Aku hanya bercakap-cakap dengan seorang pangeran, lalu tiba-tiba semua orang panik.”
“Kau bilang ‘Aku bisa mengalahkanmu kapan saja’ sambil tersenyum,” balas Selena tajam.
“Itu bukan tantangan duel,” kata Adrian dengan nada membela diri.
“Dalam bahasa mereka, itu berarti kau menantang kepala keluarga mereka untuk bertarung sampai salah satu menyerah.”
Adrian mengedip. “Oh.”
Selena menghela napas panjang. “Aku lelah bahkan sebelum perjalanan ini dimulai.”
“Kau merindukanku, ‘kan?” goda Adrian.
Selena menoleh, menatapnya dalam-dalam dari balik kacamata hitamnya. “Kalau aku bilang ya, apa kau akan berhenti berbicara?”
Adrian berpura-pura berpikir. “Tidak.”
Selena menepuk dahinya dengan pasrah. “Bagaimana bisa kerajaan ini bertahan denganmu sebagai pangerannya?”
“Karena ada kau,” jawab Adrian santai.
Selena tidak merespons. Dia hanya berjalan menaiki tangga jet, berharap perjalanan ini tidak akan berakhir dengan dia harus menyelamatkan Adrian lagi.
Begitu Selena masuk ke dalam jet, ia langsung menjatuhkan diri ke salah satu kursi kulit mewah. Adrian, tentu saja, duduk di seberangnya dengan senyum menyebalkan.
“Jadi, kau sudah menyiapkan alasan apa untuk menghindari pertemuan dengan ratu kali ini?” tanya Adrian sambil menuang teh untuk dirinya sendiri.
Selena melepas kacamata hitamnya dan memijat pelipisnya. “Aku sempat berpikir untuk pura-pura hilang ingatan, tapi kurasa itu tidak akan berhasil.”
Adrian menyesap tehnya. “Bagaimana kalau kau pura-pura jadi orang lain?”
“Aku penasihat kerajaan. Wajahku ada di hampir setiap dokumen penting, Adrian.”
“Oh, benar juga.”
Selena menatap Adrian dengan ekspresi datar. “Kau benar-benar tidak membantu.”
Adrian mengangkat bahu. “Aku di sini untuk hiburan.”
Sebelum Selena bisa membalas, seorang pramugari masuk ke kabin. “Nona Selena, apakah Anda ingin sesuatu untuk dimakan atau diminum?”
Selena berpikir sejenak. “Ada kopi?”
“Tentu, nona. Dengan gula atau tanpa?”
“Satu sendok gula. Dan tambahkan harapan agar aku bisa selamat dari pertemuan ini.”
Pramugari itu tersenyum sopan, sementara Adrian terkekeh. “Kalau begitu, buat dua. Aku juga butuh harapan.”
Jet mulai bergerak perlahan di landasan, dan Selena menghela napas panjang. “Empat belas jam penerbangan…”
“Empat belas jam denganku,” tambah Adrian dengan seringai.
Selena menatapnya tajam. “Aku harap pesawat ini punya tombol eject.”