Kiara Putri terpaksa pergi dari suaminya saat ia hamil besar. Ancaman dari istri pertama suaminya, membuat ia nekat perg apalagi setelah sang ibu meninggal karena ulah istri pertama suaminya.
Namun, setelah anak yang ia lahirkan berusia 7 tahun, ia terpaksa kembali ke kota untuk menemui laki-laki yang telah memperistri nya.
Bayu Aksara Yudhistira, laki-laki yang kehilangan ingatan karena sebuah kecelakaan. Ia tidak tahu bahwa selain Yumna Cempaka yang sudah berstatus mantan istrinya, ia masih punya istri lain bahkan juga seorang anak.
Bagaimana kehidupan mereka saat keduanya kembali di pertemukan?
Happy Reading 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasa Al Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AA 9 Bercerai
Ayah Anakku (9)
Perjalanan terasa menegangkan. Sudah tiga puluh menit sejak Bayu mengendarai kendaraannya, ia tak mengatakan sepatah apapun.
Kiara tak berani bertanya karena sikap Bayu yang kembali ke mode awal. Dingin.
Sebenarnya kita mau kemana? Batin Kiara. Dia hanya melempar pandangannya ke luar jendela.
Sesekali melihat ponselnya yang sepi. Tidak ada pesan ataupun telpon dari Aksara.
Hingga akhirnya ia terlelap karena bosan.
.
.
Kiara mengerjapkan matanya. Ia melihat sekitarnya. Bukan lagi di mobil, ini di kamar. Kamar yang tidak asing baginya.
Mata Kiara membola.
" Tidak mungkin. Ini.. Bagaimana bisa?," Kiara berlari keluar.
Tidak salah. Kini mereka berada di rumahnya. Rumah yang selama ini ia tinggali bersama Aksara.
Setengah berlari ia menuju ke arah ruang tamu dimana suara aksara terdengar keras. Tawa renyah di selingi tawa laki-laki dewasa yang ia yakini bahwa itu adalah suara Bayu.
" Nda!!! Ayah pulang. Makasih Nda sudah menepati janji,"
Aksara yang lebih dahulu menyadari keberadaan ibunya berlari memeluk ibunya.
Kiara membalas memeluk Aksara. Matanya melihat ke arah Bayu yang menatapnya tajam. Jantung Kiara berdetak kencang. Ia tahu ia salah karena tidak langsung memberitahukan keberadaan Aksara.
Tapi, bukan tanpa alasan. Ia hanya bingung menyampaikannya dan mencari waktu yang tepat.
" Ayah bilang, uang ayah sudah banyak. Jadi, tidak akan meninggalkan kita lagi," jelas Aksara antusias.
Kiara hanya meringis. bukan ayahmu yang meninggalkan kita. Tapi, kita yang meninggalkan ayahmu, nak. Batin Kiara.
" Ayah juga membelikan aku banyak mainan. Lihatlah, Nda!," Aksara menarik ibunya untuk menunjukkan mainan yang dibelikan Bayu. Mainan mahal yang banyak sekali.
" Ayah juga bilang kalau aku boleh berbagi dengan teman-teman ku. Aku mau memberikan satu untuk Bang Raka. Kalau Gilang Aku tidak mau dia jahat," ceritanya panjang lebar.
" jangan begitu, Nak. Beri juga ya. Mainan aksara kan banyak," Kiara tidak ingin anaknya memiliki dendam pada siapapun.
Ia tahu pasti alasan Aksara tidak mau memberi Gilang.
" Gilang jahat. Bilang Aksa anak h@ram," ucapnya dengan bibir cemberut.
" Aksa..."
" siapa bilang Aksa anak h@ram?," tanya Bayu suaranya sedikit berubah. Ada rasa tak terima.
" Gilang."
" Ayo kita kesana. .."
" mas sudah. Gilang masih anak-anak. Dia belum mengerti," Kiara mencekal tangan Bayu. Tidak ingin sampai suaminya membuat keributan di hari pertama ia datang.
" Justru karena masih kecil harus diberi pemahaman,"
" Aku tahu. Biar aku yang bicara. Ibunya juga pasti akan membantu kita menjelaskan."
Ibu Gilang baik kepada mereka. Hanya saja Gilang yang memang belum paham selalu menjadikan kata itu sebagai olokan . Mengikuti teman sebayanya.
" Iya ayah. Tidak usah ke rumah Gilang. Ayah disini saja. Kita main lagi," Aksa seolah paham jika sang ayah datang kesana akan menimbulkan masalah.
Tapi, di lubuk hatinya yang paling dalam, ia bahagia. Kini ia memiliki seorang pahlawan. Ayahnya.
Melihat mata Aksa yang nampak berkaca-kaca, Bayu akhirnya mengangguk.
Ia mengikuti langkah Aksa yang membawanya ke tempat mainannya tadi.
" Aku butuh penjelasnmu," ucap Bayu pelan. Sekalipun ia sudah tahu, ia tetap ingin tahu dari versi istrinya sendiri.
Kiara mengangguk.
.
.
" Kemana saja kamu?," tanya Arnold.
Ia geram. Yumna melupakan menjemput Shera di sekolah.
" Aku ada urusan. Lagipula Shera sudah kamu jemput, kan?," jawab Yumna acuh.
" Kamu tidak khawatir? Bagaimana kalau ada yang menculik Shera? Dia masih kecil. Kalau terjadi sesuatu padanya apa kamu tidak akan menyesal?,"
Bukan. Bukan Arnold ingin sesuatu yang buruk terjadi ada Shera. Tapi, ia hanya ingin Yumna cukup fokus pada Shera saja.
Semua kebutuhan ia penuhi. Yumna tidak perlu memikirkan yang lainnya. Hanya nafkah batin saja yang ia tak bisa penuhi. Arnold rasa, Yumna pun tak peduli.
" Dia baik-baik saja kan?," ucapnya sambil menatap ke arah Arnold. "jadi, sekarang sudah tak perlu mempermasalahkannya lagi."
" Na, biarkan Bayu. Jangan usik lagi kehidupannya. Dia bukan ayah kandung Shera. Jangan lagi kamu racuni Shera dengan kebohongan yang kamu buat," Arnold menghela nafas lelah.
" Kalau kamu sekaya Bayu, aku akan berhenti." Tegasnya. "Bayu memang bukan ayah kandung Shera. Tapi, aku akan benar-benar membuat Bayu jadi ayahnya Shera. Saat itu tiba, kita harus segera bercerai," ucapnya santai meninggalkan Arnold yang menggelengkan kepalanya.
Yumna meninggalkan Arnold begitu saja menuju kamar mereka. Ya, sekalipun hubungan suami istri itu tidak baik, tidak mungkin mereka pisah kamar sementara Shera ada di tengah-tengah mereka.
" Kemana sebenarnya dia?," geram Yumna melemparkan tasnya. "Di perusahaan tak ada, di rumah yang biasa di tempati pun tak ada."
" Bayu, kamu pikir kamu bisa lepas dariku?. Kalau aku tahu kamu bisa sehat kembali, aku tak akan sering menemui Arnold,"
Hormon kehamilan membuatnya selalu membutuhkan Arnold memenuhi keinginannya yang tidak bisa di penuhi Bayu saat itu.
Yumna sendiri sebenarnya tahu, bahwa Bayu bisa sembuh hanya butuh waktu. Tapi, Yumna tak sesabar itu.
.
.
" Kenapa tidak langsung mengatakan soal Aksa?," tanya Bayu sambil berjalan bersisian dengan Kiara.
Keduanya menuju rumah RT setempat. Melaporkan keberadaan Bayu di rumah Kiara. Jangan sampai orang salah paham. Di rumah itu hanya ada Kiara dan Aksa. Ambu tinggal di rumahnya sendiri.
" Aku mencari waktu yang tepat, mas."
" Waktu yang tepat kapan?,"
Ditanya kapan, Kiara juga bingung.
" Seandainya mas ingat, hubungan kita tidak seperti suami istri kebanyakan. Tidak seperti apa yang kamu bayangkan."
Bayu melihat ke samping. Sang istri menatap jauh kedepan.
" Aku tidak punya keberanian mengatakan soal Aksa. Apalagi kamu hilang ingatan. Takut kamu berpikir aku hanya mengada-ada," banyak ketakutan yang ia rasakan. Soal Yumna ia masih tak berani bicara.
" Kita suami istri. Wajar kalau punya anak kan?," tanya Bayu lagi.
" Sudah aku bilang, kita tidak seperti pasangan yang lainnya,Mas,"
Pembicaraan mereka terhenti karena mereka sudah sampai di depan rumah pak RT.
" Nanti kita lanjutkan lagi. Kita sudah sampai,"
Keduanya naik ke teras rumah. Yumna mengetuk pintu.
" assalamualaikum, pak RT,"
" Wa'alaikumussalam. Eh, neng Ara. Ayo masuk, duduk."
Bayu tidak terkejut dengan panggilan Kiara di sini. Ternyata demi tidak mudah terlacak, ia sengaja mengganti panggilannya.
Kiara dan Bayu masuk.
" Eh, ini siapa neng?,"
" ini suami saya, Pak," Bayu merasa bangga dengan status itu. Sementara Kiara masih tidak percaya ia bisa mengakui Bayu sebagai suaminya di depan orang lain.
" Jadi, neng Ara bener masih bersuami? Saya pikir sudah cerai karena tidak melihat suaminya sejak pindah kesini," ucap istri dari Pak RT yang keluar dari arah dalam rumah.
" Bu..." tegur pak RT karena istrinya terlalu lancang berbicara seperti itu.
.
.
TBC